NovelToon NovelToon
Tuhan,Izinkan Aku Berdosa

Tuhan,Izinkan Aku Berdosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Teen / Penyelamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ulva k

Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.

Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.

"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."


Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.

Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.

Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?

Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 34

Motor hitam Arpan mogok di tengah macet jam 9.15.

Tiba-tiba mati. Tidak ada bunyi sama sekali. Padahal 5 menit lalu masih jalan normal dari Jakarta. Klakson mobil di belakang langsung bunyi panjang, tin... tin... Suruh minggir.

Arpan coba starter lagi. Sekali. Dua kali. Tidak bisa. Aku yang sudah mulai panik. Aku yang di bonceng belakang langsung turun dulu, bantu dorong motor ke pinggir trotoar. Panasnya Jakarta jam 9 pagi itu menyengat. Asap knalpot mobil dan bus Transjakarta lewat depan muka. Jilbabku yang tadi sudah rapi, sekarang agak miring kena angin dan keringat.

"Kenapa Kak?" tanyaku pelan. Aku takut Arpan emosi karena motor mogok.

"Bensin masih ada Laila, full tadi pagi saya isi. Mungkin businya kena air becek di Bekasi semalam yang 15 cm itu," kata Arpan sambil jongkok. Kemeja putih barunya yang tadi pagi bersih wangi, sekarang sudah ada keringat di punggung dan leher. Dia buka jok motor, ambil toolkit kecil yang isinya kunci-kunci . Tangannya yang putih, sekarang hitam kena oli mesin.

Aku lihat dia dari atas. Tadi di ruko HIJAB BAROKAH jam 8.10 dia gagah sekali jadi manager. Suaranya tegas, kata-katanya rapi. Sekarang dia jongkok di pinggir jalan Jakarta yang kotor, motor mogok, kemeja putih kotor oli, di samping got hitam yang baunya tidak enak.

"Laila," kata Arpan tanpa lihat aku, masih otak-atik busi yang hitam. "Jumat depan kita ke kampung kamu itu... Bapak kamu orangnya gimana? Galak ya? Suka marah kalau ada laki-laki datang?"

"Bapak Laila itu diam Kak," jawabku pelan sambil pegang ujung jilbabku yang berkeringat. "Tapi sekali ngomong, harus diturut. Tidak bisa dibantah. Bapak sudah bilang sama Laila sebelum Laila berangkat ke Jakarta Jangan pulang bawa laki-laki kalau belum halal, jangan pulang bawa malu buat keluarga.

Arpan berhenti otak-atik busi. Dia lihat aku dari bawah. Matanya merah kena asap knalpot.

"Jadi kalau aku datang Jumat depan, Bapak kamu anggap aku bawa malu buat keluarga kamu? Anggap aku laki-laki yang tidak halal?"

Aku geleng cepat. Aku jongkok juga di sampingnya, tidak peduli trotoar kotor.

"Bukan gitu Kak. Maksud Laila bukan begitu. Laila malah bangga Kak Arpan mau datang. Tapi yang Laila takut itu..."

Aku bingung jelasinnya. Otakku muter. Bapakku di kampung itu cuma punya sebidang kecil kebun karet yang kalau panen cuma dapat pas Pasan . Rumahku sederhana gak besar nggak bagus seperti yang kak Arpan kira.

Kak Arpan manager di Jakarta, punya motor , punya pakaian bagus setiap hari, gaji pasti lebih besar dari aku. Kalau kak Arpan datang ke rumahku, orang sekampung akan lihat dari ujung jalan. Ibu-ibu akan ngomong.

Yang aku takut bukan Bapak galak. Yang aku takut, Bapak akan tanya di depan orang banyak "Kamu sudah kasih apa ke anak saya? Mana mahar kamu? Mana lamaran resmi kamu?"

Dan Arpan belum kasih apa-apa. Cuma janji halal lewat kaca spion motor semalam. Cuma janji "Saya bawa niat halal, bukan bawa haram" di jalan tadi pagi. Janji itu tidak bisa dimakan.

