NovelToon NovelToon
ISTRIKU SANTRIKU

ISTRIKU SANTRIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: ZIZIPEDI

Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.

Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.

Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.

Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.

Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.

Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.

Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?

Ikuti kisahnya yuk...!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Sambangan

Tiga bulan tak terasa Anisa menjalani hidup di pondok pesantren cabang di Jawa Tengah, ia hidup di tempat yang asing. Tak ada keluarganya di Jawa Tengah, selain ibu Nyai yang ada ikatan darah dengan Gus Hafiz suami dadakannya.

Anisa tumbuh menjadi remaja yang pendiam setelah dipengasingan. Teman-teman yang baru, tak seasik teman-temannya di Jawa Timur.

Ia memang ikut tertawa, ikut bercanda bahkan hafalan Al-Qurannya pun semakin lancar. Seolah ia benar-benar baik-baik saja.

Tapi tak ada yang tahu, ada satu waktu yang selalu ia hindari.

Hari sambangan.

Setiap dua pekan sekali, pondok berubah ramai, para orang tua memanggil nama anaknya. Tangan-tangan yang membawa bingkisan, pelukan seorang ibu, tawa seorang anak yang pecah tanpa beban.

Anisa belum pernah sekalipun duduk di pendopo itu bersama orang tuanya. Ia memilih berdiri di balik pohon ketapang, menatap datar kearah pendopo, ketika melihat temannya berlari kecil ke arah orang ibunya.

“Kok kurusan, nak?”

“Kangen nggak sama Ibu?”

“Ini Ibu bawakan jajanan kesukaanmu.”

Kalimat-kalimat sederhana yang terdengar biasa, justru terasa menyesakkan di dada Anisa.

Ia berdiri diam.

Tangannya menyilang di dada, seolah biasa saja. Matanya mengikuti satu per satu adegan itu. Senyum lebar. Pelukan erat. Kepala yang dielus. Tangan yang digenggam.

Anisa hanya bisa tersenyum getir.

Matanya mulai memanas.

Cepat-cepat ia mendongak, menatap langit agar air matanya itu tak jatuh.

Ia tidak mau menangis.

Bukan karena ia tak rindu.

Justru karena rindu itu terlalu besar untuk kedua orang tuanya.

Kini, tak satu pun dari mereka datang menemui.

Tidak sekali pun dalam tiga bulan ini hadir menanyakan kabar.

Awalnya Anisa mencoba memberi jawaban sendiri dalam hati, mungkin papa, mamanya sibuk.

Lalu ia mencoba memahami, mungkin karena jauh.

Lama-lama… ia berhenti mencari alasan dan jawaban itu. Kini ia mulai yakin, jika dirinya terbuang.

Atau mungkin… mereka merasa Anisa sudah bukan tanggung jawab mereka sepenuhnya.

Anisa tersenyum tipis, melihat salah satu temannya, menyuapi ibunya kue dari kotak bekal.

Senyum itu rapi terukir di bibirnya.

Tapi di baliknya, ada pertanyaan yang tak pernah ia ucapkan.

Apa aku tidak cukup dirindukan?

pertanyaan itu terus menggantung di benaknya.

Angin siang menggerakkan daun ketapang di atas kepalanya.

Anisa menatap pendopo sekali lagi. Lalu berbalik sebelum air matanya benar-benar jatuh. Ia berjalan menjauh, kembali ke kamar dengan langkah pelan.

Ia tidak ingin orang lain melihat.

Karena selama ini, Anisa selalu terlihat kuat. Selalu terlihat tidak peduli dengan semua yang terjadi.

Padahal di dalam dirinya, ia hanya seorang anak perempuan yang masih menunggu,

menunggu dipanggil,

menunggu disambut,

menunggu diyakinkan bahwa ia tetap diinginkan.

Anisa duduk sendiri melepas hijabnya sambil mematut wajahnya di cermin. Tiba-tiba terdengar suara toa yang menyebut namanya.

