NovelToon NovelToon
Sang Putri Pilihan Rakyat

Sang Putri Pilihan Rakyat

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Fantasi
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Ketika mahkota kekaisaran ternoda oleh keserakahan dan tirani seorang saudara kandung, seorang putri yang terbuang harus bangkit dari abu pembantaian.

Diasingkan sejak lahir di Desa Bunga Lotus, Zhao Lianhua tidak pernah tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah kekaisaran. Namun saat pedang istana membakar rumah dan menghancurkan kedamaiannya, ia terpaksa mengambil pedang demi keadilan rakyat jelata!

Bisakah seorang putri terbuang menumbangkan kerajaan yang dipimpin oleh saudara kandungnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Tabib Lian

Matahari baru saja menyemburatkan warna keemasan di atas garis atap-atap rumah kumuh Distrik Barat. Udara pagi yang dingin bercampur dengan bau asap kayu bakar dan aroma rempah-rempah liar yang sedang dikeringkan di atas tampah bambu di halaman belakang.

Di dalam rumah tua yang kini telah bersih dari debu tebal, ketiga remaja itu bergerak cepat tanpa banyak bicara. Mereka tahu betul bahwa waktu adalah musuh yang paling berbahaya.

Setiap detik yang mereka lewati dalam persiapan adalah satu detik penderitaan tambahan bagi Panglima Lu dan para prajurit Pasukan Merah yang meringkuk di dalam sel dingin benteng Kota Garnisun.

Meskipun hasil kerja keras Feng dan Bao kemarin telah mendatangkan empat puluh keping tembaga pertama, modal itu masih jauh dari cukup untuk melengkapi seluruh kebutuhan Rumah Berobat Sederhana.

Sebuah klinik herbal tidak hanya membutuhkan papan nama dan sekantong arang, melainkan butuh variasi pasokan herba yang lengkap, botol-botol porselen penyimpan minyak gosok, jarum-jarum perak akupunktur, serta persediaan kain pembalut steril yang tidak sedikit.

Pagi-pagi sekali, sebelum gerbang utama pasar dibuka penuh, Feng dan Bao telah mengenakan kembali pakaian kain kasar mereka. Dengan ikatan kain kusam di kepala untuk menyembunyikan sebagian garis wajah mereka, kedua pemuda itu kembali melangkah menuju dermaga bongkar muat Sungai Selatan.

"Hari ini target kita harus dua kali lipat, Bao," ujar Feng sambil mempercepat langkahnya melewati lorong-lorong batu yang masih diselimuti embun pagi. "Jika kita bisa mendapatkan delapan puluh keping tembaga hari ini, Lianhua bisa membeli satu set jarum akupunktur dan botol-botol porselen di toko obat pasar tengah."

Bao menepuk-nepuk dadanya yang membidang, seraya menyunggingkan senyum percaya diri meski tubuhnya masih menyisakan rasa pegal akibat kerja keras kemarin. "Serahkan padaku, Feng! Bos gudang kemarin sangat menyukai caraku memindahkan lima karung gandum sekaligus. Hari ini aku akan minta dialokasikan ke pembongkaran muatan kapal kayu dari wilayah timur. Konon, upah bongkar kapal rempah dua kali lebih tinggi!"

Di dermaga, suasana sudah hiruk-pikuk. Kapal-kapal dagang raksasa bersandar melingkar, melemparkan tali-tali tambang tebal ke dermaga kayu.

Feng dan Bao melompat ke barisan terdepan para kuli angkut. Sepanjang pagi hingga tengah hari melintasi terik yang membakar, keduanya membanting tulang tanpa kenal lelah.

Feng memanfaatkan kelincahan tubuhnya untuk membawa peti-peti kayu berisi barang pecah belah secara cepat tanpa merusaknya, sementara Bao memanfaatkan kekuatan fisiknya untuk mengangkat karung-karung berat yang dihindari buruh tua lainnya.

