"Rin mau kemana? kenapa diam-diam membawa koper begitu?" Tanya Aga merasa curiga pada istrinya, mendadak istrinya pamit pergi, padahal dia baru saja pulang dari pasar. Arin diam saja dan tetap memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. "Rin aku nanya sama kamu? Kalau mau pergi, aku antar" "Tidak perlu mas, di dalam masih ada tamu" "Tamu Istimewa" Imbuh Arin dalam hati. Arin menyerah. Sejak kecil dia sudah mengabdi di keluarga suaminya karena mereka telah di jodohkan sejak kecil. Arin kira pengorbanan dan kesabarannya akan membuat suaminya luluh, namun dia salah. Suaminya bahkan membawa wanita idamannya ke dalam rumah. Arin sudah tidak tahu apa yang ingin dia pertahankan di rumah ini, bahkan setelah satu tahun menikah, tak sekalipun dia di sentuh. "Tunggu aku sebentar, keluarkan kopermu. Masukkan ke mobil ku, aku akan mengantarmu" Pinta Aga, namun Arin sudah mati rasa, dia langsung meminta supir melajukan mobilnya.Arin tak memperdulikan Aga yang berteriak sambil berlari mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Aku tidak tahu ingin ke mana, jadi Dewa membawaku ke rumahnya. Aku tidak lagi menangis, aku sudah lebih tenang dari sebelumnya. Aku sampai di rumah Dewa saat hari sudah petang. Aku begitu terkejut melihat rumahnya. Tidak ada satu orang pun di rumah ini, atau mungkin semua sudah istirahat.
Dewa membawakan koper ku, hal kecil yang sama sekali tidak pernah di lakukan Mas Aga. Aku merasa aman ada di sampingnya meski dia bukan seorang Letnan.
Rumah Dewa sangat besar,aku bahkan belum pernah melihat rumah sebesar ini, tak ku sangka ternyata Dewa bukan orang biasa.
Rumah ini sangat luas, ruang tamu di rumah ini saja hampir seluas toko kue kami, nuansa putih di rumah ini benar-benar membuat rumah ini nampak mewah. Aku menatap satu persatu isi rumah ini, namun mata ku berhenti di satu tempat.
Sebuah foto yang di bingkai begitu besar di ruang itu. Dewa ikut berhenti memandangi foto itu juga.
"Bagus kan?"
"Dari mana kamu dapat foto itu?" tanya ku. Di sana terpajang foto masa remaja ku saat memakai seragam SMP. Aku tengah tersenyum menatap kupu-kupu yang baru saja keluar dari kepompongnya.
"Mama yang ambil, dia fotografer. Dia suka memotret sesuatu yang menurutnya indah, saat itu hari kelulusan, aku juga terkejut mama dapat foto kamu, jadi aku minta di besarkan"
Aku tersenyum kecil, dulu itu adalah awal dari kebencian Aga, Malam setelah hari kelulusan, mereka pergi bertiga. Papa Aga meninggal, sejak saat itu dia selalu menghindari ku, bahkan terkesan membenciku, aku juga tidak tahu kenapa, tapi mungkin karena perjodohan kami. Aku menatap cincin pernikahan yang di berikan Ibu padaku, Aga tidak pernah memakainya, aku melepas cincin itu. Aku harus melupakan dia, sudah waktunya dia bahagia dengan pujaan hatinya.
"Kenapa di lepas?" Tanya Dewa.
"Aku tidak ingin berhubungan lagi dengan dia"
"Aku mendukung mu"
Dewa mengajakku ke sebuah kamar, kamar yang begitu luas. Dia menunjuk kan isi kamar itu padaku, ada kamar mandi dalam, lemari baju yang begitu besar, serta ranjang king size yang terlihat nyaman.
"Istirahat lah di sini, jika perlu sesuatu, aku ada di kamar sebelah, kamu bisa mengetuk pintu, atau bisa telfon aku"
Aku tidak bisa berkata apapun pada dewa, dia memang lelaki yang baik. Aku tidak akan bisa membalas kebaikannya.
"Aku akan tinggal beberapa hari di sini, setelah aku mendapatkan pekerjaan, aku akan segera mencari tempat tinggal"
"Rin, anggap ini rumah kamu sendiri, kamu boleh tinggal di sini sesuka hati kamu"
Aku hanya mengangguk, aku tahu Dewa menyukai ku, tapi status ku masih istri orang. Aku tidak bisa seterusnya tinggal di sini, aku harus pergi dan menjalani kehidupan ku sendiri.
"Iya Terima kasih"
Dewa keluar dari kamar ini, aku duduk di ranjangnya sepertinya malam ini aku bisa tidur dengan nyaman. Aku meraih tas ku, melihat pesan masuk di ponselku. Ada banyak panggilan masuk dari nomer baru.
Aku yakin itu pasti Mas Aga, hati ku langsung penuh sesak, rasanya luka itu mengagah lagi. Aku masih ingat saat Rahma bercengkrama begitu akrab dengan Ibu. Rasanya hati ku seperti di injak-injak, aku sudah hancur saat itu
'Rin, kamu di mana? Jangan marah. Mas bisa menjelaskan semuanya'
Aku langsung menghapus pesan itu, aku juga memblokir nomer baru itu. Aku tidak butuh penjelasan apapun lagi. Dia membawa Rahma ke rumah itu sudah bukti jelas jika dia ingin aku pergi. Di rumah sakit bahkan dia mengatakan Rahma tunangannya. Dia bahkan mengaggap aku adik angkatnya, tidak ada yang perlu di jelaskan lagi di antara kami. Aku akan segera mengurus surat cerai kami, agar mereka bisa segera bersatu.
