NovelToon NovelToon
DEWA PEDANG TANPA TANDING

DEWA PEDANG TANPA TANDING

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Spiritual / Reinkarnasi / Fantasi Timur
Popularitas:102.2k
Nilai: 5
Nama Author: Otna Forever

Su Yun pernah menjalani hidup penuh kegagalan, kehilangan, dan penyesalan. Ketika takdir memberinya kesempatan kembali ke masa lalu, ia bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Berbekal pengalaman dari kehidupan sebelumnya dan warisan misterius Seni Pedang Tanpa Batas, Su Yun menapaki kembali jalan kultivasi. Demi melindungi orang-orang yang berharga baginya, ia harus menghadapi para genius, sekte besar, Binatang Roh, hingga musuh yang jauh melampaui kekuatannya.

Kali ini, Su Yun tidak akan tunduk pada takdir.

Dengan pedang di tangannya, ia akan merebut kembali semua yang pernah hilang—dan membuka jalan menuju puncak dunia kultivasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 — Menang dalam Satu Pukulan

Xing Yang masih terlihat bingung setelah Su Nan Ye pergi.

“Kakak Su Yun, sebenarnya kenapa dia marah begitu?”

Xin Yue langsung memukul lengannya.

“Kau masih bertanya?”

“Aku memang tidak tahu.”

“Kau bilang Su Nan Ye nomor dua dan Su Qing nomor satu tepat ketika dia berada di dekat kita!”

Xin Yue mendengus.

“Dengan sifat Su Nan Ye, bagaimana mungkin dia menerima ucapan seperti itu?”

Xing Yang menggaruk kepala.

“Aku hanya mengatakan apa yang memang orang-orang katakan.”

“Itulah masalahmu.”

Su Yun akhirnya angkat bicara.

“Tidak semua orang bisa menerima kebenaran yang tidak mereka sukai.”

Ia memandang Xing Yang.

“Di tempat seperti ini, berhati-hatilah dengan perkataanmu.”

Xing Yang mengangguk.

Su Yun melanjutkan,

“Su Nan Ye sudah berada di tahap kesepuluh Alam Murid Roh.”

“Kalau dia benar-benar ingin melukaimu, kau belum mampu menghadapinya.”

Xin Yue langsung mengangguk setuju.

“Dengar itu.”

Xing Yang tersenyum kaku.

“Baiklah. Aku akan lebih hati-hati.”

Su Yun menepuk bahunya.

“Yang penting sekarang, lolos sejauh mungkin.”

“Kalau kita bertiga masuk dua ratus besar…”

Sudut bibirnya terangkat.

“…kalian tidak perlu terus tinggal di wilayah luar.”

Mata kedua bersaudara langsung berbinar.

“Benar!”

Namun saat itu—

Buzz!

Lempengan nomor milik Su Yun memancarkan cahaya merah.

Xin Yue langsung menunjuk.

“Kakak Su Yun!”

“Giliranmu!”

Su Yun melihat papan pertandingan.

Nomornya sudah muncul.

998.

Ia tersenyum.

“Akhirnya.”

Xin Yue mengepalkan tangan.

“Menang, ya!”

Xing Yang ikut berseru.

“Kami tunggu di sini!”

Su Yun mulai berjalan.

“Tidak akan lama.”

“Pertandingan berikutnya!”

Suara juri terdengar keras.

“Nomor 998 melawan nomor 173!”

Dua orang naik ke arena.

Begitu Su Yun muncul, suara pembicaraan langsung terdengar dari berbagai arah.

“Bukankah itu Su Yun?”

“Benar.”

“Jadi dia benar-benar ikut.”

“Siapa lawannya?”

Seorang pemuda berjubah kuning berdiri di sisi seberang.

Tubuhnya cukup besar.

Ekspresi percaya diri terpampang jelas di wajah.

Saat mendengar bisikan mengenai identitas Su Yun, ia justru tertawa.

“Hahaha!”

Ia memandang Su Yun dari atas sampai bawah.

“Ini benar-benar hari keberuntunganku.”

Su Yun tidak menjawab.

Pria itu bernama Su Da.

Aura yang dipancarkannya berada di sekitar tahap ketujuh Alam Murid Roh.

“Pertandingan pertama sudah dapat orang sepertimu.”

Su Da tertawa.

“Sepertinya aku ditakdirkan lolos.”

Beberapa orang di sekitar ikut tertawa.

“Su Da beruntung!”

“Kalau aku dapat lawan Su Yun, tenagaku bahkan tidak perlu terbuang.”

Su Da semakin puas.

Ia bahkan tidak mengambil posisi bertarung.

“Aku dengar kau dahulu jenius.”

Ia mengangkat dagu.

“Sekarang?”

Su Da menunjuk tanah.

“Kalau takut terluka, menyerah saja.”

Su Yun tetap diam.

Juri melirik keduanya.

“Siap?”

Su Da menjawab santai,

“Sudah sejak tadi.”

Su Yun hanya mengangguk.

Dong!

Lonceng berbunyi.

“Mulai!”

Su Da masih belum bergerak.