Di sela-sela mengangkut muatan ke dalam gudang, mata dan telinga Feng tidak pernah berhenti bekerja. Sesuai dengan pembagian peran taktis yang dirancang Lianhua, Feng mendengarkan setiap desas-desus yang dibicarakan oleh para pengawal kapal dan sipir patroli pelabuhan yang sedang meminum teh.

"Kau dengar?" bisik seorang sipir pelabuhan bertubuh kurus kepada rekannya di dekat tumpukan kayu. "Jenderal Ma sangat murka karena pergerakan sisa Bunga Lotus belum juga terendus. Katanya, sel isolasi di penjara bawah tanah diperketat. Para tahanan Pasukan Merah dipisahkan ke lorong bawah tanah paling dalam."

Feng menundukkan kepalanya, dan pura-pura kesulitan mengangkat peti kayu di dekat mereka, sambil merekam setiap detail kalimat sipir itu di dalam benaknya untuk disampaikan kepada Lianhua malam nanti.

Sementara kedua rekannya memeras keringat di pelabuhan, Zhao Lianhua bergerak dengan ketelitian dan fokus yang luar biasa.

Dengan memikul keranjang bambu di punggungnya dan mengenakan jubah tabib kusam berkerudung tipis, Lianhua berjalan keluar menyusuri lereng perbukitan di luar tembok barat kota, sebuah kawasan hutan liar yang kaya akan tanaman obat alami.

Jemari lenturnya bergerak cepat dan cermat di antara semak-semak basah. Lianhua memetik daun paku perak untuk penawar racun, menggali akar Sanqi untuk menghentikan pendarahan, serta mengumpulkan kulit pohon willow tua yang sangat ampuh meredakan rasa nyeri dan demam tinggi.

"Alam selalu menyediakan obat bagi mereka yang tahu cara mencarinya," bisik Lianhua pada dirinya sendiri, mengingat kembali pesan-pesan almarhumah Bibi Mei di desa dulu.

Setelah keranjang bambunya penuh dengan herba mentah segar, Lianhua tidak langsung pulang ke rumah. Ia memutar langkah menyusuri lorong kumuh di belakang pasar tengah, sebuah area pasar gelap tempat para pedagang kecil menyela barang-barang murah tanpa melalui pajak kekaisaran yang tinggi.

Dengan modal beberapa keping tembaga sisa yesterday dan ketajaman kemampuannya bernegosiasi, Lianhua mendatangi seorang kakek tua penjual barang-barang bekas.

"Kakek," tegur Lianhua dengan suara yang sangat lembut, seraya menunduk sopan di hadapan kakek tersebut. "Apakah Kakek memiliki botol-botol kaca tua atau porselen kecil yang sudah tak terpakai? Saya membutuhkannya untuk wadah minyak balur pengobatan."

Kakek tua itu menatap Lianhua dari balik kacamata kayunya yang buram, ia tertegun oleh kesopanan dan aura menenangkan yang dipancarkan oleh gadis muda di hadapannya itu.

"Ah... Tabib muda?" gumam kakek itu, seraya tersenyum ramah. "Di belakang ada satu peti botol porselen kotor bekas wadah tinta dan minyak wangi. Jika kau mau membersihkannya sendiri, kau boleh mengambil semuanya hanya dengan sepuluh keping tembaga."

Lianhua tersenyum tulus, matanya berbinar. "Terima kasih banyak, Kakek. Bantuan ini sangat berarti bagi kami."

Menjelang malam, ketika angin dingin kembali bertiup dari puncak Gunung Barat, ketiga remaja itu berkumpul kembali di dalam rumah tua mereka.

Kesibukan belum berakhir. Meskipun tubuh Feng dan Bao lesu akibat bekerja seharian di dermaga, mereka tidak langsung beristirahat.

Di dalam dapur kecil, Bao membantu menyalakan tungku api menggunakan arang kayu, menjaga agar nyala api tetap stabil untuk merebus akar-akar herba basah yang dibawa Lianhua.

