NovelToon NovelToon
An Affair Ashford

An Affair Ashford

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Roman-Angst Mafia
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Sepuluh tahun Dominic Qiel Ashford mempertaruhkan kesetiaannya hanya untuk ditolak berulang kali oleh Florence Nightingale, wanita yang menolak ikatan pernikahan. Luka penolakan itu akhirnya mendorong Dominic pada keputusan gila di sebuah malam yang pekat.

Di tengah frustrasi, ia mendapati Ester Alba—mahasiswi berbeasiswa sekaligus guru privat keponakannya—terjebak dalam gaun seksi di bar elit demi mencari biaya operasi sang ayah.

Demi menyelamatkan harga dirinya sekaligus melampiaskan keputusasaan, Dominic mengajukan penawaran berbahaya. Sebuah kesepakatan terikat yang menuntut kepatuhan mutlak, jauh dari ranah cinta.

Namun, saat rahasia alasan sebenarnya di balik kebencian Florence pada pernikahan mulai terkuak, Ester menyadari bahwa ia bukan sekadar pelampiasan—melainkan kunci dari permainan emosi yang siap menghancurkan mereka bertiga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#24

Udara malam di kota Boston merangsek masuk melalui celah-celah jendela kaca tua sebuah rumah sakit swasta yang terletak di sudut kota.

Salju tipis mulai turun, membungkus jalanan aspal dengan selimut putih yang dingin dan senyap.

Pukul dua belas malam lewat sepuluh menit, suasana di lantai tiga sayap timur rumah sakit itu terasa begitu mati.

Tidak ada suara langkah kaki perawat yang terburu-buru, tidak ada derit roda brankar yang berisik.

Yang terdengar hanya bunyi monitor electro cardio gram yang melambat secara konstan—menandakan detik-detik terakhir dari denyut kehidupan seorang pria paruh baya bernama Fernando Mattos.

Di dalam ruangan rawat inap V.I.P. yang bernuansa putih pucat itu, sesosok pria berjas hitam legam berdiri tegak di samping ranjang.

Wajahnya tertutup bayangan temaram lampu koridor.

Di hadapannya, seorang perawat pria berwajah gugup tampak memegang sebuah jarum suntik kosong yang baru saja dicabut dari selang infus utama.

Pria berjas hitam itu merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah ponsel, lalu menempelkannya ke telinga. Ia menatap lurus ke arah monitor yang kini garisnya telah berubah menjadi lurus sempurna, memancarkan bunyi *beep* panjang yang memecah keheningan malam.

"Sudah selesai, Tuan," ucap pria berjas hitam itu dengan suara datar tanpa emosi, melaporkan situasi kepada seseorang di seberang sambungan telepon. "Dalam sepuluh menit, napasnya resmi berakhir."

Jauh di belahan kota lain, di dalam sebuah ruang kerja pribadi yang gelap dan mewah, seorang pria duduk menyilang kaki di atas kursi kulit putar.

Cahaya dari layar komputer memantulkan seringai dingin di wajahnya. Mendengar laporan singkat itu, bibirnya terangkat membentuk senyuman murni yang mengerikan.

"Kerja bagus," jawab Tristan Enver dengan suara rendah, dingin, dan penuh kemenangan mutlak.

"Pastikan tidak ada satu pun orang yang tahu. Buat seolah-olah gagal jantung bawaan akibat komplikasi medis. Hapus semua rekaman CCTV lantai tiga. Lakukan dengan bersih."

"Baik, Tuan."

Klik.

Sambungan diputus.

Tristan meletakkan ponselnya di atas meja kerja, lalu meneguk sisa whisky di dalam gelas kristalnya dengan tenang.

Di dalam kepalanya, bayangan Ester Alba melintas begitu jelas. Gadis itu mengira ia bisa bersembunyi di New York, berlindung di balik bayang-bayang keluarga kaya raya bernama Ashford, dan mempermainkan kesabarannya.

Tristan mendengus sinis.

Fernando Mattos adalah satu-satunya rantai pengikat yang membuat Ester selama ini patuh padanya.

Dan kini, dengan lenyapnya nyawa sang ayah, tidak ada lagi alasan bagi Ester untuk berpaling.

