NovelToon NovelToon
Madu Yang Pahit

Madu Yang Pahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nittagiu

Alya Kirana menerima Arga Pratama sebagai suaminya dengan harapan membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Arga telah lebih dahulu memiliki seorang istri bernama Nadira Permata. Di antara rahasia yang disembunyikan, janji yang tak kunjung ditepati, dan cinta yang terbagi, Alya dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah dia bayangkan. Dia tidak ingin menjadi musuh bagi perempuan lain. Namun, apakah itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sementara Arga berusaha mempertahankan dua pernikahannya, seorang pria dari masa lalu Alya kembali hadir membawa perasaan yang tak pernah benar-benar padam. Ketika cinta terasa manis di awal, siapa yang harus menanggung pahitnya di akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Pengantin yang Pahit

Malam telah tiba dan seluruh rangkaian acara pernikahan akhirnya selesai. Kini Arga dan Alya sudah berada di dalam kamar pengantin di rumah keluarga Wiratama, Bandung.

Kamar masa kecil Alya itu telah disulap menjadi ruangan romantis yang terasa berbeda dari biasanya. Dekorasinya didominasi warna putih, mulai dari tirai, seprai, hingga hiasan yang tertata rapi di berbagai sudut kamar. Di atas ranjang berukuran king size, kelopak bunga mawar merah tersebar di atas seprai putih yang bersih. Sementara itu, rangkaian mawar putih menghiasi bagian kepala ranjang, memberikan kesan elegan sekaligus hangat.

Lampu tidur memancarkan cahaya kekuningan yang lembut. Dari balik pintu kaca menuju balkon, taman yang luas terlihat tenang di bawah cahaya lampu-lampu kecil.

Alya sempat berdiri beberapa saat di tengah kamar, memandang sekeliling dengan senyum tipis. Ada sesuatu yang berbeda dari ruangan yang sudah ditempatinya sejak kecil itu. Tempat yang selama bertahun-tahun menjadi saksi berbagai kenangan masa kecilnya kini menjadi kamar pengantin, tempat ia akan memulai kehidupan baru bersama laki-laki yang baru saja resmi menjadi suaminya.

Dulu, kamar itu dipenuhi benda-benda yang mengingatkannya pada masa kecil. Beberapa boneka kesayangan masih tersimpan di rak dekat jendela, sementara foto-foto lamanya bersama keluarga menghiasi salah satu sudut dinding. Bahkan, meja kecil tempat ia dahulu mengerjakan tugas sekolah masih berada di tempat yang sama.

Alya tersenyum kecil ketika melihat sebuah boneka beruang yang sudah agak kusam di atas rak. Boneka itu hadiah dari ayahnya saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Dulu, ia selalu memeluknya ketika takut tidur sendirian. Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, ia justru akan berbagi kamar dengan seorang laki-laki yang diharapkannya bisa menjadi teman hidup.

Pikirannya dipenuhi harapan sederhana. Ia ingin pernikahan ini menjadi awal yang baik. Ia tidak berharap semuanya langsung sempurna, tetapi ia ingin dirinya dan Arga bisa saling mengenal, memahami, dan perlahan membangun kebahagiaan bersama.

“Mas, aku membersihkan diri dulu, ya. Seharian memakai riasan dan kebaya rasanya gerah sekali,” ucap Alya sambil mengambil pakaian gantinya.

Arga mengangguk.

Setelah Alya masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya, Arga berjalan menuju balkon. Ia membutuhkan udara segar setelah seharian berusaha terlihat tenang di hadapan keluarga dan para tamu.

Namun, begitu mengeluarkan ponselnya, ketenangan yang berusaha ia bangun kembali runtuh. Ada banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari Nadira.

Arga terdiam menatap nama perempuan yang dicintainya itu. Sejak pagi, ia sengaja menghindari panggilan Nadira. Ia tahu perempuan itu pasti bertanya-tanya mengapa dirinya sulit dihubungi, tetapi ia tidak memiliki keberanian untuk menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Kini, setelah seluruh acara pernikahan selesai, Arga justru semakin sulit mengabaikannya. Tanpa ingin membuang waktu, ia segera menghubungi Nadira.

