NovelToon NovelToon
Penemu Rahasia Orang Mati

Penemu Rahasia Orang Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Tamu tak di undang

Pukul 07.45 WIB, Arya tiba di basement RSUD Bina Husada. Bau khas disinfektan bercampur udara dingin bertekanan negatif langsung menyambutnya begitu ia menempelkan kartu identitas di pintu akses Instalasi Kedokteran Kehakiman dan Jenazah (IKKJ).

Di ruang ganti, Teguh sudah lebih dulu ada. Ia sedang mengikat tali sepatu boot karetnya sambil mendengarkan radio portabel kecil yang memutar lagu-lagu nostalgia era 90-an.

"Pagi, Ya," sapa Teguh tanpa menoleh. "Gimana kepala? Masih pusing kayak kemarin?"

"Pagi, Mas Teguh. Udah mendingan kok, kemarin cuma kurang tidur aja," sahut Arya sambil membuka lokernya dan mengenakan pakaian kerja, apron kedap air, masker medis, dan sarung tangan.

"Baguslah. Hari ini jadwal kita agak longgar. Cuma ada satu pemulasaraan jenazah lansia yang meninggal karena usia tua dari bangsal rawat inap jam sembilan nanti. Sisanya cuma piket pembersihan rutin sama penataan inventaris," jelas Teguh seraya berdiri dan meregangkan punggungnya.

Arya mengangguk lega. Hari yang tidak terlalu sibuk adalah apa yang dibutuhkannya saat ini untuk menenangkan pikiran.

Selama dua jam berikutnya, Arya dan Teguh bekerja dalam kesenyapan yang teratur . Mereka menyapu lantai keramik putih, menyemprotkan cairan disinfektan ke meja-meja stainless steel, dan memastikan stok kain kafan, sabun khusus, serta sarung tangan medis tercukupi.

Pukul 09.15 WIB, brankar berisi jasad seorang nenek usia 82 tahun masuk dari bangsal rawat inap. Keluarga almarhumah ikut mendampingi dengan tenang, suasana duka yang penuh kepasrahan karena sang nenek memang sudah lama terbaring sakit.

Arya dan Teguh menjalankan tugas mereka dengan sangat profesional. Saat tangan Arya menyentuh kening sang nenek untuk membasuh rambutnya yang memutih, tidak ada sengatan listrik atau kilasan ingatan yang muncul.

Hati Arya merasa lega sekaligus paham bahwa kemampuan magis itu hanya aktif ketika almarhum memiliki kematian yang tidak wajar atau menyimpan gejolak emosi luar biasa di detik-detik terakhirnya.

Proses pemulasaraan berjalan lancar. Arya memandikan, mengeringkan, dan mengkafani jasad itu dengan penuh rasa hormat. Saat keluarga diizinkan masuk untuk memberikan penghormatan terakhir, tangisan yang terdengar adalah tangisan keikhlasan.

Melihat momen itu, Arya tersenyum tipis di balik maskernya. "Inilah alasan utama aku memilih pekerjaan ini," batinnya. "Memberikan kedamaian pada tubuh yang telah selesai menempuh perjalanan hidupnya."

Pukul 13.30 WIB, ketika Arya sedang membersihkan catatan administrasi di meja depan kantor IKKJ, pintu kaca koridor terbuka. Suara langkah sepatu kulit yang keras dan berat menggema di lorong yang biasanya sunyi.

Dua orang pria berbadan tegap dengan kemeja batik ketat melangkah masuk. Salah satu dari mereka membawa map dokumen tebal berwarna cokelat.

Arya mendongak. Sikap tubuhnya seketika bersiaga, meskipun ia berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar.

"Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Arya sopan sambil berdiri di balik meja resepsionis.

Pria yang berdiri di depan memiliki kumis tipis dan mata yang tajam. Ia menatap Arya dari atas ke bawah lalu berkata, "Kami dari pihak hukum Nusantara Utama Group. Kami ingin mengonfirmasi dokumen log pendaftaran jenazah atas nama Bambang Gunawan yang masuk kemarin dini hari."

Dada Arya berdesir tajam. "Nusantara Utama Group! Mengapa mereka datang ke sini urus dokumen?"

"Dokumen pendaftaran jenazah?" ulang Arya tenang. "Maaf, Pak. Semua rekam medis dan berkas pemulasaraan sudah diserahkan ke bagian arsip pusat RSUD dan kepolisian saat jasad diambil pihak keluarga tadi pagi."

