Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 - SPORA PERTAMA
Udara siang di pusat kota terasa tidak wajar. Kabut tipis berwarna agak kekuningan menggantung pasrah di antara celah gedung-gedung jangkung, membawa aroma lembap yang aneh—seperti gabungan antara tanah basah setelah hujan lebat dan sengatan bahan kimia industri. Luna duduk tenang di sudut sebuah kafe berdinding kaca tebal, jemarinya melingkari cangkir keramik berisi kopi hitam yang mulai berembun dingin. Sebagai mantan taruna militer yang kini memfokuskan hidupnya sebagai instruktur dan atlet menembak busur panah, intuisinya selalu terlatih untuk membaca perubahan sekecil apa pun di sekitarnya. Dan siang ini, nalurinya berteriak bahwa ada sesuatu yang sangat salah dengan kota ini.
Di atas meja kasir, layar televisi LED gantung mendadak memotong siaran musik komersial. Sinyal gambar sempat bergaris-garis sebelum menampilkan sesosok pembawa acara berita wanita dengan raut wajah yang kehilangan seluruh warna alaminya. Tangan penyiar itu terlihat gemetaran saat menekan earphone di telinga kirinya.
"Bisa tolong besarkan volumenya?" Luna berdiri dari kursinya, menunjuk layar televisi dengan dagu tegas.
Barista muda yang sedang mengelap meja di dekatnya tersentak kecil, lalu mengangguk kaku sebelum menekan tombol peningkatan volume pada remote control.
Suara penyiar berita menggema di dalam kafe yang tergolong sepi itu, memecah kesunyian dengan nada panik yang sulit disembunyikan. "...Imbauan darurat bagi seluruh warga di Distrik Sentral. Pihak otoritas keamanan baru saja mengonfirmasi adanya kebocoran fatal pada fasilitas riset bioteknologi di pinggir kota barat. Spesimen mutasi jamur berdaya infeksi tinggi dilaporkan terlepas ke saluran udara utama. Warga diimbau untuk segera mengunci diri di dalam ruangan dan menutup seluruh akses ventilasi..."
Belum selesai kalimat itu diucapkan, layar televisi berkedip dua kali lalu mati total. Sirine peringatan dini kota berbunyi nyaring dari arah menara pusat, melengking membelah udara siang yang kian pekat. Bersamaan dengan itu, deru mesin dan raungan sirine kendaraan darurat bersahut-sahutan dari jalan protokol.
Luna melangkah cepat mendekati dinding kaca besar yang menghadap langsung ke persimpangan jalan utama. Di luar sana, ketenangan kota hancur dalam sekejap mata. Sebuah bus kota yang hilang kendali membanting setir ke kanan, menghantam deretan mobil parkir hingga menimbulkan dentuman keras yang memicu alarm puluhan kendaraan. Kemacetan parah langsung tercipta dalam hitungan detik.
"Ada apa sebenarnya di luar?" Barista itu berjalan mendekat dengan langkah ragu, wajahnya yang muda kini pucat pasi.
"Mundur dan tetap di belakang saya." Luna meraih tas kain kanvas tebal berukuran panjang yang bersandar di kaki meja, memastikan ikatan busur recurve profesional serta tabung anak panahnya terpasang sempurna.
Jeritan histeris melengking dari arah trotoar seberang jalan. Seorang pria bertubuh tinggi bersetelan kemeja kantor tiba-tiba tersungkur di atas aspal. Tubuhnya kejang secara tidak alami, punggungnya membungkuk ekstrem seolah tulang belakangnya dipaksa patah dari dalam. Dari mulut dan hidungnya, keluar semburan uap halus berwarna kekuningan yang melayang-layang di udara bagaikan kabut beracun.
Luna memperhatikan proses itu tanpa berkedip. Dalam hitungan lima detik yang mencekam, benjolan-benjolan kasar berwarna kehitaman tumbuh liar dari bawah kulit leher pria itu, menjalar cepat hingga menutupi pelipis dan dadanya. Kerak jamur tebal seperti mahkota yang membusuk merekah di kepalanya. Ketika pria itu menegakkan tubuhnya kembali, bola matanya telah berubah putih keruh tanpa pupil, hanya memancarkan kegelapan dan kebuasan murni.
Pria terinfeksi itu menggeram parau, lalu melempar tubuhnya menyerbu seorang pejalan kaki yang sedang terpaku ketakutan. Gigi-giginya menancap dalam di leher korban, menyemprotkan cairan bercampur spora ke udara.
"Tuhan... itu makhluk apa?!" Barista itu berteriak histeris, mundur teratur hingga pinggulnya menghantam jajaran meja kayu.
"Itu bukan manusia lagi. Virus jamur itu sudah mengambil alih batang otaknya." Luna menjawab dingin, menekan lonjakan adrenalin yang mulai memompa jantungnya.
Kepanikan massal meledak bagaikan gelombang pasang. Ratusan orang berlarian saling dorong dan saling injak, berusaha menyelamatkan diri dari belasan korban terinfeksi pertama yang mulai mengamuk serentak di sepanjang jalan raya. Suara tembakan dari senjata polisi terdengar beberapa kali, namun letupan itu justru menarik perhatian lebih banyak makhluk terinfeksi dari dalam gang-gang gelap.
