Di Benua Sembilan Provinsi, kekuatan adalah satu-satunya hukum yang diakui. Lin Xuan, pewaris muda Klan Lin yang lahir dengan Tulang Kaisar Kuno, dikhianati pada malam upacara kedewasaannya. Tetua Agung klan bekerja sama dengan sepupunya, Lin Haotian, dan tunangannya dari Sekte Pedang Bulan, Su Qingxue, untuk merobek Tulang Kaisar dari tubuhnya secara hidup-hidup. Dengan meridian yang hancur dan tubuh yang dibuang ke Jurang Tulang Iblis, Lin Xuan seharusnya mati menjadi santapan binatang buas.
Namun, darah pantang menyerah dan kebencian yang membakar jiwanya memicu bangkitnya artefak misterius dari era sebelum penciptaan langit: Sistem Penakluk Takdir (Fate Conqueror System). Sistem ini memiliki satu hukum mutlak: rampas takdir musuh untuk membangun tahta sendiri. Setiap musuh yang dibunuh dan setiap faksi yang dihancurkan oleh Lin Xuan akan diekstrak menjadi Esensi Kultivasi Murni, Bakat Spiritual, dan Fragmen Hukum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Terbukanya Makam Raja Asura & Keangkuhan Lima Sekte Besar
Satu jam kemudian, di tengah Kawah Lembah Darah, Pegunungan Kabut Hitam.
Suasana di kawah raksasa yang dikelilingi tebing batu berwarna merah tua itu sangat ramai dan penuh ketegangan. Lebih dari dua ratus kultivator dari berbagai penjuru Provinsi Awan Merah telah berkumpul di depan sebuah gerbang batu kuno setinggi tiga puluh meter yang terukir gambar dewa perang berwajah enam dan berlengan delapan—Gerbang Makam Raja Asura!
Namun, tak seorang pun dari ratusan kultivator bebas berani mendekati radius seratus meter dari gerbang tersebut.
Area terbaik di depan gerbang telah dikuasai sepenuhnya oleh lima kelompok besar yang mengenakan seragam mencolok: Lima Sekte Besar Provinsi Awan Merah!
Di posisi paling tengah dan paling dominan, berdiri dua puluh murid inti Sekte Pedang Bulan. Di barisan paling depan mereka, berdiri seorang pemuda berjubah putih perak dengan pedang panjang di punggung dan tatapan mata setajam elang—Jian Wushuang, murid nomor satu Sekte Pedang Bulan yang telah mencapai Ranah Fondasi Roh Tingkat 8 di usia dua puluh tiga tahun!
Di sebelah kanan Sekte Pedang Bulan, berdiri kelompok Sekte Api Merah yang dipimpin oleh pemuda berbadan kekar berambut merah menyala, Huo Qilin (Fondasi Roh Tingkat 7), serta kelompok Sekte Gunung Besi yang dipimpin oleh pria berotot baja pembawa kapak raksasa, Tie Kuang (Fondasi Roh Tingkat 7).
"Kakak Senior Jian, kabut darah di sekitar gerbang makam masih sangat pekat. Tapi anehnya, adikku Huo Lie dan Adik Chen Feng yang kita tugaskan menjaga jalur luar belum juga kembali," ujar Huo Qilin sambil mengerutkan keningnya.
Jian Wushuang menyilangkan kedua tangannya di dada dengan ekspresi angkuh yang dingin.
"Mereka berdua mungkin sedang asyik bermain-main memburu kultivator liar di hutan luar," jawab Jian Wushuang acuh tak acuh. "Fokus saja pada gerbang makam ini. Begitu kita mendapatkan Jantung Darah Raja Asura di dalam makam, aku akan langsung berangkat ke Kota Awan Merah untuk memenggal kepala bocah bernama Lin Xuan itu. Adik Seperguruan Su Qingxue telah menjanjikan seluruh kuota batu spiritual tahunannya kepadaku jika aku membawa kepala bocah itu hidup atau mati."
"Haha! Bocah dari klan daerah yang kebetulan melukai Tetua Luo Feng saat lengah saja sampai membuat Kakak Jian turun tangan sendiri?" Tie Kuang dari Sekte Gunung Besi tertawa mengejek. "Jika aku bertemu dengannya lebih dulu, satu ayunan kapakku sudah cukup untuk membelahnya menjadi dua!"
GRRRRR—BOOM!!
Tepat pada saat itu, seluruh kawah bergetar hebat!
Pintu batu raksasa Makam Raja Asura perlahan bergeser terbuka, mengeluarkan semburan angin kuno berbau darah pekat yang membentuk tirai kabut merah menyala di ambang pintu masuk!
"Makam Raja Asura sudah terbuka!!"
