Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba di Tanah Dewata dan Strategi Baru
Deru mesin mobil travel antarkota itu perlahan memelan saat roda-rodanya menggilas jalanan mulus By Pass Ngurah Rai, Denpasar. Udara hangat khas pesisir yang bercampur aroma terapi dupa dan minyak kelapa langsung menyergap masuk lewat celah jendela mobil yang sedikit terbuka.
Dari balik tumpukan terpal di bak belakang, Mamat melongokkan kepalanya. Kemeja sutra mewahnya yang robek di bagian lengan kini telah diganti dengan kaos oblong polos hitam seharga tiga puluh ribuan yang dibelinya di rest area pelabuhan Gilimanuk. Kacamata mewahnya yang patah di Jakarta berganti dengan kacamata hitam berbingkai kayu kelapa buatan perajin lokal.
"Mat... ini beneran kita sudah di Bali?" bisik Darto sambil memeluk erat tas ransel berisi uang tunai tiga ratus juta rupiah. Matanya tak henti-hentinya membelalak menatap deretan gapura ukir batu paras dan patung-patung berbalut kain poleng hitam-putih di sepanjang jalan.
"Iyo, To," sahut Mamat tenang, mengisap dalam-dalam rokok kreteknya. "Selamat datang di surga para pencari kedamaian jiwa... dan surga buat orang-orang yang rela bayar mahal demi kelihatan spiritual."
Bowo terkekeh sambil membetulkan posisi duduknya yang pegal. "Tapi ingat lho, Mat. Di Jakarta kemarin kita hampir diamuk massa gara-gara masuk TV nasional. Apa ndak bahaya kalau kamu buka praktek lagi di sini? Kalau ada bule atau wisatawan yang kenal mukamu gimana?"
Mamat menyunggingkan senyum licik khasnya. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah cermin kecil.
"Orang Jakarta itu gampang percaya sama jas dan gelar 'Master'. Tapi di Bali, orang-orang—terutama wisatawan asing—ndak nyari orang berjas," ujar Mamat penuh analisis. "Mereka nyari 'kearifan lokal', kesederhanaan, sama vibe menyatu dengan alam. Jadi, kita ndak bakal pakai nama Master Mamat lagi."
Mamat mematikan puntung rokoknya di aspal saat mobil berhenti sempurna di kawasan Ubud.
"Mulai hari ini," tegas Mamat sambil menatap dua sahabatnya, "panggil aku Guru Mamatya. Kita bakal buka Ancient Bio-Spiritual Healing Retreat!"
Dengan modal uang tunai tiga ratus juta rupiah di tangan, Mamat bergerak cepat. Ia tidak menyewa apartemen mewah atau ruko di pinggir jalan raya. Menggunakan otak kelicikannya yang diasah di jalanan, Mamat menyewa sebuah rumah panggung kayu tua yang dikelilingi pohon bambu dan gemericik alur sungai kecil di pinggiran Ubud.
Sewa tempat itu cukup murah karena pemilik aslinya menganggap rumah tua tersebut agak angker. Namun di tangan Bowo dan Darto, dalam waktu tiga hari, rumah kayu kusam itu bertransformasi total!
Bowo mengecat dinding kayu dengan warna cokelat hangat, memasang tirai-tirai kain katun putih tipis yang berkibar lembut saat tertiup angin, serta menata batu-batu kali bundar di sekitar teras. Darto bertugas membeli puluhan mangkuk kuningan, dupa aromaterapi rasa kayu cendana murni, dan karpet jerami tenun tangan.
Di sudut ruangan utama, Mamat tidak lagi memajang Keris Bengkok Brajamukti yang sudah ditinggalkannya di Jakarta. Sebagai gantinya, ia meletakkan sebuah batu kali hitam polos berukuran sebesar telapak tangan yang ditemukannya di pinggir sungai belakang rumah. Batu itu dicuci bersih, diolesi minyak kelapa murni, dan diberi nama gagah: Batu Energi Harmony Nusantara.