Feng duduk di lantai, menggosok dan membersihkan botol-botol porselen tua hasil buruan Lianhua hingga bersih berkilau.

Lianhua sendiri berdiri di meja utama, jemari tangannya dengan lincah menumbuk daun-daun kering menggunakan lumpang batu, memisahkan serbuk halus ke dalam wadah-wadah kayu kecil yang telah diberi label nama obat.

"Hari ini kami mendapat enam puluh lima keping tembaga dari dermaga," kata Feng sambil menyerahkan kantong kain berisi kepingan logam itu ke atas meja. "Dan aku mendengar berita dari para sipir di pelabuhan, jika Panglima Lu dan Pasukan Merah dipindahkan ke sel isolasi paling bawah di Penjara Garnisun."

Lianhua menghentikan tumbukannya sejenak, lalu menatap Feng dengan pandangan tajam penuh kalkulasi.

"Sel isolasi paling bawah..." gumam Lianhua pelan. "Itu artinya lokasi mereka berada persis di dekat saluran pembuangan air lama yang terhubung ke sungai luar."

Bao mendongak dari depan tungku api, matanya membelalak kagum. "Bagaimana kau bisa tahu tentang saluran pembuangan itu, Lianhua?"

Lianhua menyunggingkan senyum tipis, lalu menunjuk ke arah selembar peta rute kota yang kini telah diisi dengan coretan-coretan arang yang sangat detail di atas meja.

"Selama mengumpulkan herba di tepi sungai siang tadi, aku mengamati muara saluran air kuno yang menembus dasar tembok benteng," jelas Lianhua tenang. "Informasi dari Feng malam ini makin mempertegas bahwa saluran air itulah kunci pintu belakang kita."

Lianhua menatap kedua rekannya satu per satu. Rumah tua yang tadinya kosong dan berdebu kini telah berubah menjadi sebuah klinik herbal yang rapi dan harum oleh aroma jamu-jamuan.

Wadah-wadah obat telah berbaris di rak kayu, kain kasa steril telah dilipat rapi, dan plang kayu 'Tabib Lian' telah siap digantung di luar besok pagi.

Persiapan fisik, modal, dan sarana penyamaran mereka kini telah genap seratus persen.

Lianhua mengepalkan tangannya perlahan di atas meja.

"Kerja keras kita hari ini telah meratakan jalan," tegas Lianhua dengan wibawa yang begitu menenangkan dada. "Besok pagi, pintu Rumah Berobat ini akan resmi dibuka untuk rakyat. Kita akan menyembuhkan luka-luka mereka, meraih hati mereka, dan menggunakan Kota Garnisun ini sebagai panggung kebangkitan kembali Aliansi Bunga Lotus!"

Bersambung...

1
Fitri 066
cerita nya sangat sangat bagus kk...terus semangat ya kk..💪💪💪
Aurora: makasih Kaka... siap, JD tambah semangat 😃🤗🙏
total 1 replies
Amy Asmeera
itulah pelik baca atas bawah atas bawah🤣terima kasih cerita nya menarik.hari2 tunggu update nya
Aurora: iya kak, othor baru ngeh, Lo episode 42 nya mana 😅
total 1 replies
chelsea dian
amazing
Murni Dewita
👣
Rubi Yati
merinding aku bacanya Thor,secangkir kopi☕ untukmu ,semangat nulisnya y💪💪💪
Aurora: makasih Kaka.... secangkir kopi nya bikin author jadi tambah semngat nulisnya 🤗
total 1 replies
Arix Zhufa
seruuu😍😍
Aurora: Alhamdulillah... makin semangat deh bikin ceritanya 😃🤗🙏
total 1 replies
Arix Zhufa
up
Arix Zhufa
saya terharu
Arix Zhufa
cerita nya bagus
Arix Zhufa
Mampir thor...semoga sampai tamat
Aurora: Makasih kakak... aamiin... semoga suka🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!