Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!
Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?
"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.
"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 - Didesak
"Aduh, Mas Aris... tidak usah panik begitu, namanya juga buang gas alami," timpal Bu Heni sambil mengipas-ngipaskan tangannya di depan hidung, karena aroma sakti santan gulai bercampur parfum mahal mulai menyebar samar. "Tapi lain kali kalau habis makan sate kacang jangan kentut sembarangan di depan umum ya, tidak sopan!"
"BUKAN AKU, TANTE!" amuk Aris frustrasi setengah mati, menunjuk-nunjuk Sam yang hanya memberikan senyuman ramah penuh keprihatinan palsu.
Di tengah kekacauan di mana Tante Lies dan Tante Mirna mulai ikut menyindir Aris yang dianggap tidak tahu tata krama, Tia tidak membuang-buang waktu lagi. Dengan kecepatan setara atlet lari estafet, ia menyambar pergelangan tangan Sam dan menariknya menjauh dari kerumunan.
"Ayo cepat, sebelum pertahanan kamu jebol gelombang kedua!" bisik Tia panik.
"Siap, Mbak! Ini sudah di jalan tol tinggal keluar gerbang!" balas Sam meringis sambil berjalan setengah mengangkang.
Tia menuntun Sam melewati lorong samping yang sepi menuju kamar mandi keluarga di dekat halaman belakang. Begitu pintu kayu berwarna cokelat itu terlihat, Sam langsung melompat masuk bagaikan prajurit menemukan bunker perlindungan.
Brak! Bzzzt!
Pintu dikunci rapat dari dalam. Tidak sampai tiga detik kemudian, dari dalam kamar mandi terdengar suara kelegaan luar biasa yang menggetarkan pintu.
Tia menyandarkan punggungnya di dinding luar kamar mandi, mengelus dadanya yang berdegup kencang seraya menghembuskan napas panjang. Wajahnya memerah menahan tawa yang meledak-ledak di dalam dada. Kebohongannya hari ini tidak hanya berjalan mulus, tetapi sang 'suami kredit' secara tidak sengaja berhasil menzalimi Aris si Branch Manager belagu hingga reputasinya hancur lebur di mata keluarga besar.
"Mbak Tia... masih di luar?" suara Sam terdengar parau dari balik pintu.
"Masih, Mas Sam! Tuntaskan semua dosamu di dalam! Jangan ada yang tersisa!" seru Tia setengah berbisik.
"Terima kasih banyak ya, Mbak... Kalau tidak ada Mbak tadi, reputasiku sebagai penakluk buaya muara hancur berkeping-keping di depan emak-emak..." sahut Sam penuh rasa syukur.
Tia terkekeh geli. Namun, tawa riang Tia mendadak membeku di tenggorokan saat ia mendengar langkah kaki yang mendekat dari arah lorong. Bu Heni muncul dengan wajah berseri-seri, membawa segelas teh hangat manis yang baru dibuat ulang.
"Lho, Tia? Kamu berdiri di depan kamar mandi sendirian? Sam di dalam ya?" tanya Bu Heni dengan mata berbinar-binar.
Tia mendadak tegang, buru-buru berdiri tegak merapikan gaunnya. "E-eh, iya Bu. Sam... anu, lagi cuci tangan dan merapikan kemejanya. Katanya agak gerah tadi."
Bu Heni tersenyum lebar, menyandarkan tubuhnya ke dinding di samping Tia. Raut wajah sang ibu yang biasanya penuh dengan tuntutan dan drama pingsan, kini berganti menjadi ekspresi keibuan yang sangat hangat dan lega.
"Tia..." panggil Bu Heni pelan, menatap putri sulungnya itu dengan tatapan haru. "Ibu senang sekali hari ini."
Tia mengerutkan dahi, merasa agak canggung. "Senang kenapa, Bu?"
"Ibu senang melihat Sam. Dia anak yang sangat baik," ujar Bu Heni jujur. "Ibu tahu, selama ini Ibu, Tante Lies, dan Tante Mirna selalu menekanmu untuk cepat menikah. Ibu sadar omongan kami sering bikin kamu stres. Tapi Ibu cuma khawatir, Tia. Ibu cuma mau ada pria baik, tegap, dan bertanggung jawab yang bisa menjaga kamu kalau Ibu sudah tidak ada nanti."
Mendengar ucapan ibunya, dinding pertahanan di hati Tia mendadak meleleh. Rasa bersalah yang amat sangat mulai merayapi benaknya. Kebohongan yang ia susun rapi bersama Samsudin tiba-tiba terasa seperti beban berat yang menghimpit dadanya.
"Sam itu... walaupun pekerjaannya berbahaya jadi pawang buaya, Ibu bisa lihat matanya jujur," lanjut Bu Heni sambil memegang kedua tangan Tia. "Dia tidak gengsi, makannya lahap, dan caranya membela kamu di depan Aris tadi membuktikan kalau dia pria sejati. Jadi... kapan kalian mau merencanakan pernikahan resmi?"
Jeng! Jeng! Jeng!
Jantung Tia serasa berhenti berdetak. "P-pernikahan resmi, Bu?!"
