Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.
Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.
karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.
Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.
Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.
Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?
Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debat
Ku tatap deretan gedung tinggi di sepanjang jalan protokol dari balik kaca mobil Pak Baskoro. Matahari siang memancar terik, seolah mencerminkan babak baru yang harus ku hadapi. Di pangkuanku, map dokumen berisi surat penetapan ahli waris dan bukti penyelewengan Prilia aku peluk erat-erat.
"Kita sudah sampai, May," ujar Pak Baskoro menepuk bahuku pelan.
Avanza hitam kami berhenti tepat di pelataran parkir bank swasta tempat seluruh lalu lintas keuangan CV Abadi Permai terdaftar. Rijal yang duduk di kursi belakang segera turun dan membukakan pintu untukku.
"Mbak Maya," panggil Rijal ragu-ragu saat kami berjalan menaiki tangga pualam bank. "Tadi sewaktu di jalan, staf layanan nasabah sempat kirim pesan singkat ke saya. Katanya... Bu Prilia masih ada di area customer service lantai dua. Beliau mengamuk karena transaksinya ditolak."
Langkahku terhenti sejenak di depan pintu kaca otomatis. "Dia masih di dalam?"
"Iya, Mbak. Beliau membawa stempel kantor lama dan memaksa meminta spesimen pencairan," terang Rijal.
"Bahkan dari informasi yang saya dengar dari orang dalam, ibunya Bu Prilia bersama Bu Salma ternyata sudah mendirikan perusahaan cabang baru di kota sebelah. Semua modalnya didapat murni dari hasil menggerogoti kas CV Abadi Permai selama bertahun-tahun!"
Jadi selama ini, sementara puluhan karyawan menjerit kelaparan karena gaji ditunggak tiga bulan, dua wanita serakah itu justru bersenang-senang membangun kerajaan bisnis baru dari uang haram hasil curian?
"Bagus kalau Prilia ada di sini," ucapku dingin, mengepalkan tangan di samping tubuh. "Mari kita temui dia. Biar dia tahu siapa pemilik sah yang berdiri di hadapannya hari ini."
Pak Baskoro mengangguk tegas, merapikan jasnya. "Bapak dampingi di belakangmu, May."
Kami bertiga melangkah mantap menyusuri lobi bank yang megah lalu menaiki eskalator menuju area layanan nasabah prioritas di lantai dua. Suara pekikan nyaring khas Prilia sudah terdengar bahkan sebelum kami sampai di ambang pintu ruangan.
"Saya ini istri sah Prasetio! Saya direktur pendamping di perusahaan itu!"
Bentak Prilia kasar pada seorang petugas wanita bank. "Kenapa rekening atas nama CV Abadi Permai tiba-tiba diblokir tanpa persetujuan saya, buka blokirnya sekarang! Saya butuh pencairan dana lima ratus juta hari ini juga!"
"Maaf, Ibu Prilia," jawab petugas bank itu berusaha sopan.
"Sesuai sistem kami, seluruh rekening operasional CV Abadi Permai sudah dibekukan secara sah oleh pemegang kuasa hukum utama dan ahli waris pemilik tunggal perusahaan. Ibu tidak memiliki wewenang lagi atas rekening tersebut."
"Pemilik tunggal apanya?! Pemiliknya itu suami saya!" teriak Prilia makin menjadi-jadi, menggebrak meja customer service. "Jangan mengarang cerita ya! Saya bisa tuntut bank ini!"
"Suamimu sudah kabur membawa rasa malunya, Prilia. Dan rekening itu diblokir atas perintahku."
Suaraku yang lantang dan dingin memotong makian Prilia.
Seluruh orang di ruangan itu mendadak menoleh. Prilia berbalik dengan mata membelalak, wajahnya yang dipoles riasan tebal mendadak pucat begitu melihatku berdiri anggun di balik pintu bersama Pak Baskoro dan Rijal.
"Maya?!" gumam Prilia terperanjat, menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan tak percaya. "Mau apa kamu ke sini?!
Aku melangkah mendekatinya tanpa raut gentar sedikit pun, berhenti tepat dua tapak di hadapannya.
"Jaga mulutmu ya, Maya!" bentak Prilia, matanya menatapku dengan sinar mata penuh kemarahan.
"Kamu lupa siapa saya?! Saya ini anak pertama Ayah dari istri sah pertamanya! Kalau kamu mau bicara soal peninggalan Ayah, saya punya hak lebih besar dari kamu yang cuma anak dari istri kedua!"
