NovelToon NovelToon
MY MAFIA HUSBAND

MY MAFIA HUSBAND

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Pengantin Pengganti
Popularitas:147.9k
Nilai: 5
Nama Author: zarin.violetta

Ophelia Martin datang menggantikan kakak tirinya untuk menikahi seorang mafia, Bleiz Russo, karena hutang ayah tirinya.

Dia siap menghadapi monster yang dia pikir tua dan bengis itu.

Tapi ketika Ophelia memasuki kastil gelap dan dingin milik Bleiz Russo—dia tidak menemukan kakek-kakek keriput bertato dan tatapan menjijikkan itu.

Yang dia temui justru pria berusia tiga puluh tahunan dengan wajah mempesona, mata elang sedingin es, dan tubuh tegap yang terbalut jas berwarna gelap setara dengan auranya.

Pria itu ternyata menyodorkan kontrak sederhana, bukan sebuah pernikahan normal yang mungkin hanya akan berjalan sementara.

Ophelia hanya disuruh hamil darah dagingnya, dan itu membuat hutang ayah tirinya lunas. Tidak perlu ada cinta. Tidak perlu ada tuntutan. Bleiz hanya perlu wadah untuk pewarisnya.

Bleiz menyentuhnya seperti barang berharga, tapi menatapnya seperti debu tak berarti. Ophelia pernah menyaksikan sendiri bagaimana tangan kuat itu dengan tenang mematahkan tulang pengkhianatnya. Dia pikir dia akan mati ketakutan.

Tapi ternyata setiap kali jarak mereka hanya beberapa sentimeter, justru detak jantungnyalah yang paling berisik?

Ophelia harus mengingat satu aturan. Jangan pernah jatuh cinta pada iblis yang hanya menginginkan rahimmu.

Namun bagaimana caranya bertahan, ketika iblis itu mulai membelai perutnya yang mulai berisi, dengan tatapan yang untuk sekilas terlihat seperti ... ketakutan akan kehilangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ke Kamar Bleiz

Keesokan paginya, Ophelia bingung apakah harus turun ke ruang makan karena perasaannya ragu. Apakah dia harus turun atau menyuruh Brigite membawakan makanannya ke kamar.

Ia masih memikirkan kejadian semalam, bayangan Bleiz yang marah. Ophelia menghela napas panjang. Dia galau, tapi pada akhirnya Ophelia turun ke bawah.

*

Bleiz sudah duduk di meja ketika Ophelia turun. Tapi kali ini, pria itu tidak membaca dokumen. Ia hanya duduk diam.

Ophelia kemudian duduk di hadapannya, ragu-ragu. "Pagi,” bisiknya pelan.

Bleiz mengangkat kepalanya, dan Ophelia melihat melihat lingkaran hitam di bawah matanya. Bleiz tampaknya tidak tidur semalaman.

"Kau baik-baik saja?” tanya Bleiz datar.

"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir," sahut Ophelia cepat.

Bleiz sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kau wanita yang penuh rasa ingin tahu, Ophelia. Itu akan membuatmu celaka suatu hari nanti. Jangan pernah lagi melakukan seperti semalam. Tutup mata dan telingamu untuk hal-hal seperti itu.”

"Aku tidak tuli dan tidak buta," balas Ophelia.

Mereka saling menatap, tanpa bicara, tapi tatapan tajam mereka jelas menyiratkan sesuatu.

“Jangan membantahku, Ophelia.” Lalu Bleiz berdiri. "Aku harus pergi. Ada urusan yang harus diselesaikan. Kau bisa menghabiskan harimu di perpustakaan, atau berjalan-jalan di taman. Tapi jangan pernah berpikir untuk keluar kastil.”

"Apakah kau akan mengurungku selamanya di sini?” tanya Ophelia.

Bleiz tak langsung menjawab. Matanya yang tajam menatap Ophelia. “Mungkin … jika kau hamil, aku akan mempertimbangkan untuk membawamu berlibur, keluar dari kastil ini.”

Lalu Bleiz berjalan meninggalkan ruangan. Sedangkan Ophelia tampak melongo di tempat duduknya.

‘Hamil? Aku hampir lupa bahwa dia menginginkan pewaris dariku. Hamil?? Oh my God … apakah aku bisa melakukan hal gila itu? Hamil dari seorang Mafia dingin dan kejam itu? Ini benar-benar gila,” batin Ophelia.

