NovelToon NovelToon
TIRAKAT 7

TIRAKAT 7

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / TKP
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.

(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Sepuluh tahun berlalu.

Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.

​Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".

​Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.

Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 (KASUS 2) PANGGILAN DARURAT DI MALAM HARI

Sinar matahari senja yang semula menghiasi langit pedesaan di Parung perlahan-lahan pupus ditelan pekatnya malam.

Angin berhembus sepoi-sepoi menyejukkan pekarangan rumah beratap genteng terakota milik keluarga Zaki.

Di luar, suara jangkrik dan derik serangga malam bersahut-sahutan merdu dari balik rimbunnya pohon mangga, menciptakan irama alami yang menenangkan jiwa.

​Di dalam rumah, pendaran lampu pijar berwarna kuning hangat menyinari ruang tengah yang bersih.

Suasana malam itu terasa begitu istimewa dan dipenuhi kehangatan keluarga yang luar biasa.

​Di atas karpet kain bermotif bunga yang terhampar luas di lantai ubin, tatanan makan malam telah tersaji sempurna.

Berbeda dari malam-malam sebelumnya, malam ini Zaki dengan gembira membawa pulang empat ekor ikan gurame segar berukuran besar dari pasar ikan usai menyelesaikan sisa laporan audit kantornya.

Ikan-ikan itu telah dibakar harum oleh Nisa dengan lumuran bumbu rempah kecap pedas gurih, disajikan berdampingan dengan mangkuk kuah sup sayur bening, lalapan daun selada dan buah timun segar, serta dua cobek batu berisi sambal terasi dadakan.

​Zaki yang duduk bersila di tengah karpet mengunyah daging ikan gurame bakarnya dengan sangat nikmat.

​"Masya Allah... ikan gurame bakar buatan Ibu ini memang tiada tandingannya!" puji Zaki seraya tersenyum lebar menatap istrinya. "Dagingnya manis, bumbunya meresap sampai ke dalam. Rasa lelah seharian mengawal laporan audit di kantor seketika menguap hilang!"

​Nisa yang duduk di samping Zaki terkekeh renyah, merapikan piring nasi suaminya. "Aduh, Bapak ini bisa saja. Wong yang bawa ikan segarnya kan Bapak sendiri. Ibu cuma meracik bumbu cobeknya saja kok."

​Harumi yang menyantap nasinya dengan sangat lahap ikut menimpali seraya tertawa renyah.

​"Tapi bumbu racikan Ibu itu yang bikin nagih, Ayah!" seru Harumi renyah khas obrolan keluarga. "Rumi saja sampai nambah nasi dua kali nih! Nanti kalau balik ke kota, pasti Rumi kangen lagi sama sambal terasi buatan Ibu."

​Haruma yang duduk anggun di sebelah Harumi tersenyum manis, menuangkan air putih hangat ke gelas milik adiknya.

​"Makan pelan-pelan, Rumi," tutur Haruma lembut. "Ikan guramenya masih banyak kok. Nggak ada yang bakal merebut dari piringmu."

​Dek Niza—yang duduk di ujung karpet mengenakan kaos robot merah barunya—memamerkan senyum lebarnya seraya mengacungkan jempol mungilnya.

​"Niza juga makan ikan gurame banyak, Kak Haruma!" pamer Dek Niza gembira. "Biar Niza cepat besar dan tinggi kaya Kak Harumi sama Kak Haruma!"

​Zaki tertawa renyah, mengacak-acak rambut putra bungsunya dengan gemas. "Nah, gitu dong! Anak laki-laki itu harus makan yang banyak biar makin pinter dan gagah!"

​Gelak tawa dan obrolan hangat bergema memenuhi ruang tengah rumah tersebut.

Usai badai kejujuran dan pembongkaran rahasia di kamar utama tadi siang, ikatan batin di antara Nisa, Haruma, dan Harumi terasa jauh lebih kokoh, tenang, dan tanpa ganjalan sedikit pun.

Setiap canda tawa yang terlontar di tengah makan malam itu terasa begitu murni, memancarkan kedamaian sebuah keluarga sejati.

.....

.....

​Pukul 20.15 WIB malam.

​Acara makan malam keluarga telah selesai dikemas rapi. Piring-piring kosong dan cobek batu telah dipindahkan ke area dapur belakang.

​Di sudut ruang tengah, Zaki duduk bersila di atas karpet bersama Dek Niza. Di hadapan mereka, terhampar sebuah buku tulis Matematika kelas tiga SD bertuliskan PR MATEMATIKA - BAB 3: PERKALIAN DAN PEMBAGIAN DUA ANGKA.

