NovelToon NovelToon
Zero Hunter

Zero Hunter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: LetterFromJusticia

Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 — Jejak Darah di Lorong Sepi

--

Ervan baru memahami satu hal setelah pertarungan berakhir.

Adrenalin adalah pembohong yang hebat.

Beberapa menit sebelumnya, tubuhnya masih sanggup mengayunkan batang besi berkali-kali. Ia masih bisa berdiri di hadapan BETA yang berusaha mencabik tubuhnya. Bahkan rasa sakit dari bahu yang digigit terasa seperti sesuatu yang jauh—ada, tetapi tidak cukup penting untuk menghentikannya.

Sekarang semuanya datang bersamaan.

"𝘒𝘩…!" desis 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 dari sela gigi yang terkatup.

Ervan menahan napas ketika kaki kanannya menyentuh lantai retak.

Nyeri menjalar dari lutut sampai paha.

Tangannya segera menempel pada dinding gedung untuk menahan tubuh yang hampir roboh. Telapak tangannya yang sudah robek bergesekan dengan beton kasar, membuat wajahnya menegang.

Ia tidak berhenti.

Harus keluar dari sini.

Pikiran itu terus berulang.

Ervan berjalan melewati lorong di antara bangunan industri terbengkalai dengan langkah terseret. Kaosnya sudah sulit dikenali warnanya. Darahnya sendiri, debu, serta cairan gelap dari BETA menempel menjadi satu.

Bahu kirinya berdenyut hebat.

Bekas gigitan masih terbuka, meski darah yang keluar tidak sebanyak beberapa menit lalu.

Aneh.

Seharusnya luka seperti itu terus mengucurkan darah.

Ervan sempat meliriknya, tetapi pandangannya terlalu kabur untuk memastikan apa pun.

"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯-𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯… 𝘊𝘖𝘙𝘌…?" gumam 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, suaranya nyaris tidak keluar dari tenggorokan.

Hanya itu penjelasan yang bisa terpikir olehnya.

Sejak Installation Progress miliknya mencapai seratus persen, tubuhnya memang berubah. Stamina meningkat lebih cepat. Recovery latihan semakin singkat. Bahkan luka-luka kecil pulih jauh lebih cepat dibanding sebelumnya.

Tetapi ini berbeda.

Cakaran di lengannya tidak lagi mengeluarkan banyak darah.

Luka di pinggangnya juga seperti mulai menyempit.

Ervan seharusnya memikirkan itu lebih jauh.

Sayangnya, sekadar tetap sadar saja sudah menghabiskan hampir seluruh konsentrasinya.

Ia mengambil satu langkah.

Kemudian satu lagi.

Dunia mendadak miring.

Ervan menghantamkan telapak ke dinding.

"𝘏𝘢𝘩… 𝘩𝘢𝘩…" Bahu 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 naik-turun tidak beraturan, seakan udara di lorong itu tidak pernah cukup.

Napasnya pendek dan berat.

Udara sore terasa dingin ketika masuk ke paru-parunya.

Ia menunduk.

Setetes darah jatuh dari dagunya ke aspal.

Lalu satu lagi.

Entah darah miliknya atau darah BETA yang tadi masuk ke mulutnya, Ervan sudah tidak peduli.

Yang ia tahu hanya satu.

Ia hampir mati.

Bukan mati dalam bayangannya tentang seorang Hunter yang bertarung gagah menghadapi monster.

Bukan juga mati ketika melakukan sesuatu yang luar biasa.

Ia nyaris mati karena bahkan tidak tahu cara berdiri dengan benar saat bertarung.

Tidak punya guard.

Tidak tahu menjaga jarak.

Tidak tahu kapan harus menyerang atau mundur.

Semua latihan lari, push-up, sit-up, dan peningkatan fisik yang selama ini ia banggakan nyaris tidak berarti di depan satu BETA tingkat rendah.

Ervan tertawa kecil.

Suara yang keluar lebih menyerupai batuk.

"𝘗𝘢𝘺𝘢𝘩…" 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menatap telapak tangannya yang robek dan hitam oleh debu. "𝘉𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪… 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳."

Ia kembali berjalan.

Namun setelah beberapa meter, langkahnya melambat.