Dua orang kultivator bebas yang serakah tidak tahan lagi dan langsung melesat terbang menerobos tirai kabut merah di gerbang depan.
Namun, begitu tubuh mereka menyentuh tirai kabut merah tersebut—
SHAAAA!!
"Aaaarghh!!"
Tirai kabut merah itu menyala seperti api penyucian darah! Hanya dalam dua detik, kedua kultivator bebas tingkat Pembukaan Meridian itu langsung meleleh menjadi genangan darah yang diserap oleh ukiran iblis di pintu batu!
Seluruh kawah langsung terdiam ngeri!
"Itu adalah Formasi Tirai Penghisap Darah peninggalan Raja Asura!" wajah Jian Wushuang berubah serius. "Formasi itu membutuhkan tumbal darah dari setidaknya tiga puluh kultivator sebelum energinya terkuras dan aman untuk dilewati!"
Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Huo Qilin dan Tie Kuang langsung berbalik menatap ratusan kultivator bebas yang berdiri di belakang mereka dengan seringai kejam.
"Kalian para kultivator liar yang ingin ikut memungut sisa-sisa keberuntungan di belakang Lima Sekte Besar, sekarang saatnya kalian berguna!" bentak Huo Qilin sambil melepaskan tekanan Fondasi Roh Tingkat 7 miliknya. "Tiga puluh orang di barisan paling depan, cepat masuk ke dalam tirai darah itu untuk membuka jalan bagi kami! Siapa yang berani mundur selangkah akan langsung kubakar menjadi abu di sini!"
Wajah para kultivator bebas berubah pucat pasi penuh kemarahan dan ketakutan. Menyuruh mereka masuk ke dalam formasi itu sama saja dengan menyuruh mereka mati konyol!
"Kalian dari Lima Sekte Besar benar-benar keterlaluan! Kalian menganggap nyawa kami apa?!" teriak seorang kultivator tua.
BOOM!
Tie Kuang langsung mengayunkan kapak raksasanya dan membelah kultivator tua itu menjadi dua di tempat! "Banyak omong! Siapa lagi yang berani membantah?!"
Suasana menjadi mencekam. Huo Qilin menyapu pandangannya ke arah kerumunan, lalu jarinya menunjuk tepat ke arah seorang pemuda berjubah hitam yang baru saja melangkah keluar dari balik tebing barat dengan tenang.
"Hei, bocah berjubah hitam yang baru datang di sana! Kau terlihat cukup kuat di Ranah Fondasi Roh awal. Masuklah paling depan sebagai tumbal pertama untuk membuka jalan bagi Sekte Api Merah dan Sekte Pedang Bulan!" perintah Huo Qilin dengan nada memerintah layaknya seorang raja.
Seluruh mata di kawah itu langsung tertuju pada pemuda berjubah hitam tersebut.
Lin Xuan berhenti melangkah. Ia menatap Huo Qilin, Tie Kuang, lalu beralih ke arah Jian Wushuang dengan senyum dingin yang tipis.
"Menyuruhku membuka jalan untuk Sekte Api Merah dan Sekte Pedang Bulan?" suara Lin Xuan bergema jernih di tengah keheningan kawah. "Huo Qilin, sebelum kau menyuruh orang lain masuk ke gerbang kematian, bukankah sebaiknya kau menyapa adik kandungmu lebih dulu?"
"Apa maksudmu?!" Huo Qilin menyipitkan matanya.
Lin Xuan mengayunkan tangannya dan melemparkan kantong kulit di pinggangnya ke tengah lapangan batu di depan kelima sekte besar.
Kantong kulit itu terbuka, dan dua kepala manusia yang masih membeku oleh ekspresi ketakutan menggelinding keluar—kepala Huo Lie dan Chen Feng!
"Huo Lie?! Adikku!!"
Mata Huo Qilin langsung memerah seperti darah, sementara seluruh murid Sekte Pedang Bulan dan Sekte Api Merah menjerit kaget!
"Chen Feng juga mati?! Siapa kau sebenarnya?!" raung Jian Wushuang sambil mencabut setengah bilah pedang peraknya hingga memancarkan hawa dingin yang menusuk tulang!
Lin Xuan menyibakkan tudung jubah hitamnya, memperlihatkan wajah mudanya yang dingin dan tegas di bawah sinar matahari yang menembus kabut kawah.
"Bukankah kalian semua sedang mencari kepalaku untuk ditukar dengan lima puluh ribu Batu Spiritual?" ucap Lin Xuan tenang. "Lin Xuan, Tuan Paviliun Darah Hitam dari Kota Awan Merah. Aku sudah datang ke hadapan kalian—siapa yang ingin maju lebih dulu untuk mengambil kepalaku?"