Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.
Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.
Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.
Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.
Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMWI : 13
Tyo sangat berharap kakaknya mau dijemput. “Sekalian pulang kuliah aku langsung kesana, Mbak. Nanti kita pulang bareng ke desa.”
‘Tunggu mbak melunasi hutang itu dulu Tyo,’ hatinya ingin mengatakan iya, namun logika mencegah.
“Biar mbak saja nanti yang pulang sama mas Herlan. Gak enak jadi bahan omongan mulut tetangga kalau gak sama suami kembali ke desa,” ia beri alasan masuk akal.
Ditelannya rasa kecewa, Tyo belajar memaklumi. Kini kakaknya bukan lagi seorang gadis, tetapi sudah menjadi seorang istri yang harus bisa memposisikan diri menjaga martabat keluarga.“jangan lama-lama, kalau bisa diusahakan secepatnya, Mbak.”
“Mesti kamu kesepian di rumah, gak ada temen yang bisa diajak berantem, kan? Makanya nyuruh Mbak cepet-cepet pulang. Jujur!” Janti membelokkan arah obrolan. Belum setegar itu disaat hatinya masih terluka atas pernikahan kedua Herlan.
“Percaya diri banget mbak Janti, aku cuma pengen lihat penampilan wanita kota, apa masih udik sukanya pakai rok lebar, kaos longgar, atau udah nyaman mengenakan celana jeans,” dia pun menanggapi candaan kakaknya.
“Sudah, sudah! Kalau udah bersinggungan meski cuma suara, selalu saja berdebat,” pak Sutris menengahi.
Kemudian terdengar suara tawa Tyo, bu Ratri, dan pak Sutris.
Arjanti memejamkan mata, membayangkan seandainya dia ada ditengah-tengah orang di sayangi itu. Hubungan keluarganya terbilang harmonis meski mereka hidup dalam kesederhanaan.
“Hampir saja Ibu lupa nanyain perihal mbak mu, mau gak dia membantu, Janti?” bu Ratri kembali bersuara.
“Mbak Ramia katanya gak punya uang, Bu. Tapi tenang saja, Janti baru saja dapat arisan 13 juta rupiah, nanti mau aku bayarin ke hutang kita biar tinggal sedikit,” terpaksa dirinya berbohong.
“Jangan, Janti! Itu uangmu, jangan dipakai buat bayar hutang keluarga! Biar Bapak sama Ibu pinjam ke juragan Daiyan saja!” cegah pak Sutris.
“Gapapa, Pak. Itu uang seneng kok, gak dipake sewaktu-waktu. Tenang saja, mas Herlan dan mertuaku mana mau mencampuri,” ucapnya mantap.
‘Kalau sampai nanti dijadikan senjata untuk merendahkanku, bakalan tak tuntut apa itu adil yang sesungguhnya!’ batinnya pun bertekad memperjuangkan haknya.
“Beneran? Apa gapapa, takutnya nanti kamu dipandang sebelah mata sama Herlan maupun orang tuanya?” bu Ratri dan suaminya meragu. Mereka tidak ingin menyulitkan putri kedua.
“Pak, Bu, percaya sama Janti. Semua bakalan baik-baik saja,” sebenarnya hatinya mengatakan sebaliknya, namun demi orang tuanya, dia harus terlihat tegar.
Perasaan cemas sedikit berkurang dihati pasangan suami-istri paruh baya tersebut.
Tyo juga bernapas lega. Dia menginginkan yang terbaik dan jangan sampai kakaknya direndahkan keluarga Doko.
“Berarti kurang 5 juta lagi ya, Nduk?” tanya pak Sutris.
“Iya, Pak. Semoga ada rezeki mendadak biar bisa segera melunasi hutang itu,” doanya penuh harap, dan otak tengah merencanakan banyak hal.
“Aamiin,” sahut bu Ratri. “Biar kami saja yang memikirkan bagaimana cara melunasi. Kamu sudah cukup membantunya, Janti! Hutang itu bukan tanggung jawabmu.”
“Ya gak bisa gitu, Buk. Kita kan keluarga, sudah hal lumrah saling berbagi, tolong-menolong,” mana tega dia membiarkan orang tuanya bekerja lebih keras dari porsi tenaga mereka.
“Aku punya uang tabungan 700 ribu, Mbak. Tak kirim ke kamu ya, untuk tambah-tambah bayar hutang,” ucap Tyo.
Hatinya berdesir hangat. Rasa bangga menyeruak. Janti kagum ke pemuda yang banyak mengalah, tidak gengsi bekerja serabutan demi meringankan beban orang tua mereka.
“Kamu transfer 350 saja, mbak lagi pengen beli baju dari hasil ngojek mu,” dia tidak langsung menolak, menghargai niat baik adiknya.
