NovelToon NovelToon
Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Enemy to Lovers / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:72
Nilai: 5
Nama Author: Arya Setya

Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kode Rahasia, Sudut Perpustakaan, dan Ambisi Menuju Beijing

Menjalani hubungan *backstreet* alias pacaran diam-diam di SMA Mingde itu ibarat main *game survival* tingkat dewa. Lo harus punya *skill* akting setara peraih piala Oscar, refleks secepat ninja, dan jantung yang kuat nahan serangan panik tiap kali ada guru yang lewat.

Sudah dua minggu sejak kejadian pegangan tangan di bawah meja itu. Dan jujur saja, Kelas 11-3 tidak pernah terasa sehidup ini bagi Lu Feng.

Pagi ini, Pak Zhang si guru Matematika botak sedang berapi-api menjelaskan materi probabilitas di depan papan tulis. Di barisan depan, Lin Xiao duduk tegak dengan postur sempurnanya, mencatat setiap kata yang keluar dari mulut guru itu. Dari luar, dia tampak seperti ketua kelas teladan yang hidupnya hanya untuk buku dan nilai.

Tapi, kenyataannya sama sekali berbeda.

Di bawah meja, tangan kiri Lin Xiao diam-diam memegang ponselnya yang layarnya diredupkan maksimal. Sebuah pesan WeChat masuk.

**[Berandal Pindahan]:** *Kunciran rambut lo miring ke kiri dikit, Xiao. Tapi tetep gemesin.*

Wajah Lin Xiao seketika merona. Cewek itu refleks meraba ikat rambutnya dengan tangan kanan, membetulkannya sedikit, lalu mengetik balasan dengan kecepatan kilat tanpa melihat layar.

**[Ketua Kelas Lin]:** *Perhatikan papan tulis! Pak Zhang bisa melihatmu kalau kamu senyum-senyum sendiri di belakang!*

**[Berandal Pindahan]:** *Gimana gue mau perhatiin papan tulis kalau pemandangan di depan gue jauh lebih indah?*

Lin Xiao menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan senyum yang nyaris meledak. Dia mematikan layar ponselnya dan memasukkannya ke laci meja. Hatinya berbunga-bunga, tapi dia harus mempertahankan wajah datarnya. Susah sekali rasanya bernapas kalau jantungmu terus-terusan berolahraga sejak pagi.

Di bangku belakang, Chen Hao yang sedari tadi menatap interaksi ghaib itu cuma bisa memijat pelipisnya.

"Gue beneran bisa mati muda kalau tiap hari disuguhi pemandangan menjijikkan ini," bisik Chen Hao, menatap Lu Feng yang masih tersenyum menatap punggung Lin Xiao. "Bisa nggak sih lo berdua pacarannya di luar kelas aja? Mata batin gue ternoda nih, Feng."

Lu Feng terkekeh pelan, memasukkan ponselnya ke saku. "Makanya cari pacar, Hao. Biar lo tahu rasanya punya alasan buat semangat bangun jam enam pagi."

"Bacot," umpat Chen Hao pasrah.

Bel istirahat akhirnya berbunyi, menyelamatkan Chen Hao dari siksaan batin lebih lanjut. Murid-murid mulai berhamburan ke kantin. Lu Feng baru saja berdiri, berniat mengajak Lin Xiao ke kantin lewat jalur memutar agar tidak dicurigai, namun langkahnya terhenti.

Wang Yibo muncul lagi di pintu kelas 11-3.

Seisi kelas yang tersisa langsung menoleh. Sejak kejadian di mading pengumuman peringkat minggu lalu, reputasi Wang Yibo sedikit tercoreng. Namun cowok berkacamata itu tampaknya punya urat malu yang terbuat dari baja. Dia berjalan menghampiri meja Lin Xiao dengan tumpukan dokumen di tangannya.

Lu Feng bersandar di mejanya sendiri, melipat tangan di dada. Matanya menyipit tajam, memantau pergerakan musuh bebuyutannya itu layaknya elang.

"Xiao," sapa Yibo dengan nada lembut yang dibuat-buat. "Bulan depan sekolah kita akan mengadakan seleksi untuk Olimpiade Fisika tingkat provinsi. Guru pembimbing memintaku untuk mencari satu *partner* diskusi dari kelas 11. Dan tentu saja, orang pertama yang kupikirkan adalah kamu."

Lin Xiao yang baru saja merapikan alat tulisnya langsung menghentikan gerakannya. Dia menatap tumpukan dokumen olimpiade itu. Dulu, ini adalah tawaran yang paling ia tunggu-tunggu. Belajar bersama siswa terbaik untuk mengharumkan nama sekolah.

Yibo tersenyum penuh kemenangan, menatap sekilas ke arah Lu Feng. "Kita bisa belajar bersama setiap sepulang sekolah di ruang komite. Hanya kita berdua. Kamu mau kan, Xiao? Ini peluang besar untuk portofolio universitas kita nanti."