Mamat sendiri merubah penampilannya secara dramatis. Ia membiarkan rambutnya sedikit berantakan natural, mengenakan kemeja katun longgar berwarna putih polos tanpa kancing, celana kain longgar, serta kalung biji rudraksha di lehernya. Penampilannya kini benar-benar menyerupai seorang pertapa spiritual yang telah menyatu dengan alam gaib dan alam semesta.
Darto bertugas di depan laptop murahnya, membuat situs web sederhana dan akun media sosial berkonsep aesthetic dengan nama "Mamatya Healing Sanctuary".
"To," perintah Mamat sambil duduk bersila di atas karpet jerami. "Tulis di iklannya pakai bahasa Inggris pas-pasan ndak apa-apa, yang penting ada kata-kata Inner Peace, Chakra Release, Karma Detox, dan Ancient Javanese Energy. Pasang tarif limaratus dolar AS per sesi satu jam!"
Darto menelan ludah. "L-Limaratus dolar?! Itu kan hampir delapan juta rupiah per jam, Mat! Bule beneran mau bayar segitu cuma buat duduk di atas karpet jerami ini?!"
"Bule itu makin mahal harganya, makin yakin kalau tempatnya berkualitas, To," jawab Mamat santai. "Percaya sama aku!"
Strategi Mamat terbukti lagi-lagi sangat jitu.
Hanya dua hari setelah iklan daringnya tayang, seorang wanita berkebangsaan Australia bernama Sarah menjadi klien pertama yang melangkah menembus rimbunnya hutan bambu menuju pondok kayu Mamat. Sarah adalah seorang pengusaha kafe di Seminyak yang sedang mengalami tingkat stres berat akibat depresi pasca-perceraian dan masalah finansial.
Sarah melangkah masuk ke dalam pondok dengan raut muka lelah, matanya sembab, dan napasnya memburu kencang.
Darto yang mengenakan pakaian serba putih menyambutnya dengan senyuman ramah dan membungkuk hormat. "Welcome to Mamatya Sanctuary, Miss Sarah. Guru Mamatya is waiting for you inside."
Sarah mengangguk pelan, membuka sepatunya, lalu melangkah masuk ke ruangan utama yang temaram oleh pendaran lilin dan wangi aroma terapi cendana.
Di tengah ruangan, Mamat duduk memejamkan mata di atas karpet jerami dengan posisi lotus sempurna. Batu kali hitam memantulkan pendaran cahaya lilin di hadapannya.
"Please sit, Sarah..." panggil Mamat dengan nada suara sangat dalam, pelan, dan menggunakan aksen bahasa Inggris rakitan yang sangat meyakinkan.
Sarah duduk berlutut di hadapan Mamat. "Guru... I feel so heavy. My chest feels tight, and my mind won't stop racing. Can your ancient energy help me?"
Mamat membuka matanya perlahan. Ia tidak langsung menjawab. Ia sengaja menatap mata Sarah selama sepuluh detik penuh tanpa mengedip—sebuah trik "Intensive Eye-Contact" yang pernah dibacanya untuk menciptakan dominasi psikologis dan rasa percaya seketika.
"Your soul is not sick, Sarah," bisik Mamat dengan nada sangat lembut. "Your soul is just carrying too much garbage from the past. You hold too much anger toward your ex-husband, yes?"
Sarah seketika terperanjat! Matanya membelalak lebar, dan air mata langsung menetes membashi pipinya! "Oh my God... How do you know that?!"
Mamat tersenyum misterius dalam hati. Ya jelas tahu, wong di form pendaftaran online tadi kamu sendiri yang nulis masalah perceraianmu, batin Mamat tertawa licik.
"I can feel your aura frequency," dusta Mamat tanpa kedip. "Now, we will do the 'Karma Detox'."
Mamat meraih Batu Energi Harmony dari meja, lalu meletakkannya tepat di atas telapak tangan Sarah yang bergetar. Mamat kemudian memegang kedua pundak wanita itu, meraba titik-titik saraf ketegangan di leher belakangnya—teknik pijat refleksi sederhana yang pernah diajarkan almarhum kakeknya di kampung.
"Close your eyes, Sarah. Take a deep breath..." perintah Mamat lembut. "When I say 'RELEASE', scream as loud as you can and throw all your anger into this batu!"
