Su Yun pernah menjalani hidup penuh kegagalan, kehilangan, dan penyesalan. Ketika takdir memberinya kesempatan kembali ke masa lalu, ia bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Berbekal pengalaman dari kehidupan sebelumnya dan warisan misterius Seni Pedang Tanpa Batas, Su Yun menapaki kembali jalan kultivasi. Demi melindungi orang-orang yang berharga baginya, ia harus menghadapi para genius, sekte besar, Binatang Roh, hingga musuh yang jauh melampaui kekuatannya.
Kali ini, Su Yun tidak akan tunduk pada takdir.
Dengan pedang di tangannya, ia akan merebut kembali semua yang pernah hilang—dan membuka jalan menuju puncak dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 — Jebakan di Lembah Bulan Sabit
Raungan itu membuat langkah Su Yun berhenti.
Kabut di depan berguncang.
Sesosok bayangan besar perlahan muncul dari balik pepohonan.
Su Yun langsung mengenalinya.
“Macan Tutul Berzirah Baja...”
Tubuh Binatang Roh itu sebesar anak sapi. Lapisan sisik keras menyerupai baja menutupi hampir seluruh tubuhnya, sementara sebuah tanduk ungu tumbuh dari dahinya.
Macan Tutul Berzirah Baja termasuk Binatang Roh tingkat menengah.
Kekuatan, kecepatan, dan pertahanannya berada jauh di atas kemampuan Su Yun saat ini.
Terlebih...
jarak kekuatan mereka masih cukup besar.
Su Yun menggenggam pedang berkarat di pinggangnya.
Ia tahu banyak tentang makhluk tersebut.
Namun mengetahui kelemahan musuh dan benar-benar bertarung melawannya adalah dua hal berbeda.
Dalam kehidupan sebelumnya, Su Yun mempelajari banyak pengetahuan dari buku, tabib, kultivator pengembara, bahkan sekte-sekte berbeda.
Tetapi pengalamannya melawan Binatang Roh tetap terbatas.
Mengaum!
Macan tutul itu merendahkan tubuh.
Su Yun melirik cepat ke kanan dan kiri.
Jalur di belakang sempit.
Bagian depannya tertutup makhluk tersebut.
Bertarung langsung?
Bodoh.
Su Yun berbalik.
Lari!
Mengaum!
Macan Tutul Berzirah Baja langsung mengejar.
Kecepatannya mengerikan.
Hanya dalam beberapa tarikan napas, jarak mereka sudah terpangkas setengah.
Su Yun tidak menoleh lagi.
Di sebelah kiri terdapat dinding batu curam.
Itulah tujuannya.
Ketika jaraknya cukup dekat—
Tap!
Su Yun menginjak sebuah batu.
Tubuhnya melesat ke atas.
Tangannya menangkap tonjolan pada dinding tebing.
Ia memanjat cepat.
Dua meter.
Tiga.
Lima.
Mengaum!
Macan tutul ikut melompat.
Cakarnya menyambar.
Namun hanya mencapai sekitar empat meter.
Su Yun menarik kakinya tepat waktu.
Cakar tajam lewat beberapa jari di bawah sepatunya.
Makhluk itu jatuh kembali.
“Seperti yang kuingat.”
Tubuh Macan Tutul Berzirah Baja sangat berat.
Kecepatannya di tanah luar biasa.
Namun kemampuan melompatnya terbatas.
Su Yun belum bisa bernapas lega.
Macan tutul itu tidak pergi.
Sebaliknya, makhluk tersebut berputar beberapa kali, lalu perlahan mundur.
Mata Su Yun menyipit.
“Kau masih ingin mencoba?”
Kaki belakang binatang itu menegang.
Ia mengambil ancang-ancang.
Kali ini jelas ingin menggunakan seluruh kecepatan untuk melompat lebih tinggi.
Su Yun mengeluarkan pedang berkarat.
Tatapannya jatuh pada dahi makhluk tersebut.
Di antara lapisan baja terdapat sebuah garis tipis kekuningan.
Kecil.
Nyaris tidak terlihat.
Namun itulah salah satu titik lemahnya.
Jika serangannya meleset...
Su Yun mungkin tidak mendapat kesempatan kedua.
Mengaum!
Macan tutul berlari.
Tanah bergetar di bawah kakinya.
Semakin cepat.
Kemudian—
ia melompat.
Su Yun menunggu.
Tiga meter.
Empat.
