Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BANTUAN PERTAMA DI TOKO KELONTONG
Langkah kaki Enzo mengayun cepat menelusuri trotoar jalan raya yang mulai ramai oleh lalu lalang kendaraan pagi. Udara dingin sisa hujan semalam masih berembus pelan, membawa aroma debu basah dan asap knalpot angkutan umum yang saling berebut penumpang. Di genggaman tangan kanannya, ponsel tua berlayar retak itu sesekali bergetar pendek, menampilkan angka hitungan mundur yang kini tersisa kurang dari empat menit.
Enzo mempercepat langkahnya hingga setengah berlari. Rasa pegal di bahu dan lehernya akibat tidur canggung semalam sejenak terabaikan, terdorong oleh rasa penasaran yang terbaur dengan kecemasan. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika hitungan mundur itu habis sebelum ia sampai di lokasi, tetapi nalurinya menegaskan bahwa aplikasi misterius di ponselnya tidak sedang main-main.
Di sudut persimpangan jalan utama, bangunan ruko dua lantai bercat hijau pudar berdiri dengan pintu gulung seng yang sudah terbuka separuh. Papan kayu bertuliskan 'Toko Kelontong Berkah' terpasang agak miring di atas kanopi ruko. Di halaman depan yang sempit, tumpukan kardus mi instan, tabung gas tiga kilogram, dan beberapa galon air mineral tertata lumayan rapi.
Tepat saat Enzo menjejakkan kakinya di lantai semen pelataran toko, ponsel di genggamannya bergetar panjang sekali.
[Misi Pertama: Tiba di Lokasi — Selesai.]
[Analisis Situasi: Konflik Aktif di Meja Kasir.]
Enzo menghentikan langkahnya di ambang pintu, memasukkan ponselnya ke dalam saku celana jins, lalu menarik napas panjang demi menenangkan detak jantungnya yang berkejaran. Namun, belum sempat ia mengatur napas, pendengarannya langsung ditangkap oleh nada suara pria yang tinggi dan membentak kasar dari arah dalam toko.
"Mbak, kamu ini niat jualan atau mau menipu orang, sih?" bentak seorang pria gempal berjaket kulit kusam seraya menggebrak meja kasir kayu hingga beberapa kemasan permen terlempar ke lantai.
Di balik meja kasir yang sempit, seorang gadis muda berseragam kaus abu-abu polos tampak menyusutkan bahunya setirus mungkin. Rambut hitamnya diikat ekor kuda sederhana, membingkai wajah manusianya yang kini pucat pasi tanpa warna. Jemari tangannya yang mungil gemetar hebat saat memegang selembar uang kertas sepuluh ribuan yang lecek. Gadis itu adalah Nadira.
"Ma-maaf, Mas... tapi tadi Mas bilangnya cuma mau beli dua kemasan minyak goreng, dan uangnya..." cicit Nadira dengan suara yang sangat pelan, hampir tenggelam oleh deru mesin truk yang melintas di jalan raya.
"Uang saya tadi seratus ribu utuh! Kenapa kamu cuma mengembalikan uang sepuluh ribu?" potong pria itu dengan mata melotot lebar, memajukan badannya ke arah meja kasir hingga membuat Nadira refleks melangkah mundur sampai punggungnya membentur rak rokok di belakangnya.
"Jangan mentang-mentang toko ini sepi, kamu bisa bodohi saya, ya! Panggil pemilik tokonya sekarang!" seru pria itu lagi sambil menunjuk-nunjuk wajah Nadira dengan telunjuknya yang kasar.
Nadira makin panik. Bola matanya bergerak liar ke sekeliling ruko, mencari sosok Pak Haji Ramli yang sepertinya sedang tidak ada di tempat. Air mata mulai menggenang bening di sudut matanya yang sembab. Gadis berusia delapan belas tahun itu tampak begitu rapuh, cemas, dan sepenuhnya dikuasai rasa bersalah—sebuah kebiasaan buruk di mana ia selalu merasa dirinya yang salah setiap kali berhadapan dengan tekanan orang lain.