Bleiz pergi meninggalkan Ophelia yang masih bingung dan hatinya berdebar.

Ophelia menggelengkan kepalanya. ‘Tapi jika hanya dengan itu caranya dia bisa keluar dari sini, haruskah aku melakukannya?’

*

*

Minggu berikutnya berlalu tanpa insiden berarti. Ophelia mulai terbiasa dengan rutinitasnya di kastil.

Setiap pagi, sarapan bersama Bleiz masih dilakukannya, meskipun percakapan mereka masih terkesan saling menyerang.

Setelah itu, Ophelia menghabiskan waktunya di perpustakaan, membaca buku-buku lama yang dia temukan di rak-rak tinggi.

Suatu malam, hujan deras mengguyur. Ophelia terbangun dari tidurnya karena suara petir yang keras. Ia duduk di tempat tidur, jantungnya berdebar kencang. Ophelia tidak pernah suka badai sejak kecil, sejak ayahnya meninggal dalam kecelakaan di malam badai seperti ini.

Ia menarik selimut lebih erat, mencoba menenangkan diri. Tapi suara petir semakin sering dan keras. Kilat menyambar ke arah jendela, diikuti dengan guntur yang memekakkan telinga.

Ophelia tidak tahan lagi. Ia turun dari tempat tidur, berjalan menuju pintu, dan melangkah ke lorong. Tanpa sadar, kakinya membawanya ke kamar sebelah di mana Bleiz tidur setiap malam. Masih ada cahaya yang menyala di balik pintu.

Dia mengetuk pelan.

“Masuk!” sahut suara dari dalam.

Entah apa yang dipikirkan Ophelia, dia hanya ingin teman malam ini. Tak ingin sendirian di malam yang baginya menakutkan, karena hujan yang semakin deras dan petir yang menggelegar terus menerus.

Ophelia tak segera membuka pintunya. Dia masih galau apakah harus masuk atau tidak. Tapi Ophelia tak beranjak dari depan pintu kamar itu.

Pintu akhirnya terbuka, dan Bleiz muncul di hadapannya, dengan kaos tipis berwarna hitam yang membuat tubuh atletisnya sedikit terlihat.

Ophelia menelan salivanya, ditambah lagi rambut Bleiz yang sedikit acak-acakan membuatnya terlihat mempesona di mata setiap wanita yang memandangnya termasuk Ophelia.

Matanya tetap dingin dan tak terkejut melihat Ophelia di depan pintu kamarnya di tengah malam begini.

"Ada apa?" tanyanya dengan suara dingin dan datar.

"Maaf, aku ..." Ophelia menggigit bibirnya. "Aku tidak bisa tidur. Aku hanya ... tidak mau sendirian. Dan hanya ada kau di sini yang bisa kutemui."

Bleiz terdiam sejenak. Ia menatap Ophelia, dan ekspresi dinginnya sedikit mencair. Ia mengangguk pelan, membuka pintu lebih lebar.

"Masuklah."

Ophelia masuk ke kamar itu. Di dalam, ada perapian yang menyala dengan api hangat dan meja kerja besar di mana banyak bertebaran dokumen di sana serta laptop di sana.

Ophelia melihat ranjang yang masih rapi. Ranjang di sana tak terlalu besar seperti di kamarnya, tapi kamar ini lebih luas dan ada beberapa rak buku juga.

Bleiz menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan ke sofa di dekat perapian.

"Duduklah," katanya. "Kau ingin sesuatu? Wine?"

"Tidak, aku hanya ingin duduk saja," jawab Ophelia, duduk di sofa dengan kikuk.

Bleiz duduk di seberang Ophelia. Ophelia terlihat canggung, bingung apa yang harus dibicarakan.

“Kau masih bekerja?” tanya Ophelia.

“Hm,” jawab pria itu singkat.

“Maaf mengganggumu.”

"Kau takut badai?" tanya Bleiz balik.

Ophelia mengangguk ragu. "Aku tidak suka badai.” Ophelia tak menjelaskan alasannya.

Bleiz tidak bertanya lebih lanjut, tetapi tatapannya menjadi lebih lembut. "Aku mengerti."

"Kau?" Ophelia menatapnya. "Apa kau pernah takut pada sesuatu?”

Bleiz tersenyum pahit. "Aku tidak takut pada apa pun atau siapa pun.”