Telinganya berdenging.

Suara angin yang melewati bangunan kosong perlahan menghilang. Pandangannya menyempit seolah seseorang sedang menurunkan tingkat kecerahan dunia.

Ervan mengusap wajah.

Jari-jarinya gemetar.

Jangan pingsan.

Belum di sini.

Kalau masih ada BETA lain—

Ervan berhenti.

Suara.

Awalnya sangat samar.

Ia menahan napas dan mencoba mendengarkan.

"…𝘫𝘦𝘫𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘰𝘬 𝘬𝘦 𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘶𝘵𝘢𝘳𝘢. 𝘋𝘢𝘳𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘳𝘶."

Suara manusia.

Ervan mengangkat kepala.

"𝘛𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢. 𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘪, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘭𝘢𝘳𝘪 𝘫𝘢𝘶𝘩," lanjut 𝘀𝘂𝗮𝗿𝗮 𝗶𝘁𝘂, memantul di antara dinding-dinding gudang kosong.

Suara kedua menjawab dari kejauhan.

"𝘗𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢 𝘴𝘪𝘴𝘪 𝘨𝘶𝘥𝘢𝘯𝘨! 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘩𝘭𝘶𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘬𝘦 𝘢𝘳𝘦𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬!" Perintah 𝘀𝘂𝗮𝗿𝗮 𝗸𝗲𝗱𝘂𝗮 itu tajam, tanpa ruang untuk dibantah.

Hunter?

Mata Ervan sedikit melebar.

Ia mencoba menjawab.

"𝘏𝘦𝘪… 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪…" Bibir 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bergerak, tetapi yang lolos hanya embusan serak.

Tidak terdengar.

Tenggorokannya terasa seperti dipenuhi pasir.

Ervan menarik napas lebih dalam.

"𝘛𝘰… 𝘵𝘰𝘭𝘰—" 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mendorong suara itu sekuat yang masih ia punya.

Batuk memotong suaranya.

Dadanya berdenyut sakit.

Di kejauhan terdengar percakapan lagi.

"𝘑𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘤𝘢𝘣𝘢𝘯𝘨! 𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘦 𝘴𝘪𝘴𝘪 𝘨𝘶𝘥𝘢𝘯𝘨, 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘭𝘰𝘳𝘰𝘯𝘨!" teriak 𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮.

"𝘉𝘦𝘳𝘱𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳. 𝘚𝘢𝘭𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘮𝘶𝘯𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘬𝘢, 𝘭𝘢𝘱𝘰𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯," balas 𝘀𝘂𝗮𝗿𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵 𝘁𝗮𝗱𝗶, kali ini lebih tenang.

Langkah kaki menjauh ke beberapa arah.

Ervan berusaha bergerak menuju sumber suara terdekat.

Satu langkah.

Dua.

Pada langkah ketiga, lututnya kehilangan tenaga.

Bruk.

Ervan jatuh berlutut di aspal.

Tangannya mencoba menopang tubuh, tetapi lengan kirinya langsung menyerah. Bahunya seperti ditusuk dari dalam.

Tubuhnya jatuh miring.

Aspal yang dingin menyentuh pipinya.

Aneh.

Rasanya nyaman.

Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, ia tidak perlu memaksa tubuhnya berdiri.

Kelopak matanya mulai menutup.

Jauh di dalam pikirannya, Ervan tahu ini buruk.

Namun tubuhnya tidak lagi mau mendengarkan.

Suara langkah kaki mendekat.

Cepat.

"𝘏𝘦𝘪! 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢!" Teriakan 𝘀𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗿𝗶𝗮 memantul di sepanjang lorong.

Seseorang berlari ke arahnya.

Ervan mencoba membuka mata.

Siluet manusia berhenti di hadapannya.

Pakaian tempur.

Sesuatu tergantung di pinggangnya.

Regalia.

Hunter.

"𝘏𝘦𝘪, 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢? 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢, 𝘬𝘦𝘥𝘪𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘢," kata 𝗛𝘂𝗻𝘁𝗲𝗿 𝗶𝘁𝘂 di sela napasnya yang masih memburu.

Pria itu berjongkok dan menyentuh sisi leher Ervan.

Ervan ingin mengatakan bahwa dirinya masih sadar.

Bibirnya bergerak sedikit.

