NovelToon NovelToon
Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Selingkuh / Pelakor jahat / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:540.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17 - Grup WA RT

Ratna pulang dari Yogyakarta dengan lutut yang masih sedikit nyeri dan koper yang lebih berat dari saat berangkat.

Bukan karena banyak oleh-oleh.

Ia hanya membeli selendang batik untuk dirinya, bakpia untuk anak-anak, dan gantungan kunci untuk cucu. Yang membuat koper terasa berat justru pengalaman tiga hari itu. Naik kereta sendiri. Tidur di hotel sendiri. Makan sendiri di warung gudeg tanpa bertanya siapa yang suka bagian paha. Jatuh di jalan, kehilangan tas, lalu ditolong laki-laki asing bernama Arman Wibisana.

Begitu ia turun dari mobil online di depan klinik, Bu Rini sudah muncul dari warung.

"Bu Dokter pulang!"

Suara Bu Rini cukup keras untuk membuat dua ibu lain keluar dari rumah. Pak Mahmud yang sedang lewat dengan motor juga melambat.

Ratna tersenyum. "Iya, Bu."

"Lututnya kenapa? Ya Allah, benar jatuh?"

Ratna menatapnya. "Bu Rini tahu dari siapa?"

Bu Rini langsung salah tingkah. "Itu... Melati cerita sedikit di grup keluarga, lalu mungkin ada yang cerita..."

"Grup keluarga saya masuk grup RT?"

Bu Rini tertawa kering. "Bukan begitu."

Ratna menggeleng, membuka pintu klinik.

Ia baru masuk lima menit ketika ponselnya ramai. Bukan pesan dari anak-anak, melainkan dari Bu Rini.

Bu Rini mengirim tangkapan layar grup WA RT.

Bu Tati: Bu Ratna pulang naik mobil hitam tadi?

Pak Ujang: Mobil online kali.

Bu Ningsih: Katanya di Jogja ditolong orang kaya.

Bu Rini: Jangan gosip. Kasihan Bu Dokter.

Bu Tati: Saya cuma tanya.

Pak Ujang: Orang kaya siapa?

Bu Ningsih: Katanya Wibisana. Yang punya rumah sakit itu.

Bu Tati: Hah? Masa iya?

Ratna menutup layar ponsel.

Ia bahkan belum sempat membuka koper, tetapi cerita sudah bergerak lebih cepat dari kereta.

Menjelang sore, Raka menelepon.

"Bu, ada yang aneh."

"Apa lagi?"

"Arman Wibisana itu bukan pengusaha biasa. Wibisana Group punya rumah sakit, properti, logistik, kawasan industri. Dia masuk daftar orang terkaya versi majalah bisnis."

"Oh."

"Bu, jangan oh."

"Lalu harus bagaimana?"

"Ibu yakin dia cuma menolong?"

Ratna membuka koper. "Raka, orang bisa menolong tanpa maksud buruk."

"Bisa. Tapi orang sekaya itu biasanya tidak turun sendiri ngurus jambret."

"Mungkin dia kebetulan di sana."

"Dan kebetulan tertarik pada Ibu?"

Ratna berhenti melipat selendang.

"Raka."

"Aku cuma hati-hati."

"Ibu enam puluh tahun, bukan anak SMA."

"Justru laki-laki kaya bisa lebih berbahaya dari anak SMA."

Ratna hampir tertawa. "Kamu dengar sendiri kalimatmu?"

Raka menghela napas. "Bu, aku tidak melarang Ibu kenal orang. Aku cuma... setelah Bapak, aku tidak percaya laki-laki."

Ratna melembut.

"Ibu juga belum percaya."

Percakapan selesai, tetapi kata-kata Raka tertinggal.

Ia belum percaya.

Benar.

Arman hanya orang asing yang menolongnya. Tidak lebih.

Namun keesokan paginya, sebuah mobil hitam berhenti di depan klinik.

Kampung langsung bergerak.

Bu Rini keluar dari warung dengan celemek masih terpasang. Bu Tati membuka jendela. Anak-anak yang sedang jajan es berhenti mengunyah. Pak Mahmud yang biasanya bijak pun berdiri agak lama di depan rumahnya.

Dari mobil itu turun seorang pria muda yang Ratna kenali sebagai orang Arman. Ia membawa kotak putih kecil.

"Selamat pagi, Bu Ratna."

Ratna berdiri di ambang klinik. "Pagi."

