NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Sang Mayor

Istri Pilihan Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:42.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.

Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.

Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.

Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.

Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.

Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nyaris sebuah ciuman

Malam telah menyelimuti kediaman Abimanyu Wicaksono. Setelah membacakan sebuah cerita tentang putri dan seekor kelinci untuk Kaning, Latifah akhirnya berhasil membuat bocah kecil itu tertidur pulas.

Ia membenarkan selimutnya Kaning, kemudian mengecup lembut keningnya.

“Selamat tidur, Sayang. Semoga mimpi indah.”

Kaning hanya menggeliat kecil tanpa membuka mata.

Latifah tersenyum, lalu perlahan menutup pintu kamar putri kecilnya itu.

Tak jauh dari sana, Bu Almira muncul dari arah lorong.

“Kaning sudah tidur, ya, Nak?”

“Alhamdulillah, sudah, Bu.”

“Kalau begitu, kamu istirahat juga. Oh iya, Bima belum pulang?”

Latifah menggeleng pelan.

“Belum, Bu. Mungkin sebentar lagi. Saya mau menunggu beliau saja.”

Bu Almira tersenyum mendengar jawaban menantunya.

“Baiklah. Kalau begitu, Ibu tidur duluan, ya, Nak. Jangan terlalu malam.”

“Iya, Bu. Selamat istirahat.”

Setelah Bu Almira masuk ke kamarnya, Latifah berjalan menuju ruang tamu. Ia duduk di sofa sembari menunggu kepulangan suaminya.

Malam itu, entah mengapa ia belum mengantuk.

Sesekali, ia melirik jam dinding. Hampir tiga puluh menit berlalu ketika suara kendaraan terdengar memasuki pelataran rumah.

Latifah langsung bangkit.

“Sepertinya Pak Bima sudah pulang.”

Ia bergegas membuka pintu ruang tamu.

Dan benar saja, Bima telah berdiri di hadapannya dengan seragam dinas yang masih melekat di tubuhnya.

“Assalamualaikum, Bu Latifah,” sapa Bima dengan senyum hangat.

“Waalaikumsalam, Pak Bima.”

Latifah menyambut suaminya dengan mencium punggung tangannya. Namun, saat ia hendak kembali berdiri tegak, Bima secara refleks mengecup keningnya.

Latifah langsung membeku. Bima pun ikut terdiam sesaat, seolah baru menyadari tindakannya sendiri.

Sementara Latifah buru-buru menundukkan kepala. Wajahnya memerah.

Bima menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

"Astaga, kenapa aku spontan sekali?" batinnya

Ia kemudian berdeham.

“Ehem… apakah Kaning sudah tidur?”

“Sudah, Pak Bima,” jawab Latifah gugup.

“Lantas, kenapa Bu Latifah belum tidur? Apa belum mengantuk?”

Latifah hanya mengangguk kecil.

Bima mengamati wajah istrinya sebentar, tetapi tidak berkomentar. Ia kemudian masuk ke rumah bersama Latifah.

Beberapa waktu kemudian, Bima selesai mandi dan berganti pakaian tidur. Ia duduk di sisi ranjang sambil memeriksa ponselnya.

Sementara itu, Latifah baru saja kembali dari kamarnya Kaning. Ia sempat mendengar putri kecil itu mengigau, sehingga tadi ia kembali masuk untuk membenarkan selimutnya.

Dengan langkah pelan, Latifah membuka pintu kamar suaminya.

Bima yang melihat kedatangannya segera meletakkan ponsel.

“Kebetulan Bu Latifah sudah kembali. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan Anda.”

Latifah mengernyitkan keningnya.

“Hal penting apa, Pak?”

“Nanti saya jelaskan. Silakan duduk dulu.”

Latifah menutup pintu, lalu melangkah mendekat.

Namun, baru beberapa langkah, matanya menangkap sesuatu di dekat lemari nakas di sisi ranjang. Yakni Seekor kecoa.

“AAARRRGHHH! KECOAK!”

Latifah spontan berlari ke arah Bima. Karena terlalu panik, ia kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di atas pangkuan suaminya.

Kedua tangannya langsung menutupi wajah, sementara kepalanya tersembunyi di dadanya Bima.

