Update 5 bab dijam yang sama 12.00 WIB.
Vano Andrian, seorang aktor muda berbakat yang baru berusia dua puluh satu tahun, tewas tragis setelah meminum air beracun yang diberikan oleh kru setianya. Kematian akibat pengkhianatan itu membawanya melintasi dimensi ke Benua Dewa.
Di dunia kultivasi tersebut, jiwanya merasuki tubuh Gu Yan-Zhi, seorang pemuda lemah yang baru saja dibantai oleh sepupunya sendiri. Terperangkap dalam raga asing dengan Dantian yang tersegel rapat, Vano harus bangkit melawan takdir kejam. Berbekal insting tempur modern dan aliansi tak terduga dengan makhluk mitos, akankah Vano menuntut balas atas penderitaan Gu Yan-Zhi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Penusukan Bayangan dan Gerbang Belakang Klan Gu
Malam di Kota Awan Berkabut turun dengan selimut kabut kelam yang pekat, menelan hiruk-pikuk pasar malam dan menyisakan kesunyian dingin di distrik kediaman para bangsawan. Di sebuah gang sempit yang terletak di bagian belakang kompleks kediaman utama Klan Gu, tiga ekor bayangan bergerak tanpa suara bagai hantu di tengah kegelapan.
Gu Yan-Zhi melangkah paling depan dengan jubah hitam yang tudungnya ditarik rendah menutupi wajah. Di bahu kanannya, Hu Yijie melingkar tenang, wujudnya yang menyamar sebagai anak anjing putih lebat tidak sedikit pun menarik perhatian mata-mata klan yang berjaga di pos-pos luar. Di belakang mereka, Gu Chen mengikuti dengan langkah hati-hati, memegang kendali tali kekang kuda yang dibungkus kain agar derap kukunya tidak memecah keheningan malam.
"Berhenti di sini," bisik Gu Yan-Zhi pelan, mengangkat tangan kanannya memberi aba-aba.
Mereka bersembunyi di balik dinding batu tinggi yang mengelilingi kebun belakang Klan Gu. Di balik dinding tersebut terletak sebuah pintu kecil yang biasanya hanya digunakan oleh para pelayan rendahan untuk membuang limbah dapur atau membawa kayu bakar—sebuah jalur masuk yang tidak pernah dijaga ketat oleh para ksatria pengawal klan karena dianggap remeh.
Gu Chen menelan ludahnya susah payah, matanya menyapu sekeliling dengan penuh kewaspadaan. "Tuan muda, pintu belakang ini memang jarang dilalui para pengawal utama, tapi formasi pelindung kecil Qi di sekitar gerbang biasanya diaktifkan setiap pukul sembilan malam. Kita tidak punya token akses resmi. Jika kita memaksa menerobos secara kasar, getaran energinya akan langsung memicu lonceng peringatan di aula utama."
Mendengar penjelasan itu, Gu Yan-Zhi tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Ia tersenyum tipis di balik kegelapan. Sebagai seseorang yang terbiasa memecahkan teka-teki logika paling rumit di dunia lamanya dan kini memegang warisan teknik dewa, formasi tingkat rendah buatan klan rendahan bukanlah rintangan yang tidak bisa diatasi.
"Formasi pelindung di tempat seperti ini dipasang dengan pola standar berenergi lima elemen dasar," ucap Gu Yan-Zhi tenang, matanya memancarkan pendar keemasan samar saat ia mengamati aliran Qi transparan yang berdenyut lemah di sekitar kusen pintu kayu tua tersebut. "Titik lemahnya bukan di bagian tengah atau atas, melainkan pada batu tumpuan sudut kiri bawah—tempat elemen tanah dan air bersinggungan secara tidak seimbang."
Tanpa membuang waktu, Gu Yan-Zhi mengangkat jari telunjuknya, menyalurkan setitik energi Qi murni ke ujung jarinya, lalu mengetuk dengan presisi tinggi tepat pada titik yang ia sebutkan.