Tawaran yang sangat menggiurkan, sekaligus serangan psikologis yang sangat licik untuk menyingkirkan Lu Feng dari jadwal sore Lin Xiao.

Lu Feng mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. Jauh di lubuk hatinya, dia tahu Olimpiade Fisika adalah impian Lin Xiao. Kalau Lin Xiao menerima tawaran itu, artinya waktu belajar privat mereka akan hilang. Tapi Lu Feng tidak mau egois menahan masa depan cewek itu.

Namun, jawaban yang keluar dari bibir mungil Lin Xiao benar-benar di luar dugaan semua orang.

Lin Xiao berdiri, menatap Yibo dengan ekspresi tenang dan profesional. "Terima kasih atas tawarannya, Yibo. Suatu kehormatan kamu memilihku. Tapi... maaf, aku harus menolaknya."

Senyum Yibo luntur seketika. "A-apa? Kenapa, Xiao? Ini tingkat provinsi!"

"Karena jadwalku sepulang sekolah sudah penuh," jawab Lin Xiao lugas. Suaranya tidak bergetar sedikit pun. "Aku punya tanggung jawab yang jauh lebih penting untuk diselesaikan semester ini."

"Tanggung jawab apa yang lebih penting dari Olimpiade?" Yibo meninggikan suaranya, mulai kehilangan kendali. Matanya melirik sinis ke arah Lu Feng. "Jangan bilang kamu menolak ini hanya untuk mengajari murid pindahan itu lagi? Xiao, ujian tengah semester sudah lewat! Tugasmu sudah selesai! Buat apa kamu membuang masa depanmu demi cowok yang masa depannya sendiri tidak jelas?!"

Kalimat itu benar-benar mengiris udara. Chen Hao sudah siap berdiri menonjok Yibo, namun Lu Feng menahannya. Cowok berandal itu ingin melihat apa yang akan dilakukan gadisnya.

Lin Xiao menatap Yibo dengan sorot mata yang sangat dingin, sedingin es kutub.

"Masa depan Lu Feng sangat jelas," potong Lin Xiao, suaranya terdengar tajam dan menusuk. "Dan dia bukan tanggung jawab yang membuang waktuku, Yibo. Mengajarinya adalah prioritasku sendiri. Tolong hargai keputusanku, dan cari *partner* lain yang lebih kompeten."

Tanpa menunggu balasan Yibo, Lin Xiao meraih kotak bekal makan siangnya, lalu berjalan cepat keluar kelas, meninggalkan Yibo yang berdiri kaku dengan wajah pucat dan rahang bergemeretak menahan amarah yang meledak-ledak.

Di belakang, Lu Feng berdiri terpaku. Hatinya terasa seperti ditabrak kereta api berkecepatan tinggi, tapi kereta api yang isinya kembang gula dan kebahagiaan. Sialan. Sang ketua kelas baru saja membelanya mati-matian, membuang tawaran olimpiade demi dirinya!

Lu Feng tidak menunggu sedetik pun lagi. Dia langsung berlari menyusul Lin Xiao keluar kelas.

***

Perpustakaan pusat SMA Mingde, lantai tiga.

Ini adalah area rak buku-buku sejarah kuno dan arsip sekolah yang jarang sekali didatangi murid. Aromanya khas kertas tua dan debu, namun cahaya matahari musim gugur yang menembus jendela raksasa di ujung lorong membuatnya terasa hangat dan estetis.

Lin Xiao berdiri membelakangi jendela, bersembunyi di celah sempit antara dua rak buku raksasa. Napasnya masih terengah-engah setelah berlari dari kelas. Dadanya bergemuruh. Dia tidak percaya baru saja menolak tawaran Yibo dengan kata-kata setajam itu. Tapi dia tidak menyesal sama sekali.

Terdengar suara langkah kaki pelan mendekat dari ujung lorong.

Lin Xiao menahan napas. Sebentuk bayangan panjang muncul, disusul sosok Lu Feng yang masuk ke lorong rak sempit itu. Wajah cowok itu terlihat sangat serius, namun ada percikan gairah yang menyala-nyala di mata sayunya.

Melihat Lin Xiao tersudut di sana, Lu Feng langsung melangkah maju, memangkas jarak. Dia menaikkan tangan kanannya, menempelkannya ke rak buku kayu di samping kepala Lin Xiao, melakukan gerakan *kabedon* (mengunci di dinding) yang membuat cewek itu terperangkap sempurna.

"Lu Feng..." cicit Lin Xiao pelan, jantungnya kembali melakukan atraksi senam akrobatik.

"Lo nolak olimpiade demi gue?" suara Lu Feng terdengar sangat berat, rendah, dan serak. Hembusan napasnya menerpa dahi Lin Xiao.

