NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:18.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_

Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Kehangatan di balik Kasta

Lentera melangkah mendekati tempat tidur perawatan elektronik yang megah itu dengan canggung.

Langkah kakinya yang dibalut flat shoes tipis murahan terasa sedikit tenggelam di atas permukaan karpet beludru wol premium impor yang sangat tebal.

Ia bergerak maju hanya karena didorong oleh tarikan ramah dari lambaian tangan Sera yang begitu bersemangat.

Di sisi lain ruangan, Alensky juga ikut berdiri dari sofa kulit tempatnya duduk semula. Wanita muda berwajah cantik dengan garis rahang tegas khas keturunan bangsawan itu memberikan sebuah senyuman hormat yang sangat sopan.

Kedua lengan Alensky yang anggun tampak mendekap dengan sangat hati-hati seorang bayi mungil yang sedang tertidur lelap dalam balutan bedongan kain sutra putih yang lembut.

Sebagai sesama sepupu perempuan Sean, Alensky memancarkan pesona karismatik yang mandiri.

"Halo, Nyonya Sera,.maksud saya, Nona Alensky," ucap Tera dengan nada suara yang sedikit terbata-bata.

Lidahnya yang biasanya fasih berbicara ceplas-ceplos mendadak terasa kaku. Ia berusaha keras mengingat kembali deretan protokol sapaan formal untuk anggota keluarga inti konglomerat pemegang saham Nugraha Group, yang pernah ia baca sekilas di majalah bisnis internal rumah sakit saat mengantre di kafetaria.

"Nama saya Lentera, biasa dipanggil Tera. Saya-saya hanya menjalankan tugas kemanusiaan saya yang sudah semestinya sebagai dokter umum saat kecelakaan itu terjadi. Sungguh, tidak ada yang perlu dilebih-lebihkan atau diistimewakan secara berlebihan."

"Aduh, jangan panggil Nyonya atau Nona! Telingaku bisa langsung gatal-gatal dan merinding mendengarnya! Panggil saja Kak Sera dan Kak Alen!" potong Sera dengan gaya yang meledak-ledak dan heboh.

Karakter jujur dan blak-blakannya itu ternyata memiliki frekuensi yang sangat mirip dengan pembawaan Tera sendiri.

Sifat yang sama sekali tidak menyukai kepalsuan basa-basi korporat.

"Kita ini keluarga besar Nugraha. Dan karena kamu sudah menyelamatkan nyawa patung es berjalan yang kaku dan menyebalkan ini, secara otomatis kamu sudah kami anggap sebagai bagian dari lingkaran dalam kami. Titik! Tidak ada bantahan, tidak ada negosiasi, Dokter Tera!"

Sera langsung meraih tangan kanan Tera tanpa meminta izin terlebih dahulu. Ia menggenggamnya dengan sangat erat menggunakan kedua telapak tangan pribadinya yang halus, hangat, dan sewangi minyak mawar esensial.

Namun, tepat pada detik berikutnya, ketika permukaan kulit telapak tangan Sera bersentuhan secara penuh dengan jemari tangan Tera, sebuah ekspresi keterkejutan yang sangat luar biasa mendadak melintas di wajah cantik wanita yang baru saja melahirkan itu.

Sera membelalakkan matanya yang indah dengan sempurna. Ia menatap ke arah tautan tangan mereka seolah-olah baru saja tersengat aliran listrik statis yang tidak kasat mata namun memiliki daya kejut yang kuat.

Sebagai salah satu anggota garis darah Nugraha murni yang sejak lahir dibekali dengan kepekaan spiritual tinggi terhadap aliran energi, Sera bisa merasakan sesuatu yang di luar nalar.

Ada sebuah pancaran kekuatan murni yang sangat hangat, bersih, dan luar biasa damai yang mengalir keluar secara alami dari pori-pori kulit tangan Lentera.

Energi hangat itu merayap masuk melalui pembuluh darah Sera, menjalar dengan cepat, dan terasa begitu kuat hingga mampu menenangkan sisa-sisa ketegangan saraf serta rasa nyeri pasca-persalinan yang dialaminya hanya dalam hitungan detik.

Kedamaian yang dibawa oleh aura Tera terasa bagaikan oase sejuk yang menyiram tanah gersang.

Sera yang masih terkesima segera beralih menatap wajah sepupu perempuannya, Alensky, dengan binar mata lebar yang penuh dengan kode rahasia. Tatapan mata penuh arti yang langsung dipahami oleh sesama keturunan Nugraha yang peka.