"Pak Arman mengirim obat luka dan ponsel cadangan. Katanya ponsel Ibu sempat rusak karena jatuh."

Ratna menatap kotak itu. "Ponsel saya masih bisa dipakai."

"Ini hanya untuk berjaga-jaga."

"Saya tidak bisa menerima."

Pria muda itu tampak sudah menduga. Ia mengeluarkan amplop kecil.

"Pak Arman juga menitipkan ini."

Ratna membuka amplop.

Di dalamnya ada kartu nama dan tulisan tangan rapi.

Bu Ratna, kalau ponsel itu terasa berlebihan, anggap saja pinjaman sampai urusan laporan polisi selesai. Saya tidak ingin Ibu sulit dihubungi jika ada perkembangan kasus.

Arman.

Ratna menatap tulisan itu.

Rapi. Singkat. Tidak memaksa.

Ia tetap berkata, "Obat lukanya saya terima. Ponselnya bawa kembali."

Pria muda itu ragu. "Bu..."

"Bilang pada Pak Arman, saya berterima kasih. Tapi saya masih bisa membeli ponsel sendiri."

Bu Rini yang menguping dari warung hampir menjatuhkan sendok.

Pria muda itu akhirnya mengangguk. "Baik, Bu."

Ia kembali ke mobil.

Lima menit setelah mobil pergi, grup WA RT meledak.

Bu Tati: Mobil tadi bukan online.

Bu Ningsih: Ada sopirnya!

Pak Ujang: Siapa yang datang?

Bu Rini: Kirim obat.

Bu Tati: Obat apa pakai mobil begitu?

Pak Mahmud: Jangan menyebar hal belum jelas.

Bu Ningsih: Kalau belum jelas, kita cari jelasnya.

Ratna tidak membaca sampai selesai.

Ia membuka klinik seperti biasa.

Namun pasien pertama hari itu, seorang ibu muda yang biasanya cerewet soal anak batuk, malah bertanya pelan, "Bu Dokter, benar ada orang kaya dari Jakarta yang bantu Ibu?"

Ratna menatapnya.

"Anak Ibu batuk atau saya yang jadi pasien?"

Ibu muda itu langsung menunduk. "Batuk, Bu."

Siang hari, Sari datang.

Kali ini ia tidak menangis. Ia berdiri di depan klinik dengan wajah kaku. Beberapa orang yang antre langsung pura-pura sibuk dengan ponsel.

Ratna baru selesai memeriksa pasien lansia. Ia melepas sarung tangan.

"Ada keperluan medis?"

Sari masuk tanpa dipersilakan. "Saya cuma ingin bicara sebentar."

"Kalau soal perkara, bicara dengan pengacara saya."

"Bukan soal itu."

Sari menatap Ratna dari ujung kepala sampai kaki. "Cepat sekali ya, Bu."

Ratna mengangkat alis.

"Apa?"

"Baru menggugat cerai, sudah ada laki-laki bermobil mewah kirim hadiah."

Ruang tunggu mendadak sunyi.

Pasien lansia yang tadi diperiksa bahkan lupa memakai sandalnya.

Ratna menatap Sari dengan tenang. "Kamu datang ke klinik untuk menuduhku?"

"Saya cuma heran. Dulu Ibu marah pada saya. Sekarang Ibu juga dekat dengan laki-laki lain."

Ratna hampir kagum pada keberanian perempuan itu.

"Sari, kamu berhubungan dengan suamiku selama sepuluh tahun saat aku masih tidur satu rumah dengannya. Aku ditolong orang asing setelah tasku dijambret saat aku sudah menggugat cerai. Kalau di kepalamu dua hal itu sama, mungkin kamu perlu diperiksa."

Beberapa pasien menahan tawa.

Wajah Sari memerah.

"Jangan sombong, Bu. Laki-laki kaya itu mungkin cuma kasihan. Mana mungkin orang seperti dia serius dengan perempuan kampung umur enam puluh."

Sebelum Ratna menjawab, suara pria terdengar dari pintu.

"Kenapa tidak mungkin?"

Semua menoleh.

Arman Wibisana berdiri di ambang klinik.

Ia tidak memakai jas seperti di Yogyakarta. Hari itu ia memakai kemeja putih lengan panjang dan celana gelap. Rambut putihnya disisir rapi. Di belakangnya, seorang sopir berdiri menjaga jarak.

Sari membeku.

