Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.
Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.
Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.
"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.
Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
"HP ku rusak, Mbak." Klarifikasi Ojan malam itu via telepon. "Dua hari di tempat servis, dan pagi ini baru diambil, dan baru bisa telepon kamu."
Nisa bernafas lega, seengaknya, tak terjadi hal buruk pada Ojan. Tapi bagi seorang driver ojol, HP rusak sama rasanya seperti dunia runtuh, mereka tak bisa kerja. "Kamu libur dong 2 hari ini?"
"Terpaksa," Ojan membuang nafas kasar. "Mbak, kangen ya sama aku?" terdengar suara kekehan Ojan.
"Eng, enggak." Nisa malu mengakui.
"Cie bohong. Tadi pagi ngakunya kangen." Ojan tak lagi menahan, tapi langsung ketawa cekikikan. "Jujur deh Mbak, kamu ngerasa kehilangankan?"
"Dih, kegeeran banget. Kalau duitku jatuh di jalan, baru aku ngerasa kehilangan." Sekarang gantian Nisa yang ketawa. Namun hanya sebentar, karena sebenarnya, ada pertanyaan besar yang mengusik pikirannya. "Em...kamu sibuk apa sih, sampai gak bisa antar jemput aku? Sorry, bukannya maksa atau ngerasa kamu wajib melakukan itu, tapi...cuma ngerasa kamu kayak terlalu sibuk, padahal lagi gak kerja."
"E..." Ojan terdengar seperti sedang memikirkan jawaban, khas seperti orang yang sedang berbohong. "Aku ada urusan keluarga Mbak, maaf ya."
"Oh..." Nisa manggut-manggut, tak mau berpikir negatif, meski untuk percaya itu susah sekali. "Eh Jan, di dekat rumah aku ada kafe baru loh, tapi gak deket-deket amat sih, sekitar 2 kiloan gitulah. Lusa aku gajian, sabtu malam kesana yuk, aku traktir."
"Cie...yang OTW punya duit banyak, udah berasa kayak bos besar aja," ledek Ojan.
"Gimana, bisa gak?"
"Maaf Mbak, aku gak bisa."
Nisa membuang nafas kasar. "Oh, gitu ya." Sebelah tangannya merekat bantal, rasa kecewa menyelinap di hatinya. Tak ada ikatan resmi memang antara dia dan Ojan, tapi kenapa rasanya sedih saat cowok itu akhir-akhir ini terasa jauh, tak pernah ada waktu untuknya seperti dulu. Seseorang yang biasanya menggebu-gebu, tiba-tiba kayak menjauh, wajar gak sih, kalau ia merasa ada something.
"Eh Mbak, pengen makan sesuatu gak?"
Tawaran itu, seketika membuat bibir Nisa melengkung ke atas. Rasa kecewa yang beberapa saat tadi bertahta, seketika hilang dan berganti antusias. "Kamu mau kesini?"
"E...enggak sih, cuma mau mesenin makanan kalau kamu pengen sesuatu."
Bagaikan rollercoaster, sesaat berasa di atas, sesaat kemudian meluncur kembali ke bawah. Rasa kecewa dan bahagia, datang silih berganti dalam waktu yang sangat cepat.
"Pengen apa, Mbak? Seblak, bakso, pizza, martabak, atau apa?"
"Gak usah deh, aku udah kenyang, barusan makan. "
"Yah, padahal aku pengen beliin. Martabak mau ya Mbak, yang kayak waktu itu?"
"Gak usah Jan, kamu simpan aja uang kamu, kan beberapa hari ini gak kerja, habis servis HP juga."
...----------------...
"Aku hari ini nginep di kosanmu ya, Din." Nisa yang baru kembali dari ruangan Bu Intan, menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi pantry. Hari ini Sabtu, tapi mereka berdua lembur karena memang hampir semua staf juga lembur hari ini.
"Tumben?" Dinda menyeruput es kopi yang baru dia buat. Hari ini bawaannya ngantuk mulu, musti minum kopi demi mata bisa melek dan tangan serta kaki bisa dipakai kerja.
"Sandi dan keluarganya ke rumah. Males aja ketemu mereke." Nisa membuang nafas kasar. Niat awal pengen keluar dengan Ojan sampai malam, tapi cowok itu beralasan sibuk, ada acara keluarga.
"Takut sakit hati?"