​Zaki memegang pensil kayu, mengarahkan ujung pensilnya ke lembaran soal seraya memberikan arahan dengan sabar dan telaten.

​"Nah... Niza, coba perhatikan soal nomor lima ini baik-baik," tutur Zaki dengan intonasi suara kebapaan yang hangat. "Di soal ini tertulis: Pak Tani membawa 4 keranjang buah mangga. Setiap keranjang berisi 25 buah mangga. Berapa jumlah seluruh buah mangga yang dibawa Pak Tani? Gimana cara hitungnya, Nak?"

​Dek Niza memiringkan kepalanya, menopang dagu dengan jemari mungilnya seraya berpikir keras.

​"Emmm... ditambah 25 sebanyak 4 kali ya, Yah?" jawab Niza ragu-ragu.

​"Pintar!" puji Zaki tersenyum bangga. "Tapi kalau mau lebih cepat, pakai rumus perkalian. Jadi 4 dikali 25. Coba dihitung berapa 4 dikali 25?"

​"Jumlahnya 100, Ayah!" seru Niza gembira seraya menuliskan angka 100 di buku tulisnya.

​"Masya Allah... anak Ayah pintar banget!" puji Zaki menepuk pelan paha putranya.

​Sementara itu, di area dapur belakang yang berdinding keramik putih, Nisa dan Haruma sedang sibuk merapikan perlengkapan makan yang telah dicuci bersih.

​Haruma berdiri di dekat rak piring, mengambil piring-piring porselen yang sudah dibilas air bersih oleh Nisa, lalu mengelapnya hingga kering dengan sehelai kain lap katun putih yang bersih sebelum menyusunnya rapi di atas rak.

​Nisa membilas mangkuk terakhir di bawah kucuran air keran yang bening, lalu menoleh menatap putri sulungnya dari samping.

​Wajah Nisa tampak sangat tenang, matanya memancarkan pendaran kasih sayang dan kearifan jiwa yang luar biasa usai peristiwa pembukaan Mata Ghaib tadi siang.

​"Haruma... Anakku sayang..." panggil Nisa pelan dengan suara lembutnya yang menenangkan.

​Haruma menghentikan usapan kain lapnya, menoleh menatap ibunya seraya tersenyum manis. "Iya, Ibu?"

​Nisa mematikan kran air, mengusap tangannya pada celemek kain batik, lalu berdiri berdampingan dengan Haruma.

​"Gimana perasaanmu sekarang, Nak?" tanya Nisa penuh perhatian. "Setelah tadi siang semua rahasia kasus kamu ceritakan sama Ibu... apakah dadamu terasa lebih lapang?"

​Haruma menganggukkan kepalanya.

Pandangan mata jernih sang dokter forensik memancarkan rasa lega dan kedamaian batin yang teramat mendalam.

​"Sangat lapang, Ibu..." tutur Haruma tulus, jemari tangannya menggenggam lembut telapak tangan Nisa. "Selama beberapa hari ini, Ruma sama Rumi merasa seperti memikul beban batu raksasa sendirian di markas. Kita takut banget kalau Ibu sama Ayah cemas. Tapi setelah Ibu tahu semuanya dan memberikan restu serta Doa... Haruma merasa punya benteng perlindungan paling kokoh di dunia ini."

​Nisa tersenyum haru, mengusap pipi anggun putri sulungnya dengan penuh rasa kasih sayang.

​"Ibu dan Ayah akan selalu jadi benteng buat kalian berdua, Nak," bisik Nisa penuh keteguhan. "Mau sebesar apa pun sihir hitam dan kejahatan para penjahat itu di luar sana... ingatlah bahwa rumah ini dan doa Ibu nggak akan pernah putus membentengi jiwa kalian."

​"Terima kasih banyak ya, Ibu tercinta," balas Haruma lembut.

​Sementara di teras depan...

​Harumi sedang duduk santai di atas kursi kayu jati teras.

Sang Polwan Jatanras itu mengenakan kaos T-shirt abu-abu santai, menyandarkan punggungnya leluasa seraya menikmati sejuknya angin malam dan menyesap teh melati hangat dari cangkirnya.

​Namun...

Tepat di saat Harumi baru saja hendak meletakkan cangkir tehnya di atas meja...

​KRINGGGGG!!! KRINGGGGG!!! KRINGGGGG!!!

​Secara yang teramat sangat mendadak dan mengejutkan...

