Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.
“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.
Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.
“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.
Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.
“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
“Mbok Sumi!”
Wanita itu langsung memeluk Kartika erat. Matanya langsung berkaca-kaca.
“Ya Tuhan, akhirnya Non pulang juga.” Suaranya bergetar. “Mbok kangen sekali.”
Kartika ikut memeluk wanita itu erat. Hatinya terasa hangat. Di rumah itu setidaknya masih ada orang-orang yang benar-benar menyayanginya tanpa syarat.
“Mama, itu nenek?” Kaivan menarik ujung baju Kartika.
Kartika tertawa kecil sambil mengusap kepala anaknya. “Bukan, Sayang.”
Ia menoleh ke arah Mbok Sumi. “Ini Mbok Sumi. Yang ngurus Mama dan Om Rangga dari kecil.”
“Oh ....” Kaivan mengangguk serius.
Lalu dengan polos berkata, “Mbok Cumi.”
Hening dua detik. Kemudian semua orang langsung tertawa.
“Ya ampun, lucu sekali cah bagus ini.” Mbok Sumi sampai memegang dada sambil tertawa geli.
Kaivan malah ikut tertawa bangga karena merasa benar.
Tak lama kemudian seorang wanita cantik berpenampilan anggun keluar dari dalam rumah. Begitu melihat Kartika wajahnya langsung cerah.
“Akhirnya pulang juga kamu.”
Kartika langsung tersenyum. “Rianti...!”
Mereka berpelukan hangat. Rianti, lalu menatap Kalingga dan Kaivan dengan mata berbinar.
“Lucu-lucu banget anak-anak kamu, Kartika,” gumamnya gemas.
Kaivan langsung sembunyi di balik kaki Kartika. Namun, Rianti sudah lebih dulu menggendongnya.
“Aduh gemes banget!”
“Ateu jangan tium-tium!” protes Kaivan polos sambil mengusap pipinya sendiri.
Rangga yang melihat langsung tertawa keras.
Sedangkan Rianti malah makin gemas. “Maafin Tante, ya,” katanya sambil mencubit pipi Kaivan pelan. “Habis kamu lucu banget.”
Mereka akhirnya masuk ke dalam rumah. Meja makan sudah penuh dengan berbagai masakan hangat. Aroma sop buntut dan ayam goreng memenuhi ruangan.
Kalingga langsung menelan ludah. “Mama,” bisiknya pelan. “Aku lapar.”
Kartika tersenyum tipis. “Ya, udah cuci tangan dulu.”
Suasana rumah itu hangat dan tenang. Berbeda jauh dengan rumah Deva yang akhir-akhir ini selalu dipenuhi ketegangan akibat ulah mertua dan iparnya.
Saat Rianti dan Kartika sedang berdua di kamar. Rianti duduk di pinggir ranjang sambil menatap Kartika hati-hati.
“Jadi,” katanya pelan. “Kamu akan cerai sama suami kamu?”
Di balik pintu Kalingga yang baru saja datang sambil membawa segelas jus langsung membeku. Gelas di tangannya terlepas.
PRANG!
Suara kaca pecah langsung membuat Kartika dan Rianti tersentak kaget dan spontan menoleh ke arah pintu.
Kalingga berdiri mematung di sana. Wajah anak itu pucat dan tangannya gemetar. Pecahan gelas dan jus jeruk berserakan di lantai dekat kakinya.
“Kakak—” Suara Kartika langsung melemah.
“Mama mau cerai sama Papa?!” Suara tangis Kalingga pecah. Matanya langsung dipenuhi air mata.
Kartika langsung panik. “Enggak, Sayang—”
“Aku enggak mau!” teriak Kalingga tiba-tiba. Tangisnya pecah semakin keras. Anak itu mundur beberapa langkah sambil menggeleng berkali-kali.
“Aku enggak mau Mama sama Papa cerai!”
Dada Kalingga naik turun menahan sesak. Air matanya jatuh deras tanpa henti.
“Kakak, dengerin mama—” Kartika buru-buru mendekat.
Namun, Kalingga malah makin menangis. “Kenapa Mama pergi dari rumah?! Kenapa Papa enggak diajak?! Apa Mama udah enggak sayang sama Papa?!”
Pertanyaan demi pertanyaan keluar bercampur isak yang menyayat hati, meluncur dari mulut Kalingga.
Kartika langsung memeluk tubuh putranya erat. “Enggak, Kak!” Suaranya bergetar. “Enggak begitu, Sayang.”
Namun Kalingga terus menangis di pelukan ibunya. Tubuh kecilnya sampai gemetar. Selama ini anak itu memang lebih pendiam dibanding anak-anak seusianya. Justru karena itu ia menyimpan semuanya sendiri.
