Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.
Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.
Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.
Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.
Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.
Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Statusnya Duda satu anak
Pikiran-pikiran itu telah berdesakan di kepalanya.
Bagaimana jika pria itu masih mencintai mendiang istrinya?
Bagaimana jika anaknya tidak bisa menerima kehadiran dirinya?
Bagaimana jika ia tidak mampu menjadi istri yang baik sekaligus seorang ibu bagi anak yang bukan lahir dari rahimnya?
Latifah menunduk, meremas kedua tangannya sendiri.
"Ya Allah …" desisnya pelan.
Umi Aisyah segera mengusap punggung tangan putrinya.
"Sayang, dengarkan Umi dulu."
Latifah tidak menjawab. Ia masih berusaha mencerna kenyataan yang baru saja didengarnya.
"Iya, Ifah, calon suamimu memang seorang duda dengan satu anak. Namun, bukan berarti kehidupan rumah tangganya kelak akan selalu dipenuhi kesedihan. Dia juga manusia biasa yang mungkin masih menyimpan luka, sama seperti kamu yang selama ini berusaha menjaga perasaanmu sendiri."
Latifah mengangkat wajahnya perlahan.
Umi Aisyah melanjutkan dengan suara penuh kelembutan.
"Kalau kamu bersedia menerima perjodohan ini, kamu bukan hanya akan menjadi seorang istri. Kamu juga berkesempatan memberikan kasih sayang kepada seorang anak yang mungkin selama ini merindukan sosok ibu."
"Umi …" Latifah menelan ludah. "Ifah bahkan belum pernah menjadi seorang istri. Bagaimana Ifah bisa menjadi ibu bagi anak orang lain?"
Suaranya mulai bergetar.
"Bukankah menjadi seorang ibu itu bukan perkara mudah? Bagaimana kalau Ifah tidak bisa membuat anak itu nyaman? Bagaimana kalau dia tidak menyukai Ifah?"
Umi Aisyah mengusap pipi putrinya yang mulai memerah karena menahan kegelisahan.
"Menjadi seorang ibu memang tidak mudah, Nak. Namun, kasih sayang tidak selalu tumbuh dalam sehari. Terkadang, ia hadir melalui kesabaran, perhatian, dan ketulusan yang diberikan sedikit demi sedikit."
Ia berhenti sejenak, kemudian tersenyum.
"Umi melihat bagaimana kamu menyayangi para santri di sini. Umi juga tahu bagaimana kamu merawat dan membimbing anak-anak kecil yang belajar mengaji kepadamu. Kamu punya hati yang lembut, Ifah. Umi yakin kamu bisa belajar, selama kamu menjalaninya dengan ikhlas."
Latifah menggeleng kecil.
"Tapi, Umi … menyayangi santri tentu berbeda dengan menjadi ibu dari anak yang tinggal bersama Ifah setiap hari."
"Memang berbeda," sahut Abi Umar akhirnya. "Karena itulah kamu harus mengenalnya terlebih dahulu. Tidak ada seorang pun yang meminta kamu langsung menjadi ibu yang sempurna sejak hari pertama."
Latifah menatap ayahnya.
Abi Umar menggeser duduknya sedikit mendekat.
"Nak, Abi tidak ingin kamu menjalani pernikahan hanya karena merasa berutang janji kepada almarhum Pak Ibnu. Abi ingin kamu mempertimbangkan semuanya dengan sungguh-sungguh. Kalau nanti kalian bertemu dan kamu merasa ada sesuatu yang perlu dibicarakan, sampaikanlah dengan jujur."
"Tapi, Bi …"
"Abi dan Umi tidak akan menyuruhmu berpura-pura bahagia jika hatimu terluka. Namun, Abi juga berharap kamu tidak menutup pintu takdir sebelum mengenal orang yang akan dipertemukan denganmu."
Kata-kata itu membuat Latifah terdiam.
Ia memahami maksud ayahnya. Abi Umar tidak sedang menyuruhnya mencintai seorang pria yang belum pernah ditemuinya. Ayahnya hanya memintanya memberikan kesempatan kepada sebuah pertemuan yang telah direncanakan oleh keluarga.
Tetapi, bagi Latifah, bahkan memberikan kesempatan itu terasa begitu berat.
Sebab di dalam hatinya, masih ada nama lain yang belum sepenuhnya bisa ia lepaskan.