Lin Xiao menunduk, tidak berani menatap mata intens cowok itu. "A-aku hanya tidak suka dia meremehkanmu. Lagipula, janjiku adalah menemanimu belajar sampai ujian akhir tahun, bukan hanya tengah semester."

"Bohong," bisik Lu Feng. Tangan kirinya terulur, menahan dagu Lin Xiao dan mengangkat wajah cewek itu perlahan hingga mata mereka saling mengunci. "Lo nolak karena lo tahu gue bakal cemburu buta kalau lo berduaan sama si kacamata itu setiap sore, kan?"

Pipi Lin Xiao langsung bersemu merah pekat. Skakmat. Cowok ini memang paling tahu cara membaca pikirannya.

"I-iya, aku tahu kamu cemburu," gumam Lin Xiao, menyerah pada gengsinya. Dia menatap lurus ke dalam mata Lu Feng. "Puas?"

Bukannya tersenyum mengejek, ekspresi Lu Feng justru berubah menjadi sangat lembut. Cowok itu mencondongkan wajahnya, menempelkan keningnya di kening Lin Xiao.

"Gue beruntung banget, Xiao," bisik Lu Feng, suaranya nyaris terdengar seperti helaian napas. "Seumur hidup gue, nggak pernah ada orang yang milih gue di atas hal-hal penting lainnya. Nggak pernah ada yang peduli sama masa depan gue. Tapi lo... lo malah belain gue di depan semua orang."

Lin Xiao merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya. Tangan kecilnya perlahan naik, meraih kerah kaos Lu Feng di balik jaket seragamnya, meremasnya lembut.

"Kamu pantas dipilih, Lu Feng," bisik Lin Xiao tulus. "Kamu pintar, kamu hanya selama ini malas. Sekarang, aku mau tanya sesuatu."

"Apa?"

"Kamu mau masuk universitas mana setelah lulus dari Mingde nanti?" tanya Lin Xiao, matanya memancarkan keseriusan yang luar biasa. "GaoKao tinggal satu setengah tahun lagi. Kita harus punya tujuan yang sama mulai dari sekarang."

Lu Feng terdiam. Jujur, sebelum bertemu cewek ini, memikirkan besok makan apa saja dia malas, apalagi memikirkan universitas. Tapi sekarang, segalanya berbeda.

"Lo sendiri mau ke mana?" Lu Feng balik bertanya.

"Universitas Beijing," jawab Lin Xiao tanpa keraguan. "Jurusan Sastra atau Hukum. Itu impianku sejak kecil."

Universitas Beijing (Peking University). Salah satu dari dua universitas paling bergengsi dan tersulit di seluruh Tiongkok. Nilai yang dibutuhkan sangat gila, persaingannya membunuh. Membayangkan murid pindahan dengan rekam jejak merah seperti Lu Feng masuk ke sana adalah lelucon abad ini.

Tapi Lu Feng tidak tertawa. Dia menatap mata Lin Xiao lekat-lekat, menyerap setiap ambisi dan harapan di sana.

"Oke," jawab Lu Feng mantap, tanpa sedikit pun nada bercanda. "Gue bakal tembus Universitas Beijing. Gue bakal berdiri di samping lo waktu penerimaan mahasiswa baru tahun depan. Pegang janji gue, Lin Xiao."

Lin Xiao tersenyum, air mata haru sedikit menggenang di pelupuk matanya. Cowok ini benar-benar gila, tapi justru kegilaan itulah yang membuat Lin Xiao jatuh cinta setengah mati kepadanya.

"Ini akan sangat berat, Lu Feng. Aku akan memaksamu belajar sampai kamu menangis darah," ancam Lin Xiao, meski suaranya terdengar sangat manis.

"Siksa gue sesuka lo, Ketua Kelas. Asal bayarannya setimpal," kekeh Lu Feng serak.

Tanpa membuang waktu sedetik pun lagi, Lu Feng memiringkan wajahnya, menghapus jarak di antara mereka. Bibirnya menyapu bibir Lin Xiao, melumatnya dengan kelembutan yang memabukkan. Lin Xiao memejamkan mata, berjinjit sedikit untuk membalas ciuman cowok itu, mengalungkan kedua lengannya di leher Lu Feng.

Di antara aroma debu dari buku-buku sejarah kuno dan hangatnya sinar mentari musim gugur, sepasang remaja itu berbagi janji masa depan lewat ciuman yang dalam, panjang, dan penuh hasrat.

Perjalanan menuju ujian GaoKao memang masih panjang dan penuh air mata. Mereka harus bersaing dengan jutaan murid lainnya di seluruh Tiongkok. Tapi dengan Lu Feng yang memeluk erat pinggangnya saat ini, Lin Xiao tahu, tidak ada satu pun rumus rumit atau ujian mematikan yang tidak bisa mereka kalahkan bersama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!