Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!
****
Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Cahaya di Balik Abu, Dingin di Dalam Jiwa
BOOMMM!
Altar kayu itu meledak hebat. Dentumannya menggetarkan tanah Cheonbugwan, mencerai-beraikan bara api ke segala arah. Dari balik kepulan asap hitam yang pekat dan kobaran api biru yang perlahan meredup, sepi mendadak mencekam.
Lalu, terdengar suara langkah kaki yang konstan.
Sesosok pemuda berjalan keluar dari dalam api dengan langkah tegap. Jubah panjangnya utuh tak tersentuh abu sedikit pun, berkibar ditiup angin malam.
Saat ia mendongak, sepasang matanya memancarkan kilatan energi gichul biru keperakan yang teramat masif—berputar layaknya badai yang siap menelan siapa saja.
Itu Han Seol. Ia kembali dari kematian. Hidup-hidup.
"A-Apa?! Bagaimana mungkin?!"
Jin Wu berseru, seluruh kemenangan yang baru saja digenggamnya runtuh dalam sekejap. Ia melangkah mundur dangan wajah pucat pasi. Matanya membelalak penuh horor.
"Dia... dia seharusnya sudah hangus menjadi abu!"
"Han Seol?!"
Oh Myung Ja menjerit. Suaranya bergetar hebat di antara rasa tidak percaya dan duka mendalam yang mendadak berubah menjadi secercah harapan baru.
Di sudut lain halaman, Do Kwang terpaku di tempatnya. Ia menatap pemuda itu dengan dada yang bergemuruh hebat. Napasnya tertahan.
"Bintang Kerajaan... kekuatan Batu Es di dalam dirinya telah bangkit," gumam Do Kwang dengan bibir gemetar tak berdaya.
Han Seol menghentikan langkahnya tepat di tengah halaman. Pandangannya mengunci lurus ke arah Jin Wu. Sorot matanya sedingin es kutub, memancarkan aura intimidasi yang seketika membekukan atmosfer seluruh penjuru Cheonbugwan.
"Kau mengira api fana ini bisa melenyapkanku, Jin Wu?"
Suara Han Seol menggema rendah, namun getaran energinya menekan dada semua orang yang ada di sana hingga sulit bernapas. Keadaan mendadak hening mencekam. Jin Wu bahkan tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalas.
Tanpa membuang kata lagi, Han Seol membalikkan tubuhnya. Ia melangkah mantap meninggalkan tempat tersebut, membiarkan keheningan malam menelan sisa-sisa kehancuran di belakangnya.
****
Tiga tahun kemudian...
Matahari bersinar terik di atas atap-atap rumah bergaya kuno. Di salah satu sudut jalanan, terlihat tiga orang pria paruh baya dan muda tengah bersusah payah mendorong kereta kayu.
Mereka adalah para pembuat arak yang sedang mengantarkan pesanan ke salah satu kediaman paling dihormati: Jinyowon. Mereka adalah Kang Taeho, Lee Chul, dan yang paling muda sekaligus pemalu, Lee Taemin.
Sesampainya di depan gerbang megah Jinyowon, pintu kayu jati itu berderit terbuka. Sesosok wanita cantik berwajah angkuh keluar, dialah Jin Chae Rin, didampingi oleh dua orang pengawal perempuan berpedang.
"Nona Jin, ini arak pesanan Anda," ucap Kang Taeho santun. Pria paruh baya itu bersama kedua temannya segera membungkuk hormat dengan khidmat.
Bukannya disambut dengan lambaian tangan atau senyuman hangat, Jin Chae Rin justru menatap tiga tong besar di atas kereta dengan pandangan meremehkan.
Wussh!
Dengan satu sentakan energi gichul dari tangannya, tiga tong besar berisi arak itu melayang dan terhempas ke lantai batu.
Crangg!
Kayu-kayu tong itu pecah, menumpahkan cairan arak wangi ke seluruh lantai.
"Astaga!" ketiganya berteriak panik, langsung melompat mundur ke belakang demi menghindari cipratan air.
"Nona! Kenapa Anda malah menghancurkannya?" seru Lee Chul dengan suara bergetar menahan dongkol sekaligus takut.
Chae Rin bersedekap dada. Sorot matanya tajam menembus mereka bergantian. "Aku tidak mau menerima arak sampah ini. Karena arak yang kalian bawa sama sekali tidak sesuai dengan pesananku yang biasanya! Kalian jangan coba-coba menipuku dengan air murahan!"
Melihat kemarahan sang nona muda, Kang Taeho segera maju selangkah dengan kepala menunduk dalam-dalam.
