Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAL12. Kamu Harus Baik-Baik Saja
Suara sirene ambulans dan sirene polisi memecah keramaian di halaman fakultas hukum. Beberapa mahasiswa masih berdiri terpaku, sebagian sibuk menghubungi pihak kampus, sementara petugas keamanan berusaha membubarkan kerumunan agar jalan menuju ambulans tidak terhalang. Penangkapan yang semula menjadi pusat perhatian kini berubah menjadi kepanikan setelah seorang dosen terluka akibat serangan yang tidak pernah mereka bayangkan akan terjadi.
Namun, bagi Lyana Shaqiera, semua suara itu seolah menjauh.
Pandangannya hanya tertuju kepada Ravian Aryasatya yang terbaring di dalam ambulans. Kemeja putih pria itu telah ternoda darah di bagian punggung dekat bahu, dan wajahnya tampak jauh lebih pucat daripada biasanya. Petugas medis sedang memberikan pertolongan awal sebelum membawanya ke rumah sakit, sementara Qiera masih berdiri di samping pintu dengan kedua tangan gemetar.
“Kami akan membawa beliau sekarang. Anda keluarga pasien?” tanya salah satu petugas medis.
Pertanyaan itu membuat Qiera terdiam.
Istri.
Ia adalah istri Ravi. Seharusnya ia bisa menjawab dengan mudah, tetapi kenyataan bahwa pernikahan mereka masih dirahasiakan membuat kata itu terasa tertahan di tenggorokannya. Ia menoleh sekilas ke arah Arga yang berdiri beberapa langkah di belakang, kemudian kembali memandang Ravi.
“Saya ikut,” jawabnya akhirnya, menghindari pertanyaan yang belum sanggup ia jawab. “Tolong, saya harus ikut. Beliau terluka karena menggantikan saya,” mohon Qiera.
Petugas medis mengangguk setelah memastikan masih ada tempat untuknya. Qiera segera naik dan duduk di sisi ranjang pasien, berusaha menahan diri agar tidak mengganggu pekerjaan mereka. Ketika pintu ambulans ditutup, barulah ia menyadari bahwa jemarinya masih gemetar hebat.
Ravi sempat membuka mata. Ia menoleh sedikit ke arahnya, lalu menggerakkan bibir seolah hendak mengatakan sesuatu. Qiera segera mendekat.
“Mas? Mas, aku di sini.”
Pria itu menatapnya sesaat sebelum kembali memejamkan mata. Petugas medis meminta Qiera memberinya ruang, menjelaskan bahwa Ravi perlu tetap tenang selama perjalanan. Qiera menurut, meskipun setiap detik terasa begitu panjang.
Ia ingin menggenggam tangan Ravi. Ia ingin bertanya apakah pria itu kesakitan, apakah ia bisa mendengarnya, apakah lukanya akan baik-baik saja. Namun, ia takut mengganggu penanganan yang sedang dilakukan oleh perawat. Akhirnya, Qiera hanya duduk diam, mencengkeram erat tali tasnya sendiri sambil berdoa agar mereka segera tiba di rumah sakit.
Semua pertengkaran kecil mereka mendadak melintas di kepalanya. Wajah Ravi ketika menggodanya karena lupa membawa handuk, caranya mengingatkan Qiera untuk makan, juga suara tenangnya ketika menyuruhnya beristirahat di rumah sakit. Hal-hal yang selama ini terasa biasa kini membuat dadanya sesak.
Ia bahkan belum sempat membalas semua kebaikan itu dengan benar.
Dan sekarang, ketika Ravi terluka karena melindunginya, Qiera tidak tahu harus berbuat apa selain berharap pria itu baik-baik saja.
“Mas, kamu harus baik-baik saja,” bisiknya lirih. “Aku belum selesai berdebat sama kamu.”
Tidak ada jawaban, tetapi Qiera tetap menatapnya sampai ambulans berhenti di depan instalasi gawat darurat.
...🏥🏥🏥...
Begitu tiba di rumah sakit, Ravi langsung dibawa masuk untuk menjalani pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Qiera mengikuti sampai batas yang diizinkan petugas, sebelum akhirnya diminta menunggu di luar. Ia berdiri di depan pintu ruang Instalasi Gawat Darurat dengan napas yang belum sepenuhnya teratur, sementara kedua tangannya terasa dingin dan berkeringat.
Seorang perawat menghampirinya dan menanyakan identitas pasien serta kontak keluarga yang bisa dihubungi. Qiera memberikan informasi yang ia ketahui, kemudian segera mencari nomor mama Ravi di ponselnya. Ia sempat ragu sebelum menekan tombol panggilan, tetapi ia tahu orang tua Ravi harus segera mengetahui kejadian ini.
“Qiera?” Suara ibu Ravi terdengar setelah panggilan tersambung. “Ada apa, Nak? Kenapa menelepon pagi-pagi?”
Qiera membuka mulut, tetapi suaranya tidak langsung keluar. Ia menarik napas panjang, berusaha mengendalikan dirinya sendiri sebelum menjelaskan bahwa Ravi terluka dalam insiden di kampus dan sedang mendapatkan penanganan di rumah sakit.
Di seberang sana, terdengar keheningan singkat yang membuat Qiera semakin takut.
“Rumah sakit mana? Bagaimana keadaan Ravi sekarang?”
“Aku belum tahu pasti, Ma. Dokter masih menangani Mas Ravi.” Suara Qiera bergetar. “Tadi ada penangkapan di kampus. Dosen yang bermasalah itu membawa pisau, lalu... Mas terluka karena melindungiku.”
Ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
“Ya Tuhan.” Suara mama Ravi terdengar cemas. “Mama dan Papa segera ke sana. Qiera, kamu jangan sendirian, ya. Tetap tunggu di tempat yang aman.”
Setelah panggilan berakhir, Qiera kembali duduk di kursi tunggu. Ia menunduk, menatap kedua tangannya yang masih terasa seperti tangan orang lain. Ia sudah membersihkan noda darah yang menempel di kulitnya sesuai arahan petugas, tetapi bayangan kemeja putih Ravi yang berubah merah dan pisau itu tetap melekat di kepalanya.
Beberapa menit kemudian, langkah kaki yang dikenalnya terdengar mendekat.
“Qiera!”
Arga muncul bersama Nisa. Wajah keduanya masih menunjukkan keterkejutan setelah kejadian di kampus. Arga segera menghampiri Qiera, sedangkan Nisa duduk di sampingnya dan memegang bahunya dengan hati-hati.
“Kamu ngga papa, kan?” tanya Arga. “Aku sudah coba panggil kamu tadi, tapi kamu langsung naik ambulans.”
Qiera menggeleng. “Aku tidak apa-apa.”
“Syukurlah.” Arga mengembuskan napas panjang. “Pak Ravian tadi langsung melindungimu. Kalau beliau terlambat sedikit saja—”
“Kak, jangan,” potong Qiera cepat.
Arga terdiam ketika melihat wajahnya. Qiera menunduk, berusaha menahan air mata yang kembali menggenang. Ia tahu Arga tidak bermaksud menakutinya, tetapi membayangkan apa yang mungkin terjadi jika Ravi tidak bergerak membuatnya sulit bernapas dengan tenang.
Nisa mengusap punggungnya pelan. “Sudah, Qie. Sekarang kita tunggu kabar dari dokter. Kamu juga harus tenang.”
Qiera mengangguk kecil. Namun, ketika Nisa meraih tangannya, ia justru semakin merasa bersalah. Sahabatnya itu berada di sini karena khawatir kepadanya, tetapi ia masih menyimpan rahasia besar yang belum berani diungkapkan.
Dan panggilan yang tadi keluar dari bibirnya di kampus mungkin telah membuat semuanya semakin rumit.
“Qiera,” ujar Nisa setelah beberapa saat, “tadi kamu memanggil Pak Ravian dengan sebutan Mas.”
Tubuh Qiera menegang.
Arga yang berdiri di dekat mereka ikut menoleh. Ia tampaknya juga baru menyadari hal itu setelah Nisa mengatakannya.
“Kamu memanggil beliau begitu karena panik, ya?” lanjut Nisa, berusaha terdengar biasa saja. “Aku sempat mengira salah dengar.”
Qiera menelan ludah. Ia bisa saja tertawa dan mengatakan bahwa Nisa salah dengar. Ia bisa mengatakan bahwa dirinya terbiasa memanggil orang lain dengan sebutan itu. Namun, kebohongan baru hanya akan membuat kebohongan berikutnya semakin sulit disusun.
“Aku...” Qiera berhenti sejenak. “Aku panik tadi. Aku tidak berpikir apa-apa.”
Nisa mengamatinya, tetapi tidak langsung mendesak. “Baiklah. Aku mengerti.”
Arga mengalihkan pembicaraan dengan bertanya apakah orang tua Ravi sudah dihubungi. Qiera mengangguk dan menjelaskan bahwa mereka sedang dalam perjalanan.
Setelah memastikan Qiera tidak membutuhkan apa-apa, Arga berdiri sedikit menjauh untuk menerima panggilan dari salah satu pengurus BEM yang masih berada di kampus.
Nisa tetap duduk di samping Qiera. Ia tidak bertanya lebih jauh, tetapi tatapannya sesekali beralih ke pintu ruang tindakan, kemudian kembali kepada sahabatnya.
Qiera tahu Nisa belum berhenti curiga kepadanya.
Hanya saja, untuk pertama kalinya, ia tidak memiliki tenaga untuk memikirkan cara menutupi semuanya.
.
Hampir satu jam berlalu sebelum akhirnya dokter keluar dari ruang IGD. Qiera langsung berdiri, begitu pula Nisa yang sejak tadi menemaninya. Tidak lama kemudian, orang tua Ravi tiba dengan wajah cemas dan segera menghampiri dokter untuk mendengar penjelasan mengenai kondisi putra mereka.
Dokter menjelaskan bahwa luka di punggung bagian atas Ravi membutuhkan penanganan medis dan pemantauan lebih lanjut. Kondisinya telah ditangani, tetapi ia masih harus beristirahat dan menjalani pemeriksaan lanjutan untuk memastikan tidak ada komplikasi. Kabar bahwa Ravi sudah melewati tahap penanganan awal membuat Qiera sedikit lega, meskipun rasa takutnya belum sepenuhnya hilang.
“Apakah kami boleh melihatnya?” tanya papa Ravi.
“Sebentar lagi, setelah pasien dipindahkan ke ruang perawatan dan kondisinya cukup stabil untuk menerima keluarga. Mohon jangan terlalu banyak orang masuk sekaligus.”
Mama Ravi mengangguk berkali-kali, lalu menutup mulutnya dengan tangan. Qiera mendekat dan meraih lengannya, berusaha memberikan dukungan meskipun dirinya sendiri masih membutuhkan ketenangan.
“Ma, Mas pasti bisa melewatinya,” ucap Qiera lirih.
Mama Ravi menoleh kepadanya. Matanya tampak berkaca-kaca, tetapi ia berusaha tersenyum. “Mama tahu, Nak. Terima kasih sudah menemani Ravi.”
.
.
To be continued
See you🍀
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