Sambil membawa surat hasil pemeriksaan kehamilannya, Kinan berlari menuju ruangan suaminya. Dia tidak sabar menyampaikan pada suaminya kalau dia hamil. Tapi saat akan membuka pintu,
"Bima, istriku mengantarkan istrimu ke rumah sakit. Katanya ke dokter kandungan, mungkin Kinan hamil. Lantas bagaimana dengan Agnes?"
"Bagaimana apanya? tiga tahun ini baik-baik saja kan? tinggal 2 tahun lagi, Agnes tidak perlu lagi sembunyi di luar negeri!"
Deg
Mata Kinan memerah, wanita yang telah menabrak ibunya hingga tewas. Dan mendapatkan hukuman selama lima tahun di penjara, bagaimana bisa berada di luar negeri?
"Kamu keterlaluan, kalau sampai Kinan mengetahuinya. Dia akan sangat marah padamu! jangan bawa-bawa aku ya, Bella itu sahabat baik Kinan. Kalau dia tahu, habislah aku!"
Hati Kinan hancur mendengar suaminya malah tertawa.
"Dia tidak akan tahu, kalaupun tahu dia bisa apa? Kinan sudah tidak punya siapa-siapa selain aku. Satu kata dariku, dia akan patuh!"
'Tega kamu mas' batin Kinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Sementara itu, ketika dokter Fandy sampai ke perusahaan Bima. Dia bertemu dengan Nolan di depan pintu ruangan Bima.
"Bosmu di dalam?" tanya Fandy.
Nolan yang sejak tadi sibuk memeriksa dokumen pun mengangguk dengan cepat.
"Iya dokter Fandy, tuan ada di dalam" jawabnya.
Fandy mengangguk pelan, dan membuka pintu ruangan Bima. Saat pintu terbuka, Fandy langsung bergegas ke arah meja kerja Bima. Nolan yang melihat itu, juga segera menyusul.
"Bima, Bima!"
"Tuan..."
"Kamu tidak tahu kalau dia pingsan?" tanya Fandy.
"Maaf dokter, saya tidak tahu!"
Fandy segera memeriksa denyut nadi Bima. Setelah diam sebentar, seperti sedang menghitung dalam pikirannya. Fandy segera mengeluarkan sesuatu dari tas peralatannya. Sebuah botol kaca ukuran kecil, dan sebuah suntikan.
"Panggil ambulans, cepat!" kata Fandy.
"Baik dokter!" sahut Nolan yang segera menghubungi ambulans.
**
Di rumah Bella, Kinan dan Bella sedang berada di kamar Sasha. Mereka sedang membantu Sasha berlatih mewarnai gambar yang ada di buku aktifitasnya.
Hingga pintu kamar Sasha yang memang tidak di tutup itu, daun pintunya di ketuk oleh salah satu pelayan Bella.
Tok tok tok
"Nyonya, nyonya Kinan. Ada tamu!"
"Siapa, bi?" tanya Bella.
"Katanya namanya pak Yusuf, dari rumah tua kediaman Dirgantara!"
Bella dan Kinan saling pandang. Pak Yusuf adalah salah satu orang kepercayaan nenek Ningsih.
"Di suruh duduk dulu, buatkan minum ya bi!"
"Baik nyonya"
Bella meletakkan pensil warna Sasha yang dia pegang kembali ke tempatnya.
"Sasha, belajar sama bibi dulu ya!"
Sasha mengangguk patuh.
"Iya, Bu!"
Kinan dan Bella pun keluar dari ruangan itu.
"Untuk apa penjaga tua itu datang?" tanya Bella.
Kinan mengangkat bahunya sekilas.
"Tidak tahu"
Keduanya tidak mengira, kalau hari ini pengacara keluarga mereka juga pergi ke pengadilan. Jadi, pengacara Dimas tahu kalau ada surat pemberitahuan gugatan yang diterbitkan untuk Bima dari Kinan.
Begitu melihat Bella dan Kinan keluar. Pak Yusuf, yang usianya sebenarnya lebih senior dari keduanya. Tetap berdiri dan sedikit membungkukkan badannya menunjukkan sikap menghormati pada Bella dan Kinan.
"Jangan sungkan pak Yusuf, duduklah!" kata Bella.
Tentu saja Bella bicara seperti itu, sebagai tuan rumah.
"Ada apa pak Yusuf?" tanya Bella lagi.
"Saya ditugaskan oleh nyonya tua untuk menemui nyonya muda!" jawab pak Yusuf.
Bella dan Kinan saling pandang lagi.
"Saya sudah pergi ke rumah tuan muda, tapi kata bibi Atikah nyonya muda sudah tidak pulang beberapa hari dan kemungkinan ada bersama nyonya Bella!"
"Langsung pada intinya saja pak Yusuf, sebenarnya nenek Ningsih menyuruh pak Yusuf mencari Kinan untuk apa?" tanya Bella terus terang.
"Begini nyonya, nyonya tua ingin saya menjemput nyonya muda. Untuk makan malam, kebetulan di rumah tua sudah ada tuan besar dan nyonya besar, juga ada tuan muda Galih!"