"Maafkan kami, Nona Jin. Sebenarnya... kami memang telah mengganti airnya. Kami terpaksa, karena sumber mata air murni yang biasanya kami gunakan sudah lama mengering sejak beberapa bulan lalu."
"Aku tidak mau tahu atau mendengar alasan konyol apapun lagi!" potong Jin Chae Rin dingin.
"Keluargaku sudah membayar lunas semua pesanan ini. Jadi kalian harus membuatnya lagi dari awal. Berhubung mata air mistis milik keluargaku memiliki kualitas murni yang sama dengan bahan pembuatan arak kalian, aku mengizinkan salah satu dari kalian untuk masuk dan mengambil airnya di dalam."
Chae Rin berbalik, berjalan masuk terlebih dahulu tanpa menunggu jawaban.
Kang Taeho dan Lee Chul saling melirik dengan cemas. Tempat batin Jinyowon terkenal sakral dan penuh barang magis yang mengerikan.
Pandangan mereka berdua akhirnya jatuh pada pemuda di sebelah mereka.
"Hey, Taemin. Kau saja yang masuk dan ambil airnya," bisik Kang Taeho sambil menyenggol lengan si pemuda.
"A-Aku? Tapi Paman..."
"Sudah, pergi sana! Jangan membuat Nona Jin menunggu lebih lama!" dorong Lee Chul.
"Ba-baik..." jawab Taemin pasrah.
Dengan langkah ragu-ragu dan gugup, ia mengikuti langkah dua pengawal wanita Jinyowon memasuki area dalam yang megah sekaligus misterius.
Di dalam sana, saat sedang menunggu kendi airnya diisi, pandangan Taemin tidak sengaja beralih ke koridor taman dalam. Langkah kakinya seketika terkunci. Napasnya tercekat saat melihat sesosok wanita yang teramat cantik sedang berdiri di sana, dikelilingi bunga-bunga yang bermekaran.
Jantung Taemin berdegup kencang hingga rasanya ingin melompat keluar, terlebih saat wanita cantik itu perlahan memutar tubuh dan melangkah menghampirinya.
"Kau membawa arak di pinggangmu?" tanya wanita itu dengan suara selembut sutra, matanya menatap kendi kecil yang tergantung di sabuk baju Taemin.
"Boleh aku memintanya sedikit?"
Saking terpesonanya oleh kecantikan mistis wanita tersebut, Taemin kehilangan akal sehatnya sesaat. Ia mengangguk kaku seperti orang bodoh.
"Am-ambil saja, Nona. Bahkan jika Anda mau, saya punya satu kendi lagi yang sangat manis di tas saya. Ini untuk Anda..."
Taemin dengan sukarela menyerahkan seluruh cadangan arak pribadinya dengan tangan bergetar. Wanita itu hanya tersenyum tipis, menerima arak tersebut sebelum akhirnya berbalik pergi meninggalkan Taemin yang masih berdiri termangu.
****
Sore harinya, perjalanan pulang ketiga pembuat arak itu berubah menjadi petaka. Saat mereka sedang melewati wilayah hutan dekat perbatasan kota, keheningan pecah.
SREKKK! GUBRAKKK!
"AAAKHHH!"
Sebongkah benda besar jatuh dari langit, menghantam tanah tepat beberapa jengkal di depan kereta mereka. Saat asap debu menyingkir, mata mereka membelalak. Itu seonggok mayat manusia yang tubuhnya sudah mengering, kurus kering seperti mumi dengan kulit menghitam.
"M-Mayat jatuh dari langit?!" teriak Lee Chul histeris.
Ketakutan setengah mati, ketiganya meninggalkan kereta dan berlari tunggang-langgang masuk ke halaman sebuah rumah besar yang tampak kosong di pinggir jalan untuk bersembunyi.
Namun, bukannya merasa aman, bulu kuduk mereka justru meremang hebat. Di halaman rumah itu, belasan mayat dengan kondisi serupa—kulit menghitam dan energi kehidupan yang terserap habis—bergeletakan di mana-mana.
"Ini tempat apa... mereka semua korban pemindah jiwa!" bisik Kang Taeho dengan bibir membiru.
Sebelum mereka sempat berteriak lagi, sesosok bayangan berkelebat cepat dari atas atap rumah.
SRAAKK!
Terdengar suara tebasan pedang yang memotong udara, disusul jeritan melengking dari sesosok makhluk bermata abu-abu pudar yang mencoba menyerang dari kegelapan. Pemindah jiwa itu langsung ambruk, perlahan berubah menjadi batu dan debu setelah pedang panjang menembus dadanya.
Pemilik pedang itu melangkah keluar dari bayang-bayang. Jubah hitamnya berkibar rendah.
Han Seol.
