Yurinika tak mengira akan di labrak oleh selingkuhan suaminya. bukan hanya sekali tapi berkali-kali selingkuhannya itu datang dan melabrak dia. memintanya meninggalkan sang Suami Abimana. pria bingung itu justru tak mau meninggalkan keduanya.
hingga akhirnya Yuri benar-benar kecewa kepada Abimana dan saat tahu Sandra adalah anak dari atasannya di kantor membuat Yuri memiliki ide untuk memanfaatkannya.
apa yang akan di lakukan Yuri atas rasa kecewa yang dia dapat dari suami yang sudah dia bersamai dari titik nol sampai mereka menikah dua tahun? ikuti terus ceritanya.
dan jangan lupa baca karya othor lainnya dengan mencari nama pena Yam_zhie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yurinika 26
Mobil sedan putih Abimana berhenti di pelataran rumah bergaya sederhana milik orang tuanya. Suasana pagi itu tampak begitu kontras, Abimana turun dengan wajah membusung bangga, disusul oleh Sandra yang melangkah anggun berbalut dress satin mewah, memamerkan kacamata hitam dan tas bermereknya.
Di bagasi mobil, tersimpan beberapa kantong belanjaan besar berisi kue-kue mahal impor dan barang-barang mewah sebagai 'buah tangan' pembuka jalan.
Belum sempat Abimana menekan bel, pintu depan sudah terbuka lebar. Bu Gina, ibu Abimana, melangkah keluar dengan kebaya terbaiknya, disusul oleh Zaki, adik laki-laki Abimana yang tak kalah rapi.
"Aduh! Calon menantu Ibu sudah sampai!" jerit Bu Gina histeris gembira. Wajahnya berseri-seri penuh kepalsuan saat matanya menangkap kantong-kantong belanjaan mahal bermerek yang diapit oleh Abimana.
"Aduh, Mbak Sandra! Ya ampun, cantik banget aslinya! Ini bawaan makanan mahal dari toko terkemuka itu ya?" seru Zaki tak kalah heboh, langsung menyambar kantong-kantong belanjaan itu dengan mata berbinar matre.
"Makasih banyak ya, Mbak! Memang beda ya kelasnya calon kakak ipar yang ini!"
Sandra menyunggingkan senyum anggun namun penuh keangkuhan, membiarkan Bu Gina menggenggam tangannya hangat.
"Sama-sama, Tante, Zaki," sahut Sandra manja seraya melirik Abimana dengan binar kemenangan.
"Ini cuma buah tangan kecil kok. Kalau Mas Abi dan Sandra sudah resmi menikah nanti, Tante sama Zaki mau apa saja pasti Sandra belikan."
"Ya Allah, calon menantu idaman banget!" puji Bu Gina setengah menyembah, mengabaikan fakta bahwa anak laki-lakinya masih berstatus suami sah Yurinika.
"Yuk masuk, Nak Sandra, masuk! Ibu sudah siapkan jamuan paling enak di meja makan!"
Namun, langkah kaki Sandra dan Abimana mendadak tertahan begitu melangkah melewati pintu ruang tamu.
Di sudut ruangan, duduk Pak Damar, ayah Abimana. Pria paruh baya mantan prajurit itu duduk tegak di kursi kayu ukirannya. Wajahnya keras bagai batu, dengan tatapan mata tajam yang dingin dan menusuk, sama sekali tak tersentuh oleh kehebohan Bu Gina maupun jejeran oleh-oleh mahal di meja.
"Bapak..." panggil Abimana dengan suara yang mendadak mengecil, rasa cemas kembali merayapi dadanya melihat sorot mata sang ayah.
"Ini... ini Sandra, Pak. Calon istri Abi yang Abi ceritakan."
Sandra mencoba tersenyum seanggun mungkin, melangkah mendekat untuk mengulurkan tangannya hendak menyalami Pak Damar.
"Selamat pagi, Om... Saya Sandra."
Pak Damar tidak mengulurkan tangannya balik. Pria tua itu hanya menatap tangan Sandra yang menggantung di udara dengan dingin, lalu mengalihkan pandangannya tajam ke arah Abimana.
"Penampilanmu mahal, Nona," ujar Pak Damar dengan suara berat, dalam, dan berwibawa yang seketika membungkam gelak tawa Bu Gina dan Zaki di ruang tamu.
"Tapi rumah ini dibangun di atas kehormatan dan kejujuran, bukan dibeli pakai barang-barang bermerek."
Wajah Sandra seketika berubah kaku.
"Maksud Om apa, ya?"
"Bapak! Apa-apaan sih!" tegur Bu Gina panik, mencoba memotong sebelum suaminya merusak suasana.
"Ada tamu kok didinginin begitu! Sandra ini anak pejabat tinggi dan penting penting kantor Abi!"
Pak Damar berdiri perlahan dari kursinya, menatap Abimana dengan tatapan kecewa dan murka yang teramat sangat.
"Kamu bangga membawa wanita lain ke rumah ini, Abimana?" tegur Pak Damar tajam, menunjuk dada anak laki-lakinya.
"Kamu lupa siapa yang mendampingi kamu dari nol? Kamu lupa siapa istri sahmu yang saat ini masih memeras keringat dan berdoa untuk keselamatanmu?!"
Mendengar kata 'istri sah', jantung Abimana rasanya berhenti berdetak seketika, wajahnya pucat pasi bagai mayat.
"Ayah..." Paggil Abimana pelan.
"Nona, apa anda tahu kalau pria di sampingmu ini adalah pria yang sudah memiliki isti?"