"Sombong sekali,” sahut Ophelia mencebik. Ophelia tahu ada yang disembunyikan Bleiz tentang ketakutannya. Tapi Ophelia tak bertanya lebih lanjut.

“Kau ingin tidur di sini? Tidurlah di ranjang. Aku akan melanjutkan pekerjaanku,” kata Bleiz yang kemudian beranjak dari sofa, lalu menuju ke meja kerjanya.

"Kau tidak pernah kesepian di sini?" tanya Ophelia lagi ketika wanita itu pindah ke ranjang.

Bleiz terdiam, lalu mengangkat kepalanya.

“Tidak. Aku menikmati kesunyian di kastil ini.”

Ophelia tak bertanya lagi. Bleiz kembali melihat laptopnya. Dan Ophelia tanpa sadar menatapnya dari jauh.

Mereka diam dan suasana menjadi hening, Ophelia menikmati kehangatan api dan suara hujan di luar. Dan anehnya Ophelia merasa aman berada di dekat Bleiz meskipun sejak tadi suara petir masih menggelegar.

“Good night, Bleiz,” bisik Ophelia, dan Bleiz tak bisa mendengar bisikan itu.

*

*

Pagi menjelang.

Ophelia berlari sekencang mungkin melewati lorong kastil. Kakinya terasa lemas, dadanya berdebar. dan wajahnya memerah karena malu sekaligus panik.

Dia baru saja bangun dari tidur dengan posisi memeluk Bleiz, pria yang dia benci, pria yang menculiknya, pria yang dingin dan kejam. Tapi juga pria yang entah bagaimana membuatnya merasa aman dan nyaman di malam badai semalam.

‘Astaga, apa yang kulakukan?’ batinnya sambil membanting pintu kamarnya. Dia bersandar di pintu, menutup matanya rapat-rapat, berusaha mengatur napas yang masih terengah-engah.

"Ophelia, kau bodoh," gumamnya pada diri sendiri. "Kau datang ke kamarnya di tengah malam, lalu kau memeluknya dalam tidur? Apa kau kehilangan akal sehatmu?"

Dia berjalan ke kamar mandi dan menatap bayangannya di cermin. Wajahnya masih kemerahan. Rambutnya berantakan. Dan matanya terlihat kebingungan.

‘Tapi kenapa aku merasa aman di pelukannya?’ pikirnya. ‘Kenapa hatiku berdebar seperti ini?’

Ophelia menggelengkan kepalanya dengan keras. "Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Dia adalah mafia kejam. Dia menculikku. Dia memaksaku menikah dengannya. Aku tidak boleh merasakan apa pun selain benci padanya."

JANGAN LUPA KOMEN YANG BANYAK, LIKE, DAN ULASAN BINTANG 5 NYA YAAAA …

1
Ari Atik
yess betul marcus,bosmu memang bodoh😡😡😡😡
Icha gadang🌷
lanjutt thor 🔥🔥🔥
Ari Atik
oh..phelia..
😭😭😭😭
Vera Yuliani
gregeet liaaat bleeizzz
Vera Yuliani
pergiiii kaaaak
Vera Yuliani
ayooo pergiii yg jauuhh ophelia
Vera Yuliani
peergiiii yg jauuuuuh
Ari Atik
kenapa aq nangis di part ini..😭😭😭
kasihan phelia,sudah di titik kesabaran yg sudah habis..
Vera Yuliani
pergiii yg jaaauh
Vera Yuliani
pergiii ajaaa ophelia
Icha gadang🌷
lanjut thorrr 😍🔥🔥🔥
Vera Yuliani
keluaar air mataaa gegara bleiizz
Vera Yuliani
sediiih nyaaa kaaaak
Ari Atik
pergi saja pheli...
biar bleiz merasa kehilangan...
May Maya
gmna bleiz enak GK rasanya GK d harapkan lg, itu blm seberapa dari rasa sakit hati nya ophelia akan kelakuan n ucapan mu jd nikmatin aja ya apalagi skrg ada calon bayi mu otomatis kau tlah menyakiti 2 org sekaligus Krn keraguan mu itu
Vera Yuliani
ophelia pergi aja yg jauuh
Vera Yuliani
sakiit hatiii bacaa ny
Zafir Nadin
Besok crat up lagi ya kak
😁😁
Lina Cuang
up lagi kak yang banyak, makasih ya kak🤗🤗😍😍💪💪
Lina Cuang
semangat ophelia kerjain Bleiz dulu biar tau rasa gmn di sakitin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!