Beserta penerbangan pagi pertamanya menuju New York, Tristan akan mendatangi gadis itu dan meremukkan setiap inci kebebasan yang coba dibangun oleh Ester.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Jauh dari salju dingin di Boston, suasana di dalam kamar utama mansion Ashford di New York justru diselimuti oleh kehangatan selimut kasmir tebal dan aroma kayu cendana yang menenangkan.

Pukul Dua pagi.

Waktu di mana dunia seolah berhenti berputar.

Ester Alba tertidur sangat pulas di atas ranjang king size berukuran raksasa. Kepala gadis itu bersandar nyaman di atas dada bidang Dominic.

Sang pengusaha muda melingkarkan sebelah lengannya yang kokoh untuk mendekap tubuh Ester erat-erat, seolah-olah ia tidak ingin membiarkan gadis itu lepas bahkan dalam alam mimpi sekalipun. Napas mereka berdua teratur, menciptakan harmoni sunyi di tengah malam yang senyap.

Namun, kedamaian itu mendadak dirobek oleh suara bising yang memecah keheningan kamar.

BZZZZT! BZZZZT! BZZZZT!

Ponsel milik Ester yang tergeletak di atas nakas kayu di sisi tempat tidur berdering dengan ritme yang agresif dan panjang.

Ester menggeliat pelan, mengerutkan keningnya dalam-dalam di dalam tidur lelapnya. Dominic, yang memiliki insting tajam seorang pria yang terbiasa hidup dalam tekanan tinggi, langsung terbangun seketika.

Pria 32 tahun itu membuka matanya, menoleh ke arah nakas, lalu melirik Ester yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya.

"Ponselmu berdering, Ester," bisik Dominic serak, suaranya terdengar berat karena baru saja terbangun.

Ester membuka matanya perlahan.

Perasaan gelisah yang aneh tiba-tiba menghantam dadanya—sebuah firasat buruk yang mendadak merayap dingin di balik selimut hangat. Dengan tangan gemetar, ia meraba permukaan nakas, meraih ponselnya yang menyala terang, dan melihat nama rumah sakit di Boston tertera di layar.

Jantung Ester serasa berhenti berdetak. Tanpa pikir panjang, ia menggeser tombol hijau dan mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.

"Halo...?" suara Ester terdengar bergetar, parau, dan sarat akan kecemasan.

Di seberang sambungan, suara seorang pria paruh baya—dokter penanggung jawab perawatan ayahnya—berbicara dengan nada yang sangat hati-hati dan penuh duka.

"Nona Ester Alba... Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Ayah anda, Tuan Fernando Mattos, baru saja menghembuskan napas terakhirnya sepuluh menit yang lalu..."

Deg.

Dunia di sekitar Ester seolah runtuh seketika. Suara di ujung telepon itu mendadak berubah menjadi dengungan samar yang menjauh.

Layar ponsel di genggamannya bergetar hebat, sementara matanya membelalak lebar menatap kosong ke dinding kamar yang gelap.

"T-Tidak..." bisik Ester lirih, suaranya tercekat di tenggorokan. "Dokter... Anda pasti berbohong... Ayah saya baik-baik saja... Kemarin malam kami baru saja bicara..."

"Kami sudah berusaha melakukan penanganan darurat maksimal, Nona... namun kondisi jantung beliau gagal bertahan. Detak jantungnya berhenti..."

Bruk.

Ponsel di tangan Ester terlepas dari genggamannya, meluncur jatuh begitu saja ke atas lantai karpet tebal.

Ester terpaku di tempatnya.

Tidak ada teriakan histeris.

Tidak ada air mata yang langsung tumpah membasahi pipinya.

Yang ada hanyalah keheningan total yang jauh lebih mematikan dari jeritan apapun.

Seluruh darah di tubuhnya mendadak surut, meninggalkan kulitnya pucat pasi seperti mayat hidup.

Rencana besar yang ia susun, ambisi untuk membebaskan sang ayah dari cengkeraman rumah sakit, perlindungan yang baru saja ia dapatkan dari Dominic... semuanya musnah dalam satu detik yang keji.

Dominic, yang melihat perubahan drastis di wajah Ester dan mendengar pecahan informasi dari telepon tadi, langsung bangkit dari posisinya.

Pria itu menangkup wajah Ester dengan kedua tangan besarnya, menatap manik mata gadis yang kini tampak kosong tak berjiwa.

"Ester! Hei, lihat aku! Ada apa?!" tanya Dominic panik, suaranya bergetar karena cemas. "Siapa di telepon tadi? Apa yang terjadi?!"