"Laila takut Kak," akhirnya aku jujur. Bapak Laila pasti tanya mana lamaran resmi, mana mahar. Laila malu kalau Kak Arpan lihat rumah Laila yang begitu terus Kak Arpan mundur pelan-pelan. Laila tidak mau mundur Kak, tapi Laila takut Kak Arpan yang mundur."

Minder. aku yang minder sama hidupku sendiri. Aku kepala admin Bekasi gaji 5 juta di atas kertas , tapi di kampung aku tetap Laila anak petani.

Arpan lap tangan hitam oli ke tisu yang sudah lecek. Dia berdiri pelan. Dia tidak langsung jawab marah atau janji manis. Dia diam agak lama. Lama sekali sampai aku kira dia memang mau mundur.

Dia buka dompet kulit coklatnya . Aku kira dia mau kasih uang buat hapus air mataku. Ternyata tidak.

Dia ambil satu foto kecil yang sudah lecek dan warnanya sudah pudar. Foto itu dia kasih ke aku dengan tangan yang masih hitam oli. Aku ambil dengan hati-hati.

Foto rumah panggung kayu yang sudah miring ke kiri. Atapnya seng karatan bolong-bolong. Di depan rumah ada jualan gorengan.

"Itu rumah saya 4 tahun lalu di kampung Laila, sebelum saya jadi manager," kata Arpan pelan. Suaranya hampir tidak kedengaran karena suara klakson mobil. "Lebih kecil dari rumah kamu. Lantai tanah, kalau hujan beceknya sampai mata kaki. Ibu saya jual gorengan di foto itu, Bapak saya sudah tidak ada sejak saya SMP. Saya dulu tidur di samping tungku biar hangat."

Aku kaget. Tanganku yang pegang foto itu gemetar. Foto itu basah kena keringat tangannya dan air mataku.

"Jadi kalau Jumat depan saya datang ke rumah kamu , saya tidak mundur Laila. Saya malah ingat rumah saya sendiri," lanjut Arpan sambil lihat motornya yang mogok. "Saya tidak bawa harapan palsu Jumat depan.

Saya cuma bawa niat baik. Kalau Bapak kamu tanya mahar, saya akan bilang terus terang Saya belum punya banyak Pak, saya belum punya rumah, tapi saya punya gaji tetap dan saya tidak akan buat Laila kesusahan dan akan bertanggung jawab penuh kepada laila.walau pun saya belum mapan Dimata bapak kamu Laila,tapi aku akan usahakan apa yang kamu mau."Saya janji."

Motor masih mogok. Macet masih bunyi klakson bersahutan.

Tapi di trotoar jam 9.15 itu, di samping got hitam dan asap knalpot, aku lega. Lega sekali. Beban minder yang aku bawa dari ruko lama sampai Bekasi semalam, akhirnya lepas di pinggir jalan.

Aku balikin foto rumah kayu itu ke Arpan. Aku simpan baik-baik di ingatanku.

"Jumat depan kita berangkat jam 4 pagi ya Kak, biar sampai kampung pas adzan Dzuhur," kataku. "Bapak Laila biasanya di kebun jam segitu.

Kita temui di kebun aja dulu, jangan langsung ke rumah. Biar Bapak lihat Kak Arpan tidak takut kotor, tidak takut lumpur sawah. Biar Bapak lihat kemeja putih Kak Arpan kotor lumpur juga tidak apa-apa."

Arpan senyum. Senyum tipis yang tadi di kaca spion motor semalam itu, sekarang di depan muka, dekat sekali.

"Siap, Kepala Admin Bekasi gaji 5 juta," katanya sambil ketawa kecil.

Aku pukul pelan bahunya yang ada oli hitam.

Motor akhirnya hidup lagi jam 9.30 setelah Arpan tiup-tiup businya dengan mulutnya yang kering. Suaranya brebet-brebet, tapi hidup.

Kami lanjut ke Bekasi lagi. Pelan-pelan. Tidak ada teriak-teriak.

Ya Allah, kalau ini dosa karena aku suka sama laki-laki yang belum halal, izinkan aku berdosa sampai Jumat depan saja. Setelah Jumat depan di kebun bapakku , tolong halalkan. Tolong jangan buat dia mundur.

1
Garrel
semngat laila💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!