Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.
Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.
Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Bella melemparkan tatapan yang teramat sinis dan penuh kebencian ke arah Ananda. Menyadari situasi yang kian memanas dan tidak kondusif, Ananda dengan cepat merapikan kotak makan siangnya yang sudah kosong, lalu membungkuk sopan sekilas sebelum melangkah terburu-buru keluar dari ruangan mewah itu.
Saat tubuh Ananda melewati ambang pintu, Bella mengikuti pergerakannya dengan mata yang menyipit tajam.
‘Wanita sialan itu lagi! Dasar murah4n tidak tahu malu... Berani sekali dia menggoda calon suamiku di siang bolong seperti ini!’ batin Bella bergolak murka sembari mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga kukunya memutih.
Di dekat sofa, Tristan menatap Bella dengan pandangan yang siap membunuh. Rasanya ia ingin sekali maju dan mencekik leher wanita bermulut lancang itu sekarang juga. Namun, ia tahu Bella sangat cerdik karena sengaja membawa ibunya sebagai tameng pelindung.
Nyonya Mutia, ibu kandung Tristan, tampak menghembuskan napas panjang dengan raut wajah yang dipenuhi kekesalan. Belakangan ini ia sangat jengkel karena putra semata wayangnya itu tak kunjung pulang ke mansion keluarga Bratadikara dan malah sengaja mengurung diri tinggal di apartemen pribadinya.
Tanpa mempedulikan kemarahan Tristan, Nyonya Mutia dan Bella langsung melangkah anggun lalu mendudukkan diri di atas kursi sofa kulit yang baru saja ditinggalkan oleh Ananda. Sementara itu, Tristan tetap berdiri tegak di hadapan mereka sambil berkacak pinggang, memancarkan aura intimidasi yang pekat karena merasa privasinya telah diinjak-injak.
"Untuk apa Mamah dan wanita ini datang ke kantorku?" tanya Tristan ketus, jari telunjuknya menunjuk terang-terangan ke arah Bella dengan nada meremehkan.
"Tristan! Jaga bicaramu!" tegur Nyonya Mutia dengan suaranya yang tegas. "Bella ini adalah calon istrimu. Dan perlu kamu tahu, bulan depan Mamah dan Papah sudah merencanakan acara pertunangan kalian berdua!"
JEGER!
Bak disambar petir di siang bolong, Tristan terkejut setengah mati. Matanya membelalak sempurna, dan rahangnya seketika mengeras. "Apa?! Tunangan? Dengan Bella? Mah... Tristan tidak sudi bertunangan dengan dia, sampai kapan pun!" tolakknya mutlak tanpa ragu.
"Pokoknya Mamah tidak mau tahu dan kamu tidak boleh menolak rencana Mamah sama Papah!" sahut Nyonya Mutia tak kalah keras. Wajahnya yang mulai dihiasi kerutan halus itu kini berubah memelas, mencoba menyentuh sisi kemanusiaan putranya. "Bella adalah wanita terbaik pilihan Mamah dan Papah. Lagipula, Pak Bagas juga sudah sangat setuju jika putrinya menikah denganmu. Kami ini sudah tua, Tristan... Kami sangat mengharapkan kehadiran seorang cucu darimu, Nak. Jadi tolong, jangan kau tolak perjodohan ini!"
Tristan mendesah kasar, mengusap wajahnya yang memerah menahan emosi. Ia mulai berjalan mondar-mandir di hadapan ibu dan juga Bella, mencoba mengurai isi kepalanya yang mendadak terasa ingin pecah.
"Pokoknya keputusan Tristan sudah bulat. Tristan tidak akan pernah mau menikah dengan Bella. Titik!" tegas Tristan lagi, menghentikan langkahnya tepat di depan sang ibu.
"Tristan! Kau sekarang sudah berani menentang Mamah, hah?!" Nyonya Mutia mulai tersulut emosi, ia berdiri dari duduknya.
"Ya! Karena Tristan sudah memiliki dan mencintai wanita lain!" balas Tristan lantang, menyuarakan isi hatinya yang paling dalam.