"Dih, sorry banget!" Nisa memutar kedua bola matanya malas. "Aku cuma males aja. Bayangin ya, kalau aku musti keluar, terus bawa nampan berisi minuman serta camilan, menghidangkan pada mereka sambil harus senyum dan basi-basi, menggelikan bangetkan?" Ia bergidik ngeri. "Selain itu, gak mau aja, kalau orang tuanya menatap kasihan sama aku. Padahal kan, aku gak minta dikasihani, bahagia banget malahan lepas dari anaknya."
"Terus nanti yang bantuin ibu kamu siapa? Ya masa dia nyambut tamu, dia pula yang musti ngambilin makanan atau lainnya dari dalam?"
"Ya biar Naina aja. Catet ya, hari ini orang tuanya Sandi datang buat bahas pernikahan, bukan buat acara resmi lamaran yang harus dandan cantik plus ada dekorasi di rumah, fotografer dan tetek bengeknya. Biar dia aja yang ngelayanin calon mertua dan iparnya," Nisa tersenyum kecut.
"Eh Nis, kalau gitu, gimana nanti pulang kerja, kita mampir dulu ke resto baru di Jl. Manunggal. Restoran steak, enak-enak reviewnya, cozy vibes juga. Lokasinya di depan rumah sakit."
Mendengar kata steak, Nisa langsung keinget Ojan. Cowok itu suka steak, hari itu sampai nambah 2 kali. Tapi, Ojan seperti berubah akhir-akhir ini. Masih sering WA dan telepon, tapi gak pernah menampakkan batang hidungnya. Setiap diajak ketemu, alasannya selalu sibuk.
Pulang kerja, Nisa dan Dinda tak langsung ke kos, mereka mampir dulu untuk makan di tempat yang tadi siang dibilang Dinda. Lokasinya gampang dicari, depan rumah sakit, tapi tak pas depan banget sih. Selain resto yang terlihat lumayan besar, tempat parkirnya luas.
"Din, kayaknya rame banget." Nisa memperhatikan deretan motor dan mobil di tempat parkir.
"Ya namanya baru buka Nis, terus viral, ya rame. Lokasinya juga gampang banget dicari. Yuk ah, gak sabar pengen ngerasain."
"Eh, mahal gak sih?" Nisa menahan lengan Dinda yang mau jalan.
"Katanya sih standar harganya, gak mahal, gak murah. Mumpung masih baru banget gajian. Jangan pelit-pelit sama diri sendiri. Dulu kamu ngirit, yang nikmatin uang kerja keras kamu malah Si Nai dan Sandi yang gak tahu diri itu. Buat pengalaman, lain kali jangan terlalu baik sama orang. Inget Nis, sebelum bahagiain orang, bahagiain diri kamu sendiri dulu. Yuk ah, lapar." Dinda mengusap perutnya.
"Bapak kamu gimana keadaannya?" tanya Nisa, berjalan beriringan menuju pintu masuk.
"Alhamdulillah Nis, sudah lebih baik. Dapat uang jasa raharja, terus yang nabrak juga tanggung jawab, lega aku."
"Syukurlah. Din, beneran ini gak mahal, bagus banget loh tempatnya."
"Innalillahi. Baru juga aku ceramahin, masih aja gak masuk di otak kamu, Nis." Dinda mendelik tajam. "Yuk masuk!"
Seorang waitress yang berdiri di dekat pintu membukakan pintu dan menyambut mereka. Kondisi resto memang lumayan rame, hampir semua meja ada yang ngisi.
"Mau Dine in atau take away?" tanya waitress laki-laki berseragam hitam.
"Dine in," sahut Nisa cepat.
"Baik." Waitress tersebut tersenyum ramah. "Silakan Kak, disana ada meja kosong," menunjuk sebuah meja kosong agak di pojokan.
Nisa dan Dinda mengangguk sopan, lalu melangkah menuju meja yang dimaksud. Namun, langkah kaki Nisa seketika terhenti sebelum sampai di meja yang dituju.
"Ojan," gumam Nisa pelan. Ia melihat cowok itu sedang menikmati steak bersama seorang wanita cantik.
"Ayo, Nis." Dinda menarik lengan Nisa. "Malah bengong."
"Mbak Nisa." Ojan yang kebetulan juga melihat, langsung panik.
"Gak usah makan disini, Din. Kita nyari tempat lain aja." Nisa buru-buru balik badan, melangkah cepat, menuju pintu keluar.
"Mbak!" Ojan hendak berdiri, tapi lengannya ditahan Meysha.
"Nis, gimana sih, udah terlanjur masuk kok malah keluar lagi. Malu-maluin tahu gak?" cerocos Dinda dengan muka cemberut.
cemburu segitunya jaaannn