Aksi heroik Kapten Fikri Rafisqy ditengah perampokan swalayan berujung duka. Berusaha menyelamatkan seorang anak kecil, Fikri tak sadar peluru maut mengincar nyawanya. Naas, seorang kakek justru mengorbankan diri demi menyelamatkannya. Dalam kondisi kritis dirumah sakit, sang kakek menyampaikan wasiat terakhir: Fikri harus menikahi cucu tunggalnya, Seruni Shafira, gadis penjual bunga kini sebatang kara.
Seruni menolak tegas. Bagaimana mungkin ia harus menikah disaat impian sekolahnya masih membumbung tinggi? Namun demi melunasi utang nyawa dan amanah terakhir, Fikri menerimanya. Didepan ruang ICU, ijab kabul terucap sebelum sang kakek mengembuskan napas terakhirnya.
Kini, kehidupan mereka berubah total. Bisakah Seruni menerima takdir pernikahannya bersama pria yang terpaut jarak usia 12 tahun darinya? Apalagi, Seruni masih bersikeras memanggil suami dengan sebutan "Paman"!
Saksikan kisah cinta penuh liku, aksi menegangkan dan kepolosan Seruni yang meluluhkan hati dingin Kapten Fikri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambisi yang Makin Membara
Baling-baling helikopter evakuasi medis meraung-raung membelah deru hujan malam yang belum sepenuhnya reda. Di dalam kabin helikopter yang sempit, Tim Medis Kesatuan Kepolisian berjuang menjaga kondisi vital Kapten Fikri yang tak sadarkan diri. Tabung oksigen dan cairan infus terpasang, sementara perban darurat di perut dan paha kirinya perlahan mulai merembeskan warna merah pekat.
Helikopter mendarat darurat di landasan Rumah Sakit Pusat Bhayangkara. Fikri langsung dilarikan ke ruang tindakan bedah darurat. Briptu Dimas berdiri cemas di luar lorong, menatap pintu berlampu merah dengan napas terengah-engah dan seragam yang masih bernoda lumpur Hutan Tamiang.
Dua jam berlalu bagaikan siksaan lambat hingga akhirnya pintu operasi terbuka. Dokter bedah keluar seraya menyapu keringat di dahinya.
"Bagaimana keadaan Kapten Fikri, Dok?!" seru Dimas langsung menghambur mendekat.
Dokter menghembuskan napas lega. "Beruntung benturan tameng besi itu tidak merusak organ dalam atau mematahkan tulang rusuknya. Tapi luka robek di perut akibat hantaman sudut tameng dan luka sayat di paha kirinya cukup dalam. Kami sudah melakukan tindakan penjahitan. Dia sangat kuat, tapi wajib dirawat inap beberapa hari sampai lukanya benar-benar mengering."
Fikri dipindahkan ke ruang perawatan VVIP kesatuan. Tak butuh waktu lama, perwira tangguh itu mulai menggerakkan jemarinya. Kelopak matanya perlahan terbuka, menyesuaikan cahaya lampu ruangan yang putih bersih.
"Kapten! Anda sudah sadar?" desis Dimas bergegas mendekati sisi ranjang.
Fikri menggerakkan bibirnya yang pucat, mencoba mentoleransi rasa nyeri menusuk yang menjalar dari perut dan pahanya. "Warga... bagaimana...?"
"Warga desa selamat tanpa luka, Kapten! Hasan Srigala dan seluruh komplotannya sudah diamankan di sel markas," jawab Dimas cepat. Ia lalu merogoh ponselnya dari saku. "Kapten, saya akan hubungi Mbak Seruni sekarang. Dia harus tahu keadaan Anda..."
"Jangan," pangkas Fikri cepat. Suaranya serak, namun ketegasannya tak berkurang sedikit pun.
Dimas tertegun, menatap sang atasan tak percaya. "Tapi Kapten... Mbak Seruni itu istri Anda. Dia berhak tahu."
"Dia sedang ujian sekolah dan fokus membesarkan toko bunga," ujar Fikri seraya memejamkan mata sejenak menahan sakit. "Kondisi emosionalnya baru saja stabil. Kalau dia tahu saya dirawat akibat ledakan, dia akan syok lagi. Rahasiakan ini dari Seruni. Bilang saja tugas luar saya diperpanjang beberapa hari untuk pemberkasan."
Dimas mengepalkan tangan ragu, namun melihat tatapan mengintimidasi Fikri, ia akhirnya menunduk pasrah. "Siap, Kapten. Perintah dilaksanakan."
Tepat saat itu, ponsel dinas Fikri di atas meja nakas bergetar pelan. Bip!
Dimas mengambil ponsel itu dan menyerahkannya ke tangan Fikri. Dengan jemari yang masih agak gemetar, Fikri membuka layar ponselnya. Sebuah pesan singkat masuk:
Seruni: 'Lapor Paman Kapten! Hari ini di toko bunga ramai banget, Runi dapat tips lumayan! Runi sudah di rumah dinas sama Mbak Mayang, sudah makan juga. Paman kapan pulang? Jangan lupa makan ya, nanti maag Paman kumat! Aman!'