"Anissa Fadillah... ditunggu keluarga di pendopo tiga," tangan Anisa berhenti sejenak, memastikan ia tak salah dengar.

Namun namanya kembali disebut.

Jantungnya seperti berhenti.

Tubuhnya terjengit, benar-benar merasa tak percaya.

Tanpa menunggu lagi, ia berlari. Kerudungnya hampir terlepas tertiup angin. Sandalnya berderap di lantai semen. Dadanya penuh harap yang melonjak-lonjak.

"Papa....mama." gumamnya, dengan hati bahagia, bibirnya melengkung.

Ia berhenti tepat di depan Pendopo tiga.

Langkahnya… membeku.

Bukan Papa yang ia rindukan.

Bukan pula Mama yang ingin ia peluk erat.

Di sana, berdiri seorang lelaki dengan kemeja abu tua dipadu kain sarung. Wajahnya teduh, sorot matanya lembut terlihat menunggu.

Gus Hafiz.

Tubuh Anisa menegang.Ada rasa kecewa di hatinya. Harapan yang tadi berlari bersamanya kini jatuh begitu saja ke tanah.

Namun Anisa tetap melangkah mendekat ke arah lelaki itu.

"Gus..." suaranya nyaris tak terdengar.

Gus Hafiz mengangguk. Tatapannya hangat.

"Gimana kabarmu?"

"Alhamdulillah, seperti yang Gus lihat."

Gus Hafiz menatap sekilas.

"Maaf, mas baru sempat sambang."

Ujarnya, sambil menyodorkan dua buah kantong plastik.

"Nggih, Gus, ndak papa."

"Oya, Mas cuma sempat beli kan ini."

Anies menyipit.

"Apa ini, Gus?"

Anisa menerima perlahan. Kantong plastik itu cukup berat. Saat ia membuka sedikit, terlihat perlengkapan mandi, sabun cair, sampo, lotion, dan beberapa jajanan kecil kesukaannya. Coklat, keripik singkong pedas dan susu milo.

“Itu perlengkapan mandi,” jawabnya tenang. “Mas nggak tahu cocok atau nggaknya sama yang biasa kamu pakai. Kalau nggak cocok, bilang aja. Nanti Mas carikan yang lain.”

Anisa terdiam menatap lekat wajah Gus Hafiz. Sebelum akhirnya Anisa menunduk kan wajahnya.

“Maturnuwun, Gus. Malah jadi merepotkan.”

Gus Hafiz mengernyit ringan.

“Ndak merepotkan?” sahutnya.

Gus Hafiz menatapnya lebih lama.

Tiga bulan tidak bertemu, dan ia melihat perubahan itu jelas. Nada suara Anisa lebih lembut. Tatapannya tidak lagi menantang. Emosinya lebih terjaga.

Bukan lagi remaja yang mudah meledak.

Ada kedewasaan yang tumbuh diam-diam.

Gus Hafiz, terlihat ragu.Seperti ingin mengatakan sesuatu, namun ia urungkan.

Sunyi menggantung di antara mereka.

Di sekeliling pendopo, suara tawa dan obrolan keluarga lain terdengar samar. Pelukan-pelukan hangat masih terjadi di sudut lain.

Dan Anisa masih berdiri bersama lelaki yang bukan orang tuanya… tapi justru datang menyambanginya.

“Mas izin ke ndalem dulu,” kata Gus Hafiz pelan. “Sekalian pamit sama Ibu Nyai.”

Lalu ia menatap Anisa.

“Kamu temani sebentar ya?”

Anisa mengangguk, tanpa menolak.

Mereka berjalan berdampingan meninggalkan pendopo. Jarak di antara mereka tidak terlalu dekat, tapi juga tidak sejauh dulu.

Langkah mereka pelan.

Angin gunung berembus lembut, menggerakkan ujung kerudung Anisa.

Setelah mendapat izin dari Ibu Nyai dan Kiai, Gus Hafiz membawa Anisa keluar pondok sebentar.

