NovelToon NovelToon
Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Penyesalan Suami
Popularitas:61.3k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.

Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.

Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.

Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Sandiwara Maut Ibu & Anak Kembarnya

Tidak ada jawaban, guru itu tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya. Entah mengapa aura yang Raina tunjukan seolah bisa mengintimidasinya. Apalagi ketika Raina tertawa dingin seraya berkata, "Anda bahkan tidak berani mengatakannya di depan saya?"

Kepala sekolah mencoba menenangkan. "Nyonya, mari kita bicara baik-baik."

"Justru saya sedang berbicara baik-baik." Raina menunjuk Sean dan Shia. "Mereka lahir dari rahim saya."

Kemudian jarinya menunjuk dokumen. "Dan masalah administrasi nama ayah tidak memberikan Anda hak untuk menghina mereka."

Guru itu mendengus. Entah keberanian darimana guru itu kembali bicara, "Namun secara hukum, mereka memang tidak memiliki ayah yang tercatat."

Raina menatapnya. "Lalu?"

"Artinya..." Guru itu memandang kedua anak tersebut. "...mereka anak haram."

Ruangan seketika sunyi. Raina membeku, diam menahan segala amarahnya. Sean menatap Mamahnya yang sudah siap meledak kapan saja. Shia menggenggam ujung bajunya, takut Mamahnya meledak tak terkendali.

Guru tersebut bahkan masih melanjutkan. "Dan kami tidak ingin reputasi sekolah ini tercoreng karena menerima—"

Plak!

Suara tamparan keras menggema di aula pendaftaran. Semua orang membeku. Guru wanita itu memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan yang Raina daratkan. Sementara Raina berdiri di hadapannya dengan napas memburu.

"Berani sekali kau." Matanya memerah karena marah. "Kau boleh menghina aku."

Suaranya bergetar. "Tapi jangan pernah menyebut anak-anakku seperti itu!"

Kepala sekolah langsung berdiri. "Nyonya! Anda tidak boleh melakukan kekerasan—"

"Kekerasan?" Raina menunjuk guru tadi. "Dia baru saja menghina dua anak berusia tujuh tahun!"

"Nyonya—"

"Dan kalian menyebut diri kalian pendidik?" Raina tertawa tidak percaya. "Memalukan."

Ia mengambil kembali berkas anak-anaknya. "Aku bahkan menyesal pernah berpikir sekolah ini pantas untuk mereka."

“Raina!”

Tepat saat itu, Suara Sion terdengar dari belakang. Raina menoleh, menatap Sion dan Kakek Edwin yang baru saja memasuki aula. Keduanya langsung berhenti melihat suasana di depan mereka.

Guru wanita itu masih memegang pipinya. Kepala sekolah berdiri dengan wajah panik. Sementara Raina berdiri dengan ekspresi penuh amarah. Sion tidak langsung menanyakan apa yang terjadi. Tidak kepada kepala sekolah, tidak kepada guru itu dan tidak kepada siapa pun.

Ia langsung berjalan menuju Raina. "Raina." Sion meraih tangannya. "Kau terluka?"

Raina yang tadinya tampak seperti ingin membakar seluruh sekolah mendadak terdiam. Sion membalik telapak tangannya. Memeriksa jari-jarinya satu per satu. "Merah sekali."

Ia mengerutkan kening. "Menampar sekeras itu pasti sakit."

Raina berkedip, kemudian ekspresinya berubah drastis. Bibirnya mengerucut. Matanya langsung berkaca-kaca. Jelas Raina sudah menyiapkan rencana balas dendam kepada kepala sekolah dan para guru yang baru saja menghina anak-anaknya dengan menggunakan tangan Sion.

"Sion..."

Sion langsung menatap wajahnya. "Ada apa?"

"Mereka..." Raina menunjuk guru tadi. "Mereka menghina aku dan juga anak-anak kita.”

Suaranya mendadak penuh keluhan. "Mereka bilang anak-anak kita adalah anak haram yang tak pantas bersekolah di sini."

Sion membeku mendengar pernyataan Raina tentang apa yang telah terjadi. Kakek Edwin yang berdiri di belakangnya langsung berubah wajah. "Apa?"

Sebelum Sion sempat berkata apa-apa, Sean berlari menghampirinya. "Papah..."

Wajah bocah itu langsung dibuat sedih. "Mereka bilang aku tidak punya Papah."

Shia ikut memeluk kaki Sion. "Mereka juga bilang kami tidak boleh sekolah di sini."

Sion menunduk, wajah sedih kedua anak itu membuat tatapannya semakin gelap. "Kalian menangis?"

Sean menggeleng pelan. "Tidak..." Lalu ia mengusap matanya sendiri. "Tapi hampir."

Shia mengangguk. "Shia takut."

Raina menatap kedua anaknya. Dalam hati, ia tahu kedua anak itu sedang berakting mengikuti aksinya. Dan rupanya mereka mewarisi kemampuan dramatis dari seperti yang ia miliki. Dan Sion dengan jelas tahu tentang itu, bahwa Raina dan kedua anaknya sedang ingin membalas dendam melalui dirinya.

Sion pun mengikuti permainan mereka. Tangannya mengepal saat menatap guru wanita itu. Kemudian beralih pada kepala sekolah dan beberapa guru yang ada di sana. Tatapannya dingin hingga seluruh aula mendadak terasa membeku.

"Kalian..." Suara Sion rendah. "...menghina anak-anakku?"