Mulut binatang itu mulai terbuka.
Sekarang!
Su Yun melepaskan pegangan.
Tubuhnya jatuh.
Ia menggenggam pedang dengan kedua tangan dan menyalurkan seluruh energi spiritual yang mampu dikerahkannya.
“HAH!”
Tusuk!
Puchi!
Pedang berkarat menembus celah di dahi Macan Tutul Berzirah Baja.
Mengaum!
Jeritan menyakitkan mengguncang udara.
Momentum keduanya membuat mereka jatuh bersamaan.
Bam!
Su Yun menghantam tanah.
Macan tutul terjatuh tidak jauh darinya.
Pedang tadi menembus cukup dalam.
Dalam keadaan normal, luka seperti itu seharusnya mematikan.
Namun Binatang Roh tingkat menengah memiliki vitalitas luar biasa.
Makhluk itu tiba-tiba bangkit.
“Apa?”
Sret!
Cakarnya menyapu.
Su Yun mencoba mundur.
Terlambat.
Empat garis luka muncul di dadanya.
Darah langsung membasahi pakaian.
Su Yun menggertakkan gigi dan mengayunkan pedang untuk memaksanya mundur.
Macan tutul yang sudah terluka parah menggeram.
Namun bukannya menyerang lagi, ia berbalik dan melarikan diri.
Dalam beberapa detik, tubuhnya menghilang di antara pepohonan.
Su Yun tidak mengejar.
“Masih kurang.”
Ia melihat luka di dadanya.
Secara teori, seluruh pertarungan tadi sudah diperhitungkan.
Namun satu kesalahan kecil hampir membuatnya membayar mahal.
Pengalaman.
Itulah yang masih kurang.
Su Yun mengeluarkan salep penyembuhan cepat.
Begitu salep menyentuh luka, rasa dingin segera menyebar.
Perdarahan perlahan berhenti.
“Pengetahuan memang berguna...”
Ia membalut dadanya.
“Tapi tubuh ini harus benar-benar mengalami pertarungan.”
Seni Pedang Tanpa Batas mungkin luar biasa.
Namun teknik sehebat apa pun tidak akan berguna jika penggunanya panik dalam pertempuran sebenarnya.
Su Yun melanjutkan perjalanan.
Dua hari berikutnya jauh lebih sulit daripada perkiraannya.
Semakin dalam memasuki Lembah Bulan Sabit, semakin banyak Binatang Roh kuat yang muncul.
Sebagian berhasil dihindarinya.
Dari beberapa lainnya, ia terpaksa melarikan diri.
Persediaan salep penyembuhan cepat terus berkurang.
Su Yun bahkan beberapa kali nyaris menggunakan Jimat Penyembunyi Aura.
Namun selalu ditahannya.
Jimat itu hanya bisa digunakan sekali dalam waktu lama dan efeknya hanya berlangsung sekitar sepuluh detik.
Barang semacam itu harus disimpan untuk keadaan yang benar-benar mematikan.
Masalah terbesar adalah...
Kristal Surgawi belum ditemukan.
Su Yun berdiri di atas sebuah batu sambil memandang kabut tebal di depan.
Dua hari.
Tidak ada petunjuk.
Ingatan kehidupan sebelumnya hanya memberitahunya bahwa harta tersebut pernah dikaitkan dengan Lembah Bulan Sabit.
Tidak lebih.
“Sepertinya tidak bisa dipaksakan.”
Su Yun menghela napas.
Ia bukan orang yang akan mati hanya karena keserakahan.
Buah Bulan Sabit sudah didapatkan.
Kultivasinya telah menembus tahap ketujuh.
Buah kedua cukup untuk menyelesaikan misi dengan imbalan enam puluh ribu koin roh.
Perjalanan ini sudah sangat menguntungkan.
Lebih baik kembali daripada kehilangan semuanya.
Su Yun berbalik.
Namun baru beberapa langkah—
Tap.
Tap.
Tap.
Ia langsung berhenti.
Suara langkah kaki.
Bukan Binatang Roh.
Manusia.
Kemudian terdengar tawa dari kejauhan.
Su Yun segera menyelinap ke balik batu besar.
“Manusia?”
Ia memusatkan pendengaran.
Langkah kaki semakin dekat.
Suara percakapan mulai terdengar.
“Hahaha! Tidak kusangka perangkap kali ini benar-benar mendapat banyak mangsa!”
Su Yun mengerutkan kening.