Pria berkumis itu menatap Arya lebih dalam, seolah mencari celah kebohongan di wajah pemuda itu. "Kami mendapat laporan bahwa ada ketidaksesuaian catat prosedur dalam pemeriksaan luar almarhum. Kami ingin memastikan tidak ada pihak... atau petugas... yang mengambil barang pribadi atau membuat catatan tambahan tanpa izin."

Teguh keluar dari ruang dalam sambil memegang cangkir teh. "Ada apa ini ramai-ramai?" tanya Teguh bingung.

Pria berkumis itu beralih menatap Teguh, lalu mengibaskan tangannya pelan. "Tidak ada apa-apa. Kami hanya memastikan urusan administrasi almarhum Pak Bambang sudah bersih. Perusahaan kami adalah sponsor utama yayasan tempat beliau bekerja dulu."

Pria itu kembali menatap Arya, lalu melangkah mendekati meja hingga jarak mereka hanya terpisah setengah meter. Suaranya direndahkan, namun sarat akan ancaman yang nyata.

"Petugas muda... siapa namamu?" tanya pria itu sambil menatap nametag di dada Arya. "Arya Wijaya. Pekerjaan di sini sangat tenang, Arya. Jangan sampai ada petugas yang suka bertindak terlalu jauh atau mencampuri urusan yang bukan wewenangnya. Kota ini sangat kecil untuk orang yang suka cari tahu."

Arya menatap lurus mata pria itu tanpa berkedip. Rasa takut ada di dalam dirinya, tetapi rasa keadilan yang diwariskan oleh kematian Bambang jauh lebih besar.

"Saya hanya bekerja sesuai SOP rumah sakit, Pak. Kami merawat yang mati, tidak mencampuri urusan yang hidup," jawab Arya dingin dan tegas.

Pria berkumis itu menyunggingkan senyum miring yang tidak sampai ke mata. "Bagus. Pertahankan sikap profesionalmu itu."

Tanpa mengucapkan kata lain, kedua pria berbadan tegap itu berbalik dan melangkah keluar dari area IKKJ. Suara langkah sepatu mereka perlahan menghilang di kejauhan.

Teguh mendekati Arya, sembari menggerutu heran. "Orang-orang aneh. Kenapa orang kaya dan pengacara selalu bersikap sok berkuasa bahkan di tempat orang mati?"

Arya tidak menjawab. Tangannya yang berada di bawah meja mengepal sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Mereka curiga. Mereka tahu ada barang milik Bambang yang hilang atau catatan yang tak sesuai. Dan kini, mereka mulai mengawasi IKKJ.

Malam hari pukul 20.00 WIB, Arya sudah kembali ke kamar kontrakannya. Hujan deras mengguyur kota, menciptakan suara gemuruh yang konstan di atas atap seng rumahnya.

Arya duduk di lantai, seraya mengurut pelipisnya yang berdenyut pening. Lampu kamar dimatikan, dan hanya disinari oleh cahaya remang dari layar laptopnya.

Di depannya, terletak botol tembus pandang berisi tutup ampul kaca dari Taman Kota, buku catatan dengan nama Nusantara Utama Group, dan ingatan tajam tentang wajah pembunuh berjas hitam.

Arya menyadari satu hal dengan sangat jelas bahwa kehidupannya yang tenang sebagai pemulasara jenazah biasa telah berakhir. Dunia orang mati telah memperjatuhkan amanat besar kepadanya. Ia tidak bisa lagi hanya berpangku tangan atau bersembunyi di balik alasan "saya cuma petugas biasa".

Jika ia diam, pembunuh itu akan tetap berkeliaran, pejabat jahat itu akan tetap berkuasa, dan ingatan terakhir orang-orang seperti Bambang Gunawan akan terkubur sia-sia tanpa keadilan.

Arya mengambil telepon genggamnya. Ia mencari nomor kontak sebuah lembaga bantuan hukum independen yang dulu pernah mencoba membantu kasus tabrak lari orang tuanya. Ia menatap tombol panggil selama beberapa detik.

"Aku tidak bisa bertindak gegabah," bisik Arya pada dirinya sendiri di tengah kegelapan kamar. "Aku harus mengumpulkan lebih banyak bukti. Sentuhan magis ini... adalah senjataku."

Ia mengepalkan telapak tangan kanannya, tangan yang mampu menembus batas antara hidup dan mati.

Rain drops terus menghantam atap seng, namun di dalam dada Arya Wijaya, sebuah keberanian baru telah menyala. Ia siap menghadapi siapapun yang bersembunyi di balik rahasia orang mati.

Bersambung...

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
keren kaya baru ❤️
Aurora: iya kak, semoga bisa menghibur para pembaca 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!