Mamat menekan titik saraf leher Sarah dengan ritme khusus, membuat otot-otot wanita yang tegang itu mendadak lemas dan rileks secara dramatis!
"NOW! RELEASE!" teriak Mamat mantap.
"ARGHHHHHHH!" jerit Sarah sekuat tenaga di dalam ruangan panggung kayu itu! Ia meluapkan seluruh emosi terpendamnya, menangis histeris, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas karpet jerami dalam keadaan napas yang leganya luar biasa.
Setelah lima menit menangis lega, Sarah perlahan duduk kembali. Wajahnya yang tadinya kusam dan tegang kini tampak segar, cerah, dan penuh dengan rasa damai yang tak pernah dirasakannya selama berbulan-bulan.
"Oh my God, Guru Mamatya!" jerit Sarah takjub sambil memeluk Mamat erat-erat. "I feel so light! It's like a hundred kilograms of weight just lifted from my chest! You are an incredible healer!"
Tanpa ragu sedikit pun, Sarah merogoh tas mewahnya dan mengeluarkan uang tunai seribu dolar AS—dua kali lipat dari tarif awal!
"This is for you, Guru! And I will tell all my expat friends in Canggu and Seminyak to come here!" seru Sarah penuh kegirangan sebelum melangkah keluar pondok dengan wajah berseri-seri.
Di balik tirai kayu, Darto dan Bowo menyaksikan transaksi itu dengan mulut menganga lebar!
"Jancuk, Mat!" bisik Darto gemetar memegang lembaran uang dolar asli. "Cuma modal pijat leher sama suruh bule teriak, kamu dapat seribu dolar tunai?!"
Mamat merapikan kalung bijinya, menyunggingkan senyum serigala yang paling anggun. "Sudah tak bilang, To... Bule itu tidak butuh mantra gaib. Mereka cuma butuh pelepasan emosi dan orang yang mau mendengarkan masalah mereka tanpa menghakimi!"
Rekomendasi dari mulut ke mulut di kalangan komunitas warga asing (expat) di Bali bekerja lebih cepat daripada iklan media sosial mana pun.
Dalam waktu kurang dari satu bulan, Mamatya Healing Sanctuary menjadi tempat paling dicari dan paling tren di kawasan Ubud! Deretan mobil-mobil sewaan dan sepeda motor mewah milik wisatawan asing tampak terparkir rapi di dekat lorong hutan bambu setiap harinya.
Dari instruktur yoga asal Amerika, pengusaha kripto asal Eropa, hingga selebritas media sosial kelas dunia, semuanya antre dan rela mengantre berpekan-pekan hanya untuk mendapatkan sesi Karma Detox dan Mindset Realignment selama satu jam bersama Guru Mamatya!
Pondok kayu kusam di tengah hutan bambu itu kini dilengkapi dengan fasilitas mewah berkonsep alami: kolam rendam air hangat bertabur kelopak bunga mawar, ruang meditasi berlantai batu marmer alam, dan tempat minum teh herbal khusus racikan Bowo yang sebenarnya hanyalah rebusan jahe, sereh, dan madu lokal.
Pemasukan Mamat melonjak drastis hingga menembus angka ratusan ribu dolar AS per bulan! Uang tunai dolar dan rupiah menumpuk rapi di dalam brankas baja tersembunyi di bawah lantai panggung kayu.
Sore itu, Mamat sedang duduk santai di teras belakang pondoknya, memandangi pemandangan jurang sungai Ubud yang hijau memesona. Ia mengenakan jubah katun putih kualitas terbaik, memegang cangkir teh herbalnya sambil mengisap rokok murni tanpa filter.
Darto melangkah mendekat membawa tablet digital terbaru.
"Mat... eh, Guru Mamatya," panggil Darto sambil terkekeh. "Jadwal reservasi buat bulan depan sudah penuh total. Bahkan ada produsen acara dokumenter dari Inggris yang mau meliput tempat ini minggu depan!"
Mamat menyunggingkan senyum tipis. "Tolak peliputan dokumenter itu, To. Kita tidak boleh masuk media internasional atau TV lagi. Cukup bergerak secara eksklusif dan tertutup di antara lingkaran bule-bule kaya saja. Kita belajar dari kejadian di Jakarta kemarin."
