Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.
Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.
Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 - SATU QUEST LAGI
Pada hari ketiga, Lin Feng berhenti menghitung waktu dari jam.
Ia menghitungnya dari perubahan warna langit di layar.
Eternal Heaven Online memiliki siklus siang dan malam yang lebih teratur daripada hidupnya sendiri. Matahari digital menyelinap di balik Pegunungan Tulang Naga, menyisakan garis merah di antara puncak-puncak hitam. Di bawahnya, karakter berjubah kelabu berlari melewati reruntuhan kuil, sementara bilah stamina di sudut layar berkedip kuning.
Lin Feng mengusap wajah. Janggut tipis tumbuh di dagunya. Gelas kopi di samping papan ketik sudah dingin sejak entah kapan, dan bungkus makanan yang dipesannya tadi malam masih terlipat di dalam kantong plastik. Ia berniat makan setelah menyelesaikan satu bagian lagi.
Satu bagian lagi telah berubah menjadi dua belas jam.
“Feng, kau masih di sana?” Suara seorang teman terdengar dari kanal suara. “Kita sudah bilang, gerbang itu tidak akan terbuka kalau kau terus memukulnya.”
“Aku tidak memukul gerbangnya.”
“Karakterku bisa melihatmu. Kau memukulnya selama lima menit.”
“Itu eksperimen.”
Tawa pendek terdengar dari headset. Lin Feng nyaris ikut tersenyum, tetapi matanya terpaku pada ukiran di dinding kuil. Selama hampir enam tahun memainkan Eternal Heaven Online, ia mengumpulkan kebiasaan untuk membaca hal-hal kecil yang dilewatkan pemain lain: bayangan yang jatuh sedikit berbeda, lumut yang tumbuh berlawanan arah, atau kalimat samar dari karakter yang biasanya dianggap pengisi suasana.
Quest rahasia ini berawal dari satu kalimat yang ia temukan dalam catatan versi lama: “Ketika lonceng tanpa suara memanggil, carilah pintu yang tidak memiliki bayangan.”
Sebagian besar pemain menganggapnya baris dekoratif. Lin Feng tidak. Ia telah menghabiskan berminggu-minggu membandingkan tangkapan layar, catatan pembaruan, dan rekaman area yang sama dari berbagai musim. Malam ini, setelah kondisi langka terpenuhi, ukiran di kuil berubah.
Bukan pintu yang muncul. Hanya celah sempit di antara dua batu, terlalu gelap bahkan untuk diterangi obor karakter.
“Aku masuk,” katanya.
“Kalau kau mati lagi, jangan minta kami mengambil barangmu.”
“Aku tidak akan mati.”
Lin Feng menggerakkan karakternya melewati celah. Layar menjadi hitam sesaat. Musik berhenti. Ketika gambar kembali, ia berada di sebuah aula bundar yang tak tercantum di peta mana pun. Di tengah aula melayang sebuah lingkaran batu, dipenuhi guratan yang tidak cocok dengan alfabet kuno yang biasa digunakan game itu.
Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia meraih gelas, baru menyadari bahwa isinya tinggal ampas kopi.
“Ini bukan ruang quest biasa,” gumamnya.
Di layar muncul pilihan tanpa penanda warna, tanpa ikon hadiah, dan tanpa penjelasan tingkat kesulitan. Hanya tiga baris kalimat yang disusun seperti teka-teki. Lin Feng mengambil foto layar, lalu membandingkannya dengan catatan yang ia simpan. Tidak ada kecocokan.
Selama ini, setiap quest rahasia punya jejak. Seseorang di forum pernah menemukan petunjuknya; pemain lain menguji teori; data tersebar sedikit demi sedikit. Kali ini ia tidak memiliki apa-apa. Ia bisa saja keluar dan memeriksa forum, tetapi instingnya mengatakan kesempatan tersebut hanya akan muncul sekali.
Ia membaca tiga baris itu berulang kali.
“Nama yang hilang… tempat yang belum dibangun… dan tangan yang belum memilih.”
Temannya kembali berbicara. “Feng? Kau membeku.”
“Sebentar.”
Lin Feng mengetik kemungkinan jawaban satu demi satu. Dua ditolak. Yang ketiga membuat lingkaran batu berputar. Suara denting terdengar dari pengeras suaranya—tipis, seolah dipukul dari balik air. Guratan di batu menyala, bukan dengan warna emas atau biru seperti efek sihir biasa, melainkan putih pucat yang membuat matanya terasa kering.