Ponsel pintar dinas kepolisian milik Harumi yang terletak di saku celananya menjerit nyaring!

​Ponsel dinas khusus itu menyuarakan nada dering khusus berfrekuensi tinggi—nada dering jalur darurat (Emergency Dispatch) yang hanya akan berbunyi jika terjadi kasus tindak pidana kejahatan berat berskala krisis nasional!

​Deg!

​Saraf insting taktis Ipda Harumi seketika menyengat siaga!

​Harumi merogoh ponsel pintarnya dengan gerakan lincah, menatap layar kaca yang berkedip-kedip merah menampilkan identitas pemanggil: MABES POLRI / SPKT POLRES METRO.

​Tanpa membuang waktu sedetik pun, Harumi menggeser tombol hijau, menempelkan ponselnya di telinga kanan.

​"Selamat malam! Di sini Inspektur Dua Harumi, Kanit Jatanras!" tegas Harumi dengan intonasi suara komando perwira yang seketika berubah tegap, dingin, dan profesional.

​Dari seberang saluran telepon, suara Bripka Dedi—Perwira Jaga SPKT Reskrim—terdengar terengah-engah dan dipenuhi ketegangan yang teramat sangat tinggi!

​"Izin melapor, Bu Kanit Harumi!" sahut Bripka Dedi dari seberang telepon dengan nada panik teratur. "Izin mengganggu waktu libur Bu Kanit! Baru saja 10 menit yang lalu... kami menerima panggilan darurat penemuan mayat dari Polsek Cakung!"

​Harumi memajukan posisi duduknya, pandangan matanya memicing tajam. "Penemuan mayat?! Di mana lokasinya, Dedi?!"

​"Di dalam kompleks Pabrik Tekstil 'Tirta Busana' di daerah Jakarta Timur, Bu Kanit!" beber Bripka Dedi cepat. "Ditemukan tiga orang mayat laki-laki dewasa di dalam ruang mesin utama pabrik!"

​Harumi mengerutkan keningnya, menanyakan detail kriteria lokasi. "Tiga mayat sekaligus?! Apakah indikasi pembunuhan biasa atau kecelakaan kerja pabrik?"

​Suara Bripka Dedi di seberang sana mendadak merendah, bergetar oleh rasa ngeri yang luar biasa.

​"Bukan kecelakaan kerja, Bu Kanit... INI SANGAT-SANGAT TIDAK WAJAR!" tegas Bripka Dedi dengan napas tertahan. "Kondisi ketiga mayat pria itu sungguh mengenaskan dan tidak masuk akal secara medis! Kulit tubuh mereka mengering kaku, seluruh organ dalam mereka sepertinya ikut menciut total tanpa ada luka pendarahan luar sedikit pun! Dan di atas lantai semen dekat ketiga mayat itu, ditemukan cap daging bakar berbentuk geometris iblis berkepala tiga!"

​DEG! DEG! DEG!

​Mendengar frasa "ORGAN DALAM MENCIUT TOTAL" dan "CAP GEOMETRIS IBLIS BERKEPALA TIGA" disebutkan dari lokasi TKP Pabrik Tekstil Jakarta Timur...

​Saraf Mata Batin Murni di dalam jiwa Ipda Harumi seketika meledak berdesir hebat!

​"Astagfirullahal'adzim...!" gumam Harumi menahan napas.

​Itu adalah ciri-ciri otentik dan pola kejahatan keji yang sama persis dengan kasus pertama...

SIHIR HITAM PENCURI USIA MILIK SEKTE PENYEMBAH IBLIS THE ONE!

​Kasus Kedua yang telah diramalkan oleh pendaran Mata Ghaib Dayang Putri dan Sekar Mayang tadi siang yang merasuk ke dalam tubuh Ibunya, kini telah resmi meletus di lapangan!

​"Mohon izin, Bu Kanit..." lanjut Bripka Dedi cepat di telepon. "Komandan Kombes Supriyadi telah mengeluarkan perintah darurat! Seluruh Tim Jatanras dan Tim Dokpol Tim Forensik diinstruksikan segera meluncur ke lokasi TKP Jakarta Timur malam ini juga!"

​Harumi berdiri tegap dari kursi terasnya...

Matanya berkilat-kilat oleh api keadilan!

​"Diterima, Dedi!" tegas Harumi dengan suara berbobot membelah malam. "Saya dan dr. Haruma segera meluncur ke lokasi TKP pabrik tekstil Jakarta Timur sekarang juga! Siapkan tim olah TKP di lokasi!"

