Judul Novel: TUMBAL 1000 NYAWA
Sinopsis:
Sekte ghaib Kala Hitam berniat membangkitkan sosok Penguasa Abadi yang haus darah. Untuk mewujudkannya, sekte ini menebar teror Sumpah Sewu—sebuah ritual kelam yang menuntut seribu tumbal nyawa manusia di tujuh cabang wilayah terisolasi di Pulau Jawa.
Arya, seorang pemuda wewaris kekuatan kuno Minyak Naga Sakti, mendapati takdirnya terikat pada ancaman besar ini. Didampingi oleh Baskara—ayahnya yang merupakan petarung veteran penuh trauma masa lalu, Mbak Sekar—seorang praktisi mystik senior, serta Kirana—putri pakar gaib yang dibekali rajah ular beracun, Arya memulai perjalanan berbahaya untuk memutus rantai sumpah terlarang tersebut.
Satu per satu jangkar ritual harus mereka hancurkan: mulai dari teror ilmu pelet di Desa Alas Mayit, ilusi ingatan Pasang Tuwuh di Hutan Kelabu Gunung Lawu, gending nyanyian kematian Langgam Sukma di Lembah Rawa Bangkai, hingga kekejaman tempaan pusaka jiwa di Kawah Candradimuka. Baca untuk melanjutkan nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banjoriuga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Bayangan Kala Hitam
Dentang lonceng perunggu dari arah balai desa terus bergema membelah udara pagi, mengirimkan gelombang getaran dingin yang membuat bulu kuduk Arya berdiri tegak. Suara itu bukan dentang kayu biasa, melainkan gema logam tua yang dilapisi mantra penganggil jiwa. Setiap kali gema lonceng menyengat udara, ukiran rajah hitam di gagang belati perunggu milik Arya bergetar hebat, seolah-olah besi tua itu merespons panggilan dari pemilik sebenarnya.
Baskara menyeka darah kering di bibirnya seraya menatap tajam ke arah asap hitam tebal yang mendadak membumbung dari tengah pemukiman Desa Alas Mayit. "Sumpah ini belum sepenuhnya padam, Arya. Kakekmu hanyalah penjaga wadah di puncak bukit. Pemimpin sebenarnya dari sekte Kala Hitam—Mbah Jarwo—masih hidup dan menunggu di balai desa."
Mbak Sekar yang bersandar pada dinding tebing mengangguk lemah, tangannya yang gemetar menunjuk ke arah jalan setapak menuju lembah. "Jarwo adalah orang yang menyusun teks perjanjian Sumpah Sewu enam puluh tahun lalu. Dia yang menyimpan buku catat nama-nama calon tumbal... Jika buku itu tidak dibakar, dia bisa menggunakan sisa darah warga untuk memanggil kembali raksasa Sumur Bangkai dari dasar bumi."
Arya mengepalkan jemarinya, merasakan hawa es yang memancar dari belati perunggu. "Kalau begitu, kita selesaikan semuanya di balai desa. Tidak ada lagi jiwa yang boleh dikorbankan di tanah ini."
Dengan memapah Mbak Sekar di antara mereka, Arya dan Baskara melangkah cepat menuruni bukit, menembus kabut tipis yang menyelimuti perkebunan jati. Suasana desa yang mereka lalui tampak mencekam. Rumah-rumah panggung warga tertutup rapat, pintu dan jendelanya disilasi menggunakan kain mori hitam. Di sepanjang jalan desa, tidak ada satu pun warga yang berani keluar; hanya aroma kamboja bakar dan asap belerang yang memenuhi lorong-lorong sempit.
Saat mereka tiba di pelataran Balai Desa Alas Mayit, pemandangan di depan mata membuat dada Arya bergemuruh kencang. Di tengah halaman yang berdebu, belasan warga desa berdiri mematung dalam kondisi terhipnotis. Mata mereka memutih tanpa pupil, sementara leher mereka dililit oleh tali kain mori hitam yang terhubung ke sebuah tiang kayu raksasa di tengah pelataran.
Di atas panggung balai desa, duduk seorang pria tua berjanggut putih panjang dengan pakaian serba hitam. Tangannya memegang sebuah kitab tebal bersampul kulit kerbau yang menghitam, sementara di sampingnya berdiri lonceng perunggu raksasa yang terus bergetar tanpa ada yang memukulnya.
Pria tua itu mendongak, menyeringai memperlihatkan giginya yang rata berwarna kehitaman akibat kunyahan pinang beracun.
