NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Bad Boy

Cinta Rahasia Bad Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
​Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
​Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aura melihat devan bukan sebagai cowok pemberontak

Foto raksasa yang di tampilkan di layar proyektor depan laboratorium komputer membuat seisi ruangan membeku seketika. Bisik-bisik tajam langsung menyebar bagaikan api menyambar jerami kering.

Wajah Pak Surya memerah padam karena emosi, sementara Reno menyeringai puas dari balik punggung sang dekan, merasa rencananya berjalan mulus tanpa celah.

​Aura berdiri membeku, tangannya gemetar hebat. Rasanya seluruh pasang mata di ruangan itu sedang menghakiminya. Namun, sebelum Pak Surya sempat meledakkan amarahnya, Devan bergerak cepat.

Dengan langkah cepat, Devan mencabut kabel daya proyektor utama hingga layar besar itu mati total, memutus proyeksi gambar dalam sekejap.

​"Semua keluar!" bentak Pak Surya dengan suara menggelegar. "Kecuali Devan, Aura, dan Reno! Ke ruangan saya sekarang juga!"

​Di dalam ruangan dekanat, ketegangan berada di puncaknya. Reno dengan sangat lihai melempar semua tuduhan pada Devan, memanfaatkan reputasi buruk Devan sebagai mahasiswa bermasalah.

Devan sendiri hanya diam, menahan diri sesuai janjinya agar ancaman Reno untuk membakar dan menyebarkan sisa foto Aura tidak benar-benar terjadi.

Karena tak ada bukti kuat mengenai siapa pengirim surel anonim itu, Pak Surya akhirnya memberikan teguran keras dan menskors kegiatan kelompok untuk sementara hingga masalah internal mereka selesai.

​Sore harinya, setelah lepas dari cengkeraman ruangan dekanat, Devan melangkah cepat menuju selasar belakang gedung auditorium yang sepi dan remang-remang.

Langkah kakinya yang lebar dihentikan oleh suara jeritan pelan Aura yang berlari mengejar dari belakang.

​"Devan! Berhenti!"

​Devan menghentikan langkahnya, namun ia tetap membelakangi Aura. Tangannya yang terbalut kain kasa mencengkeram erat tali tas kainnya.

​"Kenapa kamu diam saja di depan Pak Surya tadi?" cecar Aura dengan suara serak, napasnya memburu usai berlari. Air mata menumpuk di sudut matanya.

"Kenapa kamu membiarkan Reno mengambil semua hasil kerja keras kamu, terus sekarang kamu malah membiarkan dia menuduh kamu yang menyebarkan foto itu?!"

​"Gue udah bilang, Aura," kata Devan dingin, tanpa membalikkan badan. "Urusan ini biar gue yang selesaikan pakai cara gue. Lu gak usah ikut campur."

​"Bisa gak kamu berhenti bersikap kayak gini?!" potong Aura tegas, melangkah maju hingga berdiri tepat di samping Devan.

​Aura menatap wajah Devan dari dekat. Di bawah remang-remang lampu selasar, untuk pertama kalinya, Aura tidak lagi melihat sosok Devan sebagai cowok pemberontak yang menakutkan atau berandalan jalanan yang suka mencari keributan.

Aura melihat lebih dalam manik mata Devan yang kelam. Di sana, di balik tatapan elang yang tajam itu, tersimpan rasa sakit yang amat dalam, luka dari masa lalu yang hancur, serta kesedihan mendalam karena terus-terusan disalahkan oleh dunia.

​Hati Aura teriris melihat kesedihan yang tersembunyi rapat di mata cowok itu.

​"Aku bisa melihatnya, Devan..." bisik Aura pelan, suaranya melunak drastis.

"Mata kamu... kamu nggak jahat. Ada kesedihan besar yang selama ini kamu sembunyikan dari semua orang."

​Devan tertegun. Ia memalingkan wajahnya dengan cepat, tidak sanggup menatap mata jernih Aura yang seolah bisa membaca seluruh isi hatinya yang paling rahasia.

"Jangan sok tahu tentang gue, Aura."

​"Dan satu lagi," lanjut Aura, menahan rasa canggung di dadanya sambil menatap lurus ke wajah Devan.

"Aku mohon... berhenti bicara pakai kata 'gue' dan 'lu' sama aku."

​Devan mendengus pelan, berusaha memasang kembali topeng cueknya.

"Apaan sih? Dari dulu bahasa gue emang gini. Gue anak jalanan, bukan cowok halus yang biasa ngobrol sama cewek pinter kayak lu."

​"Tapi aku nggak suka," pangkas Aura mantap, matanya menatap Devan tanpa ada rasa takut sedikit pun.

"Setiap kali kamu bilang 'gue-lu', kamu sengaja bikin jarak seolah-olah kita ini orang asing. Aku mau kamu bicara pakai kata 'aku' dan 'kamu' kalau lagi berdua sama aku. Bisa?"

​Devan terkekeh sinis, walau dadanya berdebar keras.

"Nggak mau. Aneh banget di lidah gue. Lu nggak bisa mengatur cara bicara gue, Aura."

​"Harus bisa!" paksa Aura dengan wajah serius, meski ada rona merah tipis di pipinya.