Ia bahkan tersenyum.

Namun senyum itu hanya bertahan sesaat.

Su Yun menghilang dari tempatnya.

Wus!

“Apa?”

Su Da membelalak.

Terlalu cepat.

Ia baru sempat mengangkat tangan ketika Su Yun sudah berada tepat di depannya.

Satu langkah.

Pinggang berputar.

Energi spiritual terkumpul di tinju.

Bang!

Pukulan menghantam dada Su Da.

Tubuhnya langsung terangkat.

Ia terlempar beberapa meter dan menghantam batas arena.

Brak!

Setelah berguling dua kali, Su Da terdiam.

Tidak bangkit.

Seluruh area mendadak sunyi.

Juri sendiri sempat terpaku.

Kemudian ia mengangkat tangan.

“Nomor 998 menang!”

Hening beberapa detik lagi.

Lalu—

“Apa?!”

Kerumunan meledak.

“Sudah selesai?”

“Cuma satu pukulan?”

“Aku bahkan belum melihat serangannya!”

“Bukankah Su Da tahap ketujuh?”

“Katanya Su Yun cuma tahap keenam!”

“Siapa yang mengatakan tahap keenam?”

Beberapa orang saling menatap.

Rumor tentang Su Yun ternyata sudah tertinggal jauh.

Seseorang tertawa canggung.

“Tadi Su Da bilang kalau kalah dia mau makan seprai.”

Temannya langsung menoleh.

“Dia benar-benar bilang?”

“Semua orang dengar.”

Tawa pun pecah.

Namun kali ini tidak ada yang menertawakan Su Yun.

Su Yun turun dari arena tanpa mengucapkan apa pun.

Orang-orang yang sebelumnya memenuhi jalannya otomatis memberi ruang.

Tatapan mereka sudah berbeda.

Bukan hormat.

Belum.

Namun setidaknya sudah tidak penuh penghinaan.

Su Yun tidak peduli.

Ia tahu persis mengapa kemenangan tadi begitu mudah.

Su Da meremehkannya.

Tidak menjaga pertahanan.

Tidak mengumpulkan energi.

Dan memberi kesempatan Su Yun menyerang lebih dahulu.

Dalam pertarungan nyata, kesalahan seperti itu bisa membunuh seseorang.

Xin Yue sudah menunggu ketika Su Yun kembali.

Begitu melihatnya, gadis itu langsung berlari.

“Kakak Su Yun!”

Wajahnya sangat cerah.

“Aku melihatnya!”

“Hm?”

“Satu pukulan!”

Xin Yue mengangkat satu jari.

“Benar-benar satu pukulan!”

Su Yun tertawa kecil.

“Dia terlalu meremehkanku.”

“Itu tetap hebat.”

Xin Yue memandangnya dengan bangga.

“Kakak Su Yun benar-benar sudah berbeda.”

Su Yun hendak menjawab ketika suara sorakan terdengar dari arena lain.

Xing Yang baru saja menyelesaikan pertandingannya.

Ia menang.

Pemuda itu berlari kembali sambil menyeringai.

“Aku juga lolos!”

Xin Yue langsung mencibir.

“Lebih lama daripada Kakak Su Yun.”

Xing Yang kehilangan senyum.

“Lawanku lebih kuat.”

“Alasan.”

“Memang benar!”

Su Yun membiarkan mereka berdebat.

Namun tidak lama.

Nomor pertandingan mulai kembali berubah.

Babak berikutnya telah dimulai.

Pada pertandingan kedua Su Yun, jumlah penonton jauh lebih besar.

Kemenangan satu pukulan tadi telah menyebar cukup cepat.

Banyak orang ingin melihat apakah itu hanya keberuntungan.

Arena nomor tiga puluh tujuh.

Saat Su Yun mendekat, lebih dari seratus orang sudah berkumpul.

“Dia datang!”

“Nomor 998.”

“Aku mau lihat apakah tadi cuma kebetulan.”

“Lawan kali ini tidak mudah.”

Su Yun naik ke arena.

Kemudian menatap lawannya.

Pria di seberang lebih tinggi daripada Su Da.

Tubuhnya padat.

Tatapannya tajam.

Aura tahap kedelapan Alam Murid Roh mengelilinginya.

Namanya Su Hei.

Di luar arena, seorang pria botak bertelanjang dada berdiri dengan tangan bersilang.

Dong Mu.

Salah satu tokoh cukup berpengaruh di wilayah luar.

Banyak murid mengikuti perkataannya.

Ketika Su Hei memasuki arena, Dong Mu mencibir.

“Jangan buang waktu.”

Su Hei menoleh sedikit.

“Tenang, Kakak Dong Mu.”

Ia kemudian melihat Su Yun.

“Dia tidak akan turun dalam keadaan berdiri.”

Beberapa murid di sekitar bersorak.

Su Yun hanya mengamati.

Su Hei berbeda dari lawan pertama.

Tubuhnya penuh bekas latihan.

Langkahnya stabil.

Tatapan tidak mengembara.

Orang ini sudah pernah mengalami cukup banyak perkelahian.