Membaca pesan polos nan cerewet itu, sudut bibir Fikri yang pucat perlahan terangkat. Sebuah senyuman tipis dan hangat terkembang di wajah tegas sang perwira. Rasa nyeri hebat di perut dan pahanya mendadak terasa sedikit berkurang. Pesan sederhana dari istri kecilnya itu bagaikan obat penawar paling ampuh di tengah kaku dan dinginnya ruang perawatan rumah sakit.
Tunggulah sebentar lagi, Seruni... batin Fikri seraya memegang ponsel itu di dadanya.
Keesokan harinya, di SMA Tunas Bangsa, suasana di sekitar Seruni mulai terusik oleh kehadiran seseorang yang pantang menyerah.
Bagas, siswa paling populer yang dendam dan gengsi berat akibat ditolak mentah-mentah oleh Seruni di koridor sekolah, mulai melancarkan aksi pendekatan yang lebih gila. Di jam istirahat, Bagas sengaja meletakkan kotak susu UHT dan roti cokelat di atas meja Seruni seraya tersenyum sok perhatian.
"Seruni, ini buat kamu. Kamu kan sibuk jaga toko, harus jaga kesehatan," ujar Bagas dengan nada manis yang dibuat-buat di depan teman-teman sekelas.
Seruni bahkan tidak menoleh. Dengan wajah cuek dan polos tanpa beban, Seruni menggeser kotak susu itu ke arah Cindy. "Nih, Cindy, buat kamu saja. Aku tidak suka susu rasa vanila."
Cindy tertawa kegirangan menyambar susu gratisan itu, sementara wajah Bagas seketika berubah agak keruh menahan malu. Namun, laki-laki itu tidak menyerah begitu saja.
Sore harinya, saat Seruni sedang sibuk merangkai kuntum-kuntum krisan putih di toko bunga Kakek Rahmat, dering lonceng pintu berdenting nyaring.
"Selamat datang di Toko Bunga Me..." Ucapan Seruni terhenti saat melihat sosok yang masuk.
Bagas berdiri di sana dengan seragam sekolah yang sudah dikeluarkan rapi, tersenyum manja seraya melangkah mendekati meja kasir. "Hai, Runi. Ternyata toko bunga kamu harum banget ya, sama kayak yang punya."
Seruni merotasikan kedua bola matanya dengan sangat malas. "Mau beli bunga apa, Bagas? Kalau tidak beli, tolong jangan menghalangi jalan. Banyak pesanan yang harus aku antar."
Bagas justru makin nekat. Ia memajukan tubuhnya menopang paha di tepi meja kayu, mencoba meraih pergelangan tangan Seruni yang sedang memegang gunting bunga. "Aku tidak mau beli bunga, Runi. Aku mau bantu kamu. Apapun yang kamu mau, aku siap lakukan. Kamu tidak usah jual mahal terus begitu, kita kan bisa..."
TAK!
Sebuah cengkeraman tangan tegap yang kuat mendadak mencengkeram bahu Bagas dari belakang, menahannya dengan takik keras!
"Aww!" ringis Bagas kesakitan, menoleh kaget ke belakang.
Briptu Mayang Sari berdiri tegap di sana! Polwan cantik itu mengenakan pakaian taktis kepolisian, matanya menatap Bagas dengan kilatan tajam nan mengintimidasi khas aparat yang sedang bertugas.
"Sedang apa kamu di sini, Adik?" suara Mayang dingin dan menekan, membuat atmosfer di dalam toko bunga yang harum itu mendadak menjadi sangat tegang.
Bagas menelan ludahnya kasar, mencoba melepaskan cengkeraman Mayang namun gagal karena kuncian Polwan itu sangat presisi. "S-saya... saya cuma mau main ke toko teman sekelas saya, Mbak!"
Mayang memicingkan mata, memajukan wajahnya hingga berjarak beberapa senti dari Bagas. "Toko ini berada di bawah pengawasan penuh Kepolisian Kesatuan. Mengganggu kenyamanan pemilik toko sama saja dengan memicu tindakan penertiban. Sekarang, keluar sebelum saya panggil mobil patroli untuk membawamu ke markas atas dugaan tindakan tidak menyenangkan!"
Wajah Bagas seketika pucat pasi. Rasa takut pada seragam polisi membuatnya mundur teratur. "I-iya, Mbak! Saya pulang sekarang!"
Bagas terburu-buru melangkah keluar toko, menghentakkan kakinya ke jalanan dengan napas memburu. Namun, saat berdiri di seberang jalan menatap toko bunga dari jauh, rasa malu yang membakar dadanya justru berubah menjadi ambisi liar yang makin memuncak.
"Polisi lagi... polisi terus yang mengawal dia!" geram Bagas dengan mata memerah menahan dendam. "Seruni... semakin kamu bentengi dirimu dengan polisi-polisi itu dan semakin kamu cueki aku, semakin penasaran aku buat menaklukkanmu dan menjadikanmu milikku!"
Di dalam toko, Seruni hanya menghembuskan napas lega seraya menepuk-nepuk tangannya. "Terima kasih banyak ya, Mbak Mayang! Anak itu memang agak aneh!"
Mayang tersenyum tipis, namun di dalam hatinya ia mulai khawatir. Bunga yang cantik selalu mengundang kumbang-kumbang berbahaya, dan saat sang Kapten sedang terbaring lemah di rumah sakit, ancaman di sekitar sang istri kecil tampaknya baru saja dimulai.