Mobil melaju pelan meninggalkan gerbang pondok pesantren.

Di dalam mobil… sunyi, seperti kuburan.

Tak ada percakapan, hanya sesekali Gus Hafiz melirik Anisa dari sudut matanya.

Anisa duduk di kursi penumpang di sebelah Gus Hafiz, matanya menatap lurus ke depan. Tangannya menggenggam ujung kerudung. Ia belum sepenuhnya terbiasa berada sedekat ini, setelah tiga bulan tanpa pertemuan.

Gus Hafiz sesekali berdehem, sepertinya berusaha mengatur napasnya, lalu kembali fokus ke jalan.

“Kamu lebih pendiam,” ujar Gus Hafiz terdengar ringan.

Anisa tersenyum kecil,"Enggak juga," sahutnya. Dan tiba-tiba jantung Anisa tak bisa setenang biasanya.

Mobil berhenti di lampu merah.

Gus Hafiz menoleh sedikit.

“Kamu lupa sesuatu.”

Anisa mengerutkan kening. “Apa?”

Sahutnya dengan wajah bingung.

Tanpa banyak bicara, Gus Hafiz sedikit memiringkan tubuhnya ke arah Anisa.

Anisa belum sempat memahami.

Tiba-tiba jarak mereka begitu dekat.

Sangat dekat.

"Gus...Panjenengan mau ngapain...?" Anisa sepontan menarik kepalanya ke belakang hingga menghantam jok, dan tangannya mendorong dada Gus Hafiz, agar pria itu menjauh.

Tapi Gus Hafiz malah menunduk, menatap tangan Anisa yang menempel cantik di dadanya. Anisa makin gugup, seketika menarik kedua tangannya cepat dari dada Gus Hafiz.

Gus Hafiz meraih tali sabuk pengaman di sisi kiri Anisa. Gerakannya tenang, tidak tergesa. Tangannya melewati bahu Anisa, hampir menyentuh lengan.

Klik.

Sabuk pengaman terpasang.

Tapi sebelum itu terjadi, Anisa sudah lebih dulu membeku.

Tubuhnya mematung. Nafasnya tertahan. Aroma sabun lembut dari pakaian Gus Hafiz terasa begitu dekat. Ia bahkan bisa mendengar detak napas lelaki itu.

Jantungnya seperti meloncat ke tenggorokan.

Beberapa detik terasa seperti adegan drama yang diperlambat.

Gus Hafiz kembali duduk tegak.

“Kebiasaan...pakek sabuk pengaman itu penting,” katanya santai, seolah tak terjadi apa-apa.

Anisa masih menatap lurus ke depan. Pipinya mulai terasa panas.

“Nggih,Maaf,” jawabnya pelan, hampir berbisik. Entah kenapa, kali ini Anisa merasa tak seperti dirinya sendiri. Dia yang selalu mendebat Gus Hafiz, tiba-tiba malah seperti gadis penurut.

Lampu hijau menyala.

Mobil kembali berjalan.

Beberapa menit berlalu sebelum Anisa berani menarik napas normal lagi.

Gus Hafiz meliriknya sekilas.

“Kamu mikir apa tadi, kok sampek se gugup itu...?” Pertanyaannya tiba-tiba meluncur jelas.

Anisa menoleh, melirik Gus Hafiz yang tetap fokus pada jalan.

“Nggak...emang mikir apa...?” jawab Anisa cepat. Terlalu cepat malah.

Gus Hafiz tersenyum samar, sambil membenahi duduknya.

***

Mobil berhenti di sebuah kafe kecil di tengah persawahan, cafe saung itu terkenal dengan menunya yang lezat.

Makanan sudah terhidang di depan mereka.

Anisa berusaha fokus pada nasi dan lauknya. Ia tahu sejak tadi Gus Hafiz memperhatikannya sekilas-sekilas, bukan dengan tatapan posesif, tapi seperti seseorang yang sedang memastikan sesuatu.

