NovelToon NovelToon
Vendetta

Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:926
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KIRIMAN PESAN GELAP

Hujan di luar motel semakin deras, menampar kaca jendela buram dengan ritme yang berisik. Di dalam kamar nomor 12 yang sempit itu, satu-satunya sumber cahaya berasal dari layar tablet milik Elena. Gadis itu duduk bersila di atas karpet tipis di samping kasur, kabel hitam panjang menjulur dari tabletnya dan terhubung ke sebuah ponsel lipat murahan yang baru saja ia keluarkan dari dasar tas ranselnya.

Leo masih duduk di tepi kasur, bertelanjang dada dengan perban putih yang melingkari bahu kanannya. Nyeri dari memar di dadanya membuat setiap tarikan napas terasa seperti ditusuk jarum, tapi matanya tetap fokus menatap layar terang di pangkuan Elena.

"Kau yakin bisa menembus ponsel pribadinya?" tanya Leo menyandarkan sikunya ke lutut, menahan ringisan pelan. "Marco itu paranoid tingkat dewa. Sejak ayahku mengangkatnya jadi tangan kanan, dia selalu mengganti ponselnya setiap dua minggu sekali dan pakai enkripsi militer."

"Enkripsi militer itu cuma istilah *marketing* buat menakut-nakuti orang gaptek," jawab Elena mendengus pelan, jari-jarinya menari cepat di atas *keyboard* virtual tabletnya. "Waktu aku meretas server Golden Palace tadi, aku tidak cuma mematikan alarm. Aku juga menyedot data kontak darurat manajer lantai. Kalau ada perampokan jutaan dolar, tebak siapa orang pertama yang akan ditelepon oleh si manajer botak itu?"

"Marco," gumam Leo mulai mengerti arah pikiran gadis itu.

"Tepat," sahut Elena tersenyum miring tanpa menoleh dari layar. "Aku sudah melacak nomor itu. Dia pakai jaringan satelit pribadi, yang ironisnya, justru membuatnya lebih mudah diisolasi kalau kau tahu cara mem-Bypass *firewall* penyedianya. Beri aku waktu dua menit untuk membuat jalur palsu agar pelacakannya nyasar ke server di Rusia."

Leo memperhatikan gadis itu bekerja. Cahaya biru dari layar memantul di wajah Elena, memperlihatkan sisa-sisa riasan mahalnya yang kini bercampur debu dan keringat. Gaun malamnya yang robek membuat gadis itu terlihat seperti putri pemberontak dari film distopia.

"Oke, jalurnya sudah aman," lapor Elena menekan tombol *Enter* dengan penekanan ekstra. Ia menengadah menatap Leo. "Ponselnya sekarang terbuka untuk kita. Kau mau mengirim pesan apa? 'Halo, aku masih hidup' terlalu membosankan."

Leo terdiam. Otaknya berputar memikirkan kata-kata yang tepat. Ia tidak ingin pesan yang panjang. Ia ingin sesuatu yang tajam, sesuatu yang bisa mengoyak rasa aman Marco yang baru saja ia bangun selama dua hari terakhir. Marco pasti berpikir Leo sudah mati tenggelam di sungai, atau setidaknya sedang sekarat di selokan kumuh.

"Kita butuh bukti visual. Sesuatu yang membuat dia tidak bisa mengelak atau mengira ini cuma orang iseng," ucap Leo beranjak dari kasur.

Ia berjalan perlahan ke arah tas kanvas raksasa yang tergeletak di sudut ruangan. Leo membuka resletingnya, memperlihatkan tumpukan bendel uang seratus dolar dan beberapa keping cip VIP ungu bernilai sepuluh ribu dolar yang tidak sengaja terbawa.

Leo mengambil dua bendel uang dan tiga cip ungu, lalu meletakkannya di atas meja rias kayu yang kusam. Setelah itu, ia menggunakan tangan kirinya untuk melepas cincin perak berukir kepala serigala—lambang kekuasaan klan Valenti—dari jari manisnya. Ia meletakkan cincin yang masih memiliki bercak darah kering itu tepat di atas tumpukan uang dan cip kasino.