​"Siap, Bu Kanit! Delapan-enam!"

​Klik.

​Harumi mematikan sambungan teleponnya.

​Pada saat yang bersamaan...

​dr. Haruma—yang baru saja selesai mengelap piring terakhir di dapur—melangkah keluar ke ruang tengah. Dokter forensik anggun itu menangkap ketegangan dari nada suara adiknya saat menerima panggilan telepon di teras.

​dr. Haruma melangkah cepat mendekati pintu depan.

​"Rumi..." panggil Haruma dengan suara lembut namun cemas. "Ada apa, Dek? Panggilan telepon dari siapa malam-malam begini?"

​Harumi memutar tubuhnya, menatap wajah kakak sulungnya dengan raut muka yang amat sangat serius dan tegap.

​"Kak Haruma..." pangkas Harumi dengan nada suara berbobot. "Kasus baru resmi meletus malam ini!"

​Deg!

​Haruma terperanjat pelan, matanya membelalak jernih. "Kasus baru?!"

​"Iya, Kak!" beber Harumi cepat. "Piket SPKT Polres baru saja melaporkan penemuan tiga mayat pria di sebuah pabrik tekstil di daerah Jakarta Timur. Kondisi fisik ketiga korban sama persis seperti Jonathan Nasution, Ki Suroto, dan Frida Valery... Organ dalam menciut mengering dan ada cap luka bakar geometris iblis!"

​Mendengar rincian tersebut, insting spesialis forensik dan jiwa penegak keadilan di dalam dada dr. Haruma seketika terbakar siaga!

​"Sekte THE ONE beraksi lagi..." bisik Haruma tegar dengan pandangan mata berkilat tegap. "Kita harus ke TKP sekarang, Rumi!"

​"Siap, Kak!" sahut Harumi mantap.

​Dua bersaudari itu seketika memutar tubuh mereka, berlari cepat menuju kamar tidur depan untuk mengambil seragam dan peralatan dinas resmi mereka masing-masing.

​Suasana di dalam rumah keluarga Zaki yang semula tenang dan hangat seketika berubah menjadi hiruk pikuk ketegangan tugas kepolisian.

​Di dalam kamar depan, dr. Haruma dengan sangat lincah melepaskan daster rumahnya, menggantinya dengan kemeja dinas putih khusus Dokpol Bhayangkara lengkap dengan jas laboratorium forensik, nametag Dokter Spesialis, serta menjangkau Koper Kit Otopsi Lapangan Steril miliknya.

​Sementara di sebelahnya, Ipda Harumi melepaskan kaos santainya, mengenakan Seragam Dinas Taktis Kemeja Cokelat Kepolisian berlogo Inspektur Dua Polisi di kerah, mengenakan sabuk kopel taktis hitam, serta menyarungkan Senjata Api Pistol Jenis Glock-17 resmi milik dinas di holster pinggang kanannya dengan gerakan yang teramat sangat terlatih.

​Hanya dalam waktu kurang dari 5 menit...

Dua srikandi penegak keadilan itu telah bertransformasi penuh dari sosok gadis dewasa rumahan yang lembut menjadi perwira polisi dan dokter forensik yang amat sangat tegap, gagah, dan berwibawa!

​Sret...

​Haruma dan Harumi melangkah keluar dari kamar depan membawa koper kit dan tas peralatan mereka.

​Zaki yang sedang mengajari Dek Niza di ruang tengah seketika terhenti.

Pria paruh baya itu berdiri dari karpet, menatap kedua putri angkatnya yang sudah berseragam dinas lengkap dengan raut wajah kaget dan amat khawatir.

​"Haruma...? Harumi...?" panggil Zaki dengan suara bergetar cemas. "Ada apa ini, Nak? Kok malam-malam begini sudah ganti seragam dinas lengkap bawa koper?!"

​Harumi melangkah mendekati ayahnya, memegang lengan Zaki penuh rasa hormat.

​"Mohon maaf ya, Ayah..." tutur Harumi dengan bahasa yang sangat sopan dan lembut. "Ada panggilan tugas darurat dari markas kepolisian. Ada penemuan tiga mayat korban pembunuhan di daerah Jakarta Timur malam ini. Rumi sama Kak Ruma harus segera meluncur ke lokasi TKP sekarang juga!"

​Zaki membelalakkan matanya cemas, memegang bahu kedua putri angkatnya dengan jemari tangan yang agak gemetar.