Mendengar pertanyaan menohok dari Pak Damar, ruang tamu rumah itu seketika diliputi keheningan yang menyengat. Bu Gina menahan napas dengan wajah panik, sementara Zaki menghentikan gerakan tangannya yang baru saja hendak membongkar kantong belanjaan mahal dari Sandra.
Abimana merasa seluruh darah di tubuhnya mendesir dingin. Dengan lidah yang membeku, ia melirik Sandra di sampingnya, bersiap pasrah menunggu ledakan amarah dari sang gundik yang ia kira selama ini sama sekali tidak tahu-menahu.
Namun, rekayasa reaksi Sandra di luar dugaan siapa pun.
Bukannya terkejut, berteriak, atau mengamuk, Sandra justru menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan keangkuhan. Perempuan itu dengan tenang membetulkan letak tali tas bermereknya, lalu melangkah satu titik lebih maju mendampingi Abimana.
"Saya tahu kok, Om," jawab Sandra santai dengan nada suara yang amat tenang, jernih, dan penuh percaya diri.
DEG!
Abimana menoleh patah-patah ke arah Sandra. Matanya membelalak lebar, wajahnya yang tadi pucat kini berubah menjadi benar-benar liar karena rasa syok yang dahsyat.
"Sandra... kamu... kamu tahu?!" bisik Abimana dengan suara tercekat di tenggorokan, tidak percaya dengan apa yang baru saja meluncur dari bibir wanita yang selama ini ia bohongi.
Sandra melirik Abimana sekilas, menyentuh lengan pria itu dengan lembut seolah hendak memberikan ketenangan palsu, lalu kembali menatap Pak Damar dengan dagu terangkat tinggi.
"Iya, aku tahu Mas Abi sudah beristri, Om," tegas Sandra tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.
"Tapi saya tidak peduli. Saya sangat mencintai Mas Abi. Dan Mas Abi juga mencintai saya, bukan perempuan kampungan bernama Yuri itu!"
Bu Gina yang tadinya ketakutan setengah mati, mendadak berbinar-binar mendengar jawaban Sandra. Ibu Abimana itu memegang dadanya seraya bernapas lega, memandang Sandra bagaikan pahlawan yang baru saja menyelamatkan muka keluarganya.
"Nah! Dengar kan, Bapak?!" potong Bu Gina cepat dengan suara melengking penuh kemenangan.
"Sandra ini bijaksana banget! Dia tahu Abi sudah punya istri, tapi dia tetap mau terima Abi karena cinta tulus! Kurang apa coba Sandra ini, Pak?!"
"Cinta tulus?!" potong Pak Damar dengan suara yang menggelegar menggetarkan isi rumah, membuat Bu Gina dan Zaki seketika terlonjak kaget.
Mantan prajurit itu menatap Sandra dengan sorot mata yang penuh keharuan campur murka atas rusaknya moral wanita di hadapannya.
"Nona..." ujar Pak Damar dengan nada yang amat dingin dan menusuk sampai ke tulang.
"Wanita yang berpendidikan tinggi dan berkelas tidak akan pernah sudi merendahkan dirinya menjadi perusak rumah tangga orang lain! Kamu tidak sedang mencintai Abimana, Nona... kamu hanya sedang memanjakan kesombonganmu untuk merebut milik orang lain!"
Muka Sandra yang tadinya tenang seketika berubah merah padam. Senyum anggun di wajahnya runtuh, berganti dengan kilatan emosi karena merasa ditampar habis-habisan oleh teguran tajam ayah Abimana.
"Om! Tolong jaga bicara Om ya!" sahut Sandra dengan intonasi yang mulai meninggi dan tidak sopan.
"Om harusnya sadar! Siapa Yuri itu? Cuma cewek miskin yang nggak punya apa-apa! Tanpa saya dan Papa saya, Abimana itu bukan siapa-siapa di kantor! Saya bisa angkat Abimana jadi Manajer Utama, dan saya bisa kasih keluarga ini harta yang nggak akan pernah bisa dikasih sama Yuri!"
"Cukup, Sandra!" potong Abimana yang mendadak panik luar biasa. Otaknya berputar cepat dalam kekacauan, antara terkejut karena Sandra ternyata sudah tahu soal Yuri, dan takut ayahnya akan mengambil tindakan nekad.
"Kamu nggak boleh bicara begitu sama Ayah aku!"
"Kenapa tidak?!" bentak Sandra balik, menepis tangan Abimana dengan kasar.
"Aku membela kamu, Mas! Aku siap kasih kamu semuanya! Tapi kenapa orang tua kamu malah memperlakukan aku kayak penjahat begini?!"
Pak Damar menarik napas panjang, mengepalkan kedua tangannya erat-erat di samping tubuhnya. Pria tua itu menunjuk pintu keluar rumahnya dengan jari yang bergetar menahan amarah yang meledak.
"Keluar!" perintah Pak Damar tegas dan tanpa ampun.
"Bawa pergi semua barang-barang murah berkedok mahal ini dari rumah saya! Rumah ini tidak butuh harta dari wanita yang tidak punya harga diri!"
"Bapak! Bapak udah gila ya?!" jerit Bu Gina histeris.
"Saya tidak akan merestui hubungan kalian! Sampai kapanpun menantu saya hanya Yurinika! Dan kamu Abimana! Segera bertaubat dan renungkan semua kesalahan kamu!"
km udh gx bisa keluar dr cengkraman nenek lampir berkedok malaikat mu😏
knp km nekat ,, gila gilaan bersama nenek lampir ,, gila gilaan ,, gila gilaan ,,
lama2 km jd gila beneran Abimana😏😏😏