Mendengar alasan itu, Nyonya Mutia justru mendengus meremehkan sambil memijit pelipisnya yang mendadak pening. "Sedari dulu, kata-kata itu selalu kau keluarkan sebagai senjatamu untuk menghindari perjodohan ini! Tapi mana bukti nyata dari ucapanmu itu, hah? Sampai sekarang kau tidak pernah menunjukkan kepada Mamah siapa wanita yang kau maksud itu! Dan ingat satu hal, Tristan... wanita yang akan mendampingi mu nanti harus memiliki kasta yang setaraf dengan keluarga Bratadikara, bukan dari golongan rendahan!"
Mendengar untaian kalimat sombong dari ibunya, Tristan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di balik saku celananya demi meredam amarah yang bergejolak. Hatinya mencelos. Andaikan ibunya tahu bahwa wanita yang teramat dicintainya dan wanita yang memegang takdir hidupnya saat ini adalah Ananda si itik buruk rupa yang sama sekali bukan berasal dari kalangan keluarga kaya raya.
Di sela-sela perdebatan panas antara ibu dan anak itu, Bella yang sejak tadi memilih diam, rupanya ia diam-diam memperhatikan sisa makanan di atas meja Tristan. Otaknya yang licik mulai merangkai benang merah dari sikap protektif Tristan dan kepanikan sekretaris barunya tadi.
‘Sialan... Sepertinya wanita jal4ng yang dimaksud dan disukai oleh Tristan adalah sekretarisnya sendiri. Kurang ajar... Aku tidak akan tinggal diam. Aku harus memberikan wanita rendahan itu pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya!’ batin Bella menjerit jengkel, matanya berkilat penuh rencana busuk untuk menyingkirkan Ananda.
Bella mulai geram setengah mati di dalam hati. Napasnya memburu melihat bagaimana Tristan terus-menerus menolaknya dengan begitu tegas, bahkan sampai berani menentang keinginan kedua orang tuanya sendiri demi wanita lain. Merasa harga dirinya diinjak-injak, Bella yang sudah tidak tahan lagi memutuskan untuk mengambil tindakan nekat. Ia beranjak dari sofa mewah itu dengan hentakan kaki yang keras.
"Tante, Bella keluar sebentar, ya. Bella pusing di sini," pamit Bella dengan nada yang dibuat sedih di hadapan Nyonya Mutia.
Nyonya Mutia dan Tristan tidak menaruh rasa curiga sedikit pun. Tristan bahkan menghembuskan napasnya lega di dalam hati, mengira bahwa wanita ular itu akhirnya sadar diri dan memilih untuk pulang. Namun pada kenyataannya, asumsi Tristan salah besar. Bella keluar bukan untuk pulang, melainkan melangkah cepat dengan mata mendelik tajam, mencari keberadaan meja kerja Ananda.
Sementara itu, Ananda yang baru saja kembali ke meja kerjanya setelah selesai merapikan riasan wajah dan menjernihkan pikirannya di toilet karyawan. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba kembali fokus pada rutinitasnya. Namun, tepat saat jemarinya baru saja menyentuh papan ketik komputer untuk menyusun laporan, bayangan tubuh Bella tiba-tiba muncul di hadapannya.
Tanpa ini dan itu, Bella yang membawa sebotol air mineral plastik langsung membuka tutupnya dan menyiramkannya tepat ke arah wajahnya Ananda.
Byurrr!
Seketika wajah, rambut, dan blus kerja yang dikenakan Ananda basah kuyup. Air itu tidak hanya membasahi tubuh Ananda, tetapi juga menciprat hebat hingga merusak tumpukan berkas-berkas penting perusahaan yang ada di atas meja.
"Apa yang kau lakukan, hah?!" bentak Ananda geram. Ia langsung beranjak dari tempat duduknya dengan napas memburu, menatap tajam ke arah Bella.
Bella yang sudah sepenuhnya dikuasai oleh kegilaan dan amarahnya langsung maju selangkah. Tangan kanannya terangkat dan melayang cepat ke udara.
Plak!
Tamparan keras itu mendarat telak di pipi mulus Ananda hingga wajah wanita itu terlempar ke samping.