Ponsel di saku celana Enzo bergetar dua kali secara berurutan. Enzo menarik pelan ponselnya dan melirik layarnya yang menyala redup.
[Status Target: Nadira (18 Tahun).]
[Tingkat Kecemasan: 85% — Risiko Serangan Panik Tinggi.]
[Latar Belakang Emosional: Takut pada konflik langsung, cenderung mengalah walau berada di pihak yang benar karena tidak memiliki rasa percaya diri untuk membela diri.]
[Instruksi Misi: Hentikan intimidasi tanpa kekerasan fisik. Tunjukkan bahwa kebenaran butuh ketegasan, bukan ratapan.]
Enzo sempat tertegun di tempatnya berdiri. Kaki pemuda itu terasa seberat timbal. Naluri penakut yang selama ini bersarang di dalam kepalanya mendadak berbisik liar di dalam pikiran: *Nggak usah ikut campur, Zo. Itu bukan urusan lu. Pria itu badannya jauh lebih besar, bisa-bisa lu malah kena pukul atau diseret ke masalah orang lain.*
Namun, bayangan deretan kalimat analisis karakter dari kuesioner tadi pagi mendadak terngiang amat jelas di telinganya: *Selalu memilih mundur sebelum bertarung... penakut... pengeluh kronis... berada di tingkat paling bawah.*
Enzo menggertakkan giginya rapat-rapat hingga rahangnya menegang. Rasa panas yang membakar dadanya kembali muncul, menyapu bersih keraguan yang sempat melumpuhkan langkahnya. Ia menyapu wajah kusamnya dengan telapak tangan, lalu melangkah maju menembus remang ruko.
"Nggak usah teriak-teriak, Bang," potong Enzo dengan nada suara datar namun bertekanan kuat seraya berdiri tepat di samping pria berjaket kulit itu.
Pria gempal itu menoleh kaget, menatap Enzo dari ujung rambut berantakan hingga sepatu kets lusuhnya dengan pandangan melecehkan. "Lu siapa? Nggak usah ikut campur kalau cuma mau belanja!" gertak pria gempal itu seraya mengibaskan tangannya di udara.
Nadira mengangkat wajahnya yang pucat, menatap Enzo dengan mata berair. Ada rasa terkejut yang dalam sekaligus secercah harapan yang mendadak terpancar dari binar matanya saat melihat keberadaan Enzo di sana. "Mas Enzo..." cicit Nadira memanggil nama pemuda itu dengan nada tertahan seraya meremas kemasan kausnya.
Enzo menepuk pelan meja kayu kasir untuk menarik perhatian, lalu menunjuk ke arah celah kecil laci uang yang terbuka sedikit. "Bang, lu tadi bayar pakai uang lima puluh ribuan lembar lama yang warnanya agak kusam, kan?" tanya Enzo seraya menatap lurus wajah pria gempal di sebelahnya.
Pria gempal itu sedikit tertegun. Raut wajahnya berubah canggung selama sepersekian detik sebelum ia kembali memasang wajah garang. "Sotoy lu! Uang gue tadi seratus ribuan baru!" balas pria gempal itu dengan nada melengking.
"Gue tadi udah berdiri di depan ruko pas lu ambil minyak di rak depan," sahut Enzo tenang, berbohong demi mengunci gertakan pria tersebut. "Uang lima puluh ribuan yang lu kasih ada di paling atas laci itu, ujung sebelahnya terlipat sedikit. Minyak goreng dua liter harganya tiga puluh sembilan ribu. Nadira kasih kembalian sepuluh ribu plus uang logam seribu di atas kantong. Perhitungan dari mana yang bilang lu harus dapet kembalian enam puluh ribu?"
Pria itu tampak gelagapan seketika. Matanya melirik secara refleks ke arah laci uang yang terbuka, di mana lembaran lima puluh ribu lecek memang bertengger di paling atas tumpukan—sebuah bukti fisik sederhana yang tak bisa ia bantah lagi. Niat awalnya yang ingin memanfaatkan kepolosan dan kecemasan Nadira demi mendapatkan uang kembalian lebih kini berbalik mencekik dirinya sendiri.