Alensky, yang langsung menangkap perubahan ekspresi drastis Sera, ikut melangkah mendekat dengan rasa penasaran yang membuncah di dada.

Sambil tetap menimang sang keponakan kecil dengan tangan kanannya, ia mengulurkan telapak tangan kirinya yang bebas untuk menyentuh punggung tangan Tera, sebagai bentuk salam perkenalan yang bersahabat.

Dan saat kulit tangan Alensky bersentuhan dengan kulit Tera, wanita keturunan bangsawan itu juga ikut tertegun di tempatnya.

Seluruh otot tubuhnya menegang sesaat ketika merasakan desiran energi hangat penyeimbang yang sama pekatnya. Energi itu dengan instan meredam segala kelelahan mental serta stres emosional yang ia rasakan akibat ikut cemas menemani proses persalinan Sera.

"Luar biasa." gumam Alensky sangat lirih dengan nada suara terkesima yang tertahan di tenggorokan.

Ia perlahan-lahan menarik kembali tangannya lalu melirik ke arah Sean yang sejak tadi berdiri diam membisu di belakang tubuh Tera. Sean menampilkan ekspresi wajah yang sangat tenang, tegak, dan berwibawa.

Namun, sepasang mata elangnya memancarkan kilat yang penuh arti kemenangan. Seolah-olah pria itu ingin pamer kepada kedua sepupu perempuannya bahwa tebakannya selama ini mengenai keunikan tersembunyi dari gadis umum ini sama sekali tidak pernah salah.

Sean memberikan sebuah kode anggukan rahasia yang sangat samar dan tipis kepada Sera dan Alensky.

Sebuah isyarat mata yang sangat tegas, dingin, dan mengikat. Isyarat yang memerintahkan mereka agar sama sekali tidak membahas, menyinggung, atau mempertanyakan hal supranatural sensitif tersebut di depan Tera.

Sebab, saat ini Tera masih sangat awam, polos, dan buta dengan dunia mistis serta kutukan energi yang menyelimuti silsilah keluarga besar Nugraha.

"Dokter Tera," Alensky segera membuka suara untuk mencairkan suasana canggung yang sempat membeku selama beberapa detik akibat deteksi energi tadi. Suaranya kini terdengar jauh lebih bersahabat, santai, dan penuh kehangatan seorang kakak perempuan. "Terima kasih banyak atas bantuan tulus dan keberanianmu pada Sean tempo hari. Pria ini kalau tidak ada kamu di lokasi kejadian yang mengerikan itu, mungkin sekarang sudah berubah menjadi besi tua bersama mobil mewah kesayangannya minggu lalu. Dia ini memang selalu keras kepala dan sombong, selalu mengira dirinya terbuat dari baja padat yang tidak bisa hancur oleh apa pun."

"Betul sekali, Kak Alen!" Tera langsung menyahut dengan sangat bersemangat.

Gaya tanpa filternya yang ceplas-ceplos keluar begitu saja tanpa bisa dibendung lagi. Rasa sungkan dan takutnya menguap setelah ia merasakan betapa hangat dan ramahnya sambutan dari kedua wanita ini.

"Tuan Sean ini memang tipe pasien yang tingkat keras kepalanya sudah masuk stadium akhir, tidak ada obatnya di apotek mana pun! Di dalam mobil yang sudah ringsek dan berasap, saat kepalanya meneteskan darah segar saja, dia masih sempat-sempatnya mendebat saya tentang kasta rumah sakit dan menolak dirawat oleh dokter umum! Saya sampai gemas sendiri di tempat kejadian. Rasanya ingin sekali menjahit mulutnya saat itu juga dengan benang operasi, daripada menjahit luka robek di pelipisnya!"

Mendengar keluhan jujur dan ceplas-ceplos dari Tera yang sangat berani membongkar aib masa lalu serta menjatuhkan wibawa seorang Sean Eagle Nugraha tepat di depan wajah pria itu sendiri, Sera dan Alensky langsung tidak mampu menahan diri lagi.

Kedua sepupu perempuan Sean itu meledak dalam tawa renyah yang sangat kompak dan lepas, hingga membuat sang bayi mungil di pelukan Alen sedikit menggeliat kecil dalam tidurnya.

Ruang VIP mewah yang biasanya berarsitektur kaku, dingin, dan formal itu mendadak dipenuhi oleh kebisingan komedi para wanita yang sangat menyenangkan dan menghidupkan suasana.