Senyum Tyo pun lebih lebar lagi. Dalam hati menyimpan rasa bangga, sekian lama dibantu oleh kakaknya, sekarang bisa membalas meski tidak seberapa. “Ini tak kirim, Mbak.”
“Alhamdulillah, rezeki anak sholeh,” seloroh Janti sambil menyusut air mata menggunakan tisu.
Pak Sutris, bu Ratri, sama-sama tersenyum. Kedua anaknya yang ini berjiwa welas asih. Berbeda sekali dengan si sulung yang menuruni sifat mendiang neneknya dari pihak ibu.
“Bu, Pak, jangan dipikirkan terlalu dalam soal hutang yang tinggal 5 juta lagi. Bulan depan kan sudah kita cicil, jadi bakalan tinggal 3,5 juta. Gak usah hutang ke siapa-siapa!” ujarnya tegas.
“Iya. Nduk terima kasih selalu membantu Bapak, Ibu sama Tyo. Semoga rumah tanggamu rukun, dan dalam perlindungan Tuhan yang maha esa,” doa pria yang menyayangi putrinya.
“Aamiin,” balas Janti. ‘Andai saja Bapak ngeliat apa yang sebenarnya terjadi?’
Dia buang jauh-jauh keinginan mengadu. Sudah cukup orang tuanya terbebani memikirkan si sulung yang enggan menghubungi lebih dulu. Tanya kabar pun bisa dihitung jari dalam satu tahun. Ramia sejak menikah enggan pulang ke desa.
Sesudahnya Janti meminta izin menutup panggilan itu.
“Sudah masuk waktu dzuhur, sebaiknya aku sholat dulu, baru sesudahnya nyoba nonton bioskop,” keinginan lama terpendam dan hanya bisa dibayangkan, sebentar lagi terealisasikan.
Sudah empat tahun tinggal di kota kabupaten, dan ada mal besar yang lengkap dengan bioskop, namun belum sekalipun Janti diajak pergi nonton sama Herlan.
***
Layar ponsel yang menyala dibiarkan saja. Bunyi notifikasi sudah disenyapkan. Janti asik menonton film horor.
Banyaknya pesan dari ibu dan bapak mertua, tidak membuat hatinya tergerak untuk segera pulang.
Panggilan beruntun suaminya pun diabaikan. Dia benar-benar ingin menikmati satu hari saja untuk menghargai, memanjakan diri sendiri.
Sambil mengunyah popcorn, minumnya air soda, Janti menikmati waktu luang ini.
Dia ikut berteriak ketika mendengar jeritan terkejut penonton, padahal diri sendiri bukan tipe penakut. Dirinya tertawa lepas ketika lainnya terbahak-bahak.
Masa muda sempat tertunda lantaran nikah muda, dan setelah menjadi istri diharuskan patuh, tinggal dirumah, mengurus mertua, membuat Janti kehilangan banyak momen berharga.
Setelah selesai dari bioskop, Janti masuk ke toko pakaian dan aksesoris. Kali ini membeli sebuah dress, serta jepit rambut, dari uang pemberian Tyo.
Tak ubahnya remaja, bedanya dia jalan sendirian di dalam mal luas itu.
Kemudian dia masuk ke toko yang menjual produk perawatan kecantikan. Janti tidak terburu-buru, dibacanya saksama kandungan skincare yang cocok untuk jenis kulit wajahnya.
Satu paket skincare dua kali lipat lebih mahal dari yang biasa dipakai, sudah dimasukkan ke dalam tas transparan. Perawatan kulit dan rambut juga diganti setelah mendengar penjelasan dari karyawan toko yang mempromosikan produknya.
Ketika sang waktu menunjukkan pukul lima sore, ia baru tergesa-gesa membayar belanjaan di kasir, baru setelahnya keluar dari dalam mal.
Arjanti menghentikan sebuah taksi yang melewati pelataran bangunan mal.
Di dalam mobil bagian penumpang, wanita yang seharian ini menghabiskan waktu seorang diri, melakukan apapun dirinya sukai, terus menerus tersenyum tipis.
Baterai ponsel habis, dan layar mati total, namun dia tidak peduli.
***
Menjelang magrib, Arjanti baru tiba di tepi jalan rumah keluarga Doko. Dia membayar ongkos, lalu keluar setelah mengucapkan terima kasih ke pak sopir.
Hunian berpagar tinggi itu tidak mempekerjakan security pribadi, sehingga Janti membuka sendiri pagar tak terkunci.
Langkahnya ringan, dan hatinya masih diselimuti oleh rasa bahagia.
Namun perasaan tenang itu terusik ketika mendengar derap langkah kaki tak seirama, kemudian beberapa orang keluar, berdiri sambil berkacak pinggang di teras rumah.
“Gara-gara kamu bulan maduku berantakan, Arjanti!”
.
.
Bersambung.