Nama seorang pria yang dahulu pernah membuatnya berharap bahwa suatu hari nanti mereka akan dipertemukan kembali dalam keadaan yang lebih baik. Yakni Ustaz Firman.
Tanpa sadar, bayangan wajah pria itu melintas di benaknya.
"Bagaimana dengan perasaanku sendiri, Ya Allah? Apakah aku benar-benar harus melupakan seseorang yang selama ini masih aku harapkan?" batinnya lirih
Latifah menunduk semakin dalam.
Ia tidak berani menceritakan kegelisahan itu kepada kedua orang tuanya. Ia tahu, perasaannya kepada Firman tidak bisa dijadikan alasan untuk terus menunda keputusan yang telah lama menjadi pembicaraan keluarga. Terlebih, ia sendiri tidak pernah mendapatkan kepastian mengenai masa depan hubungan mereka.
"Kalau memang takdirnya seperti itu, Ifah hanya bisa berusaha menerima, Bi," ucapnya lirih.
Abi Umar menatap putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Abi tahu ini tidak mudah, Nak."
Latifah mengangguk, meskipun hatinya masih terasa berat.
"Kalau Umi boleh tahu, kamu keberatan karena dia seorang duda?"
Latifah terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Bukan semata-mata karena statusnya, Umi. Ifah hanya takut tidak bisa menjalani semuanya dengan baik. Menjadi seorang istri saja sudah merupakan tanggung jawab besar. Apalagi jika harus menjadi ibu bagi anak yang sudah kehilangan ibunya."
Umi Aisyah menghela napas pelan.
"Justru karena itulah Umi berharap kamu tidak buru-buru menilai dirimu sendiri tidak mampu. Anak itu tidak membutuhkan ibu yang sempurna, Sayang. Dia membutuhkan seseorang yang mau belajar memahami dan menyayanginya."
Latifah terdiam.
Entah mengapa, ucapan itu terasa begitu menyentuh hatinya.
Ia teringat kepada anak-anak kecil yang selama ini belajar mengaji di pesantren. Ia teringat bagaimana beberapa di antara mereka menangis ketika ditinggal orang tuanya, lalu perlahan kembali tersenyum setelah mendapatkan pelukan dan perhatian.
Mungkin, pikirnya, anak yang kelak akan ditemuinya juga memiliki kerinduan yang sama.
Namun, ia tetap tidak tahu siapa anak itu. Ia bahkan belum mengetahui siapa ayahnya.
"Umi yakin kamu tidak akan kecewa, Ifah," lanjut Umi Aisyah. "Mereka adalah orang-orang baik. Umi hanya berharap kamu mau membuka hati dan mengenal mereka terlebih dahulu. Selebihnya, kita serahkan kepada Allah."
Latifah menatap wajah ibunya cukup lama.
Ia ingin bertanya lebih jauh, ingin mengetahui nama pria itu, ingin tahu mengapa keluarganya begitu merahasiakan identitas calon suaminya. Namun, ia menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak akan mendapatkan jawaban malam ini.
Akhirnya, ia hanya mengangguk pelan.
"Baik, Umi. Ifah akan ikut ke Bandung minggu depan."
Umi Aisyah tersenyum lega, kemudian merengkuh putrinya ke dalam pelukan.
"Terima kasih, Sayang."
Latifah membalas pelukan itu, meski matanya mulai terasa panas.
"Doakan Ifah, ya, Umi. Semoga Ifah bisa menjalani semuanya dengan baik."
"Tentu, Nak. Umi akan selalu mendoakanmu."
Abi Umar yang menyaksikan keduanya turut tersenyum tipis.
"Semoga Allah memberikan yang terbaik untukmu, Ifah. Jangan lupa, pertemuan nanti bukan berarti kamu harus langsung mengambil keputusan saat itu juga. Gunakan kesempatan itu untuk mengenal calon suamimu."
Latifah mengangguk sekali lagi.
"Iya, Abi."
Malam itu, percakapan mereka berakhir dengan doa dan harapan. Abi Umar kemudian mengingatkan putrinya agar beristirahat karena esok pagi ia masih harus mengajar para santri.
Latifah berpamitan, lalu melangkah menuju kamarnya.
