Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Malam pun jatuh memeluk kota, membawa keheningan yang dingin menembus dinding papan rumah Maya. Lampu minyak remang-remang di sudut kamar membiaskan bayangan tubuhnya yang kurus di dinding. Di atas meja belajar kayu lapisnya, buku-buku pelajaran tertata rapi, dan semua pekerjaan rumah sudah diselesaikan tanpa cela. Maya terduduk di tepi tempat tidur tipisnya, memandangi jemarinya yang kasar akibat seharian memegang keranjang sayur di pasar.
Di dalam dadanya, tak ada lagi rasa panik yang berlebihan. Gejolak ketakutan yang biasanya merajai jiwanya kini perlahan surut, berganti menjadi kepasrahan yang teramat dingin. Maya sudah sangat siap dengan apa pun yang akan terjadi pada dirinya esok hari. Ia tahu betul bagaimana watak Lexa. Kejadian di pasar tadi pagi saat Mama Lexa memuji dan membanding-bandingkan dirinya di depan Lexa secara langsung bukanlah hal kecil bagi seorang gadis sesombong Lexa. Itu adalah penghinaan besar bagi egonya.
Maya membayangkan segala kemungkinan buruk yang bisa menimpanya besok di sekolah dorongan keras di koridor, siraman air kotor di kamar mandi, atau mungkin lemparan sampah yang lebih parah dari hari Jumat lalu. Hatinya sudah kebas. Ia pasrah pada takdirnya sebagai korban perundungan, menyadari bahwa di dalam labirin kekuasaan sekolah, dirinya yang miskin dan tak punya siapa-siapa hanyalah daun kering yang pasrah dihempas angin. Maya mematikan lampu meja, menarik selimut tipisnya, dan memejamkan mata dalam pasrah, bersiap menyambut neraka yang sudah pasti menunggui nya di balik gerbang sekolah besok pagi.
Sementara itu, di sisi lain kota, suasana yang sangat bertolak belakang melingkupi sebuah rumah megah berarsitektur modern. Cahaya lampu kristal yang hangat memantul indah di atas lantai marmer yang mengilap. Namun, kemewahan itu tak sanggup mendinginkan udara yang tengah memanas di dalam ruang keluarga.
Mama Lexa berdiri di dekat sofa kulit mahal dengan wajah ketus namun memancarkan kekecewaan yang mendalam. Di hadapannya, Lexa duduk bersandar dengan kedua tangan terlipat erat di dada, memutar bolak-balik matanya dengan raut wajah penuh kebosanan.
"Lexa! Mama sedang bicara sama kamu, dengarkan!" tegur Mama Lexa dengan nada suara yang meninggi, kehilangan kesabaran yang selama ini selalu beliau jaga. "Sikap kamu tadi pagi di pasar itu benar-benar tidak sopan! Mama ajak kamu ke sana supaya kamu belajar melihat dunia luar, belajar kesederhanaan, bukan malah pasang muka jijik dan membentak Mama di depan orang banyak!"
"Lexa kan udah bilang, Lexa nggak suka tempat bau dan kotor kayak gitu, Ma!" balas Lexa ketus tanpa sedikit pun niat untuk mengalah. "Ngapain sih Mama ngajak-ngajak Lexa ke sana? Lexa itu anak Papa, bukan anak pedagang pasar!"
"Justru karena kamu anak Papa kamu yang selalu memanjakan kamu itulah kamu jadi seperti ini!" potong Mama Lexa tegas, melangkah mendekati putrinya. "Kamu tumbuh jadi anak yang sangat manja, tidak tahu bersyukur, dan sama sekali tidak mau belajar membantu orang tua. Kamu pikir semua uang dan fasilitas yang kamu pakai sekarang turun begitu saja dari langit?"