“Badanmu berisi sekarang...,” ujar Gus Hafiz akhirnya.

Anisa menoleh. Seketika menunduk menatap ke arah dadanya, dan menarik ujung kerudungnya.

Ada senyum samar di sudut bibir Gus Hafiz. Lalu ia menatap Anisa untuk yang kesekian kalinya. Kali ini lebih teliti.

“Bajumu mulai sempit.”

Ujarnya.

Anisa mendelik.

"Maksud Gus..."

Anisa langsung menyilangkan kedua tangannya ke atas dada.

Gus Hafiz tertawa renyah.

"Maaf... maaf, bukan itu maksud Mas."

Gus Hafiz merasa tak enak, sepertinya dia salah bicara, sampai Anisa mikir sejauh itu.

"Mas lihat..." Ada jeda disana.

"Bajumu udah nggak nyaman dipakek, Nanti setelah makan, kita cari baju gantimu."

Anisa mendingan cepat, ada rasa malu, karena sudah salam menafsirkan.

"Ndak usah Gus...ini masih muat kok."

Gus Hafiz menatap Anisa, lama.

“Kamu istri Mas. Mas cuma nggak mau orang lain memperhatikan yang bukan haknya.”

Kalimat itu jatuh pelan. Tegas. Tanpa penekanan berlebihan.

Anisa seperti kehilangan udara.

Istri Mas.

Kalimat itu jatuh bak palu.

Ia tersedak.

“Uhuk...!”

Gus Hafiz menoleh. Tangannya terangkat refleks, menepuk punggung Anisa perlahan.

“Pelan-pelan makannya.”

Ujarnya terdengar begitu tenang.

Anisa makin gugup. Tenggorokannya masih terasa tercekik, tapi jantungnya jauh lebih kacau.

Aku sudah pelan-pelan, Gus…

yang bikin aku keselek itu kata-katamu.

Anisa membatin kesal pada dirinya sendiri, karena ia tak lagi bisa mengontrol detak jantungnya.

Anisa tak berani menatap lama. Tangannya sibuk merapikan sendok yang sebenarnya sudah rapi.

Dan suara Gus Hafiz kembali terdengar.

“Kamu nyaman di pondok yang baru?” tanya Gus Hafiz tiba-tiba.

Anisa mengangguk pelan. “Alhamdulillah, nyaman, Gus.”

“Syukurlah...”

Sunyi tak ada obrolan beberapa detik, hanya suara sendok yang beradu dengan piring.

Dan di saat itu, mata Anisa tak sengaja menangkap cincin belah rotan melingkar di jari manis Gus Hafiz.

Anisa terdiam kaku.

Ia tak asing dengan cincin perak yang melingkar di jari manis Gus Hafiz. Itu jelas bukan cincin kawin mereka...

Anisa seketika menyudahi makannya.

Selera makannya menguap hilang.

Gus Hafiz memperhatikan Anisa yang keningnya berkerut.

"Ada apa...?"

Anisa tak menjawab.

Remaja itu hanya menatap cincin yang melingkar manis di jari manis Gus Hafiz.

1
Elen Gunarti
huh mlai dilema
Pa Dadan
karyanya bagus
Simkuring, Prabu
mana kelanjutannya
Alim
akhirnya
Elen Gunarti
jujur lah Anisa biar semua jelas
Alim
😭😭😭
Listio Wati
mewek baca y
Elen Gunarti
huh nyesek bingot ceritay, double up Thor
Listio Wati
kasihan bener si anisa
Titik Sofiah
lanjut Thor
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor
Elen Gunarti
ceritanya bgus tp up-nya lama Thor
Zizi Pedi: makasi kk🥰
total 1 replies
Elen Gunarti
kuintip bolak balik blm up🤭
Elen Gunarti
double up Thor 👍👍👍👍
Elen Gunarti
lanjut
Elen Gunarti
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!