Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.
Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.
Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Ricardo terdiam, kepalanya sedikit berpaling akibat tamparan tersebut, tetapi ia tidak segera bereaksi. Beberapa detik kemudian, ia perlahan mengusap pipinya.
Amerda berdiri dengan dada naik turun.
"Beraninya kamu mengatakan hal seperti itu kepadaku!" bentaknya. "Aku istrimu, Mas Ricardo! Aku perempuan yang sekarang tinggal bersamamu, yang membawa nama keluarga Dominic, dan yang seharusnya kamu hormati!"
Ricardo kembali menatapnya. Tatapan laki-laki itu tampak kosong, tetapi kata-kata yang keluar dari mulutnya justru menghantam harga diri Amerda.
"Jangan terlalu bangga menjadi istriku, Amerda."
Amerda mengerutkan kening, "Apa maksudmu?"
Ricardo tertawa kecil, lalu menyandarkan tubuhnya kembali ke sofa.
"Kamu tau kenapa aku menerima pernikahan ini?"
"Karena aku menggantikan Gia ketika dia menghilang!" jawab Amerda ketus. "Kalau bukan karena aku, keluarga kita akan dipermalukan di hadapan semua orang!"
"Benar, kamu memang benar." Ricardo mengangguk pelan.
"Kamu menggantikannya." Ia menatap Amerda lekat-lekat.
"Tapi jangan pernah menganggap dirimu sebagai perempuan yang ku pilih."
Wajah Amerda langsung kehilangan warna. Ricardo melanjutkan tanpa memedulikan perubahan ekspresi istrinya.
"Sejak awal, aku menginginkan Gia. Aku sudah mengenalnya, sudah membayangkan kehidupan kami setelah menikah, dan sudah menunggu hari ketika dia akan menjadi istriku." Ia terdiam sejenak, kemudian tersenyum getir.
"Lalu, pada hari pernikahan kami, dia menghilang. Dan kamu datang menggantikannya."
Amerda merasakan dadanya sesak oleh amarah.
"Jadi, selama ini kamu menganggapku tidak lebih dari pengganti?"
Ricardo tidak menjawab. Namun, diamnya justru terasa seperti pengakuan. Amerda tertawa sinis, berusaha menyembunyikan rasa sakit yang menyusup ke dalam hatinya.
"Bagus sekali, aku sudah menjadi istrimu, tetapi yang kamu pikirkan masih perempuan lain. Apa kamu tidak merasa malu?"
Ricardo memejamkan mata, "Aku hanya ingin Gia kembali."
"Diam!" Suara Amerda meninggi.
Ia meraih gelas kosong di atas meja, lalu meletakkannya kembali dengan keras.
"Jangan pernah menyebut nama Gia lagi di hadapanku!"
Ricardo membuka matanya dan menatapnya malas.
"Kamu tidak berhak melarangku."
"Aku istrimu!"
"Gia adalah perempuan yang ku cintai."
Kalimat itu membuat Amerda terdiam. Wanita itu hanya bisa menatap laki-laki yang telah menjadi suaminya itu dengan perasaan campur aduk. Ia ingin kembali menamparnya, ingin berteriak sampai Ricardo menyadari bahwa perempuan yang berdiri di hadapannya bukanlah orang yang bisa diperlakukan sesuka hati. Namun, lebih dari segalanya, ia membenci kenyataan bahwa Ricardo masih menyimpan tempat bagi Gia di dalam hatinya. Bahkan setelah Gia menghilang dan setelah dirinya menjadi istri laki-laki itu. Bahkan ketika mereka tinggal di bawah atap yang sama.
"Kalau begitu, kenapa kamu menikah denganku?" tanya Amerda akhirnya. Suaranya bergetar menahan amarah. "Kalau yang kamu inginkan hanya Gia, kenapa kamu tidak menolak pernikahan ini? Kenapa kamu membiarkan aku menjadi istrimu?"
Ricardo terdiam cukup lama. Kemudian, ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
"Karena keluarga kita tidak bisa dipermalukan."
Amerda tertawa hambar.
"Jadi, aku menikahimu demi menyelamatkan kehormatan keluarga, sementara kamu tetap memikirkan perempuan yang lain?"
Ricardo mengangkat bahu.