Panggilan itu baru berdering beberapa kali ketika terdengar suara perempuan yang begitu dikenalnya.

“Kenapa baru menghubungi aku? Kamu enggak apa-apa, kan, Ga?”

Suara penuh kekhawatiran di ujung telepon membuat Arga terdiam. Dadanya terasa semakin sesak. Ia mengenal betul suara itu, suara yang selama ini selalu menyambutnya dengan kehangatan setiap kali pulang ke apartemen.

“Ga, ada apa? Apa sesuatu terjadi? Perusahaan kamu baik-baik aja, kan?”

Nadira kembali bertanya ketika Arga tak kunjung menjawab.

Arga berdeham pelan, berusaha mengendalikan suaranya. “Aku baik-baik aja, Sayang. Hanya sedikit masalah, tapi sudah diatasi. Maaf baru bisa menghubungi kamu sekarang.”

Ia kembali berbohong, seolah-olah kebohongan itu sudah menjadi sesuatu yang mudah dilakukan. Padahal, jauh di dalam hatinya, ia tahu tidak ada masalah pekerjaan yang bisa menjelaskan apa yang baru saja dilakukannya hari ini.

“Syukurlah.” Nadira terdengar mengembuskan napas lega. “Aku khawatir karena dari tadi kamu enggak mengangkat telepon. Aku pikir ada sesuatu yang terjadi.”

Arga menundukkan kepala. Tangannya menggenggam ponsel semakin erat. “Maaf, Sayang.”

“Enggak apa-apa. Yang penting kamu baik-baik aja.” Nadira berhenti sejenak sebelum kembali bertanya, “Kamu sudah makan?”

“Sudah tadi bersama klien,” jawab Arga cepat.

Lagi-lagi ia berbohong. Padahal, ia baru saja menikmati hidangan bersama keluarga besar yang merayakan pernikahannya dengan Alya. Ia bahkan duduk berdampingan dengan perempuan yang kini resmi menjadi istri keduanya.

“Syukurlah. Jangan lupa istirahat, ya. Kamu pasti capek setelah mengurus pekerjaan seharian.”

Arga memejamkan mata. Nadira tidak mengetahui apa pun. Perempuan itu masih mengkhawatirkan kesehatannya, masih mengingatkannya untuk beristirahat, dan masih memercayai setiap perkataan yang keluar dari mulutnya.

“Sayang, besok aku hubungi lagi, ya. Aku mau istirahat. Seharian ini cukup melelahkan.”

“Iya, Ga. Istirahat yang cukup. Aku tunggu kabar kamu besok. Selamat malam. Aku sayang kamu.”

Kalimat itu membuat Arga membeku. “Aku juga,” jawabnya lirih.

Ia kemudian menurunkan ponsel sedikit, berniat mengakhiri panggilan. Namun, sebelum jarinya menyentuh layar, tubuhnya langsung menbeku.

“Alya….” Nama itu terucap begitu saja dari bibirnya.

Alya sudah berdiri di ambang pintu balkon, mengenakan piyama satin berwarna putih. Rambut panjangnya yang biasanya tertutup jilbab kini tergerai di bahu. Wajahnya masih menyisakan sedikit rona akibat air hangat, sementara ekspresinya perlahan berubah setelah melihat Arga berdiri di balkon dengan ponsel menempel di telinga.

Alya tidak mendengar seluruh percakapan tadi. Namun, ia jelas mendengar Arga menyebut nama seorang perempuan dengan panggilan sayang. Ia juga mendengar suara perempuan itu membalas dengan kalimat yang sama.

Dan kini, ketika Arga melihatnya, laki-laki itu justru menyebut namanya dengan wajah terkejut.

“Alya, tunggu….”

Arga baru menyadari bahwa panggilan dengan Nadira masih tersambung. Dalam kekalutan, ia segera mengakhiri panggilan itu, lalu bergegas masuk ke kamar untuk mengejar Alya.

Namun, Alya sudah lebih dahulu berlari menuju ranjang. Ia naik ke atasnya, menarik selimut tebal yang tertata rapi, lalu membungkus tubuhnya hingga sebatas bahu.

Arga berhenti beberapa langkah dari ranjang.