Namun, begitu pintu kamar tertutup, senyum yang sejak tadi ia paksakan perlahan menghilang dari wajahnya.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap sajadah yang terlipat rapi di atas meja kecil. Di sampingnya, hadiah dari pria yang pernah ditemuinya beberapa waktu lalu masih tersimpan dengan baik, sebuah Al-Qur'an indah dari Lebanon, lengkap dengan tasbih dan mukena sutra. Hadiah dari Abimanyu Wicaksono.
Pria yang saat itu ia kenal sebagai ayah dari Kahiyang, anak kecil yang pernah ia bimbing selama setahun di Darussalam.
Latifah mengingat kembali wajah lelaki berseragam loreng itu. Tatapannya tegas, pembawaannya tenang, tetapi ada kelembutan yang terlihat setiap kali ia berbicara kepada putrinya.
Namun, Latifah tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti dirinya akan diminta bertemu dengan seorang pria yang berstatus duda dan memiliki seorang anak.
Apalagi jika pria itu kelak menjadi bagian penting dalam hidupnya. Ia mengusap wajahnya perlahan, lalu mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja.
Jarinya sempat berhenti ketika melihat nama Firman di daftar percakapan lama. Ada begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada pria itu. Ada begitu banyak perasaan yang belum sempat ia ungkapkan. Namun, pada akhirnya, Latifah hanya memandangi layar ponselnya tanpa mengetik satu kata pun.
"Mas Firman …" bisiknya lirih.
"Kalau saja aku tahu bagaimana akhir dari penantianku selama ini."
Air matanya jatuh satu per satu.
Ia tidak membenci calon suaminya yang bahkan belum ia kenal. Ia juga tidak ingin menyalahkan kedua orang tuanya. Hanya saja, ia takut harus memulai kehidupan baru sementara hatinya masih tertinggal di masa lalu.
Latifah kemudian meletakkan ponselnya, mengambil Al-Qur'an pemberian Abimanyu, dan memeluknya sejenak sebelum membukanya dengan hati-hati.
"Mungkin ini memang jalan yang harus Ifah tempuh," gumamnya.
Ia menarik napas panjang.
"Ya Allah, jika pria itu memang takdir yang Engkau pilihkan untukku, lapangkanlah hatiku. Jika anaknya kelak menjadi bagian dari hidupku, ajarkan aku untuk menyayanginya dengan tulus. Jangan biarkan aku menyakiti siapa pun karena ketidakmampuanku memahami takdir Mu."
Latifah mengusap air matanya, kemudian mulai membaca beberapa ayat dengan suara lirih.
Di luar kamar, malam semakin larut.
Dan jauh dari pesantren itu, di Jakarta, seorang pria bernama Abimanyu Wicaksono tengah menjalani hari-harinya sebagai seorang ayah bagi putri kecilnya, Kahiyang Ayudia.
Ia belum mengetahui bahwa perempuan yang akan ditemuinya di Bandung minggu depan adalah sosok yang sama yang belakangan ini kerap hadir dalam ingatan putrinya.
Perempuan yang disebut Kaning dengan penuh cinta.
yaitu Bu Latifah.
Sementara itu, Latifah pun belum mengetahui bahwa calon suami yang membuatnya gelisah malam ini bukanlah orang asing sepenuhnya. Ia pernah bertemu dengannya. Pernah melihat bagaimana pria itu memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang.
Dan tanpa disadarinya, sebuah ikatan kecil telah lebih dahulu terbentuk di antara mereka melalui seorang anak perempuan yang merindukan sosok ibu.
Minggu depan, di Bandung, rahasia itu akan terbuka.
Dua orang yang sama-sama belum siap menghadapi perubahan akan duduk berhadapan, membawa masa lalu, keraguan, dan harapan masing-masing.
Dan mungkin, dari pertemuan yang semula hanya diniatkan untuk memenuhi janji keluarga, Allah sedang menyiapkan sebuah kisah yang tak pernah berani mereka bayangkan.
Sebuah kisah tentang seorang perempuan yang masih belajar melepaskan cinta lamanya.
Tentang seorang duda yang belum sepenuhnya sembuh dari kehilangan.
Dan tentang seorang anak kecil yang diam-diam telah lebih dahulu memilih siapa yang ingin ia panggil Bunda.
Bersambung...
lanjut aja lah Thor.....
lanjut lah Thor ..mkn seru ni🥰🥰🥰