Tap.
Sebuah suara getaran halus terdengar sesaat. Garis-garis cahaya transparan yang tadinya berpendar menghalangi pintu seketika berkedip-kedip tidak beraturan, lalu melebur dan lenyap tanpa menimbulkan suara bising sedikit pun. Pintu kecil itu terbuka sedikit saat ditiup angin malam.
Gu Chen membelalakkan matanya tak percaya. Ia tahu persis bahwa untuk membobol formasi pertahanan klan, seseorang biasanya membutuhkan batu token khusus atau kekuatan kultivasi tingkat lanjut yang jauh melampaui batas anak muda seusia Gu Yan-Zhi. Namun, tuannya melakukannya hanya dengan satu ketukan jari yang elegan dan tanpa suara.
Tuan muda benar-benar telah berubah... Dia bukan lagi Gu Yan-Zhi yang dulu sering diinjak-injak, batin Gu Chen penuh kekaguman bercampur rasa hormat yang semakin mendalam.
"Masuk," perintah Gu Yan-Zhi singkat.
Mereka bertiga menyelinap masuk ke dalam area halaman belakang Klan Gu. Suasana di dalam kompleks tampak lengang, diselingi oleh suara tiupan angin malam yang menggoyang dahan-dahan pohon bambu di sepanjang koridor. Sebagian besar penjaga elit klan malam ini dikonsentrasikan di halaman depan dan paviliun utama untuk mengawal persiapan pertunangan paksa antara Gu Ruoxi dan pihak Klan Bai yang dijadwalkan lusa.
Mereka bergerak menyusuri lorong-lorong sepi menuju paviliun barat—tempat terpencil di mana Gu Chen dulunya tinggal sekaligus tempat rahasia di mana mendiang ibu Gu Yan-Zhi menyimpan catatan medis serta peninggalan pusaka keluarga.
Namun, baru saja mereka melewati koridor bayangan di dekat gudang obat klan, suara langkah kaki berat dan percakapan samar terdengar mendekat dari arah tikungan depan.
"Cepat pastikan persediaan Pil Pemecah Jiwa di gudang ini diperiksa ulang! Penatua Kedua berpesan agar tidak ada satu pun barang yang tersisa untuk paviliun barat," suara seorang pengawal paruh baya terdengar arogan.
Gu Yan-Zhi memberi isyarat tangan. Dalam sepersekian detik, ia melompat ringan ke atas balok atap koridor kayu, menarik Gu Chen bersamanya untuk bersembunyi di dalam bayangan gelap gulita di balik bubungan atap, sementara Hu Yijie meringkuk diam tanpa mengeluarkan suara di bahunya.
Dua orang pengawal Klan Gu berjalan melintas di bawah mereka, membawa obor bernyala terang sambil mengobrol santai.
"Hei, kau dengar kabar tentang pemuda sampah Gu Yan-Zhi itu?" ujar pengawal pertama sambil tertawa kecil. "Katanya dia mati secara mengenaskan dicabik binatang buas di Hutan Larangan setelah dihajar habis-habisan oleh Tuan Muda Gu Tianlang."
"Hahaha! Baguslah kalau dia mati. Keberadaannya selama ini hanya memalukan nama klan kita saja. Anak dari selir rendahan yang tidak berguna. Lagi pula, sekarang Tuan Muda Gu Tianlang adalah calon pewaris tunggal mutlak. Tidak ada lagi yang bisa menghalangi jalannya," sahut pengawal kedua dengan nada meremehkan.
Di atas bubungan atap, tangan Gu Yan-Zhi yang berada di dalam lipatan jubahnya mengepal erat hingga buku-buku jarinya berderak pelan. Kilatan amarah yang dingin melintas di sepasang matanya. Namun, ia menahan diri; emosi sesaat bukanlah cara seorang Jenderal Langit untuk menyelesaikan masalah besar. Waktu pembalasan yang sesungguhnya akan segera tiba, dan itu jauh lebih mengerikan daripada sekadar membunuh dua pengawal rendahan di lorong gelap.