"Kalau kamu memang peduli sama aku kayak yang kamu bilang kemarin... turuti permintaan aku yang satu ini. Mulai besok, jangan pernah pakai kata 'gue-lu' lagi kalau lagi bicara sama aku!"

​Aura berbalik dan melangkah pergi dengan cepat, meninggalkan Devan yang berdiri mematung sendirian di selasar sepi.

Devan memandangi punggung Aura yang menghilang di belokan koridor, lalu mengusap wajahnya yang terasa panas.

​"Dasar cewek aneh..." gumam Devan pelan pada dirinya sendiri, walau ada senyuman tipis yang sangat langka terukir di bibirnya.

​Keesokan harinya.

​Suasana kampus masih riuh membahas insiden foto di laboratorium kemarin.

Aura berjalan menyusuri lorong menuju perpustakaan pusat untuk mencari referensi tugas mandiri. Pikirannya masih melayang-layang memikirkan percakapannya dengan Devan semalam. Ia ragu apakah cowok kepala batu seperti Devan bakal mendengarkan permintaannya.

​Saat Aura baru saja hendak menaiki anak tangga perpustakaan, sebuah bayangan tinggi melangkah keluar dari balik pilar beton besar.

​Devan berdiri di sana.

​Cowok itu mengenakan jaket jins hitam yang agak longgar, rambutnya disisir lebih rapi dari biasanya.

Begitu melihat Aura, Devan tampak serba salah dan agak canggung. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada mahasiswa lain yang sedang memperhatikan mereka.

​Aura menghentikan langkahnya di anak tangga pertama, menatap Devan dengan alis terangkat.

"Devan? Ada apa?"

​Devan berdeham pelan, membersihkan tenggorokannya yang mendadak terasa amat kering. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket, menunduk menatap sepatu ketsnya sebelum akhirnya memberanikan diri menatap mata Aura.

​"Soal... soal berkas pameran seni kemarin," Devan mulai membuka suara. Nada bicaranya terdengar begitu aneh dan kaku, matanya berkedip-kedip menahan rasa canggung yang luar biasa hebat. "...aku udah amankan sisa file-nya di laptop. Kamu nggak usah khawatir lagi."

​Aura membelalak kaget. Jantungnya mendadak berdegup kencang bukan main.

Devan benar-benar menuruti permintaannya! Suara Devan saat menyebut kata 'aku' dan 'kamu' terdengar begitu lembut, dalam, dan hangat—sangat bertolak belakang dengan citra bad boy yang selama ini melekat padanya.

​Pipi Aura seketika memerah panas. Ia berusaha keras menahan senyum bahagia yang hampir terlepas di bibirnya.

"Ka-kamu... beneran bicara kayak gitu?"

​Devan langsung membuang muka ke arah taman perpustakaan, telinganya memerah padam karena malu setengah mati.

"Jangan ketawa. Ini... ini susah banget rasanya di tenggorokan."

​Aura tak bisa menahan tawa kecilnya yang renyah.

"Aku nggak ketawa, kok. Suara kamu... jauh lebih bagus kalau bicara seperti itu."

​Devan melirik Aura dari sudut matanya, melihat senyuman manis cewek itu yang berhasil membuat seluruh rasa canggung di dadanya menguap begitu saja. Ada kehangatan luar biasa yang menjalar di hatinya melihat Aura bisa tersenyum lagi setelah kekacauan kemarin.

​"Makasih ya, Devan," bisik Aura tulus, melangkah turun satu anak tangga agar posisinya sejajar dengan Devan. "Karena kamu mau mendengarkan kata-kata aku."

​"Aku..." Devan tertegun sejenak, masih agak kaku mengucapkannya, "...aku cuma nggak mau bikin kamu kesal lagi."

​Namun, di tengah momen manis dan hangat yang baru saja terjalin di antara mereka berdua, sebuah dering telepon yang sangat nyaring mendadak memecah keheningan tangga perpustakaan.

​Bukan ponsel Devan, melainkan ponsel milik Aura.

​Aura merogoh tasnya dan mengangkat panggilan dari nomor panitia pameran kampus.

"Halo?"

​Dari seberang telepon, suara adik tingkatnya terdengar menangis panik dan terengah-engah.

​"Kak Aura! Tolong Kak! Kak Aura harus ke gedung pameran sekarang juga!"

​Aura mengerutkan dahi, raut wajahnya mendadak tegang.

"Ada apa? Kenapa kamu menangis?"

​"Reno, Kak! Reno baru saja membawa tim keamanan kampus dan polisi ke ruang pameran! Dia bilang... dia menemukan bukti kalau Devan sengaja merusak alat-alat fotografi pameran dan menyembunyikan sisa foto rahasia Kak Aura di dalam loker panitia!"

​Aura terperanjat kaget, ponselnya hampir terlepas dari genggamannya. Ia mendongak menatap Devan dengan pandangan penuh guncangan hebat.

​"Devan... Reno jebak kamu lagi..."

​Bersambung...

1
Naelong
mohon maaf yaa siang ini aku belum up, insyaallah malam nanti baru up. nanti aku up dabbel ya🙏. makasi yang sudah mempir. semoga kalian sehat selalu😍. ohh yaa jangan lupa tinggalin jejek ya, comment, likenya
Naelong
terimakasi yang udah mampir😍, semoga sehat sehat slalu🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!