"Satu tahun pernikahan kontrak, Levara," bisik Dante dingin di antara remang ruang kerjanya. "Kamu dapat akses dokumen ayahmu, dan saya dapat mengunci saham perusahaan dari ambisi Paman Julian Perkasa."
"Dan jika bahaya mengincarku?" tantang Levara.
Dante memajukan kursi rodanya, menatapnya tajam.
"Selama kamu menyandang nama Velmore, keselamatanmu adalah tanggung jawab saya."
Di balik kemewahan ibu kota, Levara bertaruh nyawa mengungkap misteri hilangnya sang ayah dua puluh tahun silam. Petunjuk terakhir mengarah pada dokumen rahasia milik Velmore Group. Satu-satunya jalan masuk adalah Dante Castillo Velmore, pewaris tunggal nan dingin di atas kursi roda.
Perjanjian di atas kertas berubah menjadi ancaman maut saat fakta terkuak. Di tengah gempuran teror dan perang hukum, mampukah pernikahan tanpa rasa itu bertahan ketika dendam masa lalu menuntut keadilan?
Di tambah, sosok bocah menggemaskan yang menjadi tambahan hiburan untuk mereka.
"Om cate magelan, kenapa jadi cuami?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecemburuan Dante
Kemenangan telak atas konfrontasi media semalam membuat nama baik Levara dan Dante membumbung tinggi di berbagai pemberitaan nasional. Narasi miring yang dirancang oleh Julian Velmore hancur berantakan, berbalik menjadi dukungan publik yang mengalir deras untuk pasangan baru tersebut.
Siang harinya, suasana di halaman mansion Velmore tampak sedikit lebih lengang. Sebuah mobil hitam memasuki pelataran, diikuti langkah kaki lebar Arelio yang melintasi koridor utama. Kakak angkat Levara itu datang membawa berkas hasil investigasi lapangan terbaru dari lembaganya.
"Levara!" panggil Arelio saat melihat Levara sedang duduk di ruang tamu tengah.
Levara berbalik dan seketika tersenyum lebar. "Bang Arelio!"
Tanpa ragu, Arelio yang diliputi rasa lega luar biasa atas keberanian adiknya di televisi kemarin langsung melangkah cepat dan merengkuh Levara ke dalam pelukan hangat yang cukup erat. Ia mengusap rambut belakang Levara dengan penuh kasih sayang seorang kakak.
"Abang bangga sekali sama kamu," bisik Arelio, suaranya dipenuhi ketulusan. "Jawabanmu di depan pers kemarin benar-benar membungkam mulut busuk Julian."
Levara tertawa pelan dalam pelukan Arelio, menepuk punggung pria itu. "Terima kasih, Bang. Aku cuma menyampaikan apa yang benar."
Namun, momen hangat itu terinterupsi oleh deru halus mesin kursi roda yang bergerak mendekat dari balik koridor utama. Dante menghentikan kursi rodanya di ambang pintu ruang tamu. Sepasang iris mata cokelat gelap milik Dante tertuju lurus pada sosok Arelio yang masih merangkul bahu Levara.
Atmosfer di ruangan itu mendadak berubah drastis. Udara di sekitarnya seolah membeku seketika. Ada kilatan dingin dan ketegangan samar yang terpancar tajam dari raut wajah Dante.
Arelio melepaskan pelukannya perlahan, berbalik menghadapi Dante seraya menatap pria itu dengan pandangan menantang yang tenang.
"Tuan Dante," sapa Arelio dengan nada formal.
Dante menatap Arelio dari atas kursi rodanya, aura dominasinya yang kuat tetap terpancar tanpa berkurang sedikit pun. "Arelio. Saya tidak ingat ada jadwal kunjungan untukmu hari ini."
"Aku cuma mengantarkan salinan dokumen jaringan bisnis keluarga Veyron bersama Julian yang berhasil ditelusuri timku," jawab Arelio santai seraya meletakkan sebuah map cokelat di atas meja kaca. "Sekaligus memastikan adikku dalam keadaan baik-baik saja setelah tekanan media kemarin."
Dante memajukan kursi rodanya mendekati meja, tepat di samping Levara. Tatapannya menatap map cokelat itu sejenak, lalu beralih kembali menatap Arelio.
"Istri saya berada dalam kondisi yang sangat baik," tegas Dante dengan penekanan yang dalam pada kata 'istri saya'. "Pengawasan dan perlindungan di rumah ini sepenuhnya berada di bawah kendali saya."
Arelio menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan arti. "Bagus kalau begitu. Tapi bagaimanapun, Levara tetaplah adikku. Aku punya hak untuk memeluk dan memastikannya aman kapan saja."