“Jelaskan!” Suara Alya terdengar tegas, meskipun wajahnya mulai memerah. Ia menatap Arga dengan mata yang dipenuhi kebingungan dan rasa malu.

Seharusnya malam ini menjadi malam pertama yang ia nantikan. Ia telah mempersiapkan dirinya untuk menyambut kehidupan baru bersama suaminya. Bahkan, ia sempat merasa gugup ketika memilih pakaian yang akan dikenakannya malam itu.

Namun, beberapa saat yang lalu, ia justru mendengar Arga berbicara mesra dengan perempuan lain.

Alya menarik selimutnya lebih tinggi. Ia merasa begitu malu karena Arga melihatnya dalam keadaan seperti itu, sementara pikirannya kini dipenuhi pertanyaan yang tidak mampu ia abaikan.

“Siapa perempuan yang kamu telepon tadi?” tanyanya.

Arga masih terdiam.

“Kenapa kamu memanggilnya sayang? Dan kenapa kamu terlihat begitu terkejut saat melihatku?”

“Alya….”

“Jelaskan sekarang!”

Alya berusaha mempertahankan suaranya agar tidak bergetar. Ia tidak ingin menangis di hadapan laki-laki yang baru beberapa jam lalu resmi menjadi suaminya. Namun, semakin ia mengingat percakapan yang didengarnya, semakin sulit baginya menahan perasaan tidak nyaman di dalam dada.

Arga mengusap wajahnya. Ia tahu tidak ada lagi alasan untuk menghindar. Alya sudah mendengar cukup banyak untuk mempertanyakan kesetiaan suaminya sendiri, bahkan pada malam pertama pernikahan mereka.

“Alya, aku minta maaf.”

“Untuk apa?” Alya menatapnya lekat-lekat. “Karena menelepon perempuan lain di malam pernikahan kita? Atau karena kamu menyembunyikan sesuatu dariku?”

Arga tidak menjawab. Keheningan kembali menguasai kamar dan itu membuat Alya semakin gelisah.

“Mas, aku enggak pernah meminta kamu langsung mencintaiku,” ucapnya, kali ini dengan suara yang lebih pelan. “Aku tahu kita menikah karena keinginan keluarga. Aku juga tahu kita masih perlu waktu untuk saling mengenal. Tapi, setidaknya aku berharap kamu bisa jujur kepadaku.”

Arga menunduk. Ia tahu Alya tidak bersalah. Perempuan itu menerima pernikahan mereka dengan harapan sederhana, tanpa pernah mengetahui bahwa ada seseorang yang telah lebih dahulu mengisi kehidupan suaminya.

“Aku memang menyembunyikan sesuatu darimu,” akhirnya Arga mengakui.

Alya terdiam. Jemarinya semakin erat menggenggam selimut. “Apa maksudmu?”

Arga menarik napas panjang. Ia tahu, setelah mengatakan ini, tidak akan ada jalan kembali bagi mereka untuk menjalani malam tersebut seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

“Sebelum kita menikah, aku sudah punya sesorang. Kami sudah menikah secara agama.”

Untuk beberapa detik, Alya tidak bergerak. Ia menatap Arga, mencoba memahami kalimat yang baru saja didengarnya. Namun, semakin ia mengulang kata-kata itu di dalam pikirannya, semakin sulit baginya menerima kenyataan tersebut.

“Punya istri?” suaranya nyaris berbisik.

Arga mengangguk pelan. “Namanya Nadira. Kami baru menikah secara agama dan belum mendaftarkannya secara resmi.”

Alya merasa seolah-olah seluruh suara di sekelilingnya menghilang. Ia bahkan tidak menyadari bahwa tangannya mulai gemetar.

“Jadi….” Ia menelan ludah sebelum melanjutkan, “sebelum menikah denganku, Mas sudah punya istri?”

Arga mengangguk.

“Dan Mas baru memberitahuku sekarang?”

Arga tidak mampu berkata-kata. Ia hanya tetap berdiri beberapa meter dari ranjang tempat Alya berada.

Alya menunduk. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, tetapi ia berusaha menahannya. Ia teringat prosesi akad nikah tadi, ucapan selamat dari keluarga, senyum kedua orang tua mereka, dan semua harapan yang dibawanya sejak pagi.