"Hahaha! Bagus! Aku suka sekali gayamu yang berani itu, Tera!" Sera menepuk-nepuk punggung tangan Tera dengan heboh, bahkan air mata bahagianya hampir keluar karena terlalu banyak tertawa.

"Akhirnya! Akhirnya ada seorang wanita di dunia ini yang memiliki keberanian untuk memarahi dan mengomeli Sean Eagle Nugraha sampai dia mati kutu dan tidak bisa berkutik sama sekali! Sean, lihat wajahmu itu! Kenapa mendadak jadi kaku, pucat, dan membeku seperti adonan semen basah begitu, hah? Ke mana perginya wibawa CEO diktator yang biasa kamu agung-agungkan di koran bisnis?"

Alensky ikut tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menatap Sean. "Betul kata kak Sera, Tera. Selama ini tidak ada yang berani bicara seperti itu padanya. Kamu luar biasa."

Sean hanya mendengus pelan, sebuah helaan napas gusar yang sengaja ia buat terdengar jelas di seluruh penjuru ruangan.

Ia melipat kedua tangannya di depan dada dengan angkuh, lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan siluet gedung-gedung kota di sore hari yang temaram.

Pria itu berusaha keras menyembunyikan rasa canggung, sekaligus rasa gemas yang kian menumpuk di dadanya mendengar kekonyolan Tera. Gadis itu dengan sangat cepat bersekutu dengan kedua sepupu perempuannya untuk menjatuhkan harga diri dan otoritasnya dalam waktu kurang dari sepuluh menit saja.

Namun, di balik penolakan fisiknya yang kaku, sudut bibir Sean sedikit berkedut menahan senyum tipis.

Melihat Tera bisa tertawa lepas tanpa beban dan diterima dengan begitu hangat oleh lingkaran internal keluarganya memberikan sebuah kepuasan batin tersendiri yang terasa sangat asing namun menyenangkan bagi jiwanya.

Rasa minder, cemas, dan ketakutan akan perbedaan kasta sosial yang sempat menghantui jiwa Lentera beberapa menit lalu kini telah sepenuhnya menguap tanpa bekas, terbawa pergi oleh riuhnya gelak tawa di dalam ruangan itu.

Ketakutan itu kini digantikan oleh sebuah kesadaran baru yang mengalirkan rasa hangat di hatinya, bahwa di balik kemegahan nama besar, kekayaan melimpah, dan keangkuhan dinasti Nugraha yang menguasai roda ekonomi kota besar ini, ternyata ada sebuah ruang kecil berisi kehangatan keluarga yang sangat tulus.

Mereka menerima kehadirannya apa adanya sebagai seorang manusia yang berharga, bukan sebagai alat transaksi sosial atau sekadar pajangan status belaka.

Yuk jangan lupa komen, like dan hadiahnya.

1
Siti Aisah
tera terenyuh oleh ketulusan sean, jadi tera kamu bukan alat untuk menyempurnakan kekuatan sean...tpi sudah takdir ya thor🤗
Siti Aisah
ci muka retak jgan menyakiti tera.. sean akan murka 🤭
Siti Aisah
tera tenang sean sedang memantau keadaan..
Siti Aisah
tenang sera sean ikut dalam rombongan jdi pasti di lindungi ..
Kaa
semoga sampai ke jenjang pernikahan tera sean lanjut thor👍
Kaa
kekuatan Sean mungkin campuran kekutan mominya ya driyana
Kaa
apa ada kekuatan lain dari tera selain aliran penenang tuan Sean lawan Sera gunakan kekuatan mu lanjut thor
Nurul Ambar
semoga hidup bahagia
Nurul Ambar
akhirx....
Nurul Ambar
sean datang
Nurul Ambar
deg deg an smga baik2 saja
Mety Haula
kayanya nanti muksnya buksn retak lahi malah berbalik kebelskang tenang tera tuan sean psdti datang apa yg nyusup ke rs dr klan hitam blm ketahusn ya
Mety Haula
alhamdullilah akhirnya yera luluh juga hatinya semoga kedepannya berjalan mulus langsung tancap mks
Novita Sari
Alhamdulillah tera menerima sean.....
Endang Hidayanti
so sweet bgt Sean, 😍
Novita Sari
si muka retak salah pilih lawan
Novita Sari
tenang tera kekuatan sean udah sempurna..
Novita Sari
si muka retak gak kapok kapok muka udah jelek masih sok sokan
Tri Hastuti
baru bab awal udh tegang
sean anaknya siapa ini?
Rita Susanti
sedikit banget sih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!