NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Berbicara

Ketika Takdir Berbicara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:18.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.

Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.

Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.

Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zheana 1

"Kamu kenapa pulang larut sekali? Sudah tahu di rumah banyak keluargaku yang mulai berdatangan, kamu malah pulang malam! Benar-benar anak tak tahu diri!" omel Irma kepada Zheana yang baru saja pulang kerja.

Bahkan Zheana belum menapakkan kakinya di lantai rumah mereka. Dia baru saja membuka pintu rumah depan. Namun ibunya sudah lebih dahulu berbicara. Zheana hanya bisa menghela napas panjang. Mencoba menetralkan perasaannya.

"Maaf Ma, aku ada lembur di kantor jadinya aku pulang sedikit telat!"

"Jangan banyak alasan, cepat kamu bantu cuci piring yang menumpuk!"

"Maaf Ma, apa aku boleh izin mau mandi dan sholat isya dulu biar aku lebih tenang membantu Mama..."

"Tidak! Kamu tidak lihat itu! Piring dan gelas numpuk begitu!" kesal Irma.

"Ada apa ini, Ma? Kenapa malah riibut-ribut?" tanya Bagus.

Di tangan membawa nampan berisikan piring dan gelas kotor bekas makan dan minum saudara Irma yang mulai berdatangan ke rumah mereka. Beberapa hari lagi akan ada pesta pernikahan anak pertama mereka Niken dan Khadafy. Dan selama itu pula tak ada satupun dari keluarga Irma yang mau ikut membantu masak atau sekedar untuk membantu di dapur. Semua pekerjaan untuk menjamu mereka di lakukan oleh Irma, Bagas dan juga Zheana. Sedangkan para saudara Irma malah bersantai sambil bergosip dan meminta ini itu seperti raja.

"Bagus! Kamu bilangin itu anak kesayanganmu!" Irma menunjuk muka Zheana dengan ujung jarinya yang bergetar menahan amarah.

"Orang tua sudah setengah mati ngurusin keluarga dari kampung, dia malah enak-enakan datang jam begini lalu sok-sokan minta mandi dan sholat dulu! Kamu pikir rumah ini hotel?"

Bagus menghela napas berat, meletakkan nampan penuh piring kotor ke atas meja dapur yang sudah padat. Dia menatap ek arah anak perempuannya yang terlihat lelah.

"Ma, Zheana kan baru pulang kerja. Biarkan dia napas sebentar, cuci muka, atau sholat dulu lima menit. Cuma lima menit, Ma."

"Lima menit kamu bilang?!" suara Irma meninggi, matanya melotot tajam ke arah Bagus sebelum beralih ke Zheana.

"Lihat itu cucian di wastafel! Saudara-saudaraku di luar mau minum kopi lagi, mau makan kue lagi! Kalau menunggu anak ini selesai bersolek di kamar mandi, kapan beresnya? Kamu mau Mama diomongin saudara-saudara Mama kalau rumah ini kotor kayak kandang?"

Zheana meremas ujung kemeja kerjanya yang lembap oleh keringat. Kaki dan punggungnya sudah serasa mau patah setelah menempuh perjalanan jauh dan lembur di kantor.

"Ma, cuma sebentar saja... Zheana belum sholat Isya, nanti keburu habis waktunya..."

"Alasan!" potong Irma tanpa belas kasihan. Dia meraih spons cuci piring dan melemparnya kasar ke dalam wastafel hingga air sabun menciprat ke mana-mana.

"Sholat itu bisa nanti! Yang penting itu bakti kamu sama orang tua! Kamu tahu kan pesta pernikahan Mbakmu Niken tinggal tiga hari lagi? Semua saudara ngumpul di sini! Kamu mau bikin Mama malu di depan mereka?"

"Tapi Ma, dari tadi pagi Mama, Papa, sama aku yang pegang dapur. Tante Lilis, Tante Indah dan yang lainnya di depan cuma duduk-duduk gossip..." Bagus mencoba membela, namun Irma langsung menepuk meja dapur dengan keras.

TAK!

"Bagus! Jaga mulutmu ya! Mereka itu tamu, mereka saudara-saudaraku! Ya wajar mereka duduk manis! Karena mereka itu adalah tamu kita!" seru Irma, napasnya naik turun. Dia menatap Zheana dengan tatapan penuh kebencian.

"Kamu, Zheana! Jangan berdiri seperti patung! Ambil sabun itu, cuci semua piring di situ sekarang juga! Jangan pernah berani melangkah ke kamar sebelum tempat ini kinclong!"

"Ma, tolonglah... Zheana benar-benar capek..." bisik Zheana, matanya mulai berkaca-kaca menahan panas di dada.

"Capek? Kamu pikir Mama tidak capek?!" bentak Irma semakin ketus.

"Kamu itu cuma kerja duduk di kantoran! Mama di sini berdiri seharian dari subuh! Kurang ajar sekali kamu ya, sudah ditampung di sini malah banyak nawar! Cuci sekarang atau semua pakaianmu Mama lempar keluar dari rumah ini!"

Bagus memegang bahu istrinya, mencoba meredam suasana. "Ma, jangan begitu, kasihan Zheana..."

"Diam kamu, Bagus! Kalau kamu terus-terusan manjain anak ini, kamu saja yang cuci semua piring itu sampai subuh!" acam Irma dingin, lalu menatap Zheana dengan senyum sinis.

"Gimana? Kamu mau papamu yang kepayahan gantiin kamu, anak tak tahu diri?"

"Sudah, Pa... tidak apa-apa," potong Zheana cepat. Suaranya bergetar, namun ada nada pasrah yang amat sangat.