Kemudian sebuah pintu terbuka di tengah lingkaran.
Lin Feng tertawa sekali, tidak percaya. “Akhirnya.”
“Rekaman. Sekarang juga,” kata temannya. “Kalau ini benar-benar konten baru, kau harus simpan buktinya.”
Tangannya bergerak ke tombol tangkap layar, tetapi pintu itu berdenyut. Di baliknya bukan pemandangan dungeon yang dikenal. Tidak ada nama lokasi. Tidak ada ikon peta. Hanya hamparan gelap dengan satu titik cahaya di kejauhan.
Ia tahu bahwa ia seharusnya berhenti. Tiga hari dengan tidur yang nyaris tidak ada telah membuat kepalanya berat. Perutnya terasa kosong dan nyeri. Namun rasa ingin tahu yang mendorongnya selama bertahun-tahun kembali mengambil alih.
“Masuk sebentar,” katanya. “Kalau ada apa-apa, aku keluar.”
“Feng, serius. Sudah makan belum?”
“Sudah.” Kebohongan itu meluncur begitu mudah sehingga ia tak sempat merasa bersalah.
Karakter berjubah kelabu melangkah ke pintu. Layar kembali putih.
Bukan putih terang. Lebih seperti kabut yang menutupi segalanya. Lin Feng menunggu peta dimuat, tetapi tak ada bilah pemuatan. Tak ada musik. Tak ada suara teman-temannya. Ia menggerakkan tetikus. Karakter tidak menjawab.
Ia berkedip. Tulisan di layar melebar dan pecah menjadi garis-garis yang bergetar.
“Feng, kau masih dengar kami?”
Suara itu terdengar jauh. Lin Feng mencoba melepaskan headset, tetapi jemarinya terasa lambat. Dadanya sesak. Ia menarik napas dalam-dalam, namun udara seperti berhenti di tenggorokan. Untuk pertama kalinya malam itu, ia memalingkan pandangan dari monitor.
Ruangan apartemennya remang-remang. Cahaya layar memantul pada gelas, tumpukan buku catatan, dan piring kosong dari kemarin. Di jendela, langit kota mulai terang. Ia telah melewatkan satu malam lagi, lalu satu hari, lalu malam berikutnya.
“Sebentar,” bisiknya, entah kepada teman-temannya atau kepada dirinya sendiri.
Ia berusaha berdiri. Kursinya bergeser, tetapi kakinya tak mampu menahan tubuh. Satu tangannya meraih tepi meja dan menyenggol gelas. Benda itu jatuh, pecah di lantai. Suaranya nyaring, namun terasa datang dari tempat yang sangat jauh.
Lin Feng ingin memanggil seseorang. Kata-katanya tak terbentuk.
Di monitor, putih itu perlahan surut. Lingkaran batu kembali terlihat, lalu pintu tanpa nama. Titik cahaya di baliknya kini tampak lebih besar. Entah karena permainan sedang menampilkan sesuatu, atau karena matanya kehilangan fokus.
Ia memikirkan hal-hal kecil yang belum sempat dilakukan. Pesan yang belum dibalas. Makanan yang tidak jadi dihangatkan. Ibunya yang beberapa kali menelepon minggu itu dan ia jawab dengan alasan sedang sibuk. Ia selalu mengira urusan-urusan itu bisa ditunda sampai quest selesai.
Sebuah getaran kecil merambat dari ponsel di atas meja. Layarnya menyala, menampilkan nama yang ia kenal, tetapi ia tak sanggup mengangkat kepala untuk membacanya. Panggilan berhenti. Beberapa detik kemudian, ponsel itu bergetar lagi. Lin Feng ingin menjawab kali ini. Ia sungguh ingin. Namun tubuhnya hanya terbaring diam di lantai.
Ternyata tubuhnya tidak menunggu.
Lin Feng jatuh ke samping meja. Pipi kirinya menyentuh lantai yang dingin. Ia mendengar suara teman-temannya memanggil namanya, semakin panik, semakin samar. Layar komputer tetap menyala, diam dan tak peduli.
Dalam sisa kesadarannya, ia sempat berpikir bahwa ia seharusnya merasa takut. Yang muncul justru penyesalan pahit karena tak pernah tahu apa yang ada di balik pintu itu.
Lalu semuanya padam.
Tidak ada pesan kemenangan. Tidak ada suara lonceng. Tidak ada kesempatan untuk mengulang.
Hanya gelap.