Tidak ada suara.

"𝘋𝘦𝘯𝘺𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢. 𝘓𝘦𝘮𝘢𝘩, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘥𝘢," gumam 𝗛𝘂𝗻𝘁𝗲𝗿 𝗶𝘁𝘂, dan bahunya turun sedikit.

Hunter itu menekan perangkat komunikasi di telinganya.

"𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘳𝘣𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘭𝘰𝘳𝘰𝘯𝘨 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘨𝘶𝘥𝘢𝘯𝘨. 𝘓𝘢𝘬𝘪-𝘭𝘢𝘬𝘪, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘶𝘥𝘢, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱—𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘰𝘯𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬. 𝘋𝘢𝘳𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢-𝘮𝘢𝘯𝘢," lapor 𝗛𝘂𝗻𝘁𝗲𝗿 𝗶𝘁𝘂 dengan suara yang dijaga tetap rata.

Suara dari perangkat terdengar samar.

Hunter tersebut memeriksa bahu Ervan, kemudian lengan dan pinggangnya.

Ekspresinya berubah.

Luka-luka itu jelas bukan akibat kecelakaan biasa.

Bekas cakar.

Gigitan.

"𝘒𝘰𝘳𝘦𝘬𝘴𝘪—𝘪𝘯𝘪 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘱𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘬𝘪𝘳𝘢. 𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘬𝘰𝘯𝘵𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵, 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪," kata 𝗛𝘂𝗻𝘁𝗲𝗿 𝗶𝘁𝘂 ke perangkatnya, lebih pelan dari sebelumnya.

Hunter itu menatap sekeliling.

Tidak ada Regalia di dekat Ervan.

Tidak ada perlengkapan Hunter.

Tidak ada senjata, kecuali darah kering dan debu yang memenuhi pakaiannya.

"𝘞𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘴𝘪𝘱𝘪𝘭? 𝘚𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘢𝘯, 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪?" gumam 𝗛𝘂𝗻𝘁𝗲𝗿 𝗶𝘁𝘂 dengan alis bertaut.

Ervan mendengar kata-kata itu seperti berasal dari ujung lorong panjang.

Hunter tersebut menepuk pipinya perlahan.

"𝘏𝘦𝘪, 𝘩𝘦𝘪. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳 𝘥𝘶𝘭𝘶. 𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢—𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘮𝘶, 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘴𝘢𝘫𝘢," desak 𝗛𝘂𝗻𝘁𝗲𝗿 𝗶𝘁𝘂.

Ervan membuka mata sepersekian detik.

Wajah orang di depannya hanya berupa bayangan.

Kemudian semuanya gelap.

 

Beberapa ratus meter dari sana, suara geraman serak memecah kesunyian kawasan industri.

Seekor BETA tipe Beast menyeret tubuhnya melewati sisi gudang.

Satu kaki belakangnya nyaris tidak dapat digunakan. Setiap kali makhluk itu memaksa maju, kaki tersebut terseret di belakangnya dan meninggalkan garis hitam panjang di atas aspal.

Darah hitam menetes dari leher dan kepalanya. Beberapa bagian tubuhnya remuk akibat hantaman benda tumpul. Luka tusukan kasar terlihat di beberapa titik—tidak rapi, tidak dalam, tetapi terlalu banyak untuk dihitung sekilas.

Makhluk itu belum mati.

Tetapi kondisinya tidak jauh dari sana.

Seorang Hunter yang mengikuti jejak darah berhenti saat melihatnya.

Ia tidak langsung menyerang.

Matanya justru menyipit.

"𝘈𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪…?" gumam 𝗛𝘂𝗻𝘁𝗲𝗿 𝗶𝘁𝘂. Ujung sepatunya berhenti tepat sebelum menginjak genangan hitam yang masih melebar.

Target yang mereka kejar sebelumnya masih cukup kuat untuk kabur dari pengepungan.

Sekarang bentuknya seperti baru dilempar ke dalam mesin penghancur.

Dan sebagian besar luka itu bahkan tidak berbentuk seperti bekas Regalia.

Hunter itu mengangkat Regalia, tetapi tidak maju. Enam langkah di antara mereka ia biarkan tetap terbuka. Matanya berpindah dari rahang makhluk itu ke kaki belakangnya yang pincang, lalu ke dinding seng gudang di sisi kiri.