​"Ya Allah... malam-malam begini, Nak?!" bisik Zaki penuh rasa khawatir seorang ayah. "Jalanan ke Jakarta Timur kan jauh... Kalian berdua harus ekstra hati-hati ya! Jaga keselamatan diri kalian masing-masing! Jangan sampai ada yang terluka lagi!"

​"Siap, Ayah!" jawab Haruma tersenyum tegar seraya mengusap tangan ayahnya. "Ayah nggak usah cemas. Ruma sama Rumi bakal selalu saling menjaga."

​Namun...

Tepat di saat Haruma dan Harumi hendak melangkah menuju pintu depan...

​Shet!

​Sesosok tubuh kecil berlari meluncur dari sudut karpet, lalu MELEMPARKAN TUBUHNYA MEMELUK ERAT PINGGANG HARUMA!

​Itu adalah Dek Niza.

​Anak laki-laki berusia sembilan tahun itu menangis sesenggukan, menyembunyikan wajah mungilnya di kain jas laboratorium forensik milik Haruma.

​"Kak Harumaaaaa...! Kak Harumiiiii...!" jerit Dek Niza terisak-isak parau dengan suara anak kecil yang terluka. "Kok Kakak langsung pergi tugas lagi sih...?! Liburan Kakak di rumah kan baru sebentar banget...! Niza masih mau main sama Kakak...!"

​Melihat tangisan haru dan keluhan polos dari adik bungsunya, dada dr. Haruma dan Ipda Harumi seketika meleleh oleh rasa kasih sayang yang amat dalam.

​Haruma berlutut di atas lantai di hadapan Dek Niza, merangkul tubuh mungil adik bungsunya dengan penuh kelembutan. Haruma mengusap air mata di pipi Niza menggunakan ibu jarinya.

​"Dek Niza manis... anak pintar..." panggil Haruma dengan suara yang begitu merdu dan menenangkan. "Dengarkan Kak Haruma sebentar ya, Sayang..."

​Niza sesenggukan, menatap mata jernih dokter forensik anggun itu. "H-hmmm...?"

​Haruma tersenyum manis, mencium kedua pipi adik bungsunya bergantian.

​"Kak Haruma sama Kak Harumi pergi ke kota malam ini bukan karena nggak sayang sama Niza..." tutur Haruma penuh penjelasan yang menyentuh jiwa. "Tapi karena ada tugas negara yang harus Kakak selesaikan demi menolong orang lain. Semakin cepat Kakak selesaikan tugas di kota, semakin cepat Kakak bisa pulang lagi ke sini buat main sepeda sama Dek Niza."

​Harumi ikut berlutut di samping kakaknya, mengacak-acak rambut Niza seraya tertawa renyah.

​"Iya, Dek Niza!" timpal Harumi gembira. "Nanti kalau tugas ini sudah selesai tuntas, Kak Harumi janji bakal belikan mainan robot transformer yang paling besar buat Niza! Oke?"

​Mendengar janji tersebut, Dek Niza mengusap air mata di pipinya, menganggukkan kepalanya pelan seraya tersenyum pasrah. "Beneran ya, Kak...? Kakak harus cepat pulang ya... Niza bakal kangen terus..."

​"Pasti, Sayang!" pangkas Haruma dan Harumi serempak seraya memeluk Niza hangat.

​Nisa melangkah mendekati area pintu depan.

Wajah ibu paruh baya itu tampak sangat tegar, tidak ada lagi rasa panik atau kecemasan liar di matanya—yang tersisa hanyalah pancaran aura keteguhan jiwa dan restu suci seorang ibu yang siap melepas putri-putrinya bertempur di medan keadilan.

​Nisa memegang kedua telapak tangan Haruma dan Harumi secara bergantian.

​Haruma dan Harumi membungkukkan tubuh mereka, mencium telapak tangan Nisa dan Zaki dengan rasa hormat dan takzim yang paling mendalam.

​Nisa menatap mata kedua putri angkatnya lurus-lurus.

​"Haruma... Harumi..." tutur Nisa dengan suara jernih berbobot yang sarat akan pesan mendalam berdasarkan pembukaan rahasia tadi siang. "Ingat baik-baik pesan Ibu..."

​Haruma dan Harumi mendengarkan dengan penuh khidmat.

​"Kalian melangkah ke Jakarta Timur malam ini bukan hanya membawa senjata dan koper kit kedokteran..." tegas Nisa dengan pandangan mata yang menyala tegar. "...tapi kalian melangkah membawa restu suci Ibu, doa Ayah, dan perlindungan Dayang Putri serta Sekar Mayang!"

