Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.
Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Firasat Pertama di Pangkalan Ojol
Rasa nyeri di dada dan sekujur tubuh Dirga masih terasa menusuk tiap kali ia menggerakkan badannya. Di dalam rumah tua milik almarhum ibunya yang sebagian atap dapurnya telah hancur diterjang angin badai, Dirga membungkuk perlahan, memunguti pecahan genting dan sisa-sisa tanah liat dari perabotan bumbu yang hancur. Beberapa tetangga sekitar yang merasa iba datang membantu seadanya, mengangkut puing-puing kayu yang patah dan menutupi bagian dapur yang menganga menggunakan kain terpal bekas.
"Terima kasih banyak, Pak, Bu. Maaf sudah merepotkan malam-malam begini," ujar Dirga dengan suara parau.
"Sudah, Dirga, tidak apa-apa. Kamu istirahat saja, badanmu masih penuh luka begitu," sahut Pak RT yang menyapukan sapu lidi di sudut ruangan.
Setelah para tetangga pamit pulang, rumah tua itu kembali hening. Dirga duduk bersandar di dinding kayu yang lapuk, menikmati sisa nasi dingin dan garam seadanya. Rasa lapar sedikit terobati, namun pikirannya melayang jauh. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan amplop tebal berisi uang ganti rugi lima puluh juta rupiah dari Lisa Larasati. Tatapannya menajam, menatap amplop itu dengan campuran rasa enggan dan kebutuhan yang mendesak.
"Sepeda motorku hancur. Tanpa motor, aku tidak bisa bekerja mencukupi kebutuhan sehari-hari, apalagi membayar utang kasbon kepada Pak Bambang," gumam Dirga pada dirinya sendiri. Tangannya mengepal erat. "Aku terpaksa menggunakan sebagian uang ini khusus untuk memperbaiki motor. Namun, aku bersumpah demi harga diri dan almarhum Ibu, aku akan mengembalikan setiap rupiah dari uang ini kepada wanita berhati dingin itu."
Keesokan harinya, matahari terbit memancarkan sinar hangat yang menembus sisa-sisa embun pagi. Dirga melangkah pelan menuju sebuah bengkel kecil di ujung jalan. Pemilik bengkel, yang prihatin melihat kondisi sepeda motor Dirga yang ringsek total, bersedia mengerjakannya. Sebagai bentuk bantuan, pemilik bengkel meminjamkan sebuah sepeda motor matik tua agar Dirga tetap bisa mencari nafkah selagi kendaraan utamanya diperbaiki.
Dengan sepeda motor pinjaman itu, Dirga mengendarainya perlahan menuju pangkalan ojek daring di persimpangan jalan utama, tempat ia biasa berkumpul sebelum musibah bertubi-tubi menghampirinya. Pagi itu, pangkalan sudah ramai oleh beberapa pengemudi yang sedang mengobrol dan menikmati kopi.
"Eh, Dirga! Panjang umur kamu, Nak!" seru Pak Joko, seorang pengemudi ojol senior berkumis tebal, saat melihat Dirga memarkirkan motornya.
"Siang, Pak Joko," sapa Dirga singkat seraya berjalan mendekat dan duduk di bangku kayu pangkalan.
Rudi, rekan seprofesi Dirga yang terkenal ceria dan suka bersenda gurau, langsung menepuk pundak Dirga cukup keras.
"Aduh, Pelan-pelan, Rud..." ringis Dirga menahan sakit di badannya.
"Eh, maaf, Ga! Aku refleks!" ujar Rudi dengan raut wajah bersalah. "Bagaimana keadaanmu sekarang? Kemarin anak-anak pangkalan heboh katanya kamu ditabrak mobil sedan mewah sampai pingsan bersimbah darah di persimpangan jalan utama?"
"Iya, Dirga. Kami khawatir sekali. Katanya kamu dibawa ke rumah sakit, tapi tahu-tahu kamu sudah pulang ke rumah tadi malam," tambah Pak Joko seraya menyodorkan segelas air putih hangat. "Ini minum dulu. Wajahmu masih pucat sekali."