Binatang yang sekarat tidak punya alasan untuk menyimpan tenaga.

"𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘫𝘢𝘳𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪, 𝘩𝘢𝘩?" tanya 𝗛𝘂𝗻𝘁𝗲𝗿 𝗶𝘁𝘂 pelan, seperti berbicara kepada anjing liar yang terpojok. "𝘚𝘦𝘱𝘢𝘳𝘶𝘩 𝘭𝘶𝘬𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘪."

BETA menggeram.

Darah menggelembung di sela taringnya. Tubuhnya merendah, dan cakar depannya menggaruk aspal sampai berderit.

Kemudian makhluk itu memaksakan kaki belakangnya dan menerjang.

Gerakannya jauh lebih lambat daripada sebelumnya. Rahangnya tetap terbuka selebar kepala manusia.

Hunter bergeser satu langkah ke samping.

Taring itu mengatup di udara kosong, sejengkal dari tempat lehernya berada sedetik lalu. Bau busuk bercampur besi menyapu wajahnya.

Seharusnya selesai di situ.

Tetapi BETA itu tidak jatuh. Cakar depannya menghunjam dinding seng, merobek lembaran logam dengan jerit nyaring, lalu memakai cengkeraman itu untuk memutar seluruh tubuhnya. Cakar yang satu lagi menyambar dari sudut yang seharusnya tidak dapat dicapai tubuh serusak itu.

Hunter itu menarik bahunya ke belakang.

Terlambat seujung kuku.

Tiga garis terbuka di lengan pakaian tempurnya. Rasa panas menyusul sesaat kemudian.

"𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘳𝘶𝘱𝘢𝘯𝘺𝘢," desis 𝗛𝘂𝗻𝘁𝗲𝗿 𝗶𝘁𝘂.

Ia tidak mundur.

Makhluk itu berputar dengan bertumpu pada satu-satunya kaki belakang yang masih utuh. Selama cakarnya tertanam di seng, seluruh berat tubuhnya bergantung pada titik itu—dan sisi yang pincang tidak memiliki apa pun untuk menolak tanah.

Hunter itu melangkah masuk. Ke sisi kaki yang rusak. Ke tempat makhluk itu tidak dapat berbalik.

BETA meraung dan mencoba mencabut cakarnya dari logam yang robek.

Seng itu menahannya setengah detik.

Setengah detik sudah cukup.

Regalia di tangannya bergerak sekali.

Cahaya singkat melintas, tipis dan lurus, dari bawah rahang sampai ke pangkal leher yang sudah lebih dulu koyak.

Raungan itu putus di tengah.

Tubuh BETA terhempas ke tanah, menyeret lembaran seng yang ikut tercabut bersamanya. Kaki-kakinya menendang aspal dua kali, semakin lemah, lalu diam.

Kali ini tidak bergerak lagi.

Hunter menunggu beberapa detik sebelum mendekat. Regalianya tetap terangkat sampai dada makhluk itu benar-benar berhenti naik-turun. Baru setelah itu ia melirik lengannya sendiri. Kainnya sobek, dan goresan dangkal di bawahnya mulai merembeskan darah—tidak berbahaya, tetapi cukup untuk mengingatkannya bahwa makhluk ini masih mampu membunuh sampai napas terakhirnya.

"𝘛𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵 𝘥𝘪𝘦𝘭𝘪𝘮𝘪𝘯𝘢𝘴𝘪. 𝘋𝘪𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘬𝘶𝘵𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢," lapor 𝗛𝘂𝗻𝘁𝗲𝗿 𝗶𝘁𝘂 sambil menekan perangkat di telinganya.

Suara rekannya segera masuk melalui komunikasi.

«"𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘳𝘣𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘱𝘪𝘭 𝘥𝘪 𝘭𝘰𝘳𝘰𝘯𝘨. 𝘈𝘥𝘢 𝘣𝘦𝘬𝘢𝘴 𝘤𝘢𝘬𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘨𝘪𝘨𝘪𝘵𝘢𝘯—𝘬𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘰𝘯𝘵𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵."» Napas 𝗿𝗲𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 terdengar terburu-buru di antara desis statis.