"Dasar wanita murah4n tidak tahu malu! Berani sekali kau menggoda calon suamiku di dalam ruangannya, hah?!" teriak Bella histeris, menunjuk wajah Ananda dengan telunjuknya yang bergetar.
Ananda yang sekarang bukanlah si itik buruk rupa yang lemah seperti enam tahun lalu. Ia tidak terima dituduh berbuat hina, apalagi diperlakukan serendah ini di tempat umum. Rasa sakit di pipinya justru memicu adrenalin dan keberaniannya yang selama ini terpendam. Dengan gerakan yang tak kalah cepat, Ananda melayangkan tamparan balasan yang jauh lebih keras ke pipinya Bella.
Plak!
"Jangan bertindak sesuka hatimu, Nona! Saya bisa menuntut mu ke jalur hukum atas pasal penganiayaan dan pencemaran nama baik!" ancam Ananda dengan tatapan mata yang mendelik berani.
Bella yang merasakan perih luar biasa di pipi kirinya kian meradang. Matanya merah padam. Mengabaikan statusnya sebagai anak konglomerat, Bella maju menubruk tubuh Ananda dan menjambak kuat-kuat rambut hitam Ananda yang tergerai indah.
Ananda tidak tinggal diam. Ia menolak untuk ditindas lagi oleh iblis yang sama yang dulu pernah menghancurkan masa kuliahnya. Ananda membalas dengan menjambak balik rambut pirang Bella dengan kekuatan penuh.
"Aku tidak akan pernah diam saja ditindas olehmu lagi, dasar iblis betina!" ucap Ananda cukup lantang, meluapkan seluruh dendam masa lalunya.
"Dasar wanita gila! Lepaskan! Kau akan secepatnya dipecat dari perusahaan ini!" jerit Bella sambil terus menarik rambut Ananda.
"Aku tidak peduli! Masih banyak perusahaan lain di luar sana yang membutuhkan kemampuanku!" sahut Ananda, sama sekali tidak gentar dengan ancaman pemecatan itu.
"Aaarghhh! Lepaskan aku, wanita jal4ng! Kau berani sekali melawan calon istrinya Tristan?!"
"Perset4n dengan ucapanmu! Aku tidak peduli!"
Ananda yang sudah gelap mata semakin memperkuat cengkeramannya pada rambut Bella. Tidak hanya itu, jari-jari tangan Ananda bergerak mencakar wajah mulus Bella hingga kuku-kukunya meninggalkan beberapa bekas luka cakar yang memerah dan mengeluarkan sedikit darah di pipi Bella.
"Aaaaaak kancing baju ku! Wajahku! Tristan, tolooong!" Bella berteriak histeris menahan sakit yang teramat sangat.
Suara lengkingan penuh penderitaan dan keributan hebat di area itu bergaung begitu keras hingga menembus pintu kedap suara ruangan CEO. Tristan dan Nyonya Mutia yang berada di dalam langsung terperanjat. Tristan seketika berlari keluar diikuti ibunya yang tampak panik.
Di saat yang bersamaan, pintu lift VIP berdenting terbuka. Kevin yang baru saja kembali dari divisi keuangan melangkah keluar dan seketika mematung dengan mata melotot. Ia sangat terkejut melihat sekretaris baru yang biasanya tenang kini sedang baku hantam dengan Bella, saling menjambak di lantai lobi.
"Hentikan! Bella... Ananda... hentikan perkelahian kalian!" teriak Tristan dengan suaranya yang menggelegar dahsyat, menggema ke seluruh penjuru lantai sepuluh.
Nyonya Mutia yang baru menyusul keluar hampir saja pingsan di tempat melihat pemandangan mengerikan di hadapannya.
Kedua wanita itu akhirnya terpisah setelah ditarik paksa oleh Kevin dan Tristan. Kini, penampilan Bella dan Ananda sudah benar-benar berantakan. Rambut mereka acak-acakan bak singa, blus kerja Ananda basah kuyup hingga mencetak lekuk tubuhnya, sementara wajah Bella tampak memerah dengan beberapa garis luka cakar yang kentara, membuat suasana di lantai sepuluh itu mendadak mencekam dan penuh ketegangan.
Bersambung...