"Selamat datang kembali, Baskara... dan selamat datang, cucu penumpas sumpah," suara Mbah Jarwo bergema renyah, mengandung getaran ghaib yang membuat tanah di sekitar pelataran bergetar ringan. "Kalian pikir dengan meruntuhkan batu di bukit, perjanjian seribu nyawa ini batal? Kalian hanya mengalirkan sungai darah itu lurus ke halaman rumahku sendiri."
Mbah Jarwo mengangkat kitab kulit kerbau itu tinggi-tinggi, lalu menggoreskan kuku jempolnya hingga darah menetes menimpa lembaran kusam di dalamnya. Seketika itu pula, belasan warga desa yang terikat kain mori meraung serempak, menatap Arya dengan pandangan kosong yang dipenuhi kehausan darah.
Raungan serempak dari belasan warga desa yang terhipnotis menggetarkan udara pagi di halaman balai desa, menciptakan aura mencekam yang mematahkan keheningan. Mata mereka yang memutih tanpa pupil menatap lurus ke arah Arya dengan pancaran kebencian gaib, sementara jemari-jemari mereka mencengkeram kain mori hitam yang melilit leher masing-masing. Setiap kali Mbah Jarwo meneteskan darah di atas kitab kulit kerbau, tali-tali mori itu menegang kencang, mencekik pernapasan para warga hingga wajah mereka membiru tersiksa.
"Jarwo! Lepaskan warga desa!" teriak Baskara dengan suara serak namun lantang, melangkah maju dua tapak di depan Arya seraya pasang badan. "Perjanjian tanah ini sudah hancur bersama Sumur Bangkai! Kau tidak punya hak lagi atas jiwa mereka!"
Mbah Jarwo tertawa kaku—suara tawa melengking yang keluar dari tenggorokan lapuknya seperti gesekan dua bilah besi berkarat. "Hak? Perjanjian ini tidak diikat oleh batu atau sumur, Baskara! Perjanjian ini diikat oleh nama-nama yang tertulis di dalam kitab ini! Selama lembaran kulit kerbau ini belum digenang darah keturunan murni, sembilan ratus sembilan puluh delapan jiwa yang mati akan terus menuntut penyelesaian!"
Arya mengangkat belati perunggu yang kian membeku di genggamannya. Hawa es dari senjata tua itu kini merambat naik hingga ke siku tangannya, namun rasa dingin itu justru mempertajam fokus dan amarah di dadanya. "Nama-nama itu hanya tumpukan kertas tua, Jarwo! Jika darah keturunan murni yang kau butuhkan untuk menutup kitab itu, maka hadapi aku!"
"Sombong sekali kau, bocah!" desis Mbah Jarwo.
Ia mendadak menghentakkan tongkat kayunya ke lantai panggung kayu. Seketika itu pula, belasan warga yang terikat tali mori hitam bergerak serempak seperti boneka kayu yang digerakkan benang gaib. Mereka menerjang maju menyerbu Arya dan Baskara dengan gerakan kaku namun mematikan, membawa sabit, cangkul, dan kayu tajam yang mereka genggam erat.
"Jangan lukai mereka, Arya! Mereka hanya dimanfaatkan!" jerit Mbak Sekar dari samping seraya melemparkan serbuk beras kuning berajah ke udara untuk menahan laju serbuan warga.
Arya mengangguk cepat. Ia memutar belati perunggu di tangannya, memanfaatkan bagian gagang tumpul senjata itu untuk menghantam pergelangan tangan warga yang mengayunkan sabit. Hantaman keras dari gagang belati memicu getaran listrik dingin yang seketika melumpuhkan saraf lengan lawan, memaksa senjata tajam mereka terlempar jatuh ke tanah.
Sementara Baskara menahan gempuran tiga warga menggunakan sisa rantai besinya tanpa melukai mereka, Arya meloncat melompati tumpukan kayu panggung, mendarat tepat tiga langkah di depan Mbah Jarwo. Belati perunggu di tangannya diayunkan lurus menargetkan kitab kulit kerbau di tangan sang tetua sekte.
TRANG!
Tongkat kayu Mbah Jarwo memancarkan pendar hitam pekat, menangkis sabetan belati Arya dengan kekuatan luar biasa yang melempar Arya mundur dua langkah. Mbah Jarwo menyeringai lebar, lalu menggoreskan ujung tongkatnya tepat ke dada Arya, meninggalkan luka bakar hitam yang mengeluarkannya aroma belerang menyengat.
"Darahmu sudah menyentuh panggungku, Arya!" raung Mbah Jarwo seraya membentangkan kitabnya lebar-lebar. "Sekarang, saksikan lah bagaimana nama terakhir diukir dengan nyawamu sendiri!"
mampir juga diceritaku yah😊