Hunter itu kembali memandang bangkai di bawah kakinya.

Korban sipil?

Tatapannya turun pada luka-luka yang memenuhi tubuh BETA. Rusuk yang melesak ke dalam. Tengkorak yang retak di satu sisi. Lubang-lubang tusukan bertepi kasar, seperti dibuat oleh benda yang tidak pernah dirancang untuk membunuh.

Ada yang tidak cocok.

Namun ia tidak memiliki cukup informasi untuk mengambil kesimpulan.

"𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘫𝘶 𝘱𝘰𝘴𝘪𝘴𝘪𝘮𝘶. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢," kata 𝗛𝘂𝗻𝘁𝗲𝗿 𝗶𝘁𝘂, lalu berbalik—meski matanya masih sempat singgah sekali lagi pada bangkai tersebut.

 

Ketiga Hunter berkumpul beberapa menit kemudian.

Ervan masih tidak sadarkan diri.

Salah satu dari mereka berjongkok di dekat tubuhnya, sementara dua lainnya berdiri memperhatikan luka-luka yang terlihat.

"𝘙𝘦𝘨𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘯𝘢? 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘢𝘳𝘦𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘴𝘰𝘯𝘨," kata 𝗛𝘂𝗻𝘁𝗲𝗿 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗲𝗷𝗮𝗸 𝘁𝗮𝗱𝗶 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵, matanya menyisir aspal di sekitar tubuh Ervan.

"𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢. 𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘱𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘶𝘫𝘶𝘯𝘨 𝘭𝘰𝘳𝘰𝘯𝘨—𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘙𝘦𝘨𝘢𝘭𝘪𝘢, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢," jawab 𝗛𝘂𝗻𝘁𝗲𝗿 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗷𝗼𝗻𝗴𝗸𝗼𝗸 tanpa melepaskan tekanan tangannya dari balutan di bahu Ervan.

"𝘐𝘥𝘦𝘯𝘵𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳? 𝘒𝘢𝘳𝘵𝘶, 𝘭𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢, 𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘱𝘰𝘳𝘬𝘢𝘯."

"𝘉𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘮𝘶. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢—𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳. 𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘥𝘪𝘢 𝘸𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘴𝘪𝘱𝘪𝘭," kata 𝗛𝘂𝗻𝘁𝗲𝗿 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗷𝗼𝗻𝗴𝗸𝗼𝗸 sambil menggeleng.

Hunter yang baru menghabisi BETA memandang Ervan lebih lama.

"𝘒𝘢𝘶 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵 𝘬𝘪𝘵𝘢? 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳, 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘪," kata 𝗛𝘂𝗻𝘁𝗲𝗿 𝗶𝘁𝘂 pelan.

"𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘶𝘯𝘺𝘢. 𝘜𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘤𝘰𝘤𝘰𝘬." 𝗛𝘂𝗻𝘁𝗲𝗿 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗷𝗼𝗻𝗴𝗸𝗼𝗸 menyingkap tepi balutan dengan dua jari.

Bekas gigitan itu cukup menjawab.

"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘢𝘺𝘢𝘵," gumam 𝗛𝘂𝗻𝘁𝗲𝗿 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗷𝗼𝗻𝗴𝗸𝗼𝗸 seraya merapatkan kembali balutan itu.

Tidak ada yang membantah.

Mereka belum tahu bagaimana Ervan bisa bertahan.

Mereka juga belum tahu siapa yang membuat BETA tersebut berada di ambang kematian sebelum ditemukan.

Dan untuk sekarang, menyelamatkan korban lebih penting daripada mencari jawaban.

"𝘗𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘵𝘪𝘮 𝘮𝘦𝘥𝘪𝘴 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘉𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘪𝘣𝘢𝘵 𝘉𝘌𝘛𝘈, 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘬𝘦 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘬𝘩𝘶𝘴𝘶𝘴, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘶𝘮𝘶𝘮," perintah 𝗛𝘂𝗻𝘁𝗲𝗿 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗺𝗽𝗶𝗻, sudah lebih dulu berbalik mengawasi mulut lorong.

 

Ervan tidak merasakan ketika tubuhnya dipindahkan ke tandu.

Ia juga tidak mendengar pintu kendaraan medis ditutup.