"Siap, Guru!" sahut Darto mengerti betul trauma masa lalu mereka.
Namun, saat suasana rileks itu sedang dinikmati, Bowo berlari-lari kecil dari arah lorong depan dengan raut muka tegang bercampur panik!
"Mat! Mat! Gawat, Mat!" bisik Bowo setengah berbisik.
Mamat mengerutkan alisnya. "Ada apa, Bowo? Jangan panik gitu, bikin kotor aura tempat ini aja."
"Di luar... ada pasien baru yang baru datang naik taksi," kata Bowo dengan napas terengah-engah. "Aku tadi sempat ngintip wajahnya dari balik pagar bambu..."
"Siapa? Pengusaha dari Rusia lagi?" tanya Mamat santai.
Bowo menggelengkan kepalanya kencang-kencang. "Bukan, Mat! Yang turun dari taksi itu... Mbak Siska! Pasien pertama kita yang dari Semarang dulu!"
UKHKKK!
Mamat seketika tersedak teh herbalnya! Matanya melotot tajam menatap Bowo. "Mbak Siska?! Mbak Siska yang kita kasih minyak zaitun lima ribuan itu?!"
"Iya, Mat! Beneran Mbak Siska!" tegas Bowo. "Dia makin cantik, pakai baju liburan mahal, dan dia datang bawa tunangan barunya yang bule kaya! Dia mendaftar mau minta 'Penyelarasan Aura Pernikahan' sama Guru Mamatya!"
Mamat memegang dahinya yang mendadak pusing luar biasa. Trik penipuannya di Semarang kini datang mengetuk pintu tempat persembunyian mewahnya di Bali!
Pikiran Mamat memutar cepat seluruh opsi bertahan hidup. Jika ia menolak menemui Mbak Siska, wanita itu bisa curiga dan membuat kekacauan di depan puluhan bule yang sedang antre di ruang tunggu. Namun jika ia menemuinya, rahasia identitasnya sebagai "Mamat si Dukun Semarang" bisa terbongkar seketika di hadapan calon suaminya!
Mamat menarik napas panjang, menenangkan gelombang otaknya. Ia mengenakan kacamata berbingkai kayunya, merapikan jubah putihnya, lalu berdiri mantap.
"Darto, Bowo... Tetap tenang," perintah Mamat penuh percaya diri. "Bawa Mbak Siska sama tunangan bulenya ke ruang konsultasi khusus VIP. Biar aku yang hadapi."
Beberapa menit kemudian, di dalam ruangan khusus berkorden kain linen putih yang harum aroma kayu cendana, Mbak Siska duduk berdampingan dengan seorang pria bule bertubuh tinggi besar berwajah tampan bernama Tom.
Saat Mamat melangkah masuk dengan gaya anggun ala Guru Mamatya, mata Mbak Siska seketika membelalak lebar! Wanita itu melompat berdiri dari karpet jeraminya!
"K-KANG MAMAT?!" jerit Mbak Siska terperanjat kaget setengah mati!
Mamat tidak mencoba lari atau bersembunyi. Ia justru tersenyum sangat teduh, mengatupkan kedua telapak tangannya di dada, lalu membungkuk hormat dengan sangat tenang.
"Om Swastiastu... Selamat datang di tempat kami, Mbak Siska," sapa Mamat dengan suara yang teramat menenangkan.
Mbak Siska menunjuk Mamat dengan jari bergetar. "K-Kang Mamat yang dulu di Gang Pinggir Semarang kan?! Yang kasih saya Minyak Penyelaras Brajamukti?! Kok bisa Kang Mamat ada di sini jadi Guru Spiritual Bali?!"
Tom, tunangan bulenya, memandang calon istrinya dengan bingung. "Honey, do you already know this Guru?"
Mamat duduk bersila di hadapan mereka berdua dengan sikap yang sangat tenang dan penuh wibawa.
"Mbak Siska..." kata Mamat pelan. "Energi semesta membawa Mbak Siska kembali bertemu dengan saya di sini. Minyak yang saya berikan di Semarang dulu... apakah memberikan keberkahan untuk hidupmu?"
