Jingga membuka mata, kembali ke masa sebelum tragedi besar menimpa keluarga Amazon.
Kali ini, tidak ada lagi gadis lugu yang mudah dimanfaatkan, matanya penuh dendam dan kebencian.
Hanya ada satu hal, Balas Dendam!
Mari kila mulai permainannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Menolong seorang kakek
Tetapi Tasya menarik baju Bryan dan menghentikan pria itu, "aku baik-baik saja, sungguh baik-baik saja. Ini hanya luka kecil, nanti dioles salep di rumah juga sudah baikan. Tapi Kak Jingga, aku harus minta maaf padanya baru pulang mengobati lukanya," kata Tasya lalu dengan cepat berlutut di hadapan Jingga.
"Kak Jingga, aku sungguh minta maaf, ini semua salahku yang sudah merebut posisimu di hati kak Arga dan Kak Bryan. Kalau kau memang tidak suka aku ada di sisi mereka, maka mulai hari ini aku akan keluar dari kediaman Amazon aku,,, aku akan kembali ke panti asuhan dan tidak akan mengganggu kakak lagi," ucap Tasya sambil terisak.
"Bicara apa kau? Cepat berdiri!" Bryan menarik Tasya kembali ke sisinya lalu berbalik menatap Jingga dengan penuh amarah.
"Kau puas sekarang? Tidak tahu kesalahan apa yang dilakukan Tasya padamu sampai kau benar-benar mau memisahkannya dari kami. Ku beritahu kau ya, seribu dirimu tidak akan sebanding dengan satu Tasya. Jangan berharap kami akan memperhatikanmu, di hari upacara kedewasaanmu nanti, entah kau memilih aku atau Arga untuk menikahimu, kami akan tetap menikahimu tapi jangan harap kau bisa memiliki hati kami. Wanita busuk sepertimu yang penuh muslihat tidak pantas mendapatkan hati siapapun!" Tegas Bryan.
"Kak Bryan, jangan berkata seperti itu, Kak Jingga juga orang yang baik, dia hanya khilaf sesaat saja. Kalau aku pergi, dia pasti akan berubah baik," ucap Tasya sambil terisak.
"Omong kosong! Dia memang begini dari dulu, bahkan sebelum kau datang, dia memang sudah begini," kata Bryan penuh kejijikan menatap Jingga.
"Kalau kalian sudah selesai bersandiwara, pintu keluarnya ada di sebelah sana," ucap Jingga bersikap acuh.
"Kau!" Bryan menggertakkan giginya, "cepatlah sembuh, begitu kau keluar dari rumah sakit, kita akan menghitungnya satu persatu!" Tegas Bryan merangkul Tasya keluar meninggalkan ruang perawatan.
Tasya tersenyum puas, 'kau lihat Jingga, apapun yang terjadi, aku akan selalu berada di posisi teratas di hati Arga dan Bryan. Sedangkan kau, bahkan mengelap sepatuku saja kau tidak pantas!'
****************
Jingga beristirahat di rumah sakit selama 3 hari sebelum akhirnya keluar pada pagi hari untuk kembali ke rumah.
Seluruh barang bawaan Jingga telah diatur oleh asisten Rama untuk dijemput seseorang jadi Jingga meninggalkan kamar rawat inap hanya dengan gaun putih sederhana dan tas pribadi miliknya.
Saat berada di koridor rumah sakit, ia melihat seorang pria tua terjatuh di lantai koridor dengan kacamata yang telah retak di lantai.
Jingga buru-buru menghampiri pria tua itu, segera menolongnya dan membantunya kembali ke kamar rawat inap VIP.
"Terima kasih banyak atas bantuan mu," ucap kakek tua itu sambil menunjuk lagi samping tempat tidur.
"Apa kakek ingin aku membuka lacinya?" tanya Jingga.
"Di dalamnya ada kacamata," kata sang kakek membuat Jingga segera membuka laci itu dan melihat banyak barang pribadi di sana, bahkan uang tunai pun diletakkan di sana bersama beberapa kartu kredit hitam limited edition.
Melihatnya saja langsung membuat Jingga menyadari identitas pria itu, tapi dia tidak berani menyentuh yang lainnya dan hanya mengambil kacamata di sana lalu memberikannya pada sang kakek.
Sang kakek mengambil kacamata itu dan memakainya, penglihatannya menjadi sangat jernih dan melihat gadis cantik yang berdiri di hadapannya membuat sang kakek tersenyum.
"Gadis yang cantik dan baik hati, imbalan apa yang kau inginkan?" Tanya sang kakek dengan suara yang begitu ramah.
Sebelah alis Jingga terangkat tinggi, "Anda menghina saya? Kalau begitu kita tidak perlu bertemu lagi," kata Jingga dengan suara yang datar lalu segera berbalik pergi meninggalkan sang kakek.
Bisa-bisanya hanya menolong seseorang untuk kembali ke tempat tidur dan mengambilkan kacamata malah mau diberi imbalan?
Hanya anak umur 3 tahun saja yang meminta imbalan untuk pertolongan sekecil itu.
"Tunggu!" Sang kakek buru-buru turun dari tempat tidur, "kalau begitu setidaknya katakan siapa namamu," kata sang kakek berusaha mengejar, tetapi Jingga dengan cepat menutup pintu dan tidak memperdulikan lagi kata-kata pria tua itu.