Perangkap?
“Kalau ada perempuan cantik, Kakak Tertua memilih dulu!”
“Silakan saja!”
“Kalau ada pemuda berwajah halus, sisakan satu untukku.”
Tawa menjijikkan langsung menyusul.
Su Yun menurunkan tatapan.
Orang-orang ini jelas bukan kultivator biasa.
Beberapa saat kemudian, sekelompok pria muncul.
Pakaian hitam.
Pelindung tubuh kuning.
Senjata mereka memancarkan energi spiritual samar.
Jumlahnya tidak sedikit.
Namun dari aura mereka, sebagian besar masih berada di sekitar Alam Murid Roh, dengan beberapa orang yang lebih kuat.
Bukan lawan yang bisa diremehkan Su Yun.
“Cepat.”
Seorang pria besar yang membawa pedang panjang memberi perintah.
“Jangan sampai mangsa menemukan jalan keluar sebelum kita tiba.”
Kelompok itu tertawa lalu melanjutkan perjalanan.
Su Yun tetap diam hingga mereka menjauh.
Matanya berubah serius.
Orang-orang ini terlalu santai.
Mereka tidak terlihat seperti orang yang baru pertama kali memasuki Lembah Bulan Sabit.
Bahkan jalan yang mereka pilih seolah telah dihafal.
Selama dua hari Su Yun harus menghindari berbagai Binatang Roh.
Namun kelompok tersebut bergerak nyaris tanpa hambatan.
“Mereka tinggal di sini?”
Kemungkinan itu membuat Su Yun tertarik.
Lebih penting lagi...
orang-orang seperti ini mungkin mengetahui rahasia lembah.
Termasuk Kristal Surgawi.
Setelah mempertimbangkan beberapa saat, Su Yun mengikuti mereka.
Ia menjaga jarak.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
Kelompok tersebut beberapa kali berbelok melalui jalur yang tampaknya tidak penting.
Anehnya, mereka selalu berhasil menghindari wilayah Binatang Roh kuat.
Semakin mengikuti mereka, Su Yun semakin yakin.
“Mereka benar-benar mengenal lembah ini.”
Sekitar setengah jam kemudian, pepohonan terbuka.
Su Yun langsung berhenti.
Di tengah lembah terdapat sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.
Sebuah kubah energi hitam.
Ukurannya sangat besar.
Seperti mangkuk raksasa yang dibalik dan menutupi sebagian wilayah lembah.
Energi hitam berputar perlahan di permukaannya.
Kelompok berpakaian hitam berjalan menuju kubah.
Pemimpin mereka menempelkan telapak tangan lalu mengucapkan beberapa mantra.
Buzz!
Sebuah celah muncul.
Mereka masuk satu demi satu.
Su Yun menyelinap lebih dekat.
Dari tempat persembunyiannya, ia mencoba melihat isi kubah.
Dan sesaat kemudian—
ekspresinya berubah.
Di dalam kubah besar itu terdapat satu penghalang lain.
Lebih kecil.
Seperti sebuah penjara.
Sekitar dua puluh pemuda dan gadis terperangkap di dalamnya.
Sebagian terluka.
Sebagian duduk kelelahan.
Namun pakaian mereka mudah dikenali.
Jubah merah.
Pedang di pinggang.
Token giok tergantung pada tubuh masing-masing.
Simbol sekte terpampang jelas pada pakaian mereka.
Su Yun pernah melihat seragam tersebut di Kota Danau Cermin.
“Murid Sekte Pedang Abadi...”
Ia menahan napas.
Sekte yang bahkan membuat Keluarga Bai bangga hanya karena Bai Yan berhasil diterima sebagai murid.
Namun sekarang...
sekitar dua puluh murid mereka ditangkap dan dikurung di tengah Lembah Bulan Sabit.
Su Yun memandang kubah hitam itu sekali lagi.
Tiba-tiba sebuah pikiran muncul.
Banyak kultivator memasuki Lembah Bulan Sabit...
lalu tidak pernah keluar.
Bagaimana jika tidak semuanya mati dimakan Binatang Roh?
Mata Su Yun perlahan menyipit.
“Jadi ini rahasia lembah ini...?”
Tangannya tanpa sadar menyentuh gagang pedang.
Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki Lembah Bulan Sabit, Su Yun merasa dirinya mungkin akhirnya menemukan petunjuk menuju sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar Kristal Surgawi.
......................
Bersambung...