Kepala sekolah pucat. "Tuan Sion, izinkan saya menjelaskan—"

Sion mengangkat tangan. "Diam."

Kakek Edwin melangkah maju, tatapannya bahkan lebih mengerikan. "Jadi ini cara sekolah yang selama ini kami sponsori memperlakukan anak-anak keluarga kami?"

Kepala sekolah langsung pucat pasi. "Tuan besar Edwin..."

Sion menatap kepala sekolah. "Kau tahu siapa yang membiayai pembangunan gedung ini?"

Tidak ada jawaban, lebih tepatnya tidak ada yang berani menjawabnya. Bahkan untuk sekadar bernapas saja sekarang mereka sangat kesulitan. Siapa sangka mereka malah mengusik yang tidak seharusnya.

Sion tersenyum dingin. "Perusahaan milikku."

Kakek Edwin menambahkan dengan suara datar, "Dan tampaknya kami telah salah memilih tempat untuk mendidik anak-anak kami… calon pewaris keluarga Maximillian."

Guru wanita tadi mulai gemetar. "Tuan, saya..."

Sion bahkan tidak meliriknya. "Mulai sekarang, tidak ada satu pun urusan sekolah yang berhubungan dengan keluargaku tanpa melalui diriku secara langsung."

"Dan soal ucapanmu tadi..." Sion akhirnya menatap guru itu. "Jangan pernah lagi menyebut anak-anakku dengan kata itu. Karena mereka memiliki ayah."

Ia melirik Sean dan Shia. Kemudian pandangannya kembali kepada guru itu. "Dan ayah mereka berdiri tepat di depanmu saat ini."

Aula pendaftaran berubah menjadi tempat yang penuh ketegangan. Kepala sekolah masih berdiri dengan wajah pucat. Guru wanita yang ditampar Raina bahkan tidak lagi berani mengangkat kepalanya.

Sion berdiri di depan Raina, sementara tangan kanannya masih menggenggam tangan perempuan itu. "Mulai hari ini," ucap Sion dingin, "kalian semua tidak lagi bekerja di sekolah ini."

Kepala sekolah tersentak. "Tuan Sion!"

"Aku tidak sedang meminta pendapatmu."

"Tapi, Tuan, ini hanya kesalahpahaman—"

"Kau menyebut anak-anakku sebagai anak haram." Suara Sion tetap tenang. Namun justru ketenangan itu membuat seluruh ruangan semakin mencekam. "Kau juga merendahkan ibu mereka di depan anak-anak."

Ia melangkah maju. "Menurutmu, aku masih punya alasan untuk mempertahankanmu?"

Kepala sekolah langsung berlutut. "Tuan, saya mohon!"

Beberapa guru lainnya ikut panik. "Kami minta maaf!"

"Kami benar-benar tidak tahu mereka keluarga Tuan!"

Sion menatap mereka tanpa ekspresi. "Itulah masalahnya."

Kakek Edwin yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. "Kalian meminta maaf bukan karena merasa bersalah. Kalian melakukan itu karena menyesal baru mengetahui siapa mereka."

Kakek Edwin menatap seluruh guru. "Kalau yang datang tadi bukan keluarga pemilik sekolah, apakah kalian akan meminta maaf?"

Tidak ada jawaban, tidak ada yang berani menjawab. Sebab kesalahan itu memang berasal dari diri mereka sendiri.

"Tidak, bukan?" Kakek Edwin mengangguk. "Karena itu keputusan ini tidak akan berubah."

Ia menoleh kepada asistennya. "Hubungi yayasan."

"Baik, Tuan."

"Mulai hari ini, kepala sekolah diberhentikan. Guru-guru yang terlibat dalam penghinaan terhadap Raina dan anak-anak juga diberhentikan."

"Baik, Tuan!" Asisten itu segera menjalankan perintahnya.

Bersambung….

1
&1n@
🤣🤣🤣🤣
Sri Yatun
bagaimana reaksi keluarga Casandra kaget dan bertanya tanya siapa pelakunya,apa david terlibat dengan mafia dark red...?hari hati untuk hari liburan nya ada musuh yg siap berkeliaran tp kemungkinan besar Sion sudah memprediksi nya apa LG tau Arlan bersekongkol dengan musuh nya dan sudah tau rencana keluarga pasti sudah menyiapkan jebakan
🇦 🇵 🇷 🇾👎
mimpi lh xan 2
Budhe Satryo
cocok JD istri mafia 🤣🤣🤣🤣harus kejam
Budhe Satryo
perang dimulai 😊😊😊
Budhe Satryo
🤣🤣🤣🤣siap menghajar 😄😄😄😄
Budhe Satryo
jodohmu land🤣🤣🤣
Anonim
good
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣
Budhe Satryo
jodoh TDK sengaja narin + Ryland
Budhe Satryo
anak buah Sion ni gercep jg 👍👍👍👍
Fahmi Ardiansyah
iya Krn mereka semua udh tau klu kmu yg melaporkannya
Fahmi Ardiansyah
Krn dirimu yg mulai jadi trima aja akibatnya skrg.
Fahmi Ardiansyah
iya sarga harus bisa trtangkap hidup atau mati
🇦 🇵 🇷 🇾👎
next
🇦 🇵 🇷 🇾👎
itu lh blsn ny🤣
Budhe Satryo
musuh menyusun rencana
Budhe Satryo
Krn niatmu dr awal jg g baik Arlan
Budhe Satryo
lanjut kk
Fahmi Ardiansyah
bagus biar itu jadi pelajaran untuk calista
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!