NovelToon NovelToon
Salah Loker, Malah Jadi Nyonya Muda

Salah Loker, Malah Jadi Nyonya Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Duda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rosella Nona

Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.

Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.

Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melisa Tidak Bersalah

Setelah mendengar nama Sheila keluar dari mulut Melisa, Dharma segera mengirim barang-barang yang diduga dicuri Melisa kemarin. Ia perlu membuktikan sesuatu, kalau benar tidak ada sidik jadi Melisa di sana, berarti perempuan itu tidak pernah berbohong.

“Kirim hasilnya hari ini juga ya,” perintah Dharma.

“Baik, Pak Dharma. Kami usahakan laporannya terkirim ke email bapak sebelum dua belas jam.” 

Dharma mengangguk puas. 

Dalam perjalanan pulang, Bu Inggit meneleponnya.

“Halo, Ma.”

Setelah menyimak kalimat di Seberang telepon, Dharma berbicara lagi. “Sudah. Aku sudah memberikan pesangon yang layak untuk semua pegawai yang dirumahkan.”

“Oke, aku ke sana sekarang.” 

Bu Inggit mendapat info penting yang tidak bisa disampaikan hanya lewat telepon. Jadi, Dharma langung pergi ke tempat yang ditentukan. 

“Akhirnya kamu datang juga, Dharma. Apa laporan yang kamu dapat dari tim penyelidik kepolisian?” Bu Inggit langsung menanyakan itu tanpa perlu basa-basi.

“Hanya korsleting listrik, Ma. mereka juga ngasih aku foto-foto lokasi korsletingnya. Semuanya masuk akal.”

Bu Inggit menggeleng. “Bukan itu. Mama meminta tim ahli kenalan mama untuk menyelidiki ini hari itu juga. Di cctv yang mereka temukan di sekitar sana, ada orang yang sengaja membakar resto. Bukan satu orang, ada dua kelompok, tapi yang satu batal melakukan aksi karena sudah ada orang lain yang lebih dulu membuat kebakaran di sana.”

Dharma terhenyak. Ini fakta yang benar-benar baru sampai di telinganya, dan informasi dari ibunya sudah pasti valid. 

“Apa Sheila di balik itu semua, Ma?” tanya Dharma ragu. Ia tiba-tiba ingat Melisa yang menyebut nama Sheila tentang lukanya.

Bu Inggit mengangguk. “Benar. Bagaimana kamu bisa menebaknya? Apa kalian ada masalah?"

"Seingatku sih tidak."

"Ingat-ingat lagi nanti." Bu Inggit memperingatkan. "Lalu satu tim lagi belum diketahui," lanjutnya.

Dharma memejamkan matanya, ia tidak ingin percaya. Sheila dan keluarganya adalah orang-orang yang paling mendukungnya saat ia pertama kali mengatakan akan coba membuka resto dulu. 

“Motifnya apa juga sudah temukan?” tanya Dharma memastikan.

“Belum. Sejauh ini mereka terlihat baik-baik saja dan tidak menunjukkan celah apapun. Tim mama hanya berhasil menemukan orang-orang itu dan menginterogasinya.”

Mereka berdua diam sebentar. Riuh dalam dugaan-dugaan dalam kepalanya masing-masing.

“Mama tinggal mencari tahu yang satu tim lagi suruhan siapa. Selama ini semua belum jelas, kamu tetap bersikap sewajarnya saja kepada mereka dan tetap waspada. Jaga Melisa, Dharma. Dia istrimu. Kalau kamu belum bisa menerima itu, mama minta tolong jaga dia karena dia adalah anak yang mama bawa untuk bergabung ke keluarga ini, seperti Maya.” Bu Inggit menyampaikan pesannya pada Dharma dengan serius.

…

Dharma pulang ke rumah untuk memastikan Melisa baik-baik saja dan tidak ke mana-mana. Ia tidak bisa menghubungi Melisa karena sampai hari ini mereka belum juga bertukar nomor. Mengingat itu, di tengah jalan ia berbalik ke arah toko ponsel dulu untuk membeli yang baru, sebelumnya ia sempat melihat ponsel Melisa sudah butut. 

Sesampainya di rumah, ia mendengar kegaduhan dari luar. Khawatir terjadi hal buruk, ia segera masuk. 

“Sedang apa mereka semua?” Dharma melihat tiga pembantu di rumah mereka bekerja sama menyerang Melisa. 

Ia memastikan penglihatannya, siapa tahu ada yang salah. 

Bu Nani terlihat menarik rambut Melisa sambil mengatakan sesuatu, lalu menamparnya dua kali. Dharma terkejut bukan main. Dua orang lainnya memegangi kedua tangan Melisa sehingga perempuan itu tidak bisa melakukan perlawanan. 

“Ada apa ini?” Tanpa buang waktu, Dharma langsung mendekat dan berusaha melerai mereka. Ia khawatir luka bakar di paha Melisa terdampak dan jadi semakin parah. 