"Terima kasih, Pak Joko. Saya tidak apa-apa, hanya memar dan luka luar saja. Saya butuh tetap bekerja hari ini," jawab Dirga tenang, menerima gelas tersebut dan meminumnya perlahan.
"Kamu ini memang keras kepala, Ga. Harusnya istirahat dulu satu atau dua hari di rumah," tutur Rudi seraya menyulut sebatang rokok. "Tapi ya mau bagaimana lagi, ya? Kita kalau tidak jalan roda motornya, dapur tidak bisa mengepul. Oya, kamu tahu tidak cerita Pak Joko tadi sebelum kamu datang? Lucu sekali!"
"Cerita apa itu?" tanya Dirga sekadarnya, mencoba mengalihkan perhatian dari rasa nyeri di punggungnya.
"Ini loh, Pak Joko kemarin malam narik penumpang ibu-ibu membawa belanjaan dari pasar tradisional. Di tengah jalan, plastik belanjaannya jebol, petainya bertebaran di jalanan! Pak Joko sampai ikut jongkok memunguti petai di tengah gerimis!" gelak Rudi disambut tawa khas Pak Joko dan beberapa pengemudi lain yang berada di pangkalan.
"Kamu ini malah mengetawakan musibah orang tua, Rud!" sahut Pak Joko seraya tertawa terkekeh. "Tapi memang benar, malam itu saya terpaksa jadi pemungut petai dadakan."
Suasana pangkalan mendadak hangat oleh gelak tawa para pengemudi ojol. Dirga hanya tersenyum tipis menyaksikan keakraban rekan-rekannya. Namun, di balik senyum itu, ketegangan dalam dirinya belum sepenuhnya sirna. Ancaman tenggat waktu tiga hari dari Pak Bambang mengenai utang kasbon lima juta rupiah masih membayangi pikirannya.
Ting!
Suara notifikasi dering aplikasi dari telepon seluler milik Rudi memecah gelak tawa di pangkalan. Rudi segera merogoh saku jaketnya dan melihat layar ponsel dengan wajah berseri-seri.
"Wah! Rezeki anak soleh di pagi hari!" seru Rudi gembira. "Dapat orderan penumpang ke arah pinggiran batas kota dekat kawasan perkebunan sepi! Tarifnya lumayan besar ini, lumayan buat menutup target harian!"
Pak Joko menoleh ke arah ponsel Rudi. "Daerah perkebunan sepi di ujung selatan itu, Rud? Jam begini bukannya jalur sana memang agak rawan?"
"Ah, Pak Joko ini terlalu khawatir. Ini kan masih pagi menjelang siang, Pak. Mana ada kejahatan di siang bolong begini," balas Rudi santai seraya mengenakan helmnya dan bersiap menghidupkan mesin motor.
Saat Rudi hendak meraih stang sepeda motornya, tiba-tiba pandangan Dirga berubah drastis. Dahi Dirga berdenyut hebat, menciptakan rasa sakit kepala yang amat menusuk hingga matanya terpicing. Dalam hitungan detik, kesadaran Dirga seolah terlempar ke sebuah dimensi lain.
Pandangannya kabur, berganti menjadi sebuah kilatan penglihatan yang sangat nyata dan jelas.
Di sebuah jalanan tanah berkerikil yang diapit oleh semak-semak belukar tinggi dan pepohonan sepi, Rudi terkapar di tanah. Dua orang pria bertubuh kekar memakai penutup wajah memukuli Rudi secara brutal menggunakan balok kayu. Rudi berteriak kesakitan seraya memegangi kepalanya yang berdarah, memohon ampun atas nyawanya, sementara salah satu preman itu membawa lari sepeda motor milik Rudi.
Brak!
Penglihatan kilat itu terputus seketika. Dirga tersentak hebat, napasnya terengah-engah, dan keringat dingin bercucuran membasahi pelipis serta dahinya. Ia memegangi kepalanya yang terasa berputar.
"Dirga? Kamu kenapa, Ga? Wajahmu makin pucat begitu?" tanya Pak Joko heran melihat perubahan mendadak pada raut muka Dirga.