"Foto ini," perintah Leo menunjuk susunan barang tersebut.

Elena bangkit dari karpet membawa tabletnya. Gadis itu tersenyum tipis melihat komposisi objek di depannya.

"Brilian. Simbol kekuasaan yang hilang di atas uang hasil rampokan," puji Elena mengarahkan kamera tabletnya dan mengambil beberapa jepretan. Ia memilih satu foto dengan pencahayaan terbaik, bayangan cincin serigala itu terlihat sangat mengancam di bawah lampu kamar yang redup.

Elena kembali duduk bersila dan memasukkan foto itu ke dalam baris pesan terenkripsi.

"Lalu, apa teksnya?" tanya Elena siap mengetik.

Leo menatap pantulan dirinya sendiri di cermin meja rias. Wajah aslinya terlihat lelah, tapi matanya menyala oleh dendam yang membara.

"Tulis ini," ucap Leo suaranya berubah menjadi bariton yang dingin dan mematikan. "Uang tiga juta dari Golden Palace lumayan berat. Tidur yang nyenyak, Marco. Takhta itu cuma pinjaman, dan pemilik aslinya sudah datang untuk menagih."

Elena mengetikkan setiap kata itu tanpa ragu.

"Bagus. Singkat, padat, dan sangat menakutkan," komentar Elena mengangguk puas. "Sebelum aku menekan tombol kirim, aku akan menyusupkan *malware* kecil ke pesannya. Begitu dia membuka foto ini, kamera depan dan mikrofon ponselnya akan menyala otomatis selama tiga puluh detik dan mengirimkan siarannya ke kita. Aku ingin lihat wajah bajingan itu."

"Kau bisa melakukan itu tanpa ketahuan?" Leo mengangkat sebelah alisnya, merasa kagum.

"Malam ini, aku adalah Tuhan di jaringan ini," jawab Elena tersenyum congkak.

Gadis itu menekan tombol kirim. Layar tabletnya langsung membelah menjadi dua. Sebelah kiri menampilkan status pengiriman pesan, sementara sebelah kanan menampilkan jendela pemutar video yang masih gelap.

"Terkirim. Sekarang kita tunggu dia membukanya," bisik Elena matanya tak berkedip menatap layar.

Leo ikut duduk di tepi kasur, mencondongkan tubuhnya ke arah tablet. Jantungnya berdebar pelan.

Tiga puluh detik berlalu. Angka status di layar berubah dari 'Terkirim' menjadi 'Dibaca'.

Seketika, jendela video di sebelah kanan menyala. Kualitas gambarnya tidak terlalu tajam, tapi cukup jelas untuk melihat wajah Marco dari *angle* bawah, khas sorotan kamera depan ponsel.

Marco sedang duduk di kursi kebesaran yang terbuat dari kulit hitam—kursi yang sama yang dulu diduduki ayah Leo di ruang kerja Valenti Tower. Pria paruh baya itu masih mengenakan kemeja hitam mahal, tapi rambutnya yang biasanya klimis terlihat sedikit berantakan. Wajahnya merah padam, otot rahangnya menonjol keras.

Suara dari mikrofon ponsel Marco mulai masuk ke telinga mereka, terdengar agak pecah namun jelas.

*"...aku tidak mau dengar alasan apa pun, Silas! Bagaimana bisa satu orang mengobrak-abrik ruang hitung dan lari membawa tiga juta dolar dari kasinoku yang dijaga empat puluh orang?!"* bentak Marco ke arah seseorang yang berdiri di luar jangkauan kamera. Suaranya menggema di ruangan mewah itu.

*"Pria itu menyamar, Bos. Dia pakai identitas palsu, dan ada peretas yang melumpuhkan sistem keamanan kita dari luar,"* terdengar suara gemetar seorang pria dari kejauhan, yang Leo yakini sebagai Silas, kapten keamanan kasino.

*"Cari dia! Sisir seluruh distrik timur! Kalau uang itu tidak kembali sebelum matahari terbit, kau yang akan kugantung di jembatan-"*

Ucapan Marco terhenti. Pandangannya tiba-tiba turun ke arah layar ponsel yang sedang ia pegang. Di layar tablet Elena, Leo bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi Marco berubah drastis.