"Aku tidak pernah memintamu menggantikan Gia."
Amerda merasa seolah-olah baru saja ditampar untuk kedua kalinya.
"Kamu—"
"Keluarga kita yang memutuskan semuanya," potong Ricardo. "Ayahku, ayahmu, dan semua orang yang menganggap pernikahan ini sebagai solusi. Kamu bersedia menggantikannya, dan aku menerimanya karena tidak ada pilihan lain."
Ricardo menatapnya dengan mata setengah terpejam.
"Jadi, jangan salahkan aku jika sampai sekarang aku belum bisa mencintaimu."
Amerda mengepalkan tangannya begitu erat hingga kukunya menekan telapak tangan. Ia ingin membantah. Ia ingin mengatakan bahwa Ricardo seharusnya bersyukur karena dirinya bersedia menikah dengannya setelah Gia menghilang. Namun, ia tahu laki-laki itu tidak akan peduli. Bagi Ricardo, dirinya hanyalah perempuan yang berdiri di tempat yang seharusnya ditempati Gia, dan kenyataan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang ingin diakuinya.
"Keluar dari kamarku!" bentak Amerda.
Ricardo menatapnya sebentar.
"Aku sedang tidak ingin bertengkar, dan ini kamar ku juga kalau kah lupa."
"Aku tidak peduli! Keluar!"
Ricardo menghela napas panjang, lalu berusaha bangkit dari sofa. Namun, tubuhnya yang mabuk membuat langkahnya goyah. Ia terpaksa berpegangan pada sandaran sofa sebelum akhirnya berdiri tegak. Amerda segera menyingkir, tidak ingin menyentuh laki-laki itu sedikit pun.
Ricardo berjalan menuju tempat tidur, bukannya keluar dari kamar seperti yang diperintahkan istrinya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, lalu menarik bantal untuk menopang kepala.
"Besok jangan ganggu aku," gumamnya.
Amerda menatapnya tidak percaya, "Ricardo!" meneriaki nama pria itu tanpa embel-embel Mas yang membuat panggilannya terdengar sopan.
Namun, laki-laki itu sudah memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, ia kembali bergumam dalam tidurnya.
"Gia...."
Amerda berdiri kaku di tempatnya. Air matanya nyaris jatuh, tetapi bukan karena patah hati semata. Ada sesuatu yang jauh lebih gelap tumbuh di dalam dirinya, dia membenci itu, membenci orang yang terus disebut oleh suaminya.
Amerda mengusap wajahnya kasar, lalu menatap Ricardo yang sudah terlelap.
"Dasar laki-laki bodoh," bisiknya.
Ia tidak akan membiarkan Ricardo terus memperlakukannya seperti ini. Ia akan membuat laki-laki itu menyadari bahwa dirinya bukan perempuan yang bisa diinjak-injak hanya karena ia mencintai orang lain. Namun, ketika pikirannya kembali mengarah kepada Gia, wajah Amerda perlahan berubah dingin. Terlebih setelah mengetahui bahwa anak buah Adam sedang mencarinya, ia tidak bisa lagi membiarkan Gia menjadi bagian dari persoalan yang belum selesai itu.
Amerda mengambil ponselnya dari meja, kemudian menatap layar yang memantulkan wajahnya sendiri.
"Gia, seharusnya kamu tidak pernah kembali ke dalam hidupku," gumamnya.
Jemarinya bergerak membuka daftar kontak. Ia kembali teringat percakapan dengan seseorang yang sebelumnya ia hubungi untuk membicarakan bukti kecelakaan itu. Mungkin sudah waktunya ia mengambil langkah yang lebih berani. Bukan hanya untuk melindungi dirinya dari Adam, tetapi juga untuk memastikan Gia tidak lagi menjadi penghalang dalam kehidupannya.
Amerda mematikan layar ponselnya, lalu menoleh sekali lagi ke arah Ricardo. Laki-laki itu masih tertidur sambil sesekali menyebut nama Gia. Senyum tipis yang penuh kepahitan muncul di bibir Amerda.
"Kalau kamu memang begitu mencintainya, Ricardo, mungkin kamu akan menyesal karena tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang terjadi pada hari pernikahan kalian." Ia berbalik dan melangkah menuju jendela.
ap Dy punya rencana sendri???