"Lu... lu nuduh gue mau menipu?" gertak pria itu lagi, meski kini nada suaranya terdengar goyah dan sengaja dibikin keras untuk menutupi rasa malu yang menjalar.
"Gue nggak nuduh siapapun," jawab Enzo seraya melipat kedua tangannya di dada dengan tenang. "Gue cuma ngomong fakta. Dan kalau lu masih mau bikin keributan di sini, di atas rak rokok itu ada kamera CCTV. Kita bisa tunggu Pak Haji Ramli pulang dari pasar dan putar rekamannya bareng-bareng."
Pria berjaket kulit itu melirik cepat ke sudut atas rak rokok, di mana sebuah kotak plastik hitam kecil terpasang—meski Enzo sendiri sebenarnya sangat yakin kotak itu hanyalah pajangan tua yang sudah mati bertahun-tahun lalu. Namun, ketenangan sikap Enzo dan tatapannya yang tak tergoyahkan rupanya cukup untuk meruntuhkan mental pria tersebut.
Pria itu mengumpat pelan di dalam mulutnya, menyambar dua kantong minyak goreng dan uang kembalian sepuluh ribu di atas meja dengan gerakan kasar. "Awas lu ya, toko nggak jelas!" umpat pria itu seraya berbalik cepat dan melangkah pergi menembus keramaian trotoar jalan raya dengan terburu-buru.
Suasana di dalam Toko Kelontong Berkah mendadak lengang. Hanya ada deru kipas angin tua yang berputar enggan di langit-langit ruko dan hembusan angin pagi yang bertiup masuk membawa aroma jalanan.
Enzo menghembuskan napas panjang yang tertahan di dadanya, merenggangkan bahunya yang sempat tegang selama konfrontasi berlangsung. Ia berpaling menatap gadis di balik meja kasir. Nadira masih berdiri mematung, memegangi dadanya yang naik turun dengan napas yang memburu pelan.
"Mas Enzo..." bisik Nadira pelan seraya menundukkan kepalanya, tak sanggup menatap mata Enzo.
"Lain kali, kalau ada orang yang bentak-bentak begitu padahal kamu di posisi yang benar, jangan malah makin nunduk," kata Enzo seraya membungkuk sedikit untuk mengambil beberapa kemasan permen yang berserakan di lantai, lalu menatanya kembali di atas meja kasir. "Orang kaya gitu cuma berani menekan orang yang kelihatan takut."
Nadira mengusap pipinya yang basah dengan ujung lengan kausnya yang agak kepanjangan. "Maaf ya, Mas... Nadira memang penakut banget. Tadi otak Nadira langsung kosong, bingung dan takut banget harus ngomong apa..." cicit Nadira dengan nada menyesal yang amat dalam.
"Nggak usah minta maaf," potong Enzo halus seraya menatap wajah gadis muda itu dengan pandangan hangat. "Kamu nggak melakukan kesalahan apa pun. Kamu cuma perlu belajar buat lebih tegas sama diri sendiri."
Ponsel di saku celana Enzo bergetar pelan dua kali. Tanpa menariknya keluar, Enzo bisa merasakan getaran itu sebagai sebuah pertanda. Saat ia melirik sekilas ke layarnya yang sedikit menyipit dari dalam saku, deretan kalimat baru telah tercetak rapi di sana:
[Misi Pertama Selesai.]
[Hasil: Intimidasi berhasil dihentikan dengan ketenangan dan fakta.]
[Evaluasi Subjek: Anda berhasil menekan ketakutan pribadi demi mengambil keputusan yang benar.]
[Poin Keberanian Bertambah: +10]
[Tingkat Keterikatan Nadira: 12% (Mulai Merasa Aman).]
Enzo memandangi angka 12% di layar ponselnya sejenak sebelum memasukkannya kembali rapat-rapat. Saat ia kembali menatap Nadira yang kini menyunggingkan senyum canggung di balik sisa air matanya, ada perasaan asing yang mengalir hangat di dalam dadanya. Bukan karena poin keberanian atau persentase sistem yang bertambah, melainkan karena ia menyadari satu hal: keberadaannya pagi ini benar-benar berarti bagi seseorang.