Kalingga mendengar pertengkaran orang dewasa. Mendengar mereka bicara dengan nada tinggi. Mamanya pergi malam-malam sambil menangis diam-diam. Dan sekarang dia ketakutan kehilangan keluarganya.
“Aku mau pulang!” Tangis Kalingga pecah lagi. “Aku mau Papa.”
Kalimat itu seperti merobek dada Kartika. Wanita itu langsung memejamkan mata kuat-kuat. Air matanya mulai jatuh satu per satu.
Rianti yang melihat suasana itu langsung ikut sedih. Ia perlahan keluar kamar memberi mereka ruang.
Sementara Kaivan yang sejak tadi berdiri bingung di dekat pintu mulai ikut menangis karena melihat kakaknya menangis.
“Kakak jangan nangis,” ucapnya polos sambil memegang baju Kalingga.
Namun Kalingga justru memeluk adiknya erat sambil sesenggukan. “Aku enggak mau pisah sama Papa.”
Kartika langsung jongkok di depan kedua anaknya. Tangannya menghapus air mata Kalingga pelan.
“Kakak dengar Mama dulu, ya,” suara Kartika lembut sekali walau bergetar.
Kalingga menangis sambil mengangguk kecil. Kaivan pun ikut menghapus air mata kakaknya.
Kartika menarik napas panjang. “Mama enggak ada niat cerai sama Papa.”
Mata Kalingga langsung menatap ibunya penuh harap. “Benar?”
Kartika mengangguk cepat. “Mama masih sayang sama Papa. Papa juga sayang sama Mama.”
Kalimat itu membuat tangis Kalingga sedikit mereda. “Terus kenapa Mama pergi ninggalin Papa?” tanyanya lirih.
Pertanyaan itu membuat dada Kartika kembali sesak. Ia tersenyum kecil. Senyum pahit yang dipaksakan.
“Karena Mama capek, Kak. Kadang orang dewasa juga bisa capek.”
Kartika mengusap rambut putranya pelan. “Mama cuma pengin Papa sadar kalau keluarga kecil kita juga penting.”
Air mata kembali menggenang di mata Kalingga. “Tapi Kakak takut,” bisiknya pelan.
Kartika langsung memeluk anaknya lagi erat sekali. “Mama juga takut.”
Suara wanita itu hampir pecah. “Takut kehilangan Papa. Takut keluarga kita hancur. Tapi Mama juga enggak bisa terus-terusan diam kalau Papa selalu dipaksa keluarganya.”
Ruangan itu kembali dipenuhi suara tangis kecil. Kalingga memeluk ibunya kuat-kuat seolah takut ditinggalkan.
Kartika mencium kepala anaknya berkali-kali. Hatinya terasa hancur melihat anak sekecil itu harus ikut memikirkan masalah orang dewasa.
“Kakak,” katanya pelan sambil menghapus air mata Kalingga lagi. “Sekarang tugas Kakak cuma satu.”
“Apa, Ma?” tanya anak itu lirih.
“Doain Papa.”
Kalingga terdiam.
“Doain supaya Papa sehat. Papa kuat..Dan Papa bisa jadi lebih tegas.”
Air mata Kartika kembali jatuh. Ia menunduk sebentar sebelum melanjutkan, “Doain juga Kakek, Nenek, Om, sama Tante.”
Kalingga mengernyit bingung. “Kenapa?”
Kartika tersenyum kecil walau matanya merah. “Supaya mereka jadi orang baik. Dan supaya mereka sadar kalau Papa juga punya keluarga sendiri yang harus dijaga dan diprioritaskan.”
Kalingga diam mendengarkan. Walau masih kecil anak itu mulai mengerti sedikit demi sedikit. Selama ini papanya terlalu banyak memikirkan keluarga besar sampai lupa dirinya juga punya rumah sendiri.
Kartika mengusap pipi anaknya lembut. “Mama enggak benci Papa. Jangan sampai Kakak juga benci Papa, ya.”
Kalingga langsung menggeleng cepat. “Aku sayang Papa!”
Kartika tersenyum tipis. “Mama juga.”
Tangis Kalingga akhirnya pecah lagi. Namun, kali ini lebih pelan. Anak itu memeluk ibunya erat sambil sesenggukan kecil.
Sedangkan Kartika diam-diam menangis tanpa suara sambil memeluk kedua anaknya kuat-kuat. Karena sebenarnya yang paling ia inginkan bukan perpisahan, melainkan Deva yang akhirnya berani memilih dan melindungi keluarganya sendiri.
cerita baru yg lebih baik dan menarik drpd kisah orang tuanya 🤝