Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25: Harga Sebuah Kesetiaan
____🌺
Kertas itu bergetar di tangan Nayara. Matanya berulang kali membaca deretan kalimat di atasnya.
"Kembalikan surat itu, Nay!" seru Adrian panik.
Pria itu melangkah cepat, berusaha merebut kertas dari tangan istrinya. Namun, Nayara segera mundur selangkah.
Ia melipat surat tersebut menjadi dua, lalu memasukkannya ke dalam saku celana. Setelah itu, tangannya meraih gagang koper di lantai dan map merah berisi dokumen pribadinya di atas meja.
"Jangan mendekat, Mas," ancam Nayara dengan suara rendah. Tatapannya, juga tajam. "Kalau kamu maju satu langkah lagi, aku akan berteriak sampai semua tetangga datang ke sini."
"Nay, tolong dengarkan penjelasanku dulu. Surat itu cuma—"
"Cuma apa?!" potong Nayara dengan suara meninggi. "Cuma bukti bahwa pernikahan kita ini hanya sebuah bisnis? Rencana kotor untuk menutupi masalah keluargamu?!"
Dadanya naik turun menahan amarah yang semakin membuncah.
"Kamu bilang menikahi aku karena cinta! Kamu bilang melawan keluargamu demi aku! Ternyata semuanya bohong! Dari awal sampai akhir, kamu cuma menjadikan aku alat, Adrian!"
"Bukan begitu, Nayara!" bantah Adrian.
Namun, wanita itu sudah tidak ingin mendengar satu kata pun lagi. Ia berbalik dan menarik kopernya keluar dari ruang kerja dengan langkah lebar.
Adrian mengekor di belakangnya dengan wajah panik. Meski berkali-kali memanggil istrinya, pria itu tidak berani menyentuh Nayara yang jelas-jelas sudah kehilangan kesabarannya.
Nayara membuka pintu utama dan melangkah keluar tanpa menoleh sedikit pun. Panggilan Adrian yang terdengar dari teras rumah diabaikannya begitu saja.
Ia menghentikan sebuah taksi daring yang kebetulan melintas, memasukkan kopernya ke dalam mobil, lalu duduk di kursi penumpang.
Begitu mobil mulai bergerak, Nayara menyandarkan tubuhnya dengan lemas. Ia tidak berniat pulang ke rumah ibunya. Ia tidak ingin sang ibu melihatnya, apalagi mempertanyakan isi surat itu sebelum dirinya sendiri memahami semuanya.
Ayahnya sudah meninggal. Sementara itu, Adrian dan Marissa telah berulang kali mempermainkan dirinya.
Di tengah keluarga Mahendra, hanya ada satu orang yang masih ingin dipercayainya, yaitu Dimas, adik kandung Adrian. Setidaknya, selama ini Dimas terlihat memiliki hati nurani dan tidak pandai menyembunyikan kebohongan.
Nayara mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi pemuda itu.
____🌺
Satu jam kemudian, Nayara duduk di sudut sebuah kedai kopi yang sepi. Koper besarnya terletak di samping kursi.
Pintu kedai terbuka. Dimas masuk dengan kemeja kantor berlengan panjang yang digulung hingga siku. Matanya menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya menemukan Nayara. Ia segera menghampiri meja tersebut.
"Mbak Nay," sapanya sembari menarik kursi di hadapan kakak iparnya.
Tatapan Dimas langsung tertuju pada koper besar di samping Nayara. Dahinya berkerut.
"Mbak bawa koper? Ada apa ini? Mas Adrian sama Mbak, berantem lagi?"
Nayara tidak ingin membuang waktu dengan basa-basi. Ia mengeluarkan surat menguning dari sakunya, membukanya, lalu meletakkannya tepat di hadapan Dimas.
"Mbak, nemu ini di brankas, Mas Adrian," ujar Nayara datar. "Baca, Dim. Dan tolong, jangan bohong sama Mbak. Aku sudah cukup mendengar kebohongan dari ibu dan kakakmu hari ini."
Dimas menunduk. Matanya menelusuri setiap baris tulisan di atas kertas tersebut. Semakin jauh ia membaca, semakin tegang pula raut wajahnya.
Setelah menelan ludah, Dimas perlahan mengangkat kepala.
"Mbak, dapat surat ini dari mana?" tanyanya gugup.
"Itu tidak penting. Yang penting adalah isinya." Nayara mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kamu tahu soal ini, kan? Kamu tahu kalau pernikahanku dengan kakakmu merupakan bagian dari masalah bisnis antara ayahmu dan ayahku?"