Semua orang merayakan pernikahan mereka seolah-olah tidak ada sesuatu yang perlu disembunyikan. Sementara itu, ia sendiri baru mengetahui kenyataan yang begitu penting setelah semuanya terlambat.

“Kenapa, Mas?” tanyanya dengan suara bergetar. “Kenapa kamu enggak memberitahuku sebelum kita menikah?”

Setelah terdiam cukup lama, Arga kembali bersuara. “Aku takut kamu menolak pernikahan ini.”

Alya mengangkat wajahnya. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh.

“Jadi, karena takut aku menolak, Mas memilih membiarkanku menikah tanpa mengetahui kebenarannya?”

Arga kembali terdiam.

“Mas tahu apa yang paling menyakitkan?” Alya mengusap pipinya. “Bukan cuma karena Mas sudah punya istri. Tapi karena Mas memberiku kesempatan untuk menerima pernikahan ini tanpa memberiku kesempatan untuk mengetahui seluruh kenyataannya.”

Arga memandang gadis di hadapannya itu dengan wajah pucat.

“Aku tidak pernah berniat menyakitimu, Alya.”

“Tapi Mas sudah melakukannya.”

Kalimat itu keluar begitu pelan, tanpa bentakan atau amarah yang meledak-ledak. Namun, justru itulah yang membuat Arga tidak mampu membalasnya.

Alya menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia tidak tahu harus melakukan apa setelah mendengar pengakuan tersebut. Ia hanya tahu bahwa malam yang sejak pagi dibayangkannya sebagai awal kehidupan baru kini berubah menjadi malam yang tidak pernah ingin diingatnya.

Ia kembali menatap Arga. “Kalau Mas sudah punya istri dan begitu takut kehilangan dia, lalu untuk apa Mas menikah denganku?”

Arga membeku. Pertanyaan itu sederhana, tetapi tidak ada satu pun jawaban yang sanggup keluar dari mulutnya.

Di luar kamar, malam terus berjalan seperti biasa. Lampu-lampu taman masih menyala, bunga-bunga di atas ranjang masih tertata indah, dan kamar masa kecil Alya tetap dipenuhi kenangan yang selama ini memberinya rasa aman. Namun, di dalam kamar itu, harapan Alya telah runtuh bahkan sebelum kehidupan pernikahannya benar-benar dimulai.

***

Sementara itu, jauh di Jakarta, Nadira masih memegang ponselnya setelah panggilan dengan Arga berakhir. Ia sempat mengernyit ketika mendengar suara Arga memanggil nama seorang perempuan sebelum sambungan telepon terputus.

“Alya?” gumamnya pelan.

Nama itu terdengar asing di telinganya. Nadira mencoba mengingat apakah Arga pernah menceritakan seseorang bernama Alya kepadanya. Namun, ia tidak menemukan jawaban. Ia hanya duduk diam beberapa saat, memandang layar ponselnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Mungkin ia salah dengar. Mungkin ada urusan keluarga yang belum diceritakan Arga kepadanya. Nadira berusaha menepis pikiran itu. Ia masih ingin percaya kepada laki-laki yang dicintainya.

Ia belum tahu bahwa nama yang baru saja didengarnya bukanlah sekadar nama perempuan yang kebetulan disebut Arga malam itu. Nama itu adalah awal dari sebuah kenyataan yang kelak akan mengubah hidupnya.

1
Setyowati Setyowati
lanjut 🙏🙏
Setyowati Setyowati
kemungkinan Nadira hamil ..dan tidak ada alasan untuk minta pisah ...Alya dan Nadira sama" terjebak pada laki" yg egois ..tidak ada pemenang maupun yg kalah ..karena kedua" nya posisinya sama ..di tipu di sembunyikan dari istri lainnya
Setyowati Setyowati
maaf .. sampai lupa kasih bintang 5 ..keasikan baca
Setyowati Setyowati
masih merasa enak ya si Arga Tengo sana sini masih oke ..tp kalau semua sudah ketahuan sama orangtua dan Nadira ...apa alasan yg keluar dari mulutmu
Setyowati Setyowati
angga lagi mampir ya thor
Anita Giu: Ah typo 🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!