Cinta Terhalang Dinding Pesantren
Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.
Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.
Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.
Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 - Tugas Satu Panggung
Haflah Akhirus Sanah di Darul Hikmah itu seperti acara paling besar setahun sekali. Seperti wisudanya pesantren, tapi versi lebih ribet. Ada penampilan santri, ada khataman, ada drama, ada nasyid, undang wali santri se-kecamatan. Semua santri pasti terlibat.
Biasanya, koordinatornya diambil dari santri senior yang paling bisa diandalkan. Tahun ini, Ustazah Khadijah yang jadi penanggung jawab.
Siang itu, habis Dzuhur, Muthi'ah dipanggil ke kantor Ustazah Khadijah.
"Muthi'ah, duduk," kata Ustazah Khadijah sambil tersenyum.
Muthi'ah duduk, masih menunduk.
"Ustazah perhatikan kamu selama ini bagus. Nilai bagus, ngurus perpus juga rapi, musabaqah juara. Makanya Ustazah mau minta tolong kamu jadi koordinator putri buat Haflah tahun ini. Mau ya?" kata Ustazah.
Muthi'ah agak kaget. Koordinator itu tanggung jawab besar sekali. Tapi dia mengangguk.
"Inggih, Ustazah. InsyaAllah saya usahakan."
"Nah, untuk koordinator putra, Ustazah sudah tunjuk Jay. Dia yang akan mengurus panggung dan keamanan. Kalian berdua nanti kerja sama. Tapi tetap jaga adab ya, rapatnya jangan berduaan. Nanti Ustazah temani atau kamu ajak satu temanmu," lanjut Ustazah Khadijah.
Muthi'ah yang tadinya tenang, langsung panas dingin.
Jay? Koordinator bareng Jay?
Dia baru saja membuat kesepakatan di balik dinding agar kelihatan biasa saja di depan umum. Sekarang malah disuruh kerja bareng.
Di sisi lain, Jay juga lagi dipanggil di tempat yang sama, beda jam.
"Jay, kamu jadi koordinator putra ya buat Haflah. Putrinya Muthi'ah Azzahra," kata Ustazah Khadijah.
Jay yang lagi minum teh hampir tersedak. "Muthi'ah Azzahra, Ustazah?"
"Iya. Kenapa? Kamu keberatan?"
Jay cepat-cepat menggeleng. "Nggak, Ustazah. Nggak keberatan. Saya laksanakan."
Lagi-lagi kalimat itu. Saya laksanakan. Tapi kali ini nadanya bukan berat, lebih ke deg-degan.
Sore itu juga, rapat pertama langsung dijadwalkan. Tempatnya di aula tengah, yang ada pembatas bambu. Jam empat sore.
Muthi'ah datang duluan, mengajak Zahra. Sesuai aturan, harus ada teman cewek kalau rapat dengan putra.
"Muth, kamu yakin mau aku temenin? Aku berasa jadi obat nyamuk," bisik Zahra.
"Zah, please. Aku nggak berani sendirian," bisik Muthi'ah balik.
Lima menit kemudian, Jay datang dengan Jungwon. Alasan resminya, Jungwon bagian dokumentasi.
Jadilah rapat paling canggung se-Darul Hikmah. Meja panjang, Jay di ujung kanan, Muthi'ah di ujung kiri. Jaraknya benar-benar dua meter lebih. Di tengahnya ada Zahra dan Jungwon yang duduk seperti wasit.
Ustazah Khadijah membuka rapat, "Oke, kalian berdua Ustazah percaya buat ngurus Haflah. Jay urus panggung, sound, dan keamanan. Muthi'ah urus konsumsi, penampilan putri, dan kebersihan. Nanti daftar acaranya kalian buat bersama. Monggo dimulai."
Ustazah tidak keluar. Beliau duduk di meja sebelah yang pintunya terbuka lebar, sambil memeriksa berkas. Jadi mereka tetap dalam pengawasan, tapi diberi ruang bicara.
Hening. Canggung sekali.
Jay yang akhirnya mulai duluan, dengan nada super formal.
"Jadi... untuk rundown Haflah, saya sudah bikin draft. Acara dimulai jam tujuh pagi, khataman dulu, terus sambutan Kiai, terus penampilan nasyid putra..."
Muthi'ah mendengarkan sambil mencatat. Tapi di kepalanya, dia juga sudah membuat draft versinya semalam.
Pas Jay selesai, Muthi'ah mengangkat tangan sedikit.
"Afwan, Gus. Boleh menambahkan? Kalau nasyid putra langsung habis sambutan Kiai, wali santri yang baru datang belum duduk semua. Gimana kalau jeda dulu, penampilan hadroh putri yang pelan, biar wali santri bisa masuk dulu, baru nasyid putra yang agak ramai?"
Jay diam. Dia menatap Muthi'ah. Bukan karena marah dipotong, tapi karena... masuk akal sekali.
"Oh iya, benar juga. Bagus idenya," kata Jay jujur. "Saya catat."
Zahra dan Jungwon yang jadi wasit, awalnya bosan, lama-lama malah takjub. Dua orang yang di luar kelihatan canggung, kalau sudah bicara kerjaan ternyata nyambung sekali.
"Eh, sorry, kepotong," Jay tiba-tiba berhenti. Sadar kalau dia terlalu antusias.
Muthi'ah juga berhenti, "Eh, iya, maaf, Gus, saya kebanyakan bicara."
Padahal tidak. Justru untuk pertama kalinya, mereka mengobrol sebagai Muthi'ah dan Jay, bukan sebagai "santri yang dijodohkan" dan "putra Kiai".
Zahra yang memperhatikan dari tengah, pelan-pelan menulis di bukunya, bukan rundown Haflah, tapi satu kalimat kecil: mereka cocok kalau kerja bareng.
Rapat selesai jam lima sore. Daftar acaranya sudah jadi, lebih rapi dari yang dibayangkan Ustazah Khadijah.
Pas mau bubar, Jay berdiri duluan.
"Syukron, Muthi'ah. Idenya bagus," katanya, kali ini tidak terlalu formal.
Muthi'ah berdiri juga, membawa map-nya.
"Syukron juga, Gus. Banyak belajar," jawabnya.
Mereka tidak salaman. Hanya anggukan. Tapi anggukan itu beda dari anggukan hormat yang kemarin-kemarin. Ini anggukan hormat karena kagum.
Jungwon dan Zahra keluar belakangan.
"Gimana, Gus? Koordinatornya enak diajak kerja sama kan?" goda Jungwon pelan.
Jay tidak menjawab, hanya tersenyum tipis sambil melipat kertas rundown. Senyum yang jarang dilihat orang.
Di sisi lain, Zahra berbisik ke Muthi'ah, "Muth, kamu keren banget tadi. Gus Jay saja dengerin kamu terus."
Muthi'ah mukanya merah, "Zah, sudah ah. Itu kan rapat."
Tapi di dalam hatinya, Muthi'ah merasa lega. Ternyata, ngobrol dengan Jay tidak semenyeramkan yang dia bayangkan. Kalau ada kerjaan yang jelas, kalau ada batas yang jelas, ternyata mereka bisa nyambung.
Haflah masih sebulan lagi. Masih akan banyak rapat. Masih akan banyak tugas bareng.
Dan tanpa mereka sadari, meja panjang dua meter yang tadinya untuk menjaga jarak, malah jadi jembatan pertama yang membuat mereka melihat satu sama lain bukan sebagai beban perjodohan, tapi sebagai partner yang bisa diandalkan.