Luna tidak membuang waktu. Dengan gerak jemari yang sangat terlatih, ia membuka resleting tasnya, merangkai bagian riser dan limb busur recurve miliknya dalam hitungan detik. Ia mencolokkan lima batang anak panah karbon berujung perburu (broadhead) yang sangat tajam ke dalam tabung tempat panah di pinggangnya.
"Tutup pintu depan dan kunci slot bawahnya sekarang!" Luna memberi perintah tegas tanpa menoleh.
"Tapi... tapi orang-orang di luar butuh bantuan!" Barista itu menunjuk ke arah kaca dengan tangan gemetaran, memperlihatkan beberapa pejalan kaki yang memukul-mukul kaca meminta perlindungan.
"Kalau kamu buka pintu itu detik ini, kita semua yang ada di dalam bakal mati konyol." Luna menatap mata pemuda itu dengan pandangan tajam penuh komando.
Belum sempat barista itu mengolah perintah Luna, suara dentuman keras menghantam dinding kaca depan kafe. Sesosok makhluk terinfeksi dengan kerak spora tebal menutupi separuh wajahnya menempelkan tubuhnya di kaca. Darah kehitaman berbau busuk meleleh dari mulutnya, melapisi permukaan bening tersebut.
PRANG!
Kaca tebal bertekanan tinggi itu akhirnya retak melintang, lalu hancur berhamburan. Makhluk itu merangkak masuk menembus reruntuhan kaca dengan geraman bernada tinggi yang menyayat telinga.
Barista itu menjerit ketakutan dan jatuh terduduk di lantai.
Luna mengambil posisi berdiri sempurna. Dengan refleks presisi seorang atlet terlatih, ia menarik tali busurnya hingga menempel di sudut bibir, membidik titik fokus di tengah dahi targetnya yang merangkak cepat.
STAS!
Anak panah karbon melesat tanpa suara, menembus dahi sang monster hingga menghentikan gerakannya seketika. Makhluk itu ambruk tak bernyawa, darah hitamnya merembes lambat di atas pecahan kaca kafe.
"Berdiri." Luna menarik paksa lengan barista itu, memaksa pemuda tersebut untuk bangkit.
"Kamu... kamu baru saja membunuhnya?" Pemuda itu berbisik gemetar, matanya terbelalak menatap anak panah yang menancap di kepala mayat di hadapan mereka.
"Makhluk itu sudah mati sejak spora itu merusak otaknya." Luna mencabut kembali anak panahnya dengan satu gerakan cepat, lalu menyapu bersih darah hitam yang menempel pada kain lap di meja terdekat.
Dari jalan raya luar, ledakan maha dahsyat terdengar saat truk tangki menghantam bangunan stasiun pengisian bahan bakar. Kobaran api raksasa membumbung tinggi ke udara, melemparkan gelombang panas yang memecahkan sisa-sisa kaca di sepanjang jalan. Asap hitam pekat bercampur abu spora menutupi sinar matahari, mengubah siang hari menjadi remang-remang seperti senja yang mencekam.
Sistem transportasi kota resmi lumpuh total. Jalanan berubah menjadi arena pembantaian massal dan jebakan maut.
Luna berjalan cepat menuju pintu belakang kafe yang menuju ke arah gang pemukiman yang sepi. Ia tahu persis bahwa ini baru babak awal dari runtuhnya peradaban.
"Kamu mau ke mana?" Pemuda barista itu mengekor ketakutan di belakangnya.
"Mencari tempat berlindung yang lebih aman sebelum seluruh kota ini benar-benar dipenuhi kabut spora." Luna menoleh sejenak, membetulkan posisi tali busur di bahunya.
"Boleh aku ikut? Tolong, jangan tinggalkan aku sendirian di sini!" Pemuda itu menangkupkan kedua tangannya, memohon dengan mata berkaca-kaca.
Luna menatap pemuda di depannya sejenak, menilai kondisi fisik dan mentalnya. Di tengah kiamat zombie seperti ini, panik berlebihan adalah musuh paling mematikan. Namun, menyisakan manusia yang bernapas juga merupakan naluri kemanusiaannya yang tersisa.
"Ambil pisau daging terbesarmu di dapur. Bawa semua botol air mineral dan makanan kaleng yang bisa masuk ke dalam tasmu." Luna menunjuk ke arah pintu dapur kafe.
"Baik! Aku mengerti, tunggu aku satu menit!" Pemuda itu langsung berlari cepat menuju dapur.
Luna berdiri di ambang pintu keluar gang belakang, menatap langit kota yang kian legam tertutup kabut spora dan asap kebakaran. Bau busuk jamur semakin kuat tercium di udara. Langkah kakinya tetap kokoh, matanya memancarkan keteguhan murni. Hari ini, peradaban telah hancur, dan perjuangannya untuk bertahan hidup di tengah wabah Cordyceps baru saja dimulai.