Ester menoleh perlahan menatap Dominic. Bibirnya bergetar hebat, mencoba merangkai kata namun tidak ada satupun suara yang keluar dari celah bibirnya. Air mata kepedihan yang amat dalam akhirnya tumpah deras, merembes keluar dari sudut matanya, membasahi pipinya yang pucat tanpa henti.

"Ayah..." panggil Ester dengan suara parau yang amat menyayat hati. "Ayahku... sudah tidak ada, Nic..."

Mendengar kalimat itu, dada Dominic seperti dihantam palu godam bermuatan ribuan ton. Pria itu langsung menarik tubuh Ester ke dalam dekapan dadanya, memeluk gadis itu erat-erat sekuat tenaga untuk menahan gemetar yang merasuki seluruh tubuh Ester.

"Ssssh... Tenanglah... Aku di sini," bisik Dominic pilu, membenamkan wajah Ester di dadanya sementara air mata penyesalan dan duka ikut bergolak di benaknya sendiri.

"Aku di sini, Ester. Kau tidak sendirian..."

Namun, dekapannya tidak lagi mampu meredakan badai di dalam dada Ester Alba.

Di dalam pelukan hangat pria yang kini menjadi pelindungnya, Ester memejamkan matanya rapat-rapat.

Air matanya mengalir deras tanpa suara, meratapi kepergian satu-satunya keluarga yang ia miliki di dunia ini.

Dan di balik duka yang menghancurkan itu, sebuah dendam yang pekat mulai berakar kuat di dalam jiwanya—sebuah sumpah bisu bahwa ia tidak akan pernah membiarkan Tristan lolos karena telah merenggut nyawa ayahnya.

1
Repi Repol
asejkoR
Rosdianah 🌷: happy reading 🌷
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
nunggu gong nya nihh thor,thank thor hari ini update nya buanyakk 😍
Rosdianah 🌷: Happy reading kak 🌷 sehat selalu 🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat berkarya Thor 💪🤗🤗
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak reader 🫶 sehat selalu 😍
total 1 replies
Yusry Ajay
makasih uda up bnyk Thor 🤗🤗
Yusry Ajay
ya ampun kasian Ester 🥺🥺
Yusry Ajay
masih pagi dom😁😁😁
Isma Nayla
semoga flo,dapat mengikhlaskan Dominic bersama Ester dan semoga flo dapat pengganti Dominic .
Rosdianah 🌷: Amiin🫶
total 1 replies
Isma Nayla
di episode sebelumnya di katakan Ester sudah meminumnya tanpa ketahuan Dominic kok sekarang bilang belum meminumnya Thor?
Isma Nayla
Ester juga egois tidak mikir perasaan Dominic.
sudah jelas Dominic akan melindungi tp kayak gak percaya.
Asriani Rini
Tenang ester yg penting dominic sudsh percaya sama kamu hidupmu akan trrus dilinfungi
Asriani Rini
Apa kunilang ester kalu ksu jujur pd dominic tentang mada lalu pasti dia akan melindungimu
Isma Nayla
apa mungkin nanti Ester pergi dari hidup Dominic ? dan mengandung bayi dom2 ?
deg-degan nunggu up selanjutnya Thor
Mei TResna Rahmatika
wahh klimaks nya nih,lanjut thor💪
Yusry Ajay
ester sangat trauma dgn masalalu nya🥺🥺🥺
Yusry Ajay
kasian Ester Thor 🥺🥺
Asriani Rini
Jgn kawatir ester yg penting kamu mencitai Dominic dgn tulus apapun masalalumu klan asford akan menrrimamu tapi satu saranku jujurlah sama dominic tentang masa lalumu
Rosdianah 🌷: kasih tau Ester kak🤣
total 1 replies
Isma Nayla
sungguh tragis kehidupan Ester 😭😭😭
jangan naruh bawang banyak2 Thor 😭😭😭😭
Rosdianah 🌷: tenang kak🤭
total 1 replies
Isma Nayla
di tunggu kelanjutannya lagi ya Thor 🤭
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Isma Nayla
kasihan sebenarnya Tristan tapi lebih kasihan Ester karena ayah keluarga Ester satu2 telah pergi😭
makasih sudah up Thor 🙏
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentarnya kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat berkarya 💪💪💪
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak komentarnya 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!