Bella mengernyitkan keningnya. Rasanya tidak mungkin sesederhana itu, hanya makan malam.
"Kinan, mau aku temani?" tanya Bella khawatir.
Kinan menoleh ke arah Bella. Kinan menggelengkan kepalanya perlahan.
"Aku akan pergi sendiri. Tidak apa-apa Bella, aku rasa mungkin memang hanya makan malam"
Bella mengangguk. Lagipula ada nenek Ningsih, setidaknya wanita tua itu dia kenal sebagai orang yang punya pikiran paling normal di keluarga Dirgantara.
"Baiklah, hati-hati!" kata Bella yang segera di angguki oleh Kinan.
**
Sementara itu di rumah sakit, sudah setengah jam Bima di infus. Karena Fandy membutuhkan orang yang bisa bertanggung jawab untuk Bima, dia menghubungi Zayn. Dan Zayn pun datang dengan cepat.
"Dia matii?" tanya Zayn yang melihat Bima tak bergerak dan matanya terpejam.
Plakk
Fandy memukul lengan Zayn cukup keras.
"Aduh, kamu ini dokter kan? dokter itu mengobati orang? kenapa kamu menyakiti orang?" tanya Zayn protes.
"Habisnya mulutmu itu kalau bicara tidak ada filternya! kamu jangan mengutuk investor utama proyekku. Kalau terjadi sesuatu padanya, bagaimana proyekku bisa jalan?"
"Cih, aku kira kamu perduli padanya. Ternyata hanya untuk proyek!" sindir Zayn.
Fandy kembali memeriksa laporan medis dari asistennya dan segera memberikan dokumen itu pada Zayn.
"Tanda tangan, kamu yang bertanggung jawab untuk semua tindakan medis yang akan dilakukan pada Bima"
Zayn melebarkan matanya.
"Memangnya aku ayahnya?" tolak Zayn.
"Tadi dia sempat sadar, di ambulans. Dia bilang jangan beritahu siapapun, selain kamu!"
Mata Zayn makin melebar.
"Heh, kenapa begitu? kalau dia mati, aku yang tanggung jawab gitu?" tanya Zayn yang jelas menolak hal tersebut.
"Kamu ucapkan kata mati lagi. Aku suntik kamu!" gertak Fandy.
Zayn melirik kesal.
"Dia hanya kekurangan nutrisi dan dehidrasi. Dia stress berat!" jelas dokter Fandy.
Tapi bukannya menunjukkan simpati. Zayn malah terkekeh menertawakan Bima.
"Itu sih masalah dicari sendiri. Stress juga di cari sendiri. Lagian aku sudah bilang sama dia, jangan pernah dia menipu istrinya. Dia ngeyel! sekarang istrinya marah, minta pisah, dia stress!"
Fandy malah terlihat antusias mendengarkan gosip itu.
"Kamu serius? istrinya minta pisah? gimana ceritanya?"
Zayn segera sadar kalau dia sudah terlalu banyak bicara di depan Fandy. Rahasia tentang Agnes, itu hanya Zayn dan orang-orang Bima yang tahu. Fandy bahkan tidak tahu.
"Heh, kamu itu dokter. Kenapa kepo sekali? Kalau memang dia tidak akan mati, sini aku tanda tangan!"
Zayn mengalihkan perhatian Fandy. Dan segera menandatangani surat pertanggungjawaban itu.
"Tapi, biaya rumah sakit bukan termasuk tanggung jawab ku kan?" tanya Zayn.
"Bima kan investor rumah sakit ini, dia mau berobat dan rawat inap berapa tahun juga tidak perlu bayar! tapi aku sungguh penasaran, ada masalah apa sebenarnya? bukannya Bima dan Kinan itu sangat harmonis. Kinan juga kelihatannya sangat mencintai Bima, masa iya..."
"Heh, dokter kepo. Urus saja pasien mu sana. Jangan tanya aku lagi, kalau berani tanya dia kalau sudah sadar nanti!" sela Zayn.
Dokter Fandy langsung ciut. Mana berani dia tanya langsung ke Bima. Yang ada, kalau investasi Bima di cabut, proyeknya tidak bisa jalan. Dia tidak mungkin membuat ATM berjalannya kesal padanya.
"Ya sudahlah, jaga dia ya. Kalau infus nya habis. Pergi ke meja perawat untuk minta yang baru!" kata Fandy yang segera keluar dari ruangan itu.
"Kenapa harus aku yang menjaganya...heh!"
Zayn berdecak kesal, Fandy sudah keluar dengan asistennya. Percuma dia teriak juga. Zayn melihat ke arah Bima.
"Makanya tuan muda Dirgantara, aku sudah bilang padamu dulu. Mempermainkan orang baik seperti Kinan. Hasilnya tidak akan baik, nah kan sekarang kamu sendiri jadi stress kan, gak lama lagi depresi kamu! habis itu apa? gilaa!" omel Zayn.
Ya, kapan lagi dia bisa mengomel pada Bima. Kalau bukan saat pingsan begitu.
***
Bersambung...