Meski menyakitkan, aku harus bisa menghapus rasa yang sempat hadir ini, aku harus menerima kenyataan ini, kenyataan kalau aku harus kehilangan Ibu dan juga mas Aga dari hidupku.
Dalam sunyi nya malam, aku memeluk guling sambil menatap kosong kearah dinding. Ini sangat terasa berat bagiku,kenapa aku harus menyukai mas Aga? Rasa perhatian dan perubahan sikapnya dalam beberapa hari ini sungguh membuat ku terlena. Aku seperti ingin tenggelam, rasanya begitu menyakitkan di tipu lagi dan lagi.
Aku meyakinkan diri ini, agar aku bisa melupakan semua rasa ini, rasa sementara yang begitu lara. Ingat Rin kamu tidak pernah di hargai, kamu sudah memilih jalan yang benar. Aku akan buat cerita ku sendiri tanpa dia.
*****
Pagi menjelang, seperti biasa aku bangun dan menjalankan sholat, setelah membaca beberapa ayat Al Qur'an, aku bergegas bangun ingin membuatkan susu jahe untuk mas Aga, namun saat merapikan mukena, aku tersadar di mana aku sekarang. Aku sudah tidak ada di rumah Ibu, aku tidak perlu membuat kan dia susu jahe lagi.
Di saat aku memikirkan Mas Aga, sebuah ketukan pintu terdengar, aku buru-buru membukanya.
"Sudah bangun Rin? Mau jalan-jalan?"
"Jalan-jalan? kamu sendiri saja, aku akan buatkan kamu sarapan" Tolak ku.
Aku memang tidak terbiasa joging di pagi hari, pagi ku selalu sibuk di dapur dan membersihkan rumah, setelah itu aku langsung ke toko, jadi aku tidak punya waktu untuk sekedar berolahraga.
"Di sini sudah ada bibi yang masak, ayo kita ke luar cari udara segar"
Aku tersenyum dan mengangguk pelan, aku lupa kalau rumah ini sangat besar, pasti di sini juga banyak sekali asisten rumah tangga. Kenapa aku tidak kepikiran tentang itu?
"Boleh, tunggu sebentar"
"Ayo!"
"Aku ganti baju sebentar"
"Tidak usah, kamu sudah cantik kog. Tidak perlu ganti lagi"
Seumur-umur Mas Aga tidak pernah memuji ku cantik, meski aku sudah berdandan, memakai minyak wangi dan baju bagus. Tapi Dewa tetap memuji ku meski aku hanya memakai kaos dan juga celana tidur ku. Aku tidak dandan bahkan belum mandi. Jujur aku tersanjung dengan pujiannya.
Dewa menarik tanganku, aku pasrah saat dia mengajak ku keluar dari rumahnya, aku sedikit canggung saat para pembantu di rumah ini menatap kami. mereka terus menatap ku tanpa kedip, aku seperti wanita simpanannya saja, padahal kami tidak melakukan apapun, bahkan tidur pun terpisah.
"Apa mereka berfikir tidak-tidak tentang kita?"
"Tentu saja tidak, mereka hanya takjub dengan kamu, mereka kaget karena aku membawa bidadari ke rumah ini"
Aku langsung mencubit Dewa, bisa-bisanya dia memujiku sejak tadi. Tidak tahu apa kalau aku belum mandi?
"Jangan puji aku terus, nanti baju ku tidak muat" Kekeh ku.
"Hahahaha aku berkata jujur"
"Sudah ayo, aku malu"
Aku segera mengajak Dewa ke depan, aku benar-benar malu terus di pandangi para asisten rumah tangga di rumah ini.
Begitu sampai depan pintu, langkah ku terhenti saat aku mendengar teriakan seseorang.
"Dewa, Keluar kamu! Di mana Arin? Aku tahu kamu pasti menyembunyikan nya!" Teriakan Aga membuatku spontan merangkul lengan Dewa. Aku benar-benar ketakutan. Kenapa Aga bisa tahu aku ada di sini?
Buruan Ga segera kejar si Arin smg blm sempat terbang pesawatnya
kl kabur beneran pasti kluar kota Naik bus ganti kapal pesiar pasti gk Ada yg nemuin. ntah Arin itu goblok apa tolol jd wanita. pdhl dah dewasa dah pernh kawin tp ttp oon.
niat kabur Dr awal pergi jauh ganti nmr jng hub orang rumah lagi. kemarin mncing hub mertua oalah alah. cewek plin plan.
terus aja Rin keraskan hatimu buat dirimu sama ky si Aga yg suka menyimpan dendam jd kamu ga ada bedanya sama si Aga kan
heran koq bisa si Dewa tau2 nongol bawa bunga bawa cincin, ntar pas mereka lg pandang2 an ato pegangan tangan si Aga nongol tuh, lanjut lg salah pahamnya gitu aja terus ga kelar2