Bima sempat terkejut, tetapi kemudian senyum tipis muncul di wajahnya.

“Kecoak? Masa, sih, di kamar ini ada kecoak?”

“Ada, Pak Bima! Di dekat lemari itu!” Latifah menunjuk dengan tangan gemetar.

Bima mengedarkan pandangannya ke arah yang ditunjuk istrinya.

Ia tidak menemukan apa-apa.

“Sepertinya kecoaknya sudah tidak ada.”

Latifah perlahan membuka kedua tangannya.

“Benarkah?”

“Iya. Mungkin sudah lari.”

Barulah Latifah menyadari posisi mereka. Ia sedang duduk di pangkuan suaminya. Wajahnya langsung memanas.

“Maaf, Pak Bima. Saya tidak sengaja.”

Latifah berusaha bangkit, tetapi Bima refleks menahan pinggangnya agar ia tidak kehilangan keseimbangan lagi.

“Pelan-pelan, Bu. Nanti jatuh.”

Latifah terdiam.

Bima pun menyadari bahwa istrinya kembali gugup. Ia sebenarnya bisa langsung melepaskan tangannya, tetapi untuk beberapa detik, tatapan mereka justru bertemu.

Ada keheningan yang terasa begitu panjang.

Bima kemudian mengangkat tangannya, merapikan beberapa helai rambut Latifah yang jatuh menutupi wajahnya, lalu menyelipkannya ke belakang telinga.

“Pak Bima, saya…”

Suara Latifah terdengar begitu lirih.

Bima menatapnya.

“Iya?”

Jarak wajah mereka kini terasa begitu dekat. Latifah bisa merasakan hembusan napas suaminya, sementara Bima pun mendadak kehilangan kata-kata.

Tanpa sadar, Bima sedikit mendekat. Hidung mereka hampir bersentuhan. Latifah membelalakkan mata.

Jantungnya berdegup semakin kencang.

Dan ketika bibir mereka hampir saja bertemu, Latifah buru-buru memalingkan wajah.

“Maaf, Pak Bima! Saya sudah mengantuk!”

Ia segera beranjak dari pangkuan suaminya, lalu berjalan cepat menuju pintu.

“Bu Latifah…”

Namun, Latifah sudah lebih dulu keluar dari kamar.

Bima hanya bisa terdiam. Ia menghembuskan napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.

“Bima, kau sudah gila…” gumamnya sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya. “Kau hampir saja menciumnya.”

Ia menatap langit-langit kamar.

Sebenarnya, ia ingin meminta maaf karena sudah membuat Latifah terkejut. Namun, ada bagian dari dirinya yang masih teringat tatapan istrinya beberapa detik sebelum perempuan itu memalingkan wajah.

Bima memejamkan mata.

“Seharusnya aku lebih berhati-hati.”

Di sisi lain, Latifah sudah berada di balkon belakang rumah.

Ia berdiri dekat pagar balkon, mengusap dadanya yang berdebar tidak karuan. Wajahnya memerah, bahkan kedua telinganya terasa panas.

“Ya ampun… apa yang barusan terjadi?”

Ia mengipasi wajahnya dengan kedua tangannya.

“Pak Bima hampir menciumku!”

Latifah memejamkan mata, mencoba menenangkan diri.

“Ayo, Latifah. Kendalikan dirimu. Pak Bima suamimu sendiri.”

Namun, semakin ia mencoba menenangkan pikirannya, semakin jelas pula bayangan wajah Bima ketika mendekat tadi.

Latifah menundukkan kepala.

"Kenapa aku malah merasa gugup seperti ini? Padahal tadi pagi saja Pak Bima cuma menggodaku, sekarang aku malah tidak berani menatapnya."

Ia menghela napas panjang. Di tengah kegugupannya, sebuah pertanyaan perlahan muncul.

Apakah Pak Bima tadi benar-benar ingin menciumku?

Latifah segera menggelengkan kepala.

“Sudahlah. Jangan berpikir macam-macam.”

Namun, untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa bukan hanya Bima yang mulai berubah.

Dirinya sendiri pun mulai merasakan sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami.

