Tujuh tahun tanpa anak, Sinta dicap mandul dan dipaksa melihat suaminya menikah lagi. Setelah dihina dan dibuang, ia pergi, bangkit, lalu bertemu CEO dingin yang pernah menyelamatkannya. Saat rahasia istri baru terbongkar, Sinta menggugat cerai dan menemukan cinta yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LACI KOSONG
"Belum ada siapa-siapa, Mas. Aku cuma bertanya."
Sinta mematikan kran dan akhirnya berbalik. Wajahnya datar, tapi matanya mengunci Damar tanpa berkedip. Lelaki itu menelan ludah, jakunnya naik turun.
"Jangan bikin aku takut, Sin."
"Takut kenapa, Mas? Kalau isinya memang biasa saja, kamu tidak perlu takut."
Damar membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dari ruang makan terdengar suara Bu Retno memanggil namanya. Ia mengusap wajah dengan kasar, lalu pergi tanpa menjawab, meninggalkan pintu dapur terbuka lebar.
Sinta menatap punggungnya sampai hilang. Ia tahu, seseorang yang jujur tidak akan kabur dari pertanyaan sesederhana itu.
---
Siang itu rumah sepi. Bu Retno membawa Melia ke butik untuk mencoba kebaya, Rini pergi arisan, dan Damar berangkat ke toko. Sinta menunggu sampai deru mobil terakhir menghilang dari halaman, lalu melangkah ke ruang kerja Damar dengan jantung berdegup liar.
Pintunya tidak terkunci. Meja kayu jati itu rapi, terlalu rapi. Ia berlutut, menarik laci paling bawah.
Kosong.
Tak ada amplop cokelat, tak ada kertas, bahkan debu pun tak ada. Laci itu bersih seperti baru dibersihkan semalam. Sinta mengusap permukaan kayunya dengan ujung jari, dan matanya menangkap sesuatu di sudut, secuil kertas robek berwarna cokelat yang tersangkut di celah.
Ia mencabutnya hati-hati. Hanya sobekan kecil, tapi ada cetakan huruf timbul di sana: *…LABORATORIUM KLINIK SEHAT SEJAHTERA*.
"Lagi ngapain kamu di sini?"
Sinta tersentak. Rini berdiri di ambang pintu, tangan bersedekap, bibir menyunggingkan senyum miring. Tas belanjaannya masih tergantung di lengan.
"Aku cuma mencari spidol, Rin. Buat menandai daftar belanja."
"Di ruang kerja Mas Damar?" Rini melangkah masuk, matanya turun ke tangan Sinta yang terkepal. "Apa itu yang kamu genggam?"
"Bukan apa-apa."
"Kasih lihat."
"Rin..."
"Ibu!" Rini berteriak sambil berbalik, suaranya melengking. "Ibu, Sinta mengacak-acak ruang kerja Mas Damar lagi!"
Sinta buru-buru menyelipkan sobekan itu ke balik lengan bajunya, tepat sebelum Bu Retno muncul dengan wajah merah padam, napas memburu, kebaya setengah terpasang di tubuhnya.
"Perempuan tidak tahu malu!" Bu Retno merenggut rambut Sinta di pangkal kepalanya. "Kemarin sudah kuperingatkan! Kamu cari apa di sini, hah? Mau mencuri? Mau menghancurkan anakku?"
"Sakit, Bu! Saya tidak mencuri apa-apa!"
"Geledah dia, Rini!"
Rini menggeledah saku Sinta dengan kasar, menarik kantongnya keluar-masuk. Sinta menahan napas, sobekan kertas itu terasa membakar kulit lengannya. Tapi Rini hanya menemukan selembar tisu dan sebuah ponsel butut.
"Tidak ada, Bu," lapor Rini kecewa.
Bu Retno mendorong Sinta hingga punggungnya menghantam meja. "Seminggu kamu tidak boleh keluar dari paviliun! Tidak ada makan siang, tidak ada ponsel! Rini, ambil itu!"
Ponsel Sinta disita. Ia dibawa ke paviliun, pintunya dikunci dari luar. Ruangan sempit itu kembali gelap, dan untuk pertama kalinya Sinta menyadari ia benar-benar terkurung.
Ia merosot ke lantai, mengeluarkan sobekan kecil itu dari balik lengan baju, dan menatapnya di bawah celah cahaya jendela. *Laboratorium Klinik Sehat Sejahtera.* Ia tahu tempat itu. Klinik kecil di dekat rumah lamanya, tempat sahabatnya, Tari, bekerja sebagai analis.
Satu-satunya orang yang mungkin bisa membantunya, dan ponselnya sudah dirampas.
Malam itu, saat rumah kembali sunyi, terdengar ketukan lirih di jendela belakang paviliun. Sinta menegang, lalu menyibak tirai sedikit.
Seorang perempuan berjaket hitam berdiri di luar, wajahnya setengah tertutup masker. Sinta nyaris menjerit sebelum perempuan itu menurunkan masker.
"Tari?!" bisik Sinta.
"Ssst! Aku susah payah masuk lewat pagar belakang." Tari menyelipkan sesuatu lewat celah jendela, sebuah ponsel kecil. "Sin, dengar. Aku lihat nama Damar di data klinik kami, dua tahun lalu. Aku sengaja menunggu sampai berani datang."
"Hasilnya apa, Tar?"
Tari menoleh ke kiri dan kanan, wajahnya pucat, napasnya memburu.
"Hasilnya bukan yang kamu kira. Dan yang lebih parah, Sin... orang yang mengambil hasil itu bukan Damar."