Prilia melangkah maju, menunjuk mukaku dengan jarinya yang bergetar emosi.
"Ayah itu ayah saya juga! CV Abadi Permai itu dibangun pakai darah dan keringat Ayah! Jadi jangan sok merasa paling berhak di sini cuma karena kamu bawa-bawa pengacara tua ini itu hak kami sebagai keluarga sah Ayah!"
Beberapa nasabah dan petugas bank di ruangan itu mulai berbisik-bisik menyaksikan perdebatan panas kami.
Namun, aku tidak bergeming. Kutatap wajah Prilia dengan tatapan dingin dan penuh keprihatinan.
"Kamu memang anak pertama Ayah, Mbak Prilia..." ucapku pelan, sengaja menekankan kata 'Mbak' dengan intonasi penuh cemooh.
"Tapi kamu lupa satu hal penting tentang sejarah keluarga kita."
Prilia mengerutkan dahi, raut mukanya sedikit berubah. "Apa maksudmu?!"
"Perusahaan ini memang dibesarkan oleh Ayah, tapi seluruh modal awal dan tanah tempat gedung CV Abadi Permai berdiri adalah murni tanah warisan Kakek Subroto—kakek kandungku dari pihak Ibu!"
Tekan ku dengan suara lantang yang menggema di ruangan. "kalian tidak punya hubungan darah sepeser pun dengan Kakek Subroto!"
Prilia mendadak bungkam, wajahnya yang tadi garang kini menunjukkan kepanikan.
Pak Baskoro melangkah maju, membentangkan berkas-berkas bersampul garuda di atas meja customer service tepat di hadapan Prilia.
"Sebagai hukum yang berlaku, Nona Prilia," potong Pak Baskoro dengan suara berat dan berwibawa. "Almarhum Pak Subroto telah mengunci kepemilikan aset tanah dan modal utama CV Abadi Permai dalam akta hibah terikat, yang hanya bisa diwariskan kepada garis keturunan kandungnya—yaitu Ibu kandung Maya, dan kini jatuh sepenuhnya secara tunggal kepada Maya."
Pak Baskoro menunjuk lembaran surat keputusan hukum itu dengan pulpennya.
"Almarhum Ayah kalian memang mengelola perusahaan ini, tapi beliau statusnya hanya pemegang kuasa operasional, bukan pemilik tanah maupun pemegang saham mayoritas. Jadi, status Anda sebagai anak dari istri pertama sama sekali tidak memberikan hak legal atas tanah warisan Kakek Subroto maupun rekening utama perusahaan ini!"
"Tidak mungkin!" teriak Prilia histeris, menyambar kertas-kertas itu dan membacanya dengan mata membelalak lebar. "Ini pasti surat palsu! Ayah tidak pernah cerita soal ini!"
"Ayahmu tidak cerita karena beliau menghormati amanat Kakek!" sahutku tegas, melangkah satu tapak mengikis jarak di antara kami. "Dan kelakuanmu, ibumu, serta Bu Salma yang menggerogoti uang kantor untuk bikin cabang baru atas nama kalian sendiri... itu bukan cuma kelakuan serakah, tapi tindak pidana penggelapan dan pencucian uang!"
Rijal ikut maju, meletakkan salinan rekening koran dan bukti transfer fiktif di sebelah surat warisan. "Bu Prilia, seluruh aliran dana ke perusahaan baru milik Bu Salma dan ibu Anda sudah tercatat rapi di sini. Kalau Mbak Maya membawa ini ke kepolisian hari ini juga, Anda dan ibu Anda bisa langsung dijemput petugas!"
Prilia mundur dua langkah, tangannya gemetaran memegang map dokumen tersebut. Riasan tebal di wajahnya tak mampu lagi menutup rasa syok dan ketakutan yang merayap cepat.
"Hari ini, aku datang ke bank ini sebagai pemilik sah untuk membuka blokir rekening,"
Ucapku dingin menatap Prilia yang makin tersudut.
"Uang itu akan dipakai untuk membayar gaji puluhan karyawan yang sudah kalian zolimi selama ini."
"Untuk kamu beserta komplotan mu... siapkan pengacara terbaik, karena aku tidak akan tinggal diam atas setiap rupiah uang Kakek yang sudah kalian curi!" Maki ku kesal.
"Baik silahkan kau lakukan sesukamu, tapi ingat sebagai anak dari Hendra aku pun berhak atas harta nya, aku akan menuntut hak ku secara hukum! "
Ucapnya lalu pergi meninggalkan kantor bank itu.
Bersambung
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