Dimas mengusap wajahnya dengan kasar, lalu bersandar di kursi sambil mengembuskan napas berat. Ia tampak salah tingkah dan sempat mengalihkan pandangan ke luar jendela.
"Jawab, Dimas," desak Nayara. "Mbak, cuma mau kamu jujur."
"Aku ... tidak tahu persis, Mbak," jawab Dimas akhirnya sambil menunduk. "Waktu itu aku masih kuliah semester akhir. Tapi aku memang pernah mendengar Papa dan Mas Adrian bertengkar hebat di ruang kerja Papa, soal masalah ini."
"Bertengkar soal apa?" tanya Nayara cepat.
"Soal, perusahaan mendiang ayah Mbak," jelas Dimas pelan.
Ia kembali menatap kakak iparnya, kali ini dengan rasa bersalah yang kentara.
"Dulu, ayah Mbak dan Papa pernah mengerjakan proyek bersama. Namun, proyek itu bermasalah sampai menimbulkan masalah besar. Keluarga Mbak hampir kehilangan semuanya karena Papa menarik dana secara sepihak. Ayah Mbak berniat membawa masalah itu ke pengadilan."
Napas Nayara tertahan.
Jari-jarinya mengepal erat di atas meja. Ayahnya meninggal tidak lama setelah perusahaan keluarga mereka bangkrut akibat serangan jantung. Selama ini, Nayara mengira kehancuran keluarganya merupakan akibat kegagalan bisnis dan nasib buruk yang tidak bisa dihindari.
Namun, kini ia mulai mempertanyakan semua yang selama ini dipercayainya.
"Lalu, apa hubungannya dengan pernikahanku?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Aku cuma mendengar dari balik pintu, Mbak," lanjut Dimas dengan hati-hati. "Papa bilang satu-satunya cara untuk menghentikan tuntutan ayah Mbak, adalah melalui pendekatan kekeluargaan. Papa menawarkan bantuan keuangan untuk menyelamatkan sisa aset ayah Mbak, dengan satu syarat ... Mbak, harus menikah dengan kakakku."
Nayara menatap Dimas lekat-lekat.
"Dan Mas Adrian setuju?" tanyanya, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang.
Dimas mengangguk pelan.
"Mas Adrian sangat membutuhkan dukungan Papa untuk mempertahankan posisinya di perusahaan. Waktu itu, dia belum menjabat sebagai direktur cabang dan posisinya terancam. Jadi, dia menyetujui syarat Papa untuk menikahi Mbak, demi mengamankan posisinya."
Hati Nayara terasa hancur berkeping-keping.
Selama ini, Adrian selalu mengatakan bahwa dirinya menentang keluarga demi cinta mereka. Nayara bahkan percaya bahwa pria itu rela mempertaruhkan segalanya untuk mempertahankan pernikahan mereka.
Namun, kenyataannya justru sebaliknya.
Pernikahan mereka ternyata menjadi alat negosiasi. Adrian mendapatkan kesempatan mengamankan posisinya, sementara keluarga Mahendra memperoleh jalan untuk menyelesaikan masalah bisnis yang melibatkan ayah Nayara.
Semua itu dibungkus dengan janji cinta dan pernikahan yang selama ini dianggap Nayara suci.
"Kenapa tidak ada yang memberitahuku, Dim?" Suara Nayara pecah. Ia menekan dadanya yang terasa semakin sesak.
"Ibumu menghinaku karena aku tidak punya latar belakang keluarga pengusaha yang setara. Ibumu bilang aku harus bersyukur karena keluarga ini sudah mengangkat derajatku. Padahal, keluarga inilah yang menghancurkan ayahku!"
"Aku minta maaf, Mbak," ucap Dimas tulus.
Tangannya terulur, menyentuh lengan Nayara untuk menenangkan kakak iparnya itu.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku pikir Mas Adrian lambat laun akan mencintai Mbak dengan tulus. Selama dua tahun ini, kalian selalu kelihatan baik-baik saja."
"Tidak ada yang baik-baik saja," jawab Nayara sambil mengusap air matanya dengan cepat.
Ia tidak ingin terlihat semakin rapuh di hadapan Dimas.
"Kakakmu selingkuh. Sekarang perempuan itu ... Selena, sekarang sedang mengandung anak Mas Adrian.”
Mata Dimas langsung membelalak.
"Apa?! Selena hamil?"
emang lu doang yang bisa 🤣🤣