Setelah kedua pengawal itu berlalu dan suara langkah kaki mereka menghilang di kejauhan, Gu Yan-Zhi turun dengan anggun kembali ke atas tanah, diikuti oleh Gu Chen.
"Mari kita lanjutkan," ucap Gu Yan-Zhi datar. "Sebelum kita menemui Gu Tianlang dan para penatua di aula utama, kita harus mengambil sesuatu yang memang menjadi hak milik kita di paviliun barat."
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah bangunan tua berlantai satu yang tampak tak terawat di sudut paling barat kompleks Klan Gu. Cat dindingnya mengelupas, dan halamannya dipenuhi rumput liar. Itu adalah tempat tinggal Gu Yan-Zhi sebelum ia diseret ke ruang bawah tanah beberapa hari lalu.
Begitu pintu bobrok itu dibuka, bau debu dan kertas kuno langsung menyambut indra penciuman mereka. Gu Yan-Zhi menyalakan sebatang lilin kecil di atas meja kayu lapuk, menerangi ruangan sempit tersebut.
Di sudut ruangan, di bawah lantai papan kayu yang longgar, Gu Yan-Zhi meraba permukaan lantai hingga menemukan sebuah kotak kayu hitam berukir pola naga kecil yang terkunci rapat dengan mekanisme segel spiritual kuno.
"Kotak ini..." gumam Gu Chen terkejut melihat benda tersebut. "Selama ini Penatua Kedua dan Gu Tianlang mencari ke seluruh penjuru ruangan untuk menemukan kotak warisan mendiang ibunda Anda, tapi mereka tidak pernah menemukannya karena mengira sudah dihancurkan!"
Gu Yan-Zhi tersenyum tipis. Ia meneteskan sedikit darah segar dari ujung jarinya ke atas ukiran pola naga di kotak tersebut. Sesuai dengan garis keturunan darah yang sah, kotak itu langsung memancarkan pendar cahaya keemasan redup, dan klik!—mekanisme kuncinya terbuka dengan sendirinya.
Di dalam kotak tersebut, tersimpan sebuah gulungan manuskrip kuno bercorak perak serta sebuah pil obat berbentuk mutiara putih yang memancarkan aroma wangi menyegarkan ke seluruh ruangan—Pil Pembersih Sumsum Dewa.
Gu Yan-Zhi mengambil gulungan manuskrip tersebut, membukanya perlahan, dan sepasang matanya langsung membelalak takjub saat membaca barisan aksara kuno yang tertulis di dalamnya. Gulungan itu bukan sekadar catatan biasa, melainkan sambungan lanjutan dari teknik Kitab Pembalik Langit yang jauh lebih tinggi—teknik kultivasi tingkat lanjut yang memungkinkan penggunanya memanipulasi elemen ruang dan waktu dalam skala kecil.
"Luar biasa..." bisik Gu Yan-Zhi kagum.
Hu Yijie, yang duduk di atas meja di sebelah lilin, mendengus pelan sambil mengibaskan ekornya, seolah-olah mengonfirmasi bahwa warisan itu memang ditakdirkan untuk tuannya.
"Gu Chen," panggil Gu Yan-Zhi sambil menutup kotak itu kembali dan menyimpannya ke dalam jubahnya.
"Ya, Tuan muda?" jawab Gu Chen cepat.
"Mulai malam ini, permainan sebenarnya di Klan Gu resmi dimulai. Besok pagi, kita akan mendatangi aula pertemuan klan bertepatan dengan rapat pleno para penatua," ucap Gu Yan-Zhi dengan senyuman dingin yang mematikan. "Katakan pada mereka... sang Jenderal Langit telah kembali untuk menagih takhta yang selama ini dirampas."