Tahap kedelapan.

Dan memiliki pengalaman tempur.

Jauh lebih baik.

Dong Mu kembali berseru,

“Bersihkan sampah itu!”

Su Hei menyeringai.

“Ya.”

Su Yun tidak terpengaruh.

Justru lawan seperti ini yang ia butuhkan.

Ia telah berlatih selama sebulan.

Sekarang saatnya mengetahui seberapa jauh tubuhnya berkembang.

Juri mengangkat tangan.

“Peserta bersiap.”

Su Hei langsung mengambil posisi.

Tidak ada kesombongan seperti Su Da.

Energi spiritual mulai menyelimuti kedua lengannya.

Su Yun juga sedikit merendahkan tubuh.

Dong!

“Mulai!”

Boom!

Su Hei langsung menerjang.

Tidak ada pengujian.

Tidak ada permainan.

Ia mengerahkan seluruh kekuatan dari awal.

Aura tahap kedelapan menyapu arena.

Beberapa penonton bahkan bisa merasakan tekanannya dari luar.

Xin Yue yang baru tiba langsung menegang.

“Lawan Kakak Su Yun kuat.”

Xing Yang mengangguk.

“Lebih kuat daripada yang pertama.”

Su Hei sudah mendekat.

Tinju kanannya dikelilingi energi spiritual pekat.

Ia mengayun langsung menuju wajah Su Yun.

Namun Su Yun tidak mundur.

Matanya mengikuti bahu lawan.

Pinggang.

Kaki.

Setiap perubahan kecil terlihat jelas.

Dibandingkan sebulan lalu, indra spiritual Su Yun sudah meningkat jauh.

Serangan ini cepat.

Namun belum cukup cepat.

Wus!

Su Yun menggeser tubuh setengah langkah.

Tinju melewati pipinya.

Su Hei terkejut.

Belum sempat menarik tangan—

telapak Su Yun sudah menghantam sikunya.

Tap!

Arah serangan berubah.

Tubuh Su Hei kehilangan keseimbangan sesaat.

Su Yun masuk ke dalam pertahanannya.

Siku dihantamkan ke dada.

Bang!

Su Hei mundur dua langkah.

Namun tidak jatuh.

Ia segera menstabilkan diri.

Tatapannya berubah.

Tidak ada lagi senyum.

“Bagus.”

Su Hei mengusap dadanya.

“Jadi rumor itu memang salah.”

Su Yun juga mengangkat tangan.

“Kalau begitu datang lagi.”

Kerumunan mulai hening.

Kali ini semua orang melihat dengan jelas.

Su Yun bukan menang karena keberuntungan.

Gerakan tadi terlalu tenang.

Terlalu tepat.

Dong Mu yang berdiri di luar arena juga mulai mengerutkan kening.

Su Hei meraung.

Energi spiritualnya meledak penuh.

“Jangan terlalu bangga!”

Ia menyerang kembali.

Kali ini jauh lebih cepat.

Su Yun berdiri diam sampai jarak tinggal beberapa langkah.

Kemudian tangannya perlahan bergerak menuju gagang pedang.

Untuk pertama kalinya sejak turnamen dimulai—

ia berniat menggunakan pedang.

Mata Dong Mu menyipit.

Xin Yue menahan napas.

Su Hei menerjang.

Dan Su Yun menarik bilahnya.

Sring!

......................

Bersambung...

1
kute
Lumayan
kute
Luar biasa
Nanik S
Awal yang menaruk
Agus Setiawan
semoga su yun cepat matiiiii😁😁😁
Agus Setiawan
su yun pendekar goblok...kebanyakan coklii😃😃😃
Agus Setiawan
dewa pedang tanpa batas apaan...🤪🤪🤪
Agus Setiawan
udah su yun bunuh aja...pendekar tolol😄😄😄
Okta Oktafianto
keren
Otna Forever: mksh bosku 🙏
total 1 replies
Okta Oktafianto
alurnya kerennnn
Otna Forever: mksh bosku 🙏 jangan lupa baca karyaku yang lain PENGUASA DEWA NAGA
total 1 replies
Eko🍤
bantaaaaaaaiiiiii bantaaaaaaaiiiiii bantaaaaaaaiiiiii
Eko🍤
🤣🤣malah di peras Nasib sial murid dalam👍🤣🤣
Eko🍤
mantap Thor lanjut 👍👍
Widianto Dalang
alur terlalu lambat. ud bab 100 lebih, masih seputar keluarga saja. blm ada peningkatan sama sekali
Eko🍤
apakah akan terjadi bentrok🤣🤣👍
will
wah stres gk tuh su yun? 😁👍
Nusra Perdana
tahap ke 6, tahap ke 7..?? namanya apa cok😡😡
Nusra Perdana
tahap ke enam apa..?? emang gak ada namanya Thor
Nusra Perdana
nyebutin kekuatan mereka kok hanya tingkat 5, tingkat 6,8 10..apa gak ada nama ranahnya..?
Nusra Perdana
awal yg bagus..coba kita baca terus😄
Eko🍤
bagus lariiii terus🤣🤣👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!