Lampu di dalam kabin bergerak melewati wajahnya ketika kendaraan melaju meninggalkan kawasan industri.

Seorang petugas medis memasang infus sementara rekannya membersihkan darah di sekitar bahu.

"𝘛𝘦𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘴𝘵𝘢𝘣𝘪𝘭. 𝘐𝘯𝘧𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘭𝘢𝘯𝘤𝘢𝘳," lapor 𝗽𝗲𝘁𝘂𝗴𝗮𝘀 𝗺𝗲𝗱𝗶𝘀 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮 sambil menahan kantong cairan yang berayun mengikuti guncangan kendaraan.

"𝘗𝘦𝘯𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢? 𝘉𝘢𝘩𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘳𝘢𝘩," tanya 𝗿𝗲𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 tanpa berhenti menyeka darah kering di sekitar luka.

Petugas itu membuka balutan sementara yang dipasang Hunter di lokasi.

Tangannya berhenti.

"𝘏𝘮? 𝘐𝘯𝘪…" 𝗣𝗲𝘁𝘂𝗴𝗮𝘀 𝗶𝘁𝘂 tidak menyelesaikan kalimatnya.

"𝘈𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢? 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘰𝘣𝘦𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘦 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳," desak 𝗿𝗲𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮, kain di tangannya ikut berhenti.

Ia menatap bekas gigitan di bahu Ervan.

Kemudian melihat catatan pemeriksaan awal pada layar.

Petugas itu mengernyit.

"𝘋𝘪 𝘭𝘢𝘱𝘰𝘳𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘬𝘵𝘪𝘧 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘯? 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘤𝘢?" tanya 𝗽𝗲𝘁𝘂𝗴𝗮𝘀 𝗶𝘁𝘂 seraya mengetuk layar dengan buku jarinya.

"𝘐𝘺𝘢, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘤𝘶𝘳. 𝘔𝘢𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘭𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨," jawab 𝗿𝗲𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮.

"𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪. 𝘗𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢," kata 𝗽𝗲𝘁𝘂𝗴𝗮𝘀 𝗶𝘁𝘂 perlahan.

Rekannya memandang luka tersebut.

"𝘌𝘧𝘦𝘬 𝘊𝘖𝘙𝘌? 𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘓𝘶𝘬𝘢 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱," ujar 𝗿𝗲𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 sambil mengangkat bahu.

Petugas pertama tidak menjawab.

Matanya beralih pada beberapa cakaran di lengan Ervan.

Tepi luka itu terlihat seolah perlahan saling mendekat.

Bukan cepat seperti sulap.

Tetapi terlalu cepat untuk dianggap normal.

Ia memeriksa data Ervan yang baru masuk ke sistem.

Kemudian wajahnya berubah.

"𝘚𝘦𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳. 𝘊𝘰𝘣𝘢 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘶𝘭𝘶," kata 𝗽𝗲𝘁𝘂𝗴𝗮𝘀 𝗶𝘁𝘂, suaranya turun setengah nada.

"𝘈𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪? 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘬𝘪𝘯 𝘵𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶," sahut 𝗿𝗲𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 dengan tawa pendek yang tidak sampai selesai.

Petugas itu menatap status registrasi di layar, lalu kembali memandang Ervan yang masih tidak sadarkan diri.

"𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳. 𝘋𝘪 𝘥𝘢𝘵𝘢 𝘳𝘦𝘨𝘪𝘴𝘵𝘳𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘵𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪," ucap 𝗽𝗲𝘁𝘂𝗴𝗮𝘀 𝗶𝘁𝘂 pelan, jarinya masih menggantung di atas layar.

Monitor jantung berbunyi teratur.

Tit. Tit. Tit.

Di bawah cahaya putih kendaraan medis, luka di bahu Ervan perlahan terus menutup.

Petugas itu menelan ludah.

"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳…" bisik 𝗽𝗲𝘁𝘂𝗴𝗮𝘀 𝗶𝘁𝘂.

Tatapannya tidak lepas dari luka tersebut.

"…𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢?"

Kendaraan medis melaju semakin jauh dari kawasan industri.

Dan tanpa diketahui siapa pun di dalamnya, sesuatu yang terbangun bersama CORE Ervan belum selesai berubah.

1
Renjana
keren👍
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊
ラマSkuy
nice 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!