​Nisa meremas lembut jemari kedua putrinya.

​"Tumpas kejahatan sekte iblis itu sampai ke akar-akarnya!" instruksi Nisa penuh wibawa seorang ibu. "Jangan pernah gentar menatap wajah para penyembah kegelapan itu! Tapi ingat... PULANGKAN RAGA KALIAN BERDUA KE RUMAH INI DALAM KEADAAN UTUH, SEHAT, DAN SELAMAT! Doa Ibu akan selalu mengiringi setiap hela napas dan langkah kaki kalian!"

​DEG!

​Pesan dan restu suci dari Nisa seketika menyiram dada dr. Haruma dan Ipda Harumi dengan gelombang kekuatan jiwa yang amat sangat dahsyat, membakar seluruh keraguan dan menyalakan api keberanian yang tak tergoyahkan!

​"Siap, Ibu! Terima kasih atas doa dan restunya!" tegas Haruma dan Harumi serempak dengan nada berbobot.

​"Kami berangkat dulu, Ayah... Ibu... Dek Niza... Assalamu'alaikum!" pamit Haruma dan Harumi seraya melangkah tegap keluar dari pintu depan.

​"Wa'alaikumussalam warahmatullah... Hati-hati di jalan!" balas Zaki, Nisa, dan Niza, mengiringi dari teras.

​Brummm!!!

​Mesin SUV dinas kepolisian berwarna abu-abu gelap menderu garang di pekarangan rumah.

Lampu rotator sirine polisi di atas atap mobil dinyalakan, memancarkan pendaran cahaya merah-biru yang membelah kegelapan malam.

​Ipda Harumi duduk tegap di balik kemudi, menggenggam lingkar kemudi dengan jemari yang kokoh.

Di sebelahnya, dr. Haruma duduk tegap memegang koper kit otopsi steril di pangkuannya.

​Srrrttt... BRUMMM!

​Mobil SUV dinas itu melesat cepat meninggalkan pekarangan rumah Parung, membelah jalanan pedesaan yang sepi, lalu melaju kencang menembus kepekatannya malam menuju wilayah pabrik tekstil Jakarta Timur.

​Liburan dua hari di tanah Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, telah usai, meninggalkan kenangan manis dan kekuatan keluarga yang tak terbatas.

Kini, Kasus Kedua telah resmi meletus!

dr. Haruma dan Ipda Harumi siap menembus kegelapan malam, menghadapi cengkeraman sihir hitam Sekte THE ONE!

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seperti apa coba keluarga Taipan itu?

intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyakah medium ship spiritual ini?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Jadi efek sihir nya nggak ada luka fisik dari luar seperti sihir pada umumnya tapi yg diserang organ dalam nya.

berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Penasaran seperti apa Sakte the one, sihir pengambil usia ini bwt apa? entintas apa yg akan di bangkit kan
Sri Jumiati
bagus ceritanya .👍👍
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seenggaknya klo terbuka, misal mereka ada apa-apa Nisa bisa membantu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
NiZa putri atw Putra sih ?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Knp kek yg Mama ku omongin sihh? bwt orang tua ya seperti itu sedewasa apapun, sesukses apapun, bwt mereka anaknya adalah tetep anak kecil mereka.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Definisi rezeki tak kemana
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Nah iya bener itu ide atasan Rumi, pura-pura tutup kasus dulu, kematian Jonathan dgn tersangka suroto, tapi dibelakang msh diselidiki. masuk logika sih...
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
pastinya sakte the one ini di backup orang penting, klo nggak ada backingan yg kuat nggak mungkin trs bertahan bertahun-tahun
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
RIP KiSuroto sadis ya cara mati nya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Hanya sampe disitu ki Suroto? kek nya msh ada yg lebih dari dia ya di sekte the one ini
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Sehebat apakah KiSuroto?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
perantara sihir nya udah elit ya di T7 ini, bukan bangsa lelembut lgi tapi manusia setengah jin mungkin wkwkwk sihir nya udah di darah
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Astaga suroto kek nggak ada nama lain
penampilan nya udah elit kok nama nya itu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
seperti itu ya ruang outopsi baru tau aku, detail betul penggambarannya berasa ada di rumah sakit dokpol wkwkwk
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
waduhh serem, dibungkam dari jauh... penasaran the one ini sapa
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Karier udah oke tinggal jodoh ya ruma rumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Mereka tidak perlu orang lain lgi bwt jadi partner diskusi Mereka, kna berdua pun Mereka udah saling melengkapi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!