Sementara di dalam kamar, Bima masih duduk terdiam, memikirkan istrinya yang pergi begitu saja.

Ada percakapan penting yang sebenarnya belum sempat ia sampaikan kepada Latifah malam itu.

Dan kini, setelah kejadian barusan, ia justru harus mencari cara untuk memulai pembicaraan itu kembali.

Tak lama kemudian Latifah kembali, ia melihat suaminya sudah meringkuk di bawah selimut tebal, Latifah mengusap dadanya merasa lega karena ia pikir Bima sudah tertidur pulas, namun saat ia mendekat ke arah sisi ranjang, Bima mengatakan sesuatu kepadanya tanpa menoleh dan masih dengan posisi yang sama.

"maafkan saya Bu Latifah!"

Latifah mengernyitkan keningnya."maaf untuk apa pak Bima?"

"maaf karena tadi aku sudah lancang padamu!"

Latifah menutup mulutnya dengan tangan, ia tak menyangka suaminya akan mengatakan hal ini padanya.

Bersambung…

1
Atik Kiswati
ketidak sengajaan yg membuat org perpikiran buruk.....
Teh Euis Tea
nyari penyakit km mah ustad ingat woyy lathifah istri orang suaminya mayor loh ustad
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Euis Tea
wahhh ustad firman jgn gitu ntar ketauan pak mayor jd kelar hidupmu ustad
Teh Euis Tea: ho'oh kak🤭
total 2 replies
Teh Euis Tea
ustad firman udah jgn mikirin trs lathifah Kitakan lagi ta'aruf 🤭🤭🤭🤭🤭
Teh Euis Tea: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
Nar Sih
kejujuran dlm rmh tangga emang harus dijga ,seperti bima dan latifah ,grgr ustaz firman jdi gosip deh buat latifah ,
Nar Sih
ustaz firman kasih perhatian buat latifah ,hati,,ifah semoga kmu gk tergoda lgi
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk
total 1 replies
Teh Euis Tea
senyum senyum ngebayangin semalam, lumayanlah ada kemajuan 🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya dong, harus ada kemajuan kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
Sastri Dalila
🤭🤭
sri hastuti
bagus latifah km terus terang sm suamimu , jd gak salah paham, lagian ngapain uztad kok ya kurang kerjaan, wong ya latifah sdh menikah 😡😡😡
huuh bikin jengkel aja ,mau merusak rumah tangga orang ya , 😡😡
Nar Sih
penyesalan mu sdh ngk berguna ustaz firman ,ihkas kan latifah dgn keluarga bru nya ,semoga kmu lekas menemukan jodoh mu
Atik Kiswati
lnjt......
vania larasati
lanjut kak
Nar Sih
pagi yg indah bersama mas bima dan latifah juga kaning🥰🥰
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Kiss//Kiss//Kiss/
total 1 replies
Nar Sih
wah...cerita mayor abimanyu dan bu latifah bnr,,bagus kak 👍🥰🥰🥰
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terima kasih banyak kak 🙏🤭☺️
total 1 replies
Nar Sih
ciuman yg pertama buat latifah dari pak suami ,semoga jdi awal yg lebih indah untuk rmh tngga kalian kedepan nya☺️🥰
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin 🤭
total 1 replies
Nar Sih
menyesali yg sdh terjdi gk berguna lgi ustaz ,jadikan latifah msa lalu mu slh kmu juga gk kasih kepastian jdi klau latifah milik org lain yg gk slh kan
Nar Sih
semagat pk bima tenang kan istri mu biar gk sedih mikirin ustaz firman lgi
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk
total 1 replies
Teh Euis Tea
msh blm eng ing eng ini sih, blm bisa ngintip 🤭🤭🤭🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: belom kak, sabar...step by step 🤣🤣🤣
total 1 replies
Teh Euis Tea
nyesel jg percuma ustad firman Bu Ifah udah nikah, mending km ta'aruf sm aku aj yu 🤭🤭🤭🤭🤭
Teh Euis Tea: hahaha
total 4 replies
Ghiffari Zaka
ah AQ merem aja lah....pura2 gak tau🤭🤭🤭,semangat bima....semoga tambah mesra🥰🥰🥰🥰
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!