Rudi yang sudah menaiki sepeda motornya dan hendak memutar gas pun terhenti. "Ga, kamu sakit lagi? Kalau tidak kuat, pulang saja ke rumah, biar aku yang bantu..."
Sebelum Rudi menyelesaikan kalimatnya dan menarik gas motor, tangan Dirga bergerak cepat dengan refleks yang luar biasa tajam. Dirga mencengkeram pergelangan tangan kiri Rudi dengan sangat erat.
"Jangan pergi, Rudi!" tegur Dirga dengan suara yang dingin, tegas, dan bergetar hebat.
Rudi terkejut dan mengernyitkan dahi. "Ada apa ini, Ga? Lepaskan tanganku, penumpangnya sudah menunggu di depan persimpangan. Kalau terlambat nanti dibatalkan!"
"Aku bilang jangan pergi ke arah sana!" bisik Dirga dengan tatapan mata yang tajam menghujam langsung ke netra Rudi. "Batalkan orderan itu sekarang juga!"
"Kamu ini kenapa sih, Dirga? Tiba-tiba memegang tanganku kencang sekali dan menyuruh membatalkan orderan?" tanya Rudi bingung sekaligus mulai merasa terganggu. "Ini uangnya lumayan, Ga!"
"Rudi, dengarkan saya baik-baik," ucap Dirga, mempererat cengkeramannya tanpa peduli pada tatapan heran rekan-rekan ojol lainnya di pangkalan. "Jika kamu pergi mengambil orderan ke arah jalan perkebunan sepi itu sekarang, kamu akan dicegat oleh dua orang preman. Kamu akan dipukuli sampai berdarah dan sepeda motormu akan dibawa lari oleh mereka!"
Suasana di pangkalan itu mendadak hening seketika. Pak Joko dan beberapa pengemudi ojol yang ada di lokasi saling berpandangan dengan raut wajah penuh kebingungan dan keheranan.
Rudi tertawa hambar, mencoba menganggap perkataan Dirga sebagai lelucon yang buruk. "Kamu ini bicara apa sih, Ga? Jangan bercanda yang tidak-tidak! Kamu meramal atau bagaimana? Mana mungkin ada pembegal di siang bolong begini di jalur itu?"
"Aku tidak sedang bercanda, Rudi!" bentak Dirga dengan nada suara rendah namun penuh penekanan. "Ini bukan lelucon! Jangan pergi jika kamu masih sayang dengan nyawa dan sepeda motormu!"
Rudi menepis tangan Dirga dengan agak kasar hingga cengkeraman itu terlepas. Ia menatap Dirga dengan wajah kecewa dan tidak percaya.
"Dirga, aku tahu kamu baru saja mengalami musibah berat. Kamu ditabrak mobil, kepalamu mungkin terbentur keras kemarin sampai kamu halusinasi begini," kata Rudi seraya menggelengkan kepalanya. "Tapi tolong, jangan mendoakan hal buruk pada teman sendiri yang sedang berusaha mencari nafkah!"
"Rudi, aku tidak mendoakanmu! Aku melihatnya sendiri!" tegas Dirga dengan dada kian berombak menahan emosi dan kecemasan.
"Sudah, Ga! Cukup!" potong Rudi keras. "Aku tidak percaya dengan hal-hal aneh beginian. Ini orderan resmi dari aplikasi, dan aku butuh uang ini!"
Rudi segera memutar kunci kontak, menghidupkan mesin sepeda motornya, dan menarik gas dengan kencang meninggalkan pangkalan tanpa menoleh lagi ke belakang.
Dirga berdiri terpaku di tempatnya, menatap kepergian sepeda motor Rudi yang makin menjauh dan menghilang di belokan jalan. Napas Dirga masih memburu, hatinya berdegup kencang karena ia tahu pasti bahwa apa yang baru saja ia lihat di dalam benaknya bukanlah sekadar halusinasi atau mimpi di siang bolong. Itu adalah sebuah kenyataan masa depan yang sebentar lagi akan terjadi.