Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.
Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.
Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 — Hal-Hal Kecil yang Membawa Kita Pulang
Musim hujan baru saja dimulai. Langit pagi itu terlihat kelabu tapi suasananya terasa menenangkan. Aku sedang merapikan buku-buku di rak kamarku saat terdengar ketukan pelan di pintu depan. Saat kubuka tidak ada siapa-siapa, cuma ada sebuah kotak kardus kecil yang diletakkan di ambang pintu. Tidak ada nama pengirimnya. Cuma ada tulisan pendek di bagian luar kotak itu: Dari seseorang yang kamu bantu, terima kasih sudah mengingatkan aku untuk terus berjalan.
Aku membukanya pelan. Di dalamnya ada sepasang syal rajut yang lembut berwarna abu-abu, selai kacang buatan sendiri, dan selembar surat yang ditulis tangan dengan tinta biru. Surat itu panjang banget. Penulisnya bercerita bahwa dia dulu pernah merasa hidupnya sudah tidak ada artinya lagi setelah kehilangan orang yang paling dia sayang. Dia menemukan tulisanku secara tidak sengaja saat dia sedang duduk sendirian di tengah malam yang sepi. Dia bilang kata-kata sederhana itu seperti tangan yang menepuk pundaknya pelan dan bilang bertahanlah sebentar lagi. Hari-hari berikutnya dia mulai bangun pagi sedikit lebih awal, menyapu halamannya, menyapa tetangganya, dan perlahan merajut kembali hidupnya yang dulu terasa hancur. Dia membuat syal itu supaya saat musim dingin atau saat hari terasa dingin di hatimu, kamu tetap merasa hangat.
Membaca itu mataku terasa panas. Aku tidak pernah bertemu orang ini. Aku tidak tahu namanya atau di mana dia tinggal. Tapi di sini dia ada di hadapanku, menyampaikan kebaikan yang mungkin dulu aku terima dari orang lain, lalu sekarang sampai kepadaku. Itulah lingkaran kebaikan yang tidak pernah putus kan? Seseorang menanam, orang lain merawat, dan semua orang menikmati keteduhannya tanpa perlu tahu siapa yang menanamnya pertama kali. Aku memegang syal itu di pelukanku sejenak. Rasanya hangat dan lembut, persis seperti perhatian yang tulus. Aku tidak akan pernah bisa membalas kebaikannya secara langsung, tapi aku bisa meneruskannya kepada orang lain yang sedang membutuhkan. Itulah cara terbaik berterima kasih.
Aku membawa kotak itu ke meja tulisku dan meletakkannya di samping buku catatan Bima. Lalu aku duduk diam sebentar sambil memandang ke luar jendela di mana rintik hujan mulai jatuh membasahi tanah. Terima kasih Bima. Lihat kan? Langkahmu yang dulu terasa sendirian sekarang sudah jadi jalan yang dilalui banyak orang. Kamu tidak pernah tahu ke mana langkahmu akan membawa orang lain saat kamu berjalan dengan tulus. Itulah hal yang paling ajaib di dunia ini. Kamu cuma perlu melakukan apa yang menurutmu benar dan baik, lalu biarkan waktu yang menunjukkan seberapa jauh dampaknya bisa sampai.
Beberapa hari kemudian aku berjalan ke taman itu lagi. Hujan baru saja reda dan udaranya terasa segar banget. Bau tanah basah yang menenangkan tercium di mana-mana. Daun-daun di pohon besar itu masih meneteskan air hujan perlahan ke tanah di bawahnya. Saat aku mendekat ke bangku kayu itu aku melihat ada seorang gadis yang sedang duduk di sana sambil memegang selembar kertas yang terlihat basah sedikit di ujungnya. Dia terlihat sedang berusaha menahan tangis. Bahunya sedikit bergetar dan kakinya terlihat tidak tenang di atas tanah yang lembap. Aku tidak langsung menyapanya. Aku cuma berjalan mendekat pelan lalu duduk di ujung bangku yang lain, memberi dia ruang supaya dia tidak merasa terganggu atau tertekan untuk segera berbicara.
Setelah beberapa saat dia menoleh dan menatapku dengan mata yang masih berkaca-kaca. Dia bilang dia baru saja kehilangan sahabatnya dan ini tempat yang dulu sering mereka kunjungi bersama. Dia pikir kalau dia datang ke sini dia akan merasa lebih baik, tapi ternyata rasanya justru semakin berat. Dia merasa seolah dia salah karena masih bisa berjalan ke sini sementara temannya tidak bisa lagi menemaninya. Dia bilang kadang dia merasa senang itu adalah hal yang dilarang buatnya, seolah kalau dia tersenyum berarti dia melupakan temannya begitu saja.
Aku tersenyum lembut dan bilang kepadanya bahwa wajar sekali kalau rasanya berat. Wajar kalau kamu merasa belum siap untuk tersenyum lagi. Kamu tidak perlu buru-buru sembuh. Luka punya waktunya sendiri. Yang penting jangan tutup hatimu rapat-rapat. Biarkan rasa sedih itu lewat seperti hujan yang turun lalu berhenti dengan sendirinya. Kamu tidak mengkhianati siapa pun dengan tetap hidup dan tetap menemukan kebahagiaan kecil di sekitarmu. Justru dengan kamu terus berjalan, kamu sedang menghormati orang yang kamu cintai. Dia pasti mau melihat kamu hidup dengan baik, bukan berhenti di tempat yang sama selamanya.