Kemarahan di wajah Marco seketika membeku. Matanya melebar menatap foto cincin serigala di atas uangnya. Mulutnya sedikit terbuka, napasnya seolah ditarik paksa dari paru-parunya. Warna merah di wajahnya memudar, digantikan oleh pucat pasi yang membuatnya terlihat seperti baru saja melihat hantu.

*"B-Bos? Anda baik-baik saja?"* tanya Silas dari kejauhan, nada suaranya terdengar bingung.

Marco tidak menjawab. Tangannya yang memegang ponsel mulai bergetar hebat. Ia membaca pesan teks di bawah foto itu berulang-ulang, seakan mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa matanya salah.

*"Tidak mungkin..."* bisik Marco suaranya nyaris tercekat di tenggorokan. *"Anak sialan itu... dia masih hidup."*

Kepanikan murni mulai merayapi mata Marco. Ia membanting tinjunya ke atas meja kayu ek raksasa di depannya.

*"Keluar! Keluar kalian semua dari ruanganku! Sekarang!"* teriak Marco membabi buta, suaranya melengking karena histeris.

Terdengar suara langkah kaki terburu-buru meninggalkan ruangan. Marco masih menatap layar ponselnya dengan napas memburu. Ia mengangkat ponsel itu mendekat ke wajahnya, membuat kamera menangkap jelas kilat ketakutan di matanya.

*"Kau mau main-main denganku, Leo? Aku akan membakarmu hidup-hidup..."* desis Marco ke arah layar, seolah tahu Leo sedang menatapnya.

Sedetik kemudian, Marco membanting ponsel itu dengan sekuat tenaga ke dinding.

KRAAAK!

Video di layar tablet Elena seketika mati, berubah menjadi statis semut abu-abu sebelum akhirnya kembali menjadi hitam pekat.

Keheningan kembali menyelimuti kamar motel nomor 12. Hanya ada suara hujan di luar sana.

Elena menutup jendela program peretasannya dengan gerakan santai, lalu meletakkan tabletnya di atas meja nakas. Gadis itu menoleh ke arah Leo, senyum puas terukir jelas di wajahnya.

"Kurasa pesanmu tersampaikan dengan sangat baik, Pangeran," ucap Elena meregangkan kedua lengannya ke atas, tulang punggungnya berbunyi pelan.

Leo mengembuskan napas panjang, menyandarkan punggungnya perlahan ke kepala ranjang, sangat berhati-hati agar tidak menekan memarnya. Ada kepuasan gelap yang mengalir deras di pembuluh darahnya. Melihat pria yang membunuh ayahnya gemetar ketakutan adalah obat penawar rasa sakit yang paling mujarab malam ini.

"Dia tidak akan bisa tidur," gumam Leo menatap langit-langit kamar yang bernoda lembap. "Marco itu licik, tapi dia pengecut di dalam hatinya. Begitu dia tahu aku tidak mati, dia akan mulai mencurigai bayangannya sendiri. Dia akan meragukan kesetiaan semua kaptennya."

"Dan kepanikan selalu membuat orang melakukan kesalahan," sambung Elena setuju. Ia beranjak berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. "Aku mau mandi air panas untuk membersihkan debu sialan ini. Jangan coba-coba mengintip, atau kubuat kau buta betulan."

Leo terkekeh pelan, tawa yang membuat dadanya sedikit nyeri tapi ia tidak peduli.

"Aku lebih suka tidur, Phantom. Tenagaku sudah habis," sahut Leo memejamkan matanya, membiarkan rasa lelah akhirnya mengambil alih kesadarannya.

"Mimpi indah, Pangeran," balas Elena dari balik pintu kamar mandi yang sudah tertutup.

Malam itu, di sebuah motel kumuh yang dijepit hujan badai, dua buronan paling dicari di kota itu akhirnya bisa beristirahat sejenak. Namun di seberang kota sana, di dalam Valenti Tower yang megah, seorang pengkhianat baru saja menyadari bahwa mahkota curiannya kini berlumuran bensin, dan sang pemilik asli telah datang membawa korek api.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!