Ia memandang wajah ayahnya yang tampak begitu letih. Garis-garis keriput di sekitar mata Bagus terlihat semakin jelas di bawah temaram lampu dapur, ditambah peluh yang masih membasahi dahinya. Zheana tak tega. Jika ia terus membela diri, pertengkaran ini hanya akan membuat sang ayah semakin tertekan dan kelelahan.

Zheana melangkah mendekati wastafel, melepaskan tas kerjanya dan menaruhnya sembarangan di atas kursi kayu. Ia menggulung lengan kemeja kerjanya hingga ke siku.

"Zheana biar langsung cuci piringnya sekarang, Ma," ucap Zheana lirih tanpa berani menatap mata ibunya.

Irma menyunggingkan senyum kemenangan, menyilangkan kedua tangan di dadanya. "Nah, begitu dari tadi! Tidak usah pakai drama air mata segala. Punya anak kok serba dibela, bikin pusing saja!"

"Tapi Zheana..." Bagus menahan lengan anaknya, matanya memancarkan rasa bersalah yang mendalam.

"Kamu baru pulang, Nak. Kaki kamu pasti pegal."

"Enggak apa-apa, Pa. Beneran," Zheana mencoba tersenyum, meski matanya menampung genangan air mata yang siap tumpah.

"Papa duduk saja di luar, atau istirahat di kamar. Wajah Papa pucat sekali. Sisa gelas piring bekas Om dan Tante biar Zheana yang bereskan."

"Lihat itu, Bagus! Anakmu saja tahu diri!" cetus Irma ketus, menusuk perasaan.

"Kamu tidak usah sok jadi pahlawan. Sana, bawa nampan kosong itu ke depan, ambil lagi gelas-gelas dan piring kotor yang ada di meja tamu. Tante Lilis tadi minta dibuatkan teh hangat lagi."

"Ma, setidaknya biarkan dia minum air putih dulu!" tegur Bagus dengan nada menahan geram.

"Nanti juga bisa minum! Air keran juga ada kalau cuma mau minum!" sahut Irma asal. Ia melirik Zheana yang mulai menyalakan keran air dan meraih spons yang tadi dilemparnya.

"Ingat ya, Zheana! Busa sabunnya yang banyak! Piring-piring ini bekas gulai kambing, kalau masih bau amis atau berminyak, Mama suruh kamu ulang dari awal!"

"Iya, Ma..." jawab Zheana pelan. Air dingin dari keran mulai membasahi jemarinya yang gemetar, mengalir menghantam tumpukan piring kotor yang menggunung.

"Papa ke depan dulu ya, Nak," bisik Bagus pelan, menepuk bahu Zheana dengan lembut sebelum berjalan pergi menuruni perintah istrinya. Langkah kakinya terdengar begitu berat.

Irma berdiri di pintu dapur selama beberapa saat, mengawasi gerak-gerik Zheana dengan pandangan menelisik.

"Gelas-gelas kristal itu cuci pelan-pelan. Kalau sampai ada yang pecah, Mama potong gaji kamu bulan ini buat ganti!"

Zheana hanya mengangguk tanpa bersuara. Punggungnya mulai terasa kebas dan pegal luar biasa, namun ia terus menggosok piring satu per satu. Di tengah gemericik air dapur dan riuh suara tawa keluarga besarnya yang sedang bersantai di ruang tamu, air mata Zheana akhirnya menetes juga, menyatu dengan busa sabun dan air kotor di wastafel.

1
nely_48
khadafy shok lah, zhea org baru sehari dekat sm dia malah zhea yg paling efort perhatian semua kebutuhan nya khadafy,, lah apa kabarnya niken yg pacaran 2th dia apa pernah nanyain makana kesukaan khadafy, paling jg klau tlp minta uang buat shoping
Ninik Sumarni
kak jangan pisahkan mereka
Fitria Syafei
wow mereka KK dan semoga kedepannya mereka selalu bersama dan bersatu 🫠 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 😍
Ambu Rinddiany Thea
hayoooh we bahas zheaaa ke bisi murka gera s Khadafi saking ku bosen ngabejaaan .. jalani we hela da s niken balik mah samemeh nepi k s khadafi ge , yeh emak2 netijen siap terjun payung terjun bebas ..🤭
Fitria Syafei
wow Khadafi 😍 KK cantik mantaf 😍 terimakasih 😘
ryuka
baguuussss.. keren aku suka thooorrr
ryuka
tuuhhh zheaaa dengerin suami kamu
sunaryati jarum
Wah benar benar Kadaffi suami idaman sangat perhatian dan tanggung jawab
Dew666
💝💝
Fitria Syafei
wow mereka KK 😍 KK cantik mantaf 🥰 kereen 🥰
Ambu Rinddiany Thea
ko aku senyum senyum sendiri ya 🤭🤭
ryuka
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 zheaaa kamu yg deg2an
Fitria Syafei
wow mereka KK 😍 kk cantik kereen 😍 terimakasih 😘
Oma Gavin
kalian berdua di sweet banget sich bikin iri 😂
sunaryati jarum
Kadaffi itu terdidik sejak kecil taat agama dan aturan negara,hanya saja sebelumnya mencintai orang yang salah.
sunaryati jarum
Semoga bahagia dan penuh berkah
ryuka
tuuhhh zheaaa kamu udah tenang belum 🤭🤭🤭🤭🤭
nely_48
jalani, nikmati n syukuri jd istri khadafy ya zhea,,, km hrs pandai menempatkan diri d samping khadafy, rubah diri biar km ga malu²in khadafi,, bukan cuma jd istri yg bs nya mewek n nangis,,, smart lah jd istri nya khadafy,,, make over otak n badan mu ya zhea
nely_48
panggil nya hubby ath Zea, pst khadafy lgsg klepek-klepek loh
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍 mantaf 😍 terimakasih 😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!