Dia mendengarkan sambil menunduk. Air matanya jatuh perlahan ke tanah di antara kakinya. Dia bilang terima kasih sudah tidak menyuruhku untuk cepat ikhlas. Banyak orang bilang begitu seolah ikhlas itu sesuatu yang bisa dipaksakan dalam semalam. Padahal ikhlas itu perjalanan panjang yang harus ditempuh pelan-pelan, langkah demi langkah, sambil sesekali berhenti untuk bernapas dan menangis kalau memang itu yang kamu butuhkan. Tidak ada yang berani menghakimimu selama proses itu. Kamu berhak untuk sedih selama yang kamu butuhkan.
Kita duduk di sana cukup lama tanpa banyak bicara. Kadang angin berhembus dan membuat dedaunan berdesir pelan. Kadang ada burung yang terbang rendah di antara pepohonan. Kadang cuma suara napas kita berdua yang terdengar lembut di keheningan sore itu. Kadang yang paling dibutuhkan seseorang bukanlah nasihat yang panjang dan bijaksana. Tapi kehadiran yang tenang dan penerimaan bahwa perasaannya itu wajar dan berharga. Bahwa dia tidak aneh dan tidak sendirian dalam perasaannya. Itu saja sudah cukup untuk membuat hatinya terasa sedikit lebih ringan.
Saat dia pamit pulang langkahnya terasa lebih ringan dari saat dia datang. Dia melambaikan tangan dan tersenyum kecil padaku. Senyum yang belum utuh, masih ada sisa kesedihan di sana, tapi senyum yang menunjukkan dia siap untuk melangkah lagi. Dia tidak berjalan dengan cepat dan terburu-buru. Dia berjalan dengan tenang, seolah dia baru saja meletakkan beban berat dari pundaknya sedikit saja, dan itu sudah cukup untuk hari ini.
Saat aku berjalan pulang aku menyadari satu hal yang sederhana. Bima dulu juga tidak pernah memberiku nasihat yang rumit. Dia cuma ada di sana. Dia mendengarkan. Dia menemani. Itu saja. Dan ternyata itu sudah cukup untuk mengubah seluruh hidupku. Sekarang aku bisa melakukan hal yang sama untuk orang lain. Tidak perlu menjadi orang hebat untuk bisa bermanfaat. Cuma perlu hadir dengan tulus. Mendengarkan tanpa menghakimi. Menemani tanpa banyak tanya. Memberi ruang tanpa merasa terganggu. Hal-hal sederhana seperti itulah yang sebenarnya paling dibutuhkan oleh kita semua.
Malam itu aku menulis di bukuku dengan perasaan yang damai. Lampu meja menyinari halaman kertas dengan cahaya yang hangat dan lembut. Di luar jendela hujan sudah berhenti dan udara malam terasa sejuk menembus celah jendela yang sedikit terbuka.
Kita sering berpikir bahwa untuk berguna kita harus melakukan sesuatu yang besar dan dikenal banyak orang. Kita pikir harus terkenal, kaya, atau punya kedudukan baru kita bisa membuat perubahan di dunia ini. Tapi Bima mengajarkan aku bahwa hal-hal kecil justru yang paling besar dampaknya. Menemani seseorang yang sedang sepi tanpa banyak bicara. Mendengarkan cerita orang lain dengan tulus tanpa terburu-buru ingin memberi solusi. Memberi senyum kepada orang yang terlihat lelah di jalan tanpa mengharap balasan. Membiarkan seseorang menangis di dekatmu tanpa menyuruhnya segera berhenti. Memberi waktu kepada diri sendiri untuk sembuh tanpa terburu-buru menjadi kuat. Mengucap terima kasih untuk hal yang kecil dan sederhana. Menyapa tetangga yang jarang berbicara. Menyisihkan sedikit makanan untuk yang membutuhkan. Hal-hal kecil seperti itulah yang menyatukan kita semua sebagai manusia. Hal-hal kecil itulah yang sebenarnya membawa kita pulang ke tempat yang paling dalam di hati satu sama lain.
Jangan pernah remehkan kebaikan kecil yang kamu lakukan hari ini. Mungkin kamu tidak akan pernah tahu seberapa jauh dampaknya akan sampai. Mungkin tidak hari ini dan tidak besok, tapi suatu hari nanti, di tempat yang belum kamu ketahui, seseorang akan merasa terbantu dan terselamatkan hanya karena kamu memilih untuk berbuat baik saat itu juga. Itulah keajaiban yang bekerja secara diam-diam di antara kita. Satu langkah kecil yang tulus akan selalu menemukan jalannya ke hati yang tepat pada waktunya yang tepat.
Aku menutup bukuku pelan dan meletakkannya di meja. Di sampingnya ada syal rajut pemberian orang asing itu, buku catatan Bima, dan gambar buatan anak kecil dari bukit dulu. Semuanya terasa seperti kepingan-kepingan kecil yang menyusun keindahan hidupku. Aku menyentuh liontin di dadaku dan berbisik pelan ke dalam keheningan malam. Terima kasih sudah mengajarkan aku hal-hal yang sederhana tapi paling penting di dunia ini. Terima kasih sudah menjadi langkah pertama yang membawa aku pulang ke diriku sendiri. Sekarang aku siap menjadi langkah kecil bagi siapa pun yang membutuhkannya. Selamat malam Bima. Semoga kamu tidur dengan tenang di sana. Di sini semuanya berjalan baik. Karena kamu pernah ada di antara kita.