Ini bukan sekadar cerita tentang cinta beda kasta. Ini adalah perjalanan tentang sebuah nama besar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
peringatan keras
Deru mesin sedan hitam mewah milik wanita modis itu perlahan menghilang di kejauhan jalan raya. Suasana di area depan restoran kembali ke ritme biasanya. Bayu baru saja hendak melangkah kembali ke belakang meja bar untuk merapikan sisa gelas, namun sebuah tepukan keras mendarat di bahunya.
Setelah wanita itu pergi dari restoran, sang manajer kembali bersikap normal seperti biasanya. Wajah kaku dan senyuman ramah yang dipaksakannya di depan pelanggan kaya tadi lenyap dalam sekejap, digantikan oleh raut wajah ketat dan penuh keangkuhan. Dia langsung memanggil Bayu dengan nada suara yang meninggi.
"Lain kali kamu jangan begitu!" kata sang manajer dengan suara ketus, matanya menatap tajam ke arah Bayu.
Bayu menghentikan gerakannya, lalu berdiri tegak menghadap atasannya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia tahu, posisi pelayan seperti dirinya selalu berada di pihak yang salah dalam situasi seperti ini.
"Sekali lagi kamu begini, melakukan tindakan yang tidak profesional dengan duduk santai bersama tamu di jam kerja..." Manajer itu menjeda kalimatnya, sengaja memberi penekanan yang berat.
"Maka kamu enggak perlu lagi datang ke sini besok!" ancam sang manajer yang masih berdiri berkacak pinggang di depan Bayu, mencoba menunjukkan otoritasnya yang sempat hilang di depan wanita elit tadi.
Ancaman pemecatan itu terasa sangat dingin di telinga Bayu. Kehilangan pekerjaan dengan upah harian seratus ribu ini berarti dia tidak bisa membayar sewa kontrakan kecilnya bulan depan. Di dunia barunya ini, dia tidak memiliki ruang untuk membela diri.
Tentu saja, menghadapi ketidakadilan dan kesombongan atasannya itu, Bayu hanya menjawab, "Iya... iya, dan iya, Pak. Maafkan saya, tidak akan saya ulangi lagi.
"Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, berpura-pura merasa bersalah demi mengamankan posisinya. Bayu sengaja merendahkan suaranya, membiarkan ego sang manajer terpuaskan oleh kepatuhannya.
Namun, di dalam hati, Bayu tentu saja menggerutu dengan sangat hebat. Dia mengingat kembali bagaimana manajer itu tadi gemetar dan mati kutu saat wanita kaya tersebut mengintimidasi dirinya dengan uang. Tapi begitu wanita itu pergi, manajer yang pengecut ini justru melimpahkan seluruh rasa malunya kepada pelayan miskin seperti dirinya.
Bayu menarik napas panjang, merogoh saku celananya secara diam-diam untuk memastikan kartu putih pemberian sang wanita masih aman di sana.
Tapi...
sekeras apa pun cacian, hinaan, bahkan makian yang berkecamuk di dalam benaknya saat ini, orang lain juga tak dapat mendengarnya. Rasa sakit dan amarah itu dia kunci rapat-rapat di dalam dada.
Dia tahu, kemarahan yang tidak menghasilkan uang hanyalah hal yang sia-sia bagi orang miskin. Bayu membalikkan badannya, mengambil nampan kotor, dan kembali bekerja memoles gelas dengan sisa energi yang dia miliki malam ini. Hinaan hari ini akan dia simpan sebagai bahan bakar untuk mendaki kembali ke puncak kejayaannya kelak.
Waktu berlalu lambat hingga jam operasional restoran akhirnya selesai. Setelah menyelesaikan seluruh pekerjaan bersih-bersih dan menerima upah hariannya, Bayu segera melangkah keluar. Dinginnya angin malam langsung menyergap tubuhnya saat ia berjalan menyusuri trotoar menuju rumah kontrakan sempitnya. Langkah kakinya terasa berat akibat kelelahan fisik, namun isi kepalanya jauh lebih riuh dan tidak bisa tenang.
Di bawah temaram lampu jalanan yang remang-remang, Bayu kembali meraba kartu putih di balik saku celananya. Sebuah senyuman misterius kini terbit di wajahnya, menggantikan rasa penat yang mendera sepanjang malam.,.