Mama Lexa menarik napas panjang, mengurut pelipisnya yang terasa pening. Wajah gadis penjual sayur yang ia temui di pasar tadi pagi kembali terbayang di benaknya sebuah gambaran anak muda yang begitu kontras dengan putri tunggalnya sendiri."Kamu harusnya malu, Lexa," ujar Mama Lexa pelan namun setiap katanya menusuk tajam ke ulu hati Lexa. "Gadis penjual sayur yang kita temui tadi pagi itu... umurnya sama persis seperti kamu. Tapi lihat betapa santunnya dia, betapa gigihnya dia bantu ibunya sejak subuh tanpa mengeluh sedikit pun. Dia anak yang luar biasa rajin dan mandiri. Kenapa kamu tidak bisa sedikit saja punya kepribadian seperti gadis itu?"Mendengar nama Maya meski mamanya tidak menyebutkan nama aslinya kembali digaungkan dan dipuji-puji di dalam rumahnya sendiri, amarah di dalam dada Lexa seketika meledak dahsyat. Darahnya mendidih, matanya menyalang merah menahan tebalnya rasa malu dan benci yang membakar.
"Cukup, Ma! Cukup!" teriak Lexa histeris sambil bangkit berdiri dari sofa. "Nggak usah terus-terusan bandingin Lexa sama cewek miskin kotor itu! Lexa benci dengarnya!"Tanpa memedulikan panggil mamanya yang terkejut, Lexa memutar tubuhnya dan berlari melintasi tangga ruang tengah dengan hentakan kaki yang menggelegar di atas marmer. Ia menaiki anak tangga satu per satu dengan amarah yang membuncah sampai ke puncak. Begitu tiba di depan kamar mewahnya, Lexa masuk dan menghempaskan pintu kayu jati tebal itu dengan dentuman keras yang bergema ke seluruh penjuru rumah.
*BANG!*
Di dalam kamarnya yang luas, Lexa melempar tas desainer mahalnya ke sembarang tempat hingga isinya berserakan di atas karpet bulu. Ia bernapas memburu, dadanya naik turun menahan emosi yang teramat sangat.
Namun, hukuman atas pembangkangannya belum berakhir. Dari balik pintu kamarnya, suara tegas Mama Lexa kembali terdengar menggema, memotong keheningan malam dengan vonis yang paling ditakuti Lexa.
"Lexa! Karena sikap kamu yang tidak ada sopan santunnya dan terus-terusan memanjakan gengsi, mulai bulan ini uang jajan kamu Mama potong lima puluh persen! Dan semua kartu kredit tambahan kamu Mama bekukan sampai kamu bisa merubah sikap kamu!"
Langkah kaki Mama Lexa terdengar menjauh, meninggalkan pernyataan itu tergantung di udara.
Lexa membeku di tempatnya berdiri. Kata-kata "uang jajan dipotong" dan "kartu kredit dibekukan" berdering liar di dalam kepalanya bagaikan petir di siang bolong. Bagi gadis yang menggantungkan seluruh eksistensi, gengsi, dan kekuasaannya pada kemewahan materi, pemotongan fasilitas adalah sebuah malapetaka besar. Bagaimana ia bisa menraktir gengnya di kafe mahal? Bagaimana ia bisa membeli pakaian-pakaian bermerek untuk menjaga statusnya sebagai ratu sekolah?
Semua kenyamanan hidupnya kini terancam runtuh, dan dalam pikiran Lexa yang sudah dibutakan oleh kebencian, seluruh kekacauan ini memiliki satu muara penyebab Maya."Ini semua gara-gara lu, Maya..." geram Lexa dengan suara serak yang bergetar hebat.Ia menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur, meremas sprei sutranya hingga kusut. Sinar matanya berkilat menakutkan di dalam kegelapan kamar. Jika sebelumnya ia membenci Maya hanya karena masalah nilai ujian, kini rasa benci itu telah bertransformasi menjadi dendam murni yang membakar seluruh akal sehatnya. Gadis culun miskin itu telah merusak harinya, mempermalukannya di depan mamanya sendiri, dan kini menjadi alasan fasilitas mewahnya dicabut.
Lexa mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Rasa terbakar di dalam dadanya menciptakan ketetapan hati yang teramat kejam. Besok pagi, kepasrahan yang telah disiapkan oleh Maya di rumah sederhananya tidak akan cukup untuk menampung seluruh ledakan amarah yang siap Lexa tumpahkan di sekolah.