Ratna juga.

Arman masuk dengan langkah tenang.

"Selamat siang, Bu Ratna."

Ratna menatapnya. "Pak Arman?"

"Saya kebetulan ada urusan di kawasan industri dekat sini. Sekalian ingin memastikan luka Ibu membaik."

Kebetulan.

Ratna tidak sepenuhnya percaya.

Arman menoleh pada Sari.

"Dan mengenai pertanyaan Ibu tadi, saya tidak melihat kenapa perempuan berusia enam puluh tidak mungkin disukai dengan serius."

Sari kehilangan kata.

Bu Rini, yang entah sejak kapan berdiri di pintu, menutup mulut dengan dua tangan.

Ratna merasakan seluruh kampung seperti menahan napas.

Arman kembali menatap Ratna.

"Kalau Ibu tidak keberatan, saya ingin mendaftar sebagai pasien. Katanya klinik ini bagus."

Ratna menatap laki-laki itu lama.

Ia tahu setelah hari ini, grup WA RT tidak akan tidur.

Namun melihat wajah Sari yang pucat, untuk pertama kalinya Ratna merasa sedikit ingin tertawa.

"Silakan ambil nomor antrean, Pak."

Arman tersenyum.

"Baik, Bu Dokter."

Arman benar-benar berjalan ke meja kecil tempat nomor antrean diletakkan.

Ia mengambil satu kertas, melihat angkanya, lalu duduk di kursi plastik tanpa keluhan. Sopirnya tampak ingin mendekat, mungkin hendak mengatakan sesuatu, tetapi Arman hanya mengangkat tangan.

Pemandangan itu membuat orang-orang makin bingung.

Orang kaya yang mereka bayangkan biasanya masuk tanpa antre, bicara lewat asisten, dan membuat orang lain berdiri. Arman justru duduk di antara Pak Hasan dan seorang anak kecil yang sedang memegang permen.

Ratna melihat semua itu dari balik meja periksa.

Ia tidak tahu apakah harus kesal, curiga, atau tertawa.

Yang jelas, setelah hari itu, nama Arman Wibisana tidak lagi menjadi cerita jauh dari berita bisnis. Nama itu masuk ke warung Bu Rini, ruang tunggu klinik, dan tentu saja grup WA RT.

1
ika
Bu Rini skrg di apartemen???
keren bued...
Bu Rini bukan nya punya warung dkt klinik Bu Ratna dl?
Iki sing bener sing mana?
Ida Yudiawati
bagus banget ceritanya
Tismar Khadijah
untuk menjadi penguat diri
ika
Bambang ma bu Ratna udah resmi cerai kah?
koq ga ada mediasi dan sidang?
ato pas crita ini di skip?
ika
gagal paham dech
ini td melati di awal katanya hamil anak ke2
koq ini bilang blm PNY anak
ika
ntar ntar...
ini Bu Ratna pindah ke kontrakan dkt ma rmh pak RT? Bu Rini juga? ato ak yg gagal paham nich?
Annisa
sedih nangis bombay/Sob//Sob//Sob/
Rika Yudesni
emosi oii
emosiiii akuuuuu
Annisa
bukannya ayah nya Arman sudah meninggal?
Bernadette Ivonne
😍💪Bu Ratna bina keluarga baru penu kebahagiaan
tris tanto
bisa move on gk aku dr nopel ini
tris tanto
sari gimn ituu
tris tanto
part dimana akan direal kehidupan kita dan semoga diusia senja kita sll ingat ALLAH SWT
santi suryaatmaja
😁😁 kadang agak membingungkan jalannya cerita, meskipun begitu masih dg bahasa yg tertata.
Sayang ya Melati kaya bikin ibunya jd pelacur dg meminta pd lelaki lain yg masih bs dibilang bukan siapa²nya, cuma kenalan
santi suryaatmaja
katanya di rmh sewa, tp bu Rini koq masih bisa dengar dn pak Mahfud jg bisa langsung keluar dr pagar 😵‍💫
Bernadette Ivonne
👍
arniya
tetangga pada kepo
santi suryaatmaja
kalimat terakhir itu semua sama persis, dn sdh 33 th,, sakit memang meskipun semua bukan soal selingkuh 😔
Anita Tanjung
luarr biasa.. memberi batasan... itu penting. terimakasih author.. ini bagus sekali
Sri Supriatin
Say setuju alur ceritany bagus 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!