Mendengar suara Dharma yang begitu keras, dua orang yang memegangi Melisa langsung melepaskannya dan mundur sambil menundukkan kepala. Sementara Bu Nani malah menatap Dharma dengan wajah tanpa rasa takut. 

“Ada apa ini, Bu Nani?” cecar Dharma. Ia meraih Melisa agar berlindung di sampingnya. 

“Nona Melisa menyerang kami lebih dulu, Pak. Dia meminta kami melakukan banyak hal sejak pagi tanpa istirahat sama sekali sambil memukul dan berteriak ke wajah kami.”

Dharma melihat ke arah Melisa. Melisa yang dituduh melakukan hal yang tidak-tidak jelas saja langsung menggelengkan kepala dengan yakin untuk membela diri. 

“Jangan bohong, Nona Melisa. Kami memang hanya pembantu, tapi kami juga manusia.” Bu Nani mengatakannya dengan wajah memelas. 

“Oke, ini bukan pertama kalinya Melisa dituduh melakukan sesuatu yang negatif. Saya tidak bisa mempercayai salah satu pihak begitu saja, lebih baik kita lihat rekaman CCTV dulu untuk membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah di sini.”

Mereka bertiga terkejut. Apalagi Bu Nani dan Rosa, mereka berdua selama ini yang berlaku paling buruk. 

Melisa juga terkejut, tapi ia lebih ke ekspresi bersukur. Ia menoleh ke sana ke mari mencari letak CCTV itu, tapi tidak ia temukan. 

“Di mana kamu memasang CCTV, Pak Dharma? Apa ini hanya gertakan?” tanya Melisa yang mulai tidak yakin. 

“Di sudut setiap lukisan.” 

Semua orang reflek menoleh pada lukisan-lukisan yang ditempel di dinding. Mereka memperhatikannya dengan seksama untuk menemukan letak CCTV itu. Kalau saja mereka tahu, pasti mereka memilih melakukan aksinya di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh kamera CCTV. Namun, semua sudah terlambat. 

“Bagaimana ini, Bu?” rengek Rosa pada Bu Nani. Satu pembantu lainnya juga melakukan hal yang sama. 

“Diam. Kita harus mencari cara agar bisa lolos dari kemarahan Pak Dharma,” ucap Bu Nani. Ia berusaha menenangkan teman-temannya. 

Dharma meminta penjaga untuk mengunci semua akses masuk dan akses keluar agar tidak ada yang bisa pergi dari sini sebelum urusan ini beres. 

Rekaman CCTV hari itu tidak menunjukkan video yang sesuai dengan pembelaan Bu Nani tadi, hanya keadaan rumah yang tenang sampai muncul Melisa yang membawa obat untuk tanaman dan hendak menuju taman bunga tiba-tiba dihadang oleh tiga orang itu dan terjadi penyerangan seperti yang Dharma lihat tadi. 

Bu Nani langsung bersimpuh di lantai dan berkali-kali meminta maaf sambil menangis. Ia menyatakan penyesalan yang mendalam diikuti dua orang lainnya. 

“Apa motif kalian melakukan ini? Apa Melisa melakukan kesalahan pada kalian?” Dharma berusaha mencari tahu dengan sabar. 

“Kami tidak bermaksud begitu, Pak. Saya mohon maafkan kami. Kami juga diancam, kalau tidak berbuat buruk sampai Nona Melisa pergi dari rumah ini, maka keluarga kami di rumah yang akan mendapatkan akibatnya.” Rosa berusaha membela diri. 

“Siapa yang berani mengancam kalian?” 

“Nona Sheila, Pak. Tolong kami, Pak Dharma. Jangan sampai dia tahu kami sudah membocorkan informasi ini.”

“Bagaimana aku bisa percaya kalian tidak mengatakan kebohongan lagi? Bisa saja kalian asal menyebutkan nama Sheila untuk menumbalkannya atas semua kejadian ini?” 

“Kami berani bersumpah, Pak. Ini semua perintah Nona Sheila.”

Ponsel Dharma berdering. Notifikasi email untuk laporan hasil penemuan sidik jari pada barang bukti pencurian. Ia segera membukanya, meskipun sudah menyangka hasilnya akan seperti ini, Dharma tetap membacanya sampai selesai agar hatinya semakin yakin dan lega. 

Tidak ada sidik jari Melisa sama sekali pada semua benda itu. 

Dharma melihat mereka lagi. “Soal pencurian kemarin, apa itu juga ide Sheila?”

“Benar, Pak.” 

Dharma tidak bisa menyangkal lagi. Ini semua benar-benar didalangi oleh Sheila, orang yang sejak dulu bersikap manis di depannya. 

1
yuqana
karyanya bagus rekomend buat dibaca karya pertama semoga sukses yaa kak ditunggu up yaa🥰🥰😍😍😘😘
Anonim: Makasih banyak untuk dukungannya kak.
iya nih, baru karya pertama. semoga kakak juga sukses yaa 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!