Mbak Siska mendadak terdiam. Amarah dan rasa kaget di wajahnya perlahan-lahan luntur, berganti dengan senyuman haru yang tulus.
"Kang Mamat..." kata Mbak Siska dengan suara bergetar gembira. "Nasihat Kang Mamat waktu di Semarang benar-benar merubah hidup saya! Setelah saya memutus hubungan sama mantan saya yang toxic, saya jadi lebih menghargai diri saya sendiri, saya makin percaya diri di tempat kerja, sampai akhirnya saya ketemu sama Tom di Bali lima bulan lalu!"
Mbak Siska menggenggam tangan Tom erat-erat. "Saya ke sini sebenarnya cuma mau mengucapkan terima kasih banyak sama Kang Mamat... Eh, Guru Mamatya! Tanpa nasihat Kang Mamat waktu itu, saya mungkin masih nangis-nangis meratapi mantan saya!"
Mamat menahan napasnya yang tadi sempat tertahan di tenggorokan. ALHAMDULILLAH! JANCUKKK, SELAMAT AKU! jerit batin Mamat kegirangan tiada tara!
Mamat menyunggingkan senyum kebijaksanaannya yang paling sempurna.
"Minyak dan pusaka hanyalah sarana kecil, Mbak Siska," ujar Mamat berfilsafat indah. "Kekuatan sebenarnya ada di dalam keikhlasan hatimu sendiri untuk bangkit. Saya hanya membantu membukakan pintunya."
Mbak Siska meneteskan air mata bahagia, lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan amplop tebal berisi uang tunai sepuluh juta rupiah sebagai ucapan terima kasih ekstra untuk Mamat.
"Tolong terima ini sebagai mahar rasa syukur saya, Kang Mamat!" kata Mbak Siska mantap.
Malam harinya, setelah seluruh sesi konsultasi selesai dan suasana pondok kayu di tengah hutan bambu Ubud kembali hening di bawah pendaran cahaya bulan separuh.
Mamat, Darto, dan Bowo duduk bersama di teras belakang, menikmati hidangan seafood bakar kualitas terbaik dan es kelapa muda. Di meja mereka, tumpukan uang rupiah dan pecahan dolar AS menumpuk rapi dalam jumlah yang teramat banyak.
Darto mengisap rokoknya, memandangi langit malam Bali yang dipenuhi bintang-bintang.
"Mat..." kata Darto pelan. "Asli... aku masih ndak nyangka. Dari kita dikejar-kejar penagih utang pinjol lima ratus ribu di Kampung Kalisari, dikejar warga bawa pentungan, perang sama preman Semarang, sampai diusir dari Jakarta... sekarang kita malah jadi orang kaya terpandang di Bali."
Bowo ikut terkekeh sambil menyeruput es kelapanya. "Iyo, Mat. Ternyata kelicikanmu kalau dikemas pakai niat memberikan ketenangan jiwa ke orang lain, hasilnya malah bikin orang-orang itu beneran bahagia!"
Mamat melepaskan kacamata kayunya, memandangi gemericik air sungai di bawah panggung kayunya. Ia tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh kedewasaan dari seorang mantan penipu jalanan yang telah menemukan tempatnya di dunia.
"Dunia ini aneh, To, Wo..." bisik Mamat pelan namun penuh makna. "Banyak orang pinter yang bikin orang lain makin stres dan bingung. Tapi kita... yang modalnya cuma analisis otak jalanan sama niat bertahan hidup, justru bisa ngasih harapan buat orang-orang yang kehilangan arah."
Mamat mengangkat gelas kelapa mudanya tinggi-tinggi ke udara, menyambut masa depannya yang baru di Tanah Dewata.
"Untuk hidup baru kita," ucap Mamat mantap. "Sebagai manusia yang tidak pernah berhenti belajar dari setiap kebohongan, demi menemukan kebahagiaan yang sejati."
"CHEERS!" teriak Darto dan Bowo serentak, menyatukan gelas mereka di bawah naungan malam Ubud yang damai, mengakhiri kisah komedi gila perjalanan Mamat sang dukun gadungan yang kini telah menemukan takdir terindah dalam hidupnya.