Tiga tahun telah mengubahnya menjadi pria yang jauh lebih dingin dan tak tersentuh. Mengetahui bahwa Han Seol baru saja menyelamatkan nyawa mereka dari terkaman pemindah jiwa, Kang Taeho dengan gemetar menyerahkan sebuah kendi arak terbaik yang tersisa di tasnya sebagai rasa terima kasih.
"Terima kasih... Terima kasih telah menyelamatkan kami, Tuan Penyihir Agung," ucap Kang Taeho sambil membungkuk berkali-kali.
Han Seol menerima kendi itu, membukanya, lalu meneguknya dalam sekali tegukan besar. "Arak yang kuat," gumamnya datar.
Melihat Han Seol yang tampaknya mau mendengarkan, Lee Chul mencoba mencairkan suasana yang kaku. "Tuan pasti sangat sibuk belakangan ini. Sejak kejadian besar tiga tahun lalu, dunia kita benar-benar terbelah. Di pasar bawah bahkan orang-orang terus berdebat."
Han Seol menghentikan gerakannya. "Berdebat tentang apa?"
"Tentang Nona Nara," sahut Lee Chul tanpa sadar akan perubahan raut wajah Han Seol. "Kubu pertama meyakini bahwa Nona Nara telah benar-benar meninggal dan jiwanya lenyap saat melompat ke dalam Danau Cheon Gi yang dalam itu. Tapi... kubu kedua, termasuk kami, meyakini kalau Nona Nara sebenarnya masih hidup di suatu tempat."
Mendengar nama itu disebut, dada Han Seol serasa dihantam godam tak kasat mata. Nara. Seol Ah.
Pikiran Han Seol langsung terlempar ke masa lalu. Bayangan seol Ah, pelayan pribadi sekaligus kekasih hatinya yang teramat ia cintai, terlintas jelas.
Wanita yang seharusnya kini sudah menjadi istrinya. Namun, takdir berkata lain. Tanpa sepengetahuan siapa pun kala itu, Jin Wu berhasil merapalkan mantra kelam untuk mengendalikan jiwa Seol Ah.
Menjadikannya boneka pembunuh yang kehilangan kesadaran, memaksa Seol Ah menghunuskan pedang ke dada Han Seol sendiri, bahkan membunuh sahabat karibnya, Park Ji Hoon—yang tak lain adalah sepupu Nara sendiri.
Tusukan pedang Seol Ah di masa lalu nyaris merenggut nyawa Han Seol selamanya. Namun, kekuatan langit dari Batu Es yang bersemayam di dalam tubuhnya justru bangkit di detik terakhir, menariknya kembali dari gerbang kematian dan menuntunnya menguasai Hwansu—tingkatan sihir tertinggi yang membuatnya menjadi penyihir paling kuat dan ditakuti di seluruh negeri saat ini.
Namun, kekuatan tak tertandingi itu menuntut harga yang teramat mahal.
Siapa saja yang menampung kekuatan langit dari Batu Es di dalam tubuh fana mereka, maka hidupnya tidak akan pernah mencicipi kedamaian lagi.
“Berikan kekuatannya pada kami... Berikan...”
“Dingin... di sini dingin sekali...”
Han Seol memejamkan matanya rapat-rapat saat bisikan-bisikan itu mulai berdengung di telinganya. Arwah-arwah jahat, monster, dan jiwa-jiwa penasaran yang haus akan kekuatan Batu Es selalu berkumpul di sekelilingnya setiap saat.
Mereka berisik, mereka dingin, mereka mengerikan, sekaligus menyedihkan.
Satu-satunya cara agar Han Seol bisa membungkam suara-suara terkutuk itu dan tidur dengan tenang selama beberapa jam adalah dengan meminum arak yang sangat keras setiap malam.
Efek mistis itu pula yang membuat auranya berubah menjadi begitu pekat, dingin, dan mengerikan. Orang-orang awam hingga penyihir lain memilih untuk menghindarinya karena ketakutan.
Akibatnya, Cheon Gi Won—tempat pelatihan sihir yang dahulunya selalu ramai dipenuhi ratusan murid yang belajar—kini berubah total menjadi tempat yang mati, sepi, dan hanya menyisakan Han Seol seorang diri di dalam kemegahan yang sunyi.
Han Seol kembali menatap kendi arak di tangannya dengan senyum getir yang tersembunyi di balik kegelapan malam.
Ia memang telah menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti dunia. Namun, gelar itu tidak lantas memberinya kebahagiaan. Kutukan Batu Es yang menyiksa batinnya setiap detik, serta luka perpisahan tragis dengan Seol Ah, telah merenggut seluruh kehangatan dari hidupnya.
Han Seol yang sekarang, hanyalah seonggok jiwa kuat yang hidup di dalam sangkar es yang abadi.