"Iya dong! Masa cuma dibawa ke arisan?" Bu Heni mengusap lengan Tia antusias. "Tadi Tante Lies sama Tante Mirna sudah bilang, kalau bisa acara pernikahan kamu digelar dua minggu setelah lamaran Nia! Biar sekalian pesta besar keluarga! Sam sudah melamar kamu secara pribadi kan? Dia sudah persiapkan semuanya?"
Tia menelan ludahnya yang terasa sepahit obat racikan. Otaknya berputar keras bagai mesin jet. Jika ia mengaku belum dilamar atau bilang ini cuma drama sewaan, Bu Heni dipastikan bakal berguling di ubin dan pingsan betulan! Tapi jika dia mengiyakan, berarti drama ini harus berlanjut ke tingkat yang jauh lebih ekstrem dan mahal!
'Aduh... kalau melangkah ke jenjang pernikahan sewaan... berapa lagi tarif yang bakal diminta Samsudin?!' jerit Tia dalam hati dengan panik. 'Cicilan tiga ratus ribu ini saja batas kartu kreditku sudah sekarat! Masa aku harus ambil cicilan overtime dua puluh empat bulan?!'
Namun, melihat binar bahagia di mata ibunya yang jarang sekali terlihat, Tia tidak tega menghancurkan momen itu.
Tia mengumbar senyum paksaan paling manis yang sanggup ia ciptakan. "I-iya, Bu... Sam... Sam sudah bicara sama Tia kok. Dia... dia sudah mempersiapkan semuanya. Tinggal atur tanggal saja."
"Wah! Beneran?!" Bu Heni hampir saja memekik girang dan memeluk Tia erat-erat. "Alhamdulillah ya Allah! Nanti malam Ibu mau langsung telepon keluarga di kampung buat persiapannya!"
Tia hanya bisa tertawa hambar, kepalanya mendadak pusing tujuh keliling membayangkan angka angsuran bayaran kreditnya pada Sam yang dipastikan bakal membengkak hebat.
Tepat saat Bu Heni kembali ke ruang tamu dengan hati berbunga-bunga, pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Samsudin keluar dengan wajah yang kini kembali segar, tampan, dan memancarkan wangi woody-citrus yang menenangkan.
Sam menghela napas lega, merapikan kemeja putihnya. "Wah, rasanya seperti lahir kembali ke dunia, Mbak Tia. Leganya luar biasa!"
Tia menatap 'suami kreditnya' itu dengan tatapan campur aduk, antara kagum, pasrah, dan ingin menangis.
"Mas Sam..." panggil Tia lemah.
Sam mengerutkan dahi heran melihat wajah Tia yang mendadak lesu. "Ada apa, Mbak? Ada masalah lagi? Masih ada yang nuduh aku kentut?"
Tia menggeleng pelan, lalu mendekatkan wajahnya ke dada bidang Sam sambil berbisik lirih.
"Ibu baru saja menanyakan kapan kita nikah resmi... dan bilang acara kita mau dibuat dua minggu setelah lamaran Nia."
Mata Sam yang tajam seketika melotot selebar-lebarnya. Ketampanannya mendadak luntur digantikan rasa syok tingkat tinggi. "Hah?! Nikah resmi?! Dua minggu lagi?!"
"Iya..." bisik Tia memelas. "Gara-gara kamu tampil terlalu sempurna dan berhasil menzalimi Aris, Ibuku jadi ketagihan mau punya menantu pawang buaya!"
Sam memegang dahinya yang mendadak terasa berdenyut-denyut. "Mbak Tia... sewa tiga jam saja cicilannya sepuluh bulan... Kalau sewa nikah resmi dua minggu lagi, Mbak mau bayar aku pakai cicilan berapa tahun?! Sampai aku pensiun dari kandang buaya?!"
Tia meremas ujung kemeja mahal Sam, menatap sang pawang buaya dengan pandangan paling memohon dalam sejarah hidupnya.
"Mas Sam... tolong bantu aku satu kali ini lagi..." mohon Tia pasrah. "Masalah tarif dan bunga cicilan... nanti kita rundingkan lagi di Warteg Pak Ujang!"
Sam menatap wanita di hadapannya, lalu menghela napas panjang menatap langit-langit. Mengingat uang mukanya baru saja dipakai membayar token listrik nenek dan obat asam urat bapaknya di kampung, sang pawang buaya sadar bahwa takdir hidupnya dan sang wanita staf admin ini memang sudah terikat kencang dalam satu rantai cicilan yang sama.
sampai ikut nangis er baca tadi malam kasihan tia diposisinya nyesek banget gitu
udah dipecat, hutang banyak, barang² dirumah habis, suami kreditnya kalau g mau menerima keadaan lalu kabur apa gak tambah nelangsa Tia
bayangin aja melasssssss bener
dan selain membuka hati, juga sampaikan juga bahwa kamu sekarang yang akan menafkahi,
tapi jangan dulu terbuka Sam yang Miliuner, bisa² Mba Tia pingsan sambil melotot, wkwkwk 🤣
turunin gengsi nya dong Tia agar sam gercep,
tidak sabar liat mereka bucin akut thor... 😄
ini baru sehari lohhh kalau tiap hari apa gak tambah bingung ularnya.
er yakin kalau sering ada godaan gini gak akan lama mereka udah praktek malam pertama beneran