Dante tidak menyahut, namun rahangnya yang tegas tampak mengeras kaku. Tatapan matanya begitu tajam terkunci pada Arelio.
Levara yang merasakan keanehan dan ketegangan sengit di antara kedua pria itu segera memecah keheningan. "Bang Arelio, terima kasih dokumennya. Nanti akan aku periksa bersama Dante."
Arelio menepuk pelan bahu Levara sekali lagi, yang tak luput dari pandangan mata Dante lalu mengangguk. "Baiklah. Kalau ada hal mencurigakan, langsung hubungi Abang. Aku pamit dulu."
Setelah Arelio melangkah keluar bersama pengawal dan pintu utama tertutup, ruang tamu diliputi keheningan yang tebal dan canggung.
Levara berbalik menatap Dante. "Dante? Kamu kenapa? Wajahmu tegang sekali."
Dante memutar kursi rodanya tanpa menjawab, mengarahkannya menuju ruang kerja pribadi. "Ikut saya ke dalam."
Levara mengerutkan kening heran namun tetap melangkah mengikuti Dante masuk ke dalam ruang kerja. Begitu pintu ruangan tertutup, Dante menghentikan kursi rodanya dan berbalik penuh menghadapi Levara.
"Dante, ada apa?" tanya Levara bingung melihat raut wajah suaminya yang tak bersahabat.
"Haruskah kamu memeluknya erat seperti itu di ruang tamu?" tembak Dante langsung. Suara bass-nya terdengar lebih berat dan dalam dari biasanya.
Levara tertegun sejenak. Ia menatap Dante yang menyilangkan tangan di dada dengan pandangan lurus. Detik berikutnya, pemahaman melintasi benak Levara.
"Dante ... kamu ... cemburu?" tanya Levara tak percaya, sudut bibirnya menahan senyum yang hampir terbit.
"Saya tidak cemburu," bantah Dante cepat, mencoba mempertahankan wajah datarnya meski ada binar ketidaknyamanan yang jelas di matanya. "Saya hanya mengingatkan bahwa kita berada di bawah pengawasan mata-mata. Tindakan emosional berlebihan bisa memicu rumor baru."
"Bang Arelio itu kakak angkatku, Dante," seru Levara gemas seraya melangkah dua tindak mendekati posisi Dante. "Dia yang menjagaku sejak kecil bersama Papa Evran. Pelukan tadi itu pelukan seorang kakak yang lega adiknya selamat."
Dante menatap Levara dari bawah. "Saya tahu dia kakak angkatmu. Tapi pria tetaplah pria, Levara. Cara dia menatapmu dan memelukmu bukan cuma tatapan seorang kakak."
Levara mendudukkan diri di atas bangku kecil persis di samping kursi roda Dante, membuat tingginya kini sejajar dengan mata pria itu. Ia menatap iris mata Dante dari jarak dekat.
"Tapi di mataku, dia cuma Bang Arelio," bisik Levara lembut. "Dan di hatiku ... tidak ada pria lain yang sedang berdiri sebagai suamiku selain kamu, Dante."
Kata-kata jujur yang keluar dari bibir Levara seketika meluluhkan kebekuan di wajah Dante. Tatapan mata pria itu melemah, berganti dengan desir kehangatan yang amat dalam.
Dante menghembuskan napas panjang, lalu mengulurkan tangan kirinya meraih jemari Levara, menggenggamnya erat dalam sapuan hangat.
"Maafkan saya," gumam Dante rendah, dipenuhi kejujuran yang menelanjangi pertahanannya. "Melihat pria lain mendekatimu dan memelukmu ... membuat saya sadar betapa takutnya saya kehilangan kamu, Levara."
Jantung Levara berdebar hebat mendengarnya. Pria yang biasanya berdiri tegap bagaikan benteng baja itu kini memperlihatkan sisi rapuh dan cemburunya hanya demi dirinya.
"Kamu tidak akan kehilangan aku, Dante," balas Levara tulus, membalas genggaman tangan Dante dengan tak kalah erat. "Aku ada di sini, bersamamu."
Dante menarik lembut tangan Levara hingga tubuh gadis itu terkikis jaraknya, membuat napas hangat mereka saling beradu di tengah keheningan ruang kerja yang intens.
"Kalau begitu, berjanjilah," bisik Dante di dekat telinga Levara, suaranya serak dan menuntut. "Pelukan seperti itu ... hanya milik saya."
Merah padam seketika menjalar di seluruh pipi Levara. Dengan senyuman manis yang tak lagi disembunyikan, Levara mengangguk pelan. "Iya, Tuan Velmore. Janji."
_____________________
Enggak ada adegan jaim